
Ares menyusuri padatnya Jalan Perkotaan sambil sesekali melihat kertas yang ia pegang, Ares saat ini sedang mencari rumah Margaretha yang sebelumnya ia bantu dan dan dia berhasil mendapatkan Alamat rumahnya.
namun ia harus masuk kewilayah Kumuh perkotaan Rutherford yang berada dipinggiran Tembok Kota, perlu waktu lama untuk bisa menemukan alamat yang benar karena Semua Gang disini hampir memiliki nama yang sama.
Ares melihat kertas alamat yang Margaretha berikan lalu mengalihkan pandangannya pada Rumah yang ada didepannya, Itu adalah sebuah rumah kumuh yang atapnya terdapat beberapa tambalan untuk mencegah Air hujan, Ares berjalan lalu mengetuk pintunya rumahnya.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi hingga Seorang Wanita muda membukakan pintu, saat pintu terbuka Ares bisa merasakan terdapat 4 Orang lain didalam rumah yang sedang memegang Panci penggorengan, Pisau, Sapu, dan Sebuah Pedang, Sementara wanita yang ada didepannya mempersenjatai diri dengan Sebuah pisau lipat yang disembunyikan diarea pinggul.
'Dia terlihat mirip dengan Nyonya Margaretha, aku penasaran apakah empat saudarinya yang lain memiliki penampilan yang mirip?.'Batin Ares sambil memperhatikan wanita muda Didepannya.
"Ah... Apa ini kediamannya Nyonya Margaretha?."Tanya Ares ramah. Ares juga memasang senyum lebar namun ia tahu senyum itu tidak akan terlihat karena ia saat ini memakai Penutup wajah.
Wanita didepannya terdiam sambil memperhatikan Ares dari atas sampai bawah.
"Iya bener, ini kediaman nyonya Margaretha dan nyonya Margaretha adalah Ibu saya, ada perlu apa?."Ucapnya dengan Nada ramah.
Meski dia menjawab dengan nada ramah, Ares bisa tahu ada perasaan Kebencian luar biasa yang dia pendam, Ares tertawa dalam hati Melihatnya.
"Ah..Ya... Saya ada keperluan dengan ibu anda, dan boleh saya tahu apa ibu anda Ada dirumah saat ini?."
Wanita muda itu Menggelengkan kepalanya"Ibu sedang pergi Kepasar, Mungkin dia akan kembali sebentar lagi karena ia sudah pergi agak lama, Anda bisa masuk dan menunggu didalam jika anda mau."Ucapnya sambil mempersilahkan Ares masuk.
Jika dia bisa Ares akan tertawa keras saat ini, Saat dia menawarkan untuk menunggu didalam rumah wanita ini sudah memberikan isyarat untuk mengubah posisi mereka dan Itu mereka lakukan Tanpa membuat suara.
'Hhhhaaaaa....... Anak-anak ini mengingatkanku pada masa perang Dunia Pertama....'Batin Ares.
__ADS_1
"Oh?.... apakah boleh?."Ucapnya tidak percaya.
Wanita itu mengangguk pelan"Tentu, Tentu saja, kenapa tidak? Mari masuk dan saya akan siapkan teh untuk anda."Ucapnya lalu mempersilahkan Ares masuk.
Ares masuk kedalam rumah dan ketika ia menginjakkan kakinya di rumah ini ia bisa merasakan Keempat orang Saudarinya yang sedang bersembunyi tertawa kecil dan merasa rencana mereka telah berhasil.
Ares duduk diruang tamu yang berada cukup dekat dari pintu dan Ares memperhatikan Interior rumah ini untuk beberapa saat, Interior rumah ini seperti rumah-rumah Abad pertengahan.
Tidak lama ia duduk wanita muda itu kembali dengan membawa nampan berisi Pot teh dan beberapa cangkir teh. Dia menaruhnya didepan Ares lalu mulai menuangkan Teh kecangkir dan memberikannya pada Ares.
Ares menerima Cangkir berisi teh itu'Racun ya? Walaupun tidak berbahaya racun tetaplah racun.'Batinnya sambil memperhatikan Teh yang ada didepannya, Teh itu sudah dicampur dengan racun yang tidak mematikan namun mau bagaimana pun racun telah racun, Jika orang biasa tanpa Resistensi racun memenuhi teh ini maka dia bisa dipastikan akan Terbaring Selama 3 hari.
Ares yang memiliki Poison Resistance cukup tinggi tidak akan berpengaruh apapun bagi tubuhnya, Ares lalu menyesap teh itu dan seketika Racun itu langsung dinetralkan dalam tubuhnya. Ares mengubah bentuk Wajahnya menjadi Bentuk wajah dikehidupan sebelumnya, ini adalah Wajah Zero. Ia melepas penutup wajahnya.
"Ahh... nikmatnya.... Meminum teh sehabis berjalan jauh...."Ucapnya sambil menghela nafas panjang.
Wanita didepannya memperkenalkan Dirinya sebagai Anak Pertama dari Nyonya Margaretha, Rosse Margaretha, Ares lalu mulai bertanya-tanya tentang Ibunya dan dia menjawab dengan Benar.
Ares mengajaknya mengobrol cukup lama dan sudah 4 Cangkir teh dihabiskan dan Ares bisa melihat Detak jantung mereka mulai berdetak kencang, Keringat mulai bercucuran dan fokus mereka mulai buyar, Mereka sedang panik.
dinilai dari reaksi mereka, sepertinya ini bukan kali pertama mereka melakukan ini dan Jika Ia lihat-lihat Lagi Mereka memiliki Lvl dibawah 10 yang membuat mereka belum mempunyai JobClass apapun, meski begitu mereka sudah menonjolkan Bakat mereka masing-masing.
"Hhmmm.... sepertinya Nyonya Margaretha keluar cukup lama dari yang kukira, Benarkan Nona Rosse?."Ucapnya sambil mengarahkan Matanya pada Wanita muda Didepannya.
Ia terlihat cukup keringat dan detak jantungnya berdebar, Ia terlihat sedang amat panik sekarang, Ares menjadi merasa sedikit bersalah Melaka hal ini.
Karena hal ini ia menjadi melihat yang tidak seharusnya ia lihat. Rosse mengelap Keringatnya yang bercucuran menggunakan saputangan sambil memberikan isyarat-isyarat pada Saudarinya yang lain.
__ADS_1
"Ini mungkin karena ibu membawa belanjaan yang cukup banyak sampai ia berjalan dengan lambat Hahaha....."Ucapnya sambil tertawa kecil, Ares masih memperhatikan Rosse sambil meminum teh yang sudah diracuni itu.
"Nona Rosse tahukah kamu, Jika Hunter-hunter Diatas level 100 memiliki Ketahanan cukup tinggi terhadap Racun, Mereka tidak akan terpengaruh oleh racun namun mereka tetap akan mendapatkan Efek samping juga tahu..."Ucapnya sambil tersenyum ramah.
Ketika Ares mengatakan hal itu, Seisi rumah seperti membeku, Rosse terdiam seribu bahasa dengan tubuh yang pucat Pasi sementara Saudari-saudarinya yang masih bersembunyi Terdiam dengan tubuh memucat dan jantung yang berdetak kencang.
"A-apakah begitu?."Ucapnya sambil berusaha mencairkan suasana. Ares tersenyum tipis dan tertawa kecil melihat Usaha Rosse"Ya, Kau tahu kami juga memiliki Skill Pendeteksi yang dapat mendeteksi Makhluk apapun dari jarak 100 meter."Ucap Ares sambil tersenyum lebar.
Rosse dan keempat Saudarinya yang lain merasa jantung mereka berhenti berdetak, Mereka sekarang sangat panik dan terus mengeluarkan banyak keringat yang membasahi baju mereka.
"Tapi, Skill itu hanya kami Aktifkan jika kami sedang menjalankan Misi, jadi tenang saja aku tidak akan melanggar privasimu."ucap Ares sambil tertawa kecil.
"Oh? Dimana keempat saudarimu yang lain? Apa mereka tidak ada di rumah?."
Pada titik itu, keempat Saudarinya yang lain sudah amat siap untuk menyerang Ares dengan seluruh kekuatan mereka, Meski mereka tahu orang dihadapan mereka adalah Seorang Hunter Berlevel 100 mereka tetap akan melawan meski sudah tahu resikonya.
"A-apa maksud anda?."Ucap Rosse dengan tangan penuh keringat.
Ares tersenyum tipis mendengar hal it, ia menaruh cangkir tehnya lalu mengganti gaya duduknya. Ares memasang wajah datar"Bukankah Cukup dengan Main-mainnya? Bisakah kalian semua keluar dan memperkenalkan diri satu persatu sebelum aku marah?."Ucap Ares santai.
Jantung mereka semua Seakan-akan Berhenti berdetak sejenak. Rosse duduk diam lalu tersenyum.
"SERANG!!!....."Rosse mengeluarkan Pisau lipatnya lalu ia gunakan Untuk menusuk, Saudari-saudarinya yang lain keluar dari persembunyiannya mereka dan Menyerang Ares dengan senjata yang mereka miliki.
Tepat disaat Ares ingin mengeluarkan Niat Membunuh, Dari arah pintu masuk berdiri sesosok wanita cantik yang mirip seperti malaikat dimatanya, Ia membawa banyak kantong belanjaan dan memasang tampang senyum. Disaat-saat terakhir mereka sempat mengalihkan pandangan mereka kearah pintu masuk dan Seketika waktu disana seakan-akan membeku.
'Mati kita......'Batin mereka bersamaan.
__ADS_1