
Ares berjalan sambil memeriksa laporan yang ada ditangannya, dibelakangnya terdapat Damon dan Mary yang menggendong kedua anaknya. dia menghela nafas panjang lalu memerintahkan mereka untuk membawa kedua anaknya kekamar yang sudah disiapkan sebelumnya.
Dia berjalan dengan serius, setiap langkahnya kokoh dan berat. ini semua berkat gelang yang ada dikaki dan tangannya yang dia pakai setiap hari. jika bukan karena dia mengendalikan Kekuatannya dengan benar maka setiap langkah yang dia ambil akan menghancurkan semua lantai disini.
Eizen yang ada dibelakangnya juga tampak memahami situasi saat ini dan memilih untuk diam, dia tidak ingin membuat mood Tuannya yang awalnya memang sudah rusak menjadi semakin rusak.
"Eizen dimana Vlad?."
"Dia mungkin saat ini sedang berbincang dengan para Hobbit saat ini, apa perlu saya panggil dia?."
"Hu? itu tidak perlu, aku sendiri yang akan kesana."Ares tersenyum percaya diri, langkah yang dia ambil pasti dan senyum diwajahnya mengindikasikan hal tersebut.
Dengan baju megah dan mewah yang dia pakai membuatnya lebih percaya diri, bukan karena bajunya. tapi karena kesenangannya mendapatkan kabar jika para Hobbit ingin menemuinya. waktu itu dia yang sangat ngantuk berat seketika langsung segar bugar seperti terlahir kembali.
Kesenangannya ini bukan tanpa alasan, ini semua karena ia tahu seberapa hebat Hobbit dan teknologi Runecraft milik mereka. pada awalnya dia ingin membuat Hobbit berada disisinya untuk membuat senjata dan perlengkapan untuknya, tapi karena berbagai macam kesibukan membuatnya tidak bisa melaksanakan tersebut dan berakhir melupakannya.
'Entah apa yang aku pikirkan sampai bisa melupakan hal sepenting ini, sepertinya waktu itu aku benar-benar sibuk bekerja ya.'
Hanya dalam beberapa menit dia sampai didepan pintu masuk ruangan pertemuan, dia sedikit gugup saat ingin membuka pintunya hingga Eizen mengambil langkah lebih dulu.
Dengan sikap seperti seorang Ksatria dia membukakan pintu untuknya sambil berkata"Silahkan masuk Tuan."
Ares mengangguk puas lalu masuk kedalam dengan kepercayaan diri penuh dan ketenangan tiada batas.
********************************
Amelia dan para bawahannya sebelum datang berkunjung kesini mereka mencari informasi tentang Ares, orang yang mereka cari. berdasarkan informasi yang mereka dapat mereka bisa menyimpulkan secara kasar orang seperti apa Ares.
Rambut hitam panjang dengan mata berwarna merah darah seperti seorang predator tertinggi, tubuh tinggi kekar dengan wajah ketampanan kelas dunia, dan aura aneh disekelilingnya yang menyiratkan sesuatu seperti kesucian, ketenangan, kehancuran dan kekacauan disaat yang bersamaan. setidaknya itu informasi yang mereka simpulkan.
Mereka pada awalnya mengira kesimpulan mereka terlalu berlebihan melihat orang yang mereka datangi adalah manusia, dan lagi dia adalah salah satu Pendeta Pohon Dunia yang mungkin saja informasi tentangnya sengaja dilebih-lebihkan agar menaikkan pamornya.
__ADS_1
Tapi pikiran mereka semua salah ketika melihat sosok Ares yang sebenarnya didepan mereka.
Rambut hitam panjang yang terikat dengan mata sepasang mata merah menyala, wajahnya begitu tampan dengan tubuh kekar dan aura kesucian terpencar dari dalam dirinya. dia seperti sosok mahakarya terhebat buatan tuhan.
Amelia yang pernah melihat banyak orang tampan yang mengunjungi negara dulu tidak bisa dibuat apa-apa dihadapan kesempurnaan tiada tara itu. rasanya Ares adalah orang tertampan yang pernah dia lihat.
"Salam Nona dan Tuan-tuan sekalian. maaf membuat anda menunggu lama karena kedatangan saya."Arees tersenyum lalu menghampiri mereka, seketika itu mereka semua bangkit dari kursi dan berjabat tangan dengan Ares.
Jabat tangan yang tiba-tiba dari Amelia membuat Ares merasa heran.
"Tidak apa Lord Ares, kami tahu kesibukan anda sebagai seorang penguasa jadi kami tidak heran hal tersebut. oh.. saya belum memperkenalkan diri, saya Amelia Earhart anak dari salah satu anggota dewan meja bundar, salam kenal Lord Ares."Dia berusaha tersenyum secantik mungkin.
Ares disisi lain merasa tidak nyaman dengan hal ini, ini semua karena tinggi badan mereka yang terlalu jauh berbeda membuatnya kesulitan untuk berjabat tangan atau melihat wajah mereka.
"Ah salam kenal Lady Amelia, saya harap anda senang melihat kota yang saya bangun. jadi ada keperluan apa sampai anda datang jauh-jauh kesini?."Ares tersenyum tulus, dan langsung menanyakan topik pembicaraan utama mereka tanpa basa-basi.
Amelia sedikit terkejut melihat sikap Ares yang terang-terangan langsung membicarakan inti dari pembicaraan mereka, biasanya orang akan berbasa-basi tapi tidak dengan Ares.
Ares mengambil surat itu dengan wajah tanpa ekspresi, dia sedang menganalisis dari bahan-bahan yang digunakan surat ini dan hasil dia menemukan semuanya berkualitas tinggi, ini mungkin setara dengan surat-surat yang diterima oleh orang-orang setara Raja.
"Baiklah kalau begitu aku akan membaca surat ini diruang kerjaku, kalian bisa menunggu disini atau berkeliling Istana atau juga berkeliling kota sembari menunggu aku kembali."Wajah Ares datar tapi nyatanya dia serius sambil menatap surat ditangannya.
"Ah kalau begitu tolong izinkan kami berkeliling Istana, kami ingin melihat bagaimana keindahan istana ini secara secara langsung."
Ares mengangguk setuju dengan hal itu"Kalau begitu saya akan memerintahkan bawahan saya untuk mengantar kalian semua berkeliling, kalau begitu saya undur diri sebentar."Dia membungkuk dirinya sedikit sebelum pergi dari sana.
Amelia hanya bisa memperhatikan sikap anggun dan ramah dari Ares, rasanya dia seperti melihat sosok seorang Raja sejati. mungkin?
"Kalau begitu saya Eizen akan memandu anda berkeliling diistana ini, mari ikuti saya."
Mereka lalu berjalan berkeliling Istana mengajak mereka berkeliling Istana sembari menunggu Ares kembali.
__ADS_1
**********************************
Sementara itu Ares disisi lain sudah berada diruang kerjanya sambil menatap surat didepannya, disana sudah ada Damon dan Vlad yang berdiri disisinya yang ikut memperhatikan surat tersebut. sementara Mary disiagakan dikamar kedua anaknya bersama kedua clonenya yang lain.
"Tuan, apa perlu saya buka dan bacakan surat ini untuk anda?."
Ares menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya lalu membuka surat itu dengan perlahan, sebuah surat berisi beberapa lembar kertas ada didalam surat itu dan Ares membacanya satu persatu.
Lembaran demi lembaran kertas dia baca dengan teliti agar tidak ia tidak tertinggal satupun informasi, kebanyakan isi dari kertas ini hanyalah kalimat-kalimat pujian yang terlalu membesar-besarkan dan mengagung-agungkan Ares dan Keluarga Dunkenheit.
Meski begitu dia dapat dengan mudah mendapatkan inti dari surat ditangannya, meski acak dia dapat mengetahui dengan jelas jika Kerajaan Erde's ingin membangun hubungan diplomatik dengan Keluarga Dunkenheit, dan kalimat 'khusus untuk Keluarga Dunkenheit ' diulang beberapa kali yang mengindikasikan jika Kerajaan Erde's hanya ingin membangun hubungan diplomatik dengan Keluarga Dunkenheit dan bukan Kerajaan Gottlich.
"Sepertinya mereka tertarik menjalin hubungan diplomatik dengan kita karena pertambangan yang kita kelola."Damon berpendapat sambil mengusap dagunya, dia tersenyum sambil menatap surat ditangan Ares.
Vlad hanya bisa setuju karena dia juga berpikiran sama seperti Damon, disisi lain Ares pun begitu. tapi dia berbeda dengan mereka berdua yang langsung menyimpulkan semuanya.
Dia melipat lembaran-lembaran surat itu lalu membakarnya, abu dari pembakaran lembaran-lembaran surat itu menyatu menjadi sebuah lembaran kertas berwarna hitam dengan tulisan putih dan disana juga terdapat cap Raja Fritz II dan Enam Dewan Meja Bundar.
"Hebat juga mereka menguji anda seperti ini, dan jika dilihat lembaran-lembaran kertas sebelumnya hanya kamuflase semata dan kertas ini lembaran aslinya. bisa jadi inti dari semua ini surat itu berada di kertas ini."
"Ya, kau benar. melihat dari isi lembaran-lembaran surat itu sebelum menjadi abu agak aneh mereka mengim surat ini hanya untuk memberikan kalimat-kalimat pujian dan membangun hubungan diplomatik."
Damon dan Vlad mengusap dagunya sambil melihat kertas hitam yang Ares sedang baca, Ares lalu tersenyum membaca isi dari surat itu lalu memberikan pada Damon yang lalu dibaca oleh mereka berdua.
"Apa?!."
"Huh?."
Dua reaksi mereka membuat Ares tersenyum semakin lebar, dia lalu melipat kedua tangannya sambil menatap kearah jendela.
"Hu... bantuan perang? mereka meminta mengirim sejumlah besar Divisi Elit milik Keluarga Dunkenheit untuk membantu mereka secara rahasia dimedan perang, mereka akan membayar dimuka dan akan membayar sisanya setelah pasukan Demon God dipukul mundur. ini lebih menarik dari yang kuduga."Ares mengetuk-ngetuk jarinya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1