
Ares dengan memakai pakaian mewah berjalan melewati koridor Istana didampingi Damon Dan Mary dibelakangnya, mereka juga tampak mengenakan pakaian yang sama mewahnya dengannya. sementara untuk Vlad dia ditugaskan untuk mengawasi kota selama dirinya berada disini.
Biasanya tugas pengawasan diberikan pada Clone-clonenya. Delta dan Gamma ditugaskan untuk menjaga kedua anaknya sementara Zeta dan Epsilon ditugaskan untuk menjaga keamanan kota, meski dirinya sudah memerintahkan Clone-clonenya itu tidak cukup untuk menekan Kekhawatiran jika terjadi kerusuhan.
Setidaknya jika sesuatu hal yang tidak dinginkan terjadi Vlad bisa mengurusnya dengan mudah, dan lagi Vlad memiliki keahlian yang tidak biasa. yaitu mendengarkan teriakan dari seorang yang pendosa.
Ares tidak tahu apa arti pendosa disini, tapi dia bisa menarik kesimpulan itu mungkin orang jahat, bandit, perampok atau lainnya.
'Mendengarkan suara penderitaan seorang pendosa, huh? Vlad ternyata memiliki hobi serupa denganku meski, bisa dikatakan aku lebih tidak manusiawi. mungkin?'Ares mendengus dan memasang senyum cerah.
Mereka berdua berjalan beriringan dan mereka sempat bertemu beberapa orang pelayan, yang memberikan mereka hormat dan mereka menanggapi hal itu dengan anggukan kecil. dia baru tahu kebanyakan pelayan atau maid yang dibekerja diIstana ini berasal dari bangsa Dark elf.
Mereka yang dipekerjakan disini memiliki keahlian dalam berbagai jenis keterampilan, yang paling utama mereka terlatih dalam Assassinisasi dan pembunuhan diam-diam. ini semua karena mereka adalah Dark Elf yang dipilih dari terbaik diantara terbaik.
Entah apa yang Mary lakukan sampai bisa mempekerjakan Dark elf yang ahli dalam Assassinisasi seperti ini, tapi dia cukup senang karena ini menunjukkan keseriusan Mary dalam mengemban suatu tugas.
"Mary, berapa banyak pelayan dan maid yang bekerja disini?."
"Berdasarkan laporan terakhir yang saya catat, setidaknya terdapat seribu dark elf yang bekerja disini sementara sisanya terdiri dari orang-orang utara dan Orc mountain yang jumlahnya mungkin seribu lima ratus orang, apa ada sesuatu Tuan?."Mary merasakan terdapat maksud tersembunyi dari pertanyaan Tuannya.
Sepertinya bukan hanya dirinya yang berpikir seperti itu, Damon memberikan sinyal pada Mary untuk membaca maksud dari pertanyaan Tuan mereka.
"Tidak, aku hanya tidak mengira kau dapat mengumpulkan orang-orang sehebat ini hanya dalam waktu sekejap. dan lagi mereka memiliki kemampuan yang tidak biasa, aku bangga padamu Mary. sebagai hadiahnya kau bisa meminta apapun padaku setelah pertemuan ini selesai."Ares tersenyum bangga dan merasa senang dengan kehadiran Mary.
Mary dan Damon menahan nafas saat mendengar perkataan Tuan mereka, mereka berdua mengerahkan seluruh syaraf otak mereka untuk menguraikan maksud dari perkataan Ares, hingga dari mereka berkeringat karena memikirkan hal itu.
'Apa itu tadi?! apa maksud dari perkataan Tuan?!.'Batin Mary panik dengan keringat dikeningnya.
'Apa ini semacam ujian bagiku karena tidak bisa bekerja lebih baik dibandingkan Mary?! apa ada maksud tersembunyi dari perkataan Beliau?! Aaakkhhh!!! andai saja aku lebih kompeten dibandingkan Mary! pasti Beliau tidak akan berkata seperti itu!.'Damon merasa dirinya disini mulai tiada artinya, dia merasa cemburu dengan Mary yang dipuji karena kerja kerasnya.
Sementara dirinya hanya bisa melihat Mary dipuji seperti itu, ini benar-benar membakar semangatnya untuk terus bekerja lebih keras, matanya dipenuhi api semangat yang berkobar layaknya sijago merah.
Sementara itu Mary yang hendak bertanya lebih lanjut berhenti setelah melihat beberapa orang berjalan tidak jauh dari mereka, mereka adalah Eizen, Fiarab dan Evelyn yang berjalan kearah mereka.
Melihat dari kearah mana mereka berjalan sepertinya mereka menuju ruang pertemuan.
********************************
"Hmm? siapa itu?."Evelyn memicingkan melihat beberapa orang berjalan kearah mereka dari arah depan.
Mereka adalah pria berbaju putih dan emas yang mirip seperti pakaian seperti seorang Archbishop, seorang Elf yang begitu cantik dengan seorang Pelayan Tua disampingnya yang mengeluarkan karisma luar biasa.
Fiara dan Evelyn tidak memperhatikan dua orang itu tapi mereka memperhatikan orang berada dibarisan paling depan, saat mereka melihat pria itu mereka merasa seperti melihat sosok ayah mereka dipria itu.
"Sir Eizen, siapa mereka?."
"Mereka adalah Mary Asisten Pribadi Lord Ares, Sementara Pria tua berkarisma itu Kepala Pelayan yang membawahi seluruh pelayan disini. Pria yang ada dibarisan depan merupakan Ares Von Dunkenheit pemilik dari istana Edelstein dan pemilik JobClass World Tree Priest yang merupakan Tuan kami."Tuturnya dengan bangga pada Fiara dan Evelyn.
Mereka berdua langsung paham setelah menerima penuturan dari Eizen, mereka lalu berjalan kearah mereka lalu memberi hormat pada Ares.
"Salam Tuan!."
"Salam Tuan Muda Ares."
__ADS_1
"Salam juga Tuan Muda Ares."
Mereka berdua menundukkan badan dan sedikit mengangkat rok mereka, sementara Eizen membungkuk dalam-dalam.
"Salam Juga, Tuan Putri Fiara, Tuan Putri Evelyn. bagaimana Tour kalian diistana ini? apakah menyenangkan?."Ares bertanya dengan senyum cerah diwajahnya.
Mereka berdua tertegun saat melihat senyuman Ares, bayangan Ares yang ada dipikiran mereka sebelumnya langsung musnah ketika sosok Ares yang ada didepan mereka sekarang. bagaimana tidak?.
Didepan mereka terdapat pria tampan dengan tubuh kekar dan tinggi hampir dua meter, dia memakai pakaian seorang Archbishop yang terlihat sangat cocok padanya, ditambah lagi dia memancarkan aura yang sama persis seperti Ayah mereka.
Mereka segera tersadar dari lamunan dan menjawab pertanyaan Ares dengan sopan.
"Benar, Tuan Muda Ares. Istana yang anda miliki lebih indah jika dilihat dari dekat ditambah lagi arsitektur dan interior Istana sangatlah mewah, mungkin Istana Ruby miliki kami akan terlihat biasa saja jika dibandingkan dengan istana anda."
"Hahahaha..! anda terlalu memuji istana ini Tuan Putri, kalau begitu mari kita masuk pasti orang tua anda sudah menunggu didalam."
"Mari Tuan."
Damon Dan Eizen membukakan pintu itu dengan perlahan dan dramatis, pintu itu terbuka perlahan dan menampilkan dua sosok elf yang sedang duduk disofa seperti menunggu seseorang.
"Ohhh?."
Elf pertama adalah elf tampan yang terlihat, anggun? dia memiliki rambut berwarna emas yang panjang dengan mata berwarna emas, dia adalah Elf yang memancarkan aura Spirit dari tubuhnya. disisinya terdapat Elf perempuan yang begitu cantik, yang mungkin kecantikan bisa disetarakan dengan Mary, dia memiliki rambut putih dengan mata berwarna hijau tua, dan lagi ditubuhnya memancarkan Mana Elements yang begitu besar.
'Seperti yang diharapakan dari seorang Sri-Paus dan istrinya, mereka tentu bukan orang sembarangan sampai memancarkan aura seperti itu ditubuh mereka.'Batinnya Ares sambil memperhatikan dua orang Elf yang berada didepannya.
"Maaf karena datang terlambat, Sri-Paus Heilis Graffith I."
Heilis bangkit dan menyambut Ares dengan senyum hangat"Tidak apa Tuan Muda Ares, kami juga belum lama sampai sini, oh dan anda bisa memanggil saya Heilis saja."Ujar Heilis dengan sopan, tapi matanya benar-benar melihat Ares dari atas sampai bawah.
"Ya, tentu kenapa tidak?."
Mulai dari saat itu pertemuan mereka bukanlah pertemuan orang-orang biasa, tapi pertemuan dua orang penguasa yang merupakan inkarnasi alam.
*******************
Putra Mahkota Ciel dengan Count Cremo masuk kedalam kota, mereka dengan jijik memandang para pekerja yang sedang bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat. pemandangan ini benar-benar membuat Putra Mahkota Ciel dan Count Cremo merasa jijik.
Karena semua pekerja disini terdiri dari Dark elf, Golem, Orc dan orang-orang Utara yang bekerja seperti pada umumnya, mereka bisa memaklumi jika orang-orang Utara yang bekerja tapi tidak untuk makhluk-makhluk disana.
"Uuhhhkkkk! mahkluk-makhluk rendahan ini beraninya mereka tidak menyambut kedatangan Putra Mahkota dengan megah!."Ujar Count Cremo yang tampak begitu kesal.
"Tenanglah Count Cremo, mari kita lihat-lihat dahulu kota ini. aku lebih penasaran dengan kota ini ketimbang dia."Ujarnya dingin, dia tampak menahan kemarahannya dengan sempurna sampai tidak membuat perubahan apapun pada wajahnya, Coun Cremo yang ada disampingnya mengangguk"Baik, Yang Mulia mari kita berkeliling dulu."
Mereka lalu berjalan menyusuri jalan setapak dengan pemandangan para pekerja disekitar mereka, mereka tampak begitu giat dalam bekerja hingga membuat kecepatan kerja mereka tampak begitu mengesankan.
"Mereka melakukan tindakan yang sia-sia."
"hah? apa maksud dari perkataan Yang Mulia?."
Putra Mahkota mendengus senang mendengar perkataan Count Cremo"Kau tahu, aku akan menjadi Raja dikerajaan ini nantinya. semua wilayah dikerajaan ini akan menjadi milikku termasuk juga dengan wilayah ini, jadi percuma mereka melakukan hal ini karena nanti aku akan meluluh lantakkan kota ini sampai menjadi debu!."Ciel mendengus senang dan memasang senyum arogan.
Count Cremo mengerutkan keningnya melihat sifat arogan dari Putra Mahkota, tapi dia tidak menghiraukan hal itu dan memuji perkataan Putra Mahkota meski dirinya tidak menyukai hal itu. menurutnya asalkan Putra Mahkota dapat menyingkirkan Keluarga Dunkenheit tidak apa membiarkan dia berkata seperti itu.
__ADS_1
Mereka berjalan dikota ini sambil menghina setiap pekerja yang sedang bekerja disepanjang kota, kelakuan mereka tentu membuat orang-orang yang melihatnya menjadi kesal bukan main, hingga salah seorang bertindak.
"Hei Bocah! kalau kesini hanya untuk mengganggu kami bekerja lebih baik kau pergi saja dari sini! sebelum kami memukulimu sampai mati!!."Ujar seorang Orc dengan kesal sambil mengarah sendok semen yang ada ditangannya.
Count Cremo mengepalkan tangannya dan menatap Orc itu dengan penuh Kebencian"Lancang kau makhluk rendahan!! apa kau tidak tahu siapa yang baru saja kau hina?! dia adalah Putra Mahkota Kerajaan ini Ciel Alvaro Negredo!!."Ujarnya dengan lantang.
Seketika itu semua orang terdiam dan menatap pria muda disamping Count Cremo dengan tajam, setelah itu mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Hahahahahahahah!! Putra Mahkota katanya!! hahahha!!."
"Hahahahhaaha!!."
"Hahahahahhahahah!!."
Semua orang yang ada disana mentertawakan Count Cremo yang dimata mereka cukup konyol. Putra Mahkota mengerutkan keningnya melihat reaksi mereka yang tidak dia duga-duga.
"Kenapa?! kenapa kalian tertawa?! apa kalian semua ingin mati karena sudah menghina Keluarga Kerajaan?!."Teriaknya dengan lantang yang dipenuhi amarah.
Tapi justru itu malah membuat mereka tertawa lebih kencang, Putra mahkota lalu melirik kearah mereka semua dengan niat membunuh lalu menarik pedangnya.
"Jika kalian tertawa sekali lagi, kalian semua yang ada disini akan mati."Ujar Putra Mahkota dengan santai dengan pedang ditangannya.
"Mati? memang kau siapa bisa membuat kami mati? dengan kekuatanmu saat ini kau hanyalah semut dimata kami semua."Seorang Dark elf berkata dengan mengeluarkan nafsu membunuh.
Tindakan yang dilakukan Dark elf itu diikut oleh semua orang yang ada disana, mereka semua mengarahkan niat membunuh mereka pada Count Cremo dan Putra Mahkota.
Dari dahi Count Cremo keringat dingin mengalir membasahi tubuhnya karena niat membunuh dari semua orang yang ada disana, sementara itu Putra Mahkota tersenyum sombong lalu mengarahkan pedangnya pada salah satu Dark Elf yang ada disana. Itu adalah Dark Elf yang mengarahkan niat membunuh padanya pertama kali.
"Sebagai tindakan penghukuman, kau akan dihukum mati. bunuh dia!."Serunya dengan keras sambil menunjuk Dark Elf.
Tapi tiada ada apapun yang terjadi setelah itu, bahkan setelah mereka menunggu beberapa menit tetap tidak ada apapun yang terjadi.
'Huh?! kemana para Shadow Keeper yang diberikan Ayah?! kenapa mereka tidak datang kemari?!. Batinnya berseru dengan kencang.
"Hahahaha!! lihat yang dilakukan bocah itu! dia menyebut dirinya Putra Mahkota tapi dia tidak memiliki kelayakan menjadi Raja, bagaimana kerajaan ini mau maju jika dipimpin orang sepertinya?!."Ujar salah Dark elf sambil menunjuk kearah Putra Mahkota.
Mereka semua yang ada disana tertawa dan menghina Putra Mahkota, ini membuat Putra Mahkota marah lalu menyerang Dark elf yang berkata barusan.
Tapi pergerakan ditahan oleh semua orang yang ada disana, mereka semua memegangi lengan, pundak dan pedang Putra Mahkota. pada saat itu Putra Mahkota membeku merasakan dirinya tidak bisa bergerak.
"Kalian beraninya berbuat seperti ini padaku!! jika kalian tidak melepaskanku sekarang kalian semua akan mati!!."Ujar Putra Mahkota dengan keras.
Disisi lain Eizen, Fiara dan Evelyn yang ada dikota tertarik pada kerumunan orang yang tidak jauh dari mereka.
"Hmmm? apa itu kenapa ada ramai-ramai disana?."Ujar Fiara sambil melihat kerumunan orang itu.
"Hhm.. sepertinya terjadi sesuatu disana, apa tidak masalah jika kita menonton?."
Fiara dan Evelyn tersenyum cerah dan menganggukkan kepala"Ya! ayo kita kesana! itu jauh lebih baik ketimbang harus mendengarkan pembicaraan yang tidak kami pahami!."
"Y-ya, mari kita kesana."
Eizen mengangguk lalu berjalan kesana ditemani Fiara dan Evelyn disampingnya, samar-samar dia bisa merasakan niat membunuh dari kerumunan orang yang ada didepannya. ini cukup membuat Eizen resah dan khawatir.
__ADS_1
"Aku harap ini tidak seperti yang kubayangkan."