
Dimalam yang sunyi dan ditemani cahaya bulan Alpha dengan giat menulis laporan yang harus dirinya kirimkan besok, laporan ini berisi berbagai macam informasi penting yang dirinya peroleh dari berbagai sumber dan ditulis secara detail agar Tuannya tidak salah membaca.
Dirinya juga mengoreksi banyak buku laporan yang dirinya tulis agar meminimalisir terjadinya kesalahan informasi, dengan kecepatan kilat dirinya menggerakkan penanya dibuku didepannya sambil mengingat dan melihat informasi-informasi yang pernah dia lihat, dengar atau baca.
Dirinya juga sesekali menyesap teh hangat dimejanya untuk membasahi tenggorokan yang kering karena udara malam lalu berkata"Masih banyak yang harus kulaporkan pada Tuan kali ini, karena Ragnarok baru saja dimulai membuat banyak informasi penting mencuat keluar. buku laporan kali ini kurasa akan jauh lebih banyak dari buku laporan yang kutulis setahun lalu."Ujarnya sambil menyesap teh ditangannya.
Ragnarok baru saja dimulai dan ini barulah permulaan dari kekacauan yang akan datang, meski baru awalannya saja dampak dari Ragnarok bisa sangat terasa dari informasi-informasi penting yang berterbangan dan dibicarakan dimana-mana dari mulut ke mulut.
Kebanyakan dari Informasi-informasi ini datang dari orang-orang yang berasal dari berbagai kerajaan dan kota yang menjadi tempat peperangan dengan bangsa iblis, orang-orang ini adalah pengungsi dari kerajaan dan Kota-kota tersebut lalu menyebarkan informasi tersebut.
Tidak banyak yang percaya dengan informasi-informasi ini karena tidak jelas kebenarannya ditambah lagi mereka dibicarakan dari mulut ke mulut, membuat struktur serta inti dari informasi tersebut berubah-ubah setiap saat.
Meski begitu Alpha meriset informasi-informasi ini lalu mengolahnya secara mendalam dan menelitinya, hasilnya bisa terlihat yaitu dirinya mendapatkan banyak informasi-informasi penting yang sudah diolah dan diriset secara mendalam. membuat informasi yang dirinya dapatkan sudah pasti kebenarannya.
Meski begitu banyak dari informasi yang berterbangan itu palsu, Alpha menduga ini dilakukan untuk membuat moral orang-orang yang mendengar turun dan menyebar ketakutan.
"Cara ini menurutku cukup efektif karena jika tidak bisa dilawan dengan kekuatan, maka ketakutan dan perkataan akan menjadi cara yang paling cocok untuk menghancurkan mental lawan. kekuatan memang yang paling penting tapi mental adalah yang paling penting."Ujarnya sambil menyenderkan tubuhnya dikursi.
"Ragnarok ini bisa dikatakan sebuah berkah dan musibah bagiku, karena Ragnarok dimulai aku bisa bergerak leluasa dan memperoleh banyak informasi-informasi diluar sana. Disatu sisi ini bisa dikatakan musibah, karena setiap informasi yang kudapatkan jumlahnya sangat banyak bahkan tidak terhitung jumlahnya. akan memakan waktu lama untuk mengolah setiap informasi tersebut...."
Alpha memikirkan Gunungan kertas informasi yang akan dia dapatkan beberapa waktu kedepan, dirinya bisa dikatakan tidak pernah kelelahan tapi yang menjadi masalah disini adalah waktu yang akan dipakai nantinya. dirinya lebih takut Tuannya tidak merasa puas dengan kinerjanya dibandingkan kesehatannya sendiri. meski dirinya tidak pernah sakit sih.
Tapi tetap saja, membayangkan wajah Tuannya yang tidak puas membuat Alpha bergetar ketakutan jika membayangkan. maka dari itu dia akan melakukan apapun bahkan jika itu harus mengorbankan Waktu tidurnya sekalipun.
__ADS_1
"Hufffff....aku harap ini semua akan membuat Tuan menjadi senang, oh? dan aku juga harus memeriksa laporan keuangan panti asuhan nanti serta membeli banyak perlengkapan bayi atau anak-anak, karena nantinya akan akan banyak anak-anak yang akan ditampung disana."Ujarnya sambil melihat kertas yang ada disekitarnya.
Saat dirinya hendak menulis ia merasakan hawa keberadaan seseorang yang datang dari bawah, dia menaikki anak tangga dan tampak dia memegang sesuatu dikedua tangannya. dia sampai didepan pintu lalu mengetuk pintunya sebelum masuk.
"Alice? apa yang kau lakukan malam-malam begini?."Tanya Alpha.
Orang barusan adalah Alice yang merupakan salah satu dari anak Margaretha.
Alice tersenyum canggung lalu berkata"....Mmm...saya tidak sengaja melihat anda sedang membuat teh didapur tadi, makanya saya membuatkan teh dan makanan ringan untuk anda."Ujarnya sambil menggaruk-garuk pipinya.
Alpha mengangkat satu alisnya lalu mendengus senang"Kebetulan sekali pot teh ku juga sudah habis, aku pikir ingin membuatnya nanti tapi kau malah membawakannya untukku, aku berterimakasih padamu."Ujar Alpha sambil tersenyum.
Alice tertegun melihat senyuman Alpha yang menurutnya membuat hati wanita manapun akan meleleh melihatnya, dia dengan cepat menyadarkan dirinya lalu menaruh nampan berisi pot teh dan makanan ringan tersebut dimeja depan sofa yang ada didepannya.
"Terimakasih Alice."
Alpha tersenyum lalu melanjutkan pekerjaan sementara Alice berdiri didekatnya"Alice, kenapa kau tidak tidur? apa ada sesuatu yang mengganggu dirimu?."Ujarnya sambil fokus terhadap dokumen didepannya.
"Uummm... tidak Tuan, saya hanya khawatir?."
"Khawatir? pada siapa?."Alpha menaikkan satu alisnya.
"Uummm... padamu Tuan, saya khawatir dengan anda karena hampir setiap malam saya selalu melihat bolak-balik kedapur untuk membuat teh. saya juga selalu melihat anda tidak tidur selama beberapa hari karena pekerjaan anda. jadi ummm... saya umm..."Alice tampak malu melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Alpha mendengus senang"Tidak apa katakan saja."
Alice mengangguk lalu berkata"Saya ingin mengatakan jangan terlalu memaksa diriku, saya tahu anda kuat tapi tidur juga sebuah kebutuhan jadi jangan terlalu memaksa diri anda dalam bekerja Tuan."Ujarnya sambil menatap mata Alpha.
Alpha tertegun saat mendengar perkataannya Alice, dirinya hampir tidak pernah dikhawatirkan oleh siapapun kecuali orang-orang terdekatnya dan Alice bisa dikatakan salah satu dari orang tersebut. dan yang menarik disini adalah Alice yang berbicara seperti orang tua.
Dirinya tertawa lepas sampai perutnya sakit, Alice yang melihat hal itu tidak bisa tidak mengerutkan keningnya.
"Kenapa Tuan?! apa perkataan saya salah?."
"Tidak, perkataanmu tidak salah. hanya saja pekerjaan ini sudah menjadi tanggung jawab bagiku. dam terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku."Ujarnya sambil menghela nafas pelan.
Alice saat itu tertegun melihat Alpha yang tampak seperti seorang pria tua yang rindu keluarganya, rasanya seperti ia ingin memeluknya ini melepaskannya dari belenggu kerinduan itu. tapi dirinya tersadar ia hanyalah anak-anak dimata Alpha yang sudah berumur lebih tua dari ibunya.
"Kalau begitu saya undur diri, dan tolong perhatikan kesehatan anda Tuan."
"Ya, terimakasih Alice karena sudah mengkhawatirkanku. kau bisa kembali sekarang."
Alice mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya sebelum pergi dari sana, Alpha mengerutkan keningnya, ia berhenti menulis lalu melihat kejendela ruangannya.
Dikota Rutherford terdapat dinding Api berwarna hijau menyala yang mengelilingi bagian dalam kota tersebut, dinding Api itu menjulang tinggi dan mengurung sebagian kota tersebut seperti sebuah sangkar.
"Wall of the Holy Fire of Penance? harusnya ini milik Demon King Satan, tapi kenapa ini bisa ada ditengah kota? Oh?! jadi mereka berhasil memanggil Demon King rupanya! Hahaha ini diluar ekspektasiku."Ujarnya dengan wajah tersenyum dan menatap kota Rutherford.
__ADS_1
"Tapi berani sekali mereka menempatkan dinding Api itu tepat dipanti asuhanku berdiri, sepertinya ini sudah menjadi rencana mereka untuk membunuh anak-anak disana, mereka tidak mampu membunuhku jadi mereka membunuh orang-orang terdekatku. ini agak membuatku kesal."Dia mencengkram mejanya hingga hancur dan menggertak giginya kesal.
"Demon King Satan, aku akan membuatmu menyesal karena sudah membakar daging disamping seekor Naga."Ujarnya dengan penuh kemarahan dan kekesalan.