
Ares berserta pada bawahannya bersama dengan Amelia dan enam Hobbit lainnya, sampai dijajaran pegunungan emerald. seperti yang dibicarakan banyak orang gunung ini memiliki banyak sekali terowongan-terowongan bercabang yang entah kemana tujuannya.
Bukan hanya puluhan atau ratusan terowongan-terowongan bercabang disini tapi jumlahnya bisa lebih dari ribuan bahkan Ares bisa merasakan jika jumlahnya diatas sepuluh ribu, ini tentu menjadikan siapapun orang yang masuk kedalam jajaran pegunungan emerald akan tersasar jika tidak dipandu dengan ahlinya.
Beruntungnya mereka memiliki Amelia disini karena berkat arahnya mereka bisa melewati sejumlah besar terowongan-terowongan bercabang yang entah kemana ujungnya, dan lagi tidak seperti yang Ares kira.
Pegunungan ini tidak benar-benar aman karena hampir disetiap perjalanan mereka terdapat monster atau iblis yang menemukan mereka, meski mereka bisa mengatasinya dengan mudah tapi jumlah mereka yang membuat ini menjadi sebuah masalah.
Kebanyakan monster-monster atau iblis yang mereka temukan datang Secara bergerombol, jumlah jika dihitung-hitung lebih dari ratusan yang membuat mereka lama kelamaan jenuh membunuh-bunuhi mereka terus.
Meski Amelia dan para Hobbit memiliki level dan kemampuan yang hebat tetap saja jika mereka terluka atau mati, Ares yang akan bertanggung jawab. ditambah lagi Ares lah yang tidak ingin mereka mati karena para runesmith terlalu berharga untuk mati.
Karena bagi Ares seni Runecraft jauh lebih berharga dibandingkan seni Forging miliki bangsa Dwarf, meski dia mengetahui jika Runecraft saat ini diambang kepunahan tapi dibawah bimbingannya dan informasi-informasi yang ada didalam otaknya mereka bisa menghindari semua.
Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaikan caranya agar mereka mau berada disisinya?
Ares memikirkan beberapa cara yang dia anggap baik-baik, tapi dia berpikir. untuk apa menggunakan cara baik-baik untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan?
*******************************************
Ares berjalan disisi Amelia yang berada disampingnya, dia tampak membawa lentera yang berguna untuk menerangi jalan yang ada didepan mereka.
Ares menyebar mana sejauh lima ratus meter dan tidak menemukan adanya tanda-tanda objek-objek bergerak, monster-monster ataupun iblis dari jarak itu.
'Bagus!.'Ares tersenyum tipis lalu melirik kearah Amelia yang ada disampingnya sebelum berbicara.
"Ehem! Nona Amelia kudengar kau adalah seorang runesmith handal, kalau begitu bisakah kau menunjukkan satu karya yang kau buat dari Runecraft?."
Amelia sedikit terkejut mendengar perkataan dari Ares, itu terasa terlalu mendadak tapi rasanya tidak sopan menolak hal tersebut.
"Tiba-tiba sekali, tapi apa boleh buat."Amelia tersenyum lalu mengambil sebuah belati dari cincin spatialnya, itu adalah sebuah belati dengan 3 rune dibilahnya yang tampak mengeluarkan sedikit aura dingin.
"Ini adalah belati yang ditempa dengan seni Runecraft yang dipasang tiga rune class minor. rune pertama memiliki fungsi meningkatkan ketajaman, yang kedua meningkatkan jumlah mana dalam jumlah kecil dan yang kedua menambahkan elemen es dalam jumlah kecil. lihatlah."Amelia memberikan itu pada Ares untuk dilihat.
Ares menerima belati itu dengan dua tangan dan ketika ia pegang, ia bisa merasakan sedikit sensasi dingin dan jumlah Mananya sedikit meningkat.
'Seperti yang diduga dari runecraft, ini jauh lebih menakjubkan dari yang pernah kudengar.'Ares mengusap-usap bilah belati itu, Belati yang ada ditangannya dibuat dengan sangat baik hingga tidak ada kata-kata yang pas untuk mendefinisikan belati ditangannya.
Bukan belatinya, tapi Rune-rune yang terukir dibilahnya tidak cocok untuk didefinisikan dengan kalimat apapun. dia tahu seni penempaan Runecraft memang pada dasarnya hebat tapi ia tidak menyangka akan sehebat ini.
"Menakjubkan! belati yang anda buat sangat menakjubkan!."Ares tersenyum tipis dengan mata yang terarah pada Belati itu, Amelia yang mendapat pujian dari Ares langsung tersipu malu hingga wajahnya tampak seperti tomat.
"Begitu kah? tapi menurutku belati itu tidak dibuat dengan baik, karena aku masihlah pemula dibandingkan ayah dan senior-seniorku."
"Tapi menurutku belati ini sudah lebih dari cukup, karena kau berkata masih pemula tapi kau bisa membuat belati sehebat ini. kau jauh lebih menakjubkan dari yang kukira."Ares tertawa kecil dan memberikan belati itu kembali pada Amelia.
Amelia tertegun dengan wajah memerah mendengar hal tersebut keluar dari mulut Ares, dia segera mengambil belati itu kembali lalu memasukkan kedalam cincin spatialnya.
Setelah itu keheningan kembali menerpa mereka. Amelia berpikir keras untuk kembali melanjutkan perbincangan mereka, tapi Ares sudah memulainya lebih dulu.
"Lady Amelia, berdasarkan dari yang kutahu Runecraft saat ini sedang diambang kepunahan. apakah betul begitu?."
Amelia tidak langsung menjawabnya. dia tertunduk dan wajahnya tampak sedikit terpukul setelah mendengar perkataannya.
"Kau benar, Tuan Ares. seni penempaan Runecraft saat ini diambang kepunahan karena sedikitnya para Hobbit yang ingin belajar tentang Runecraft. ditambah lagi kurangnya pengetahuan dan terhapus pengetahuan tentang Runecraft membuat kami semakin terdorong pada kepunahan."
"Anda pasti penasaran kenapa seni Runecraft bisa punahkan? alasan utamanya hilangnya pengetahuan tentang Runecraft sejak 200 tahun lalu. hilangnya pengetahuan-pengetahuan tentang Runecraft dikarenakan perang antara kami dan para Dwarf dulu. membuat pengetahuan-pengetahuan itu menjadi hilang sepenuhnya."
"bahkan itu seakan-akan tertelan bumi dan tidak pernah muncul lagi. itu diperparah dengan meninggalnya kakek buyutku yang pada saat itu menjadi satu-satunya runesmith yang mengetahui semua tentang Runecraft tapi sayangnya dia tidak sempat memberikan pada kami."Amelia tersenyum pahit merasakan kenyataan yang harus ia terima.
Para Hobbit dikenal dengan Runecraftnya dan itu sudah menjadi identitas utama mereka, jika Runecraft menghilang sama saja bangsa mereka juga ikut menghilang karena Runecraft merupakan identitas bangsa mereka.
Para Hobbit yang telah kehilangan kepercayaan pada Runecraft memutuskan untuk mempelajari seni penempaan milik Dwarf, yang membuatnya semakin sedih adalah semakin banyaknya jumlah Hobbit yang pergi meninggalkan identitas bangsanya yaitu Runecraft.
Ini semua karena kurangnya pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan yang pada Hobbit dalam menempa Runecraft.
Ares yang mendengar semua perkataan panjang dari Amelia tidak kaget mendengar hal tersebut, karena ia juga tahu seberapa penting identitas dari sebuah bangsa dan betapa menyakitkannya jika orang-orang mulai meninggalkan indentitas tersebut.
"Kalau begitu bagaimana Dewan Runecraft Forgemaster bisa ada? bukankah kau bilang Runecraft sudah punah? bukankah seharusnya Dewan Runecraft Forgemaster seharusnya tidak ada?."Ares mengusap dagunya.
__ADS_1
Pada saat itu Amelia merasa jantungnya dihujam oleh sebuah panah, itu benar-benar terasa begitu menyakitkan tapi ia tahu Ares hanya tidak sengaja mengatakan hal itu.
Dia tersenyum pahit lalu berkata"Alasan Dewan Runecraft Forgemaster masih berdiri adalah karena sejarah yang kami miliki, sejarah yang kami miliki sangat panjang dan posisi Dewan Runecraft Forgemaster sudah ada sejak lama. jadi Yang Mulia Raja sengaja membiarkan Dewan Runecraft Forgemaster masih ada meski Runecraft diambang kepunahan."Tuturnya dengan suara sedih.
"Begitu ya."Ares mengusap dagunya sambil tersenyum tipis.
Alasan yang cukup masuk akal melihat bangsa Hobbit sudah sejak lama ada dikerajaan Erde's, dan lagi bamgsa Hobbit juga pemberi kontribusi terbesar selama masa keemasan kerajaan Erde's dahulu jadi masuk akal jika mereka tetap mempertahankan Dewan Runecraft Forgemaster meski diambang kepunahan.
Ares lalu mengambil ranting disana lalu menulis sesuatu ditanah, Amelia berhenti dan melihat apa yang Ares tulis dan ia sedikit terkejut melihat apa yang Ares tulis.
"Apa ini juga sebuah rune?."
"Ya, ini rune. Ini dari yang kutahu ini upper rune."
"Begitu ya."Ares mengusap dagunya.
Rune yang baru saja dia tulis merupakan rune atau tulisan kuno yang ada dibumi, rune atau tulisan ini ia temukan dibeberapa reruntuhan dan jumlahnya cukup banyak. yang berarti rune yang ada di dunianya sama dengan yang ada didunia ini. tapi ia masih tidak yakin dengan hal itu.
'Aku harus meneliti hal ini lebih lanjut.'Ujarnya sambil mengusap dagunya.
"Bisakah kau menjelaskan berapa banyak rune yang ada?."
Amelia memejamkan matanya dan mengorek ingatan terdalam miliknya, sebelumnya akhirnya berbicara"Dari yang kutahu terdapat, 50 Minor rune, 30 Mid rune, 20 High rune, 10 Super rune dan 5 Ultra Rune. totalnya terdapat 115 jenis rune yang sebagian sudah hilang dan tinggal beberapa saja. lebih tepatnya beberapa itu adalah rune-rune rahasia dan legendaris."Tuturnya pada Ares.
Ares yang ada disampingnya hanya manggut-manggut mendengar penuturan dari Amelia, Ares sebenarnya sudah mengetahui jumlahnya hanya saja dia ingin memastikan Informasi yang dia pegang benar atau tidak makanya dia bertanya.
'Seperti yang ada didalam novel, jadi mungkin pengetahuanku tentang rune yang ada didalam novel bisa diterapkan disini. tapi mungkin tidak usah.'Ares menghela nafas panjang.
Informasi-informasi yang dia dapatkan dalam novel terdiri dari banyak cabang, jadi cukup sulit menerapkannya didunia ini dan lagi kebanyakan dari Informasi-informasi itu belum diolah yang membuatnya menjadi tidak yakin para Hobbit dapat memahaminya. ini membuatnya mengurungkan niatnya dan berpikir sejenak.
"...Eemm Tuan Ares, apa ada masalah?."
"Ah!? tidak aku hanya memikirkan sesuatu. mari lanjutkan perjalanan kita sambil berbicara tentang rune, aku harap kau dapat menjelaskan tentang rune padaku."
"...Hm? baiklah tidak ada salahnya juga, mari."
Setelah itu mereka berdua berbincang-bincang cukup lama sambil berjalan, sampai mereka melupakan keberadaan bawahan mereka yang ada dibelakang yang sedang menatap mereka.
**************************************
Ditambah dengan suara gaduh yang ada disana membuat mereka semakin yakin dengan hal tersebut, Amelia dan para Hobbit menjadi senang sementara Ares dan bawahannya hanya memasang wajah datar.
Ulbert mendekat pelan-pelan lalu berbicara dengan suara pelan pada Ares.
"Tuan, apa anda bisa merasakannya?."
"Kau pikir aku tidak bisa merasakannya? Demonic Energy yang ada disana cukup besar tapi kenapa orang-orang itu tidak menyadarinya?."Ares merasa heran pada Amelia dan para Hobbit.
Ares dengan para bawahannya bisa merasakan Demonic Energy dalam jumlah besar dari kota yang ada didepan mereka, bukan hanya Demonic Energy tapi mereka juga bisa mendeteksi adanya iblis dalam jumlah besar dikota tersebut yang mengindikasikan jika kemungkinan kota tersebut sudah dikuasai Pasukan Demon God.
"Kalau begitu, Tuan. apa kita perlu memberitahu mereka?."
Ares menggelengkan kepalanya"Itu tidak perlu. mereka tidak akan percaya kalaupun kita memberitahunya, jadi yang perlu kita lakukan hanyalah bersiap."Suara Ares tampak begitu berat dan matanya tearah pada ujung terowongan ini.
Ulbert mengangguk paham dan segeralah memberitahu yang lain untuk bersiap, Ares menghela nafas pelan melihat apa yang ada didepan mereka.
Walaupun Amelia dan para Hobbit tidak bisa melihatnya. Ares dan para bawahannya bisa melihat dengan jelas pemandangan yang ada diujung terowongan.
"Banyak, sangat banyak. mungkin setara dengan jumlah demon yang kita hadapi saat diluar kemarin."Ujar Vlad pelan yang memandangi pemandangan diujung terowongan.
"Ya, mungkin nanti akan menjadi sangat merepotkan."
Vlad, Damon dan Ulbert menghela nafas panjang tapi beberapa saat kemudian mereka tertawa tanpa suara, lalu memandangi pemandangan diujung terowongan dengan senyum seperti seorang predator.
Ares yang merasakan semangat mereka hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya"Dasar kalian, sepertinya kalian sudah tidak sabar untuk berperang ya? kalau begitu jangan tahan, keluarkan semua yang kalian miliki."Ares menarik kedua pedangnya.
Dua pedang ditangannya tampak begitu kontras karena masing-masing dari pedang yang ia pegang tampak sangat berbeda, yang satu memancarkan aura kegelapan dan bayangan yang terasa menakutkan, yang satunya lagi memancarkan aura suci dan kehancuran disaat yang bersamaan.
Dia tersenyum sambil menatap kedua pedang yang ada ditangannya"Meski kau tidak ingin menunjukkan wujudmu padaku, itu tidak membuatku membencimu. mari kita basmi mereka semua. Ully, Andromeda."Ares berjalan sambil tersenyum penuh percaya diri.
__ADS_1
Disisi lain pedang yang disisi lainnya tangannya tampak sedikit bersinar dan mengeluarkan siluet seperti sebuah senyuman, tanpa Ares sadari.
"{ Bersiaplah anak-anak, ini mungkin akan menjadi sedikit merepotkan }."
"Roger!."
************************************
Aisyah Otto Van Dunkenheit dan Maximilian Von Dunkenheit merupakan anak dari Ares yang saat menjadi calon Kepala Keluarga Dunkenheit.
kedua anak yang biasa disebut Aisyah dan Max ini memiliki ras penasaran yang tinggi tentang dunia ini, mereka berdua sangat tertarik pada ilmu sihir dan ilmu pedang yang ada dikeluarga mereka.
Max memiliki rasa penasaran yang tinggi pada seni pedang, dirinya selalu melihat kakeknya dan kakek buyutnya sparring ditempat latihan yang sering membuatnya bersemangat setiap kali melihatnya.
Aisyah dilain sisi memiliki rasa penasaran yang tinggi pada Ilmu Sihir, dia selalu diajak atau ditunjukkan sihir-sihir luar biasa dari nenek buyutnya yang membuatnya semakin terkagum-kagum setiap melihat dan mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan sihir.
Rasa penasaran mereka pada hal-hal tersebut membuat mereka menjadi semakin menggemaskan karena Ekspresi yang mereka keluarkan ketika, kaget, takut atau penasaran.
Mereka adalah dua orang anak yang sangat disayang oleh kakek, kakek buyut dan nenek buyut mereka. mereka selalu memberikan apapun yang mereka berdua inginkan bahkan hal mustahil pun bisa dikabulkan asalkan mereka bertingkah imut, lucu atau menggemaskan.
Max dan Aisyah juga dibuat sangat bangga dengan orang-orang terdekatnya, kakeknya merupakan seorang ksatria yang mendapat gelar Sword Saint yang dikenal karena kehebatan dan kemahiran. Kakek buyut mereka juga seorang ksatria yang sangat hebat sampai-sampai mendapatkan gelar Northern Sword God karena kehebatan dan Kekuatannya dimedan perang. Nenek buyut mereka juga tidak kalah hebat, Nenek buyut mereka merupakan seorang Mage yang sangat hebat dan sangat disegani semua orang dan dihormati semua Mage yang ada diluar maupun dalam kerajaan, kehebatan dan Kekuatannya yang dia miliki membuatnya mendapatkan gelar ArchMage Of Eternal Ice.
Mereka berdua bukan hanya dikelilingi orang-orang hebat tapi juga diberkati oleh seorang ayah yang sangat hebat dan kuat.
Ayah mereka, Ares Von Dunkenheit. merupakan seorang ksatria yang sangat hebat yang dapat mengalahkan Mahkluk gabungan dari Ice Dragon Lord dan Frost King, dia juga seorang ksatria yang dapat membelah langit dan seorang Swordmaster termuda sepanjang sejarah kerajaan.
Dikelilingi oleh orang-orang kuat seperti itu membuat mereka menjadi sangat bangga dan senang, sampai mereka menyadari jika mereka tidak memiliki sosok seorang ibu disamping mereka.
Setahu mereka, ibu mereka meninggal dunia saat melahirkan mereka berdua yang menimbulkan bekas luka yang sangat besar didada ayah mereka. ayah mereka dikatakan sangat bersedih atas kejadian tersebut dan mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga ibu mereka.
Mereka juga diberitahu jika ibu mereka merupakan wanita seorang wanita hebat, berdasarkan apa yang kakek, kakek buyut dan nenek buyut mereka ceritakan. ibu mereka merupakan seorang ratu dari kekaisaranku yang sangat jauh. dikatakan kekaisaran itu sangat berkuasa dan memiliki kekuatan militer yang sangat hebat.
Mendengar cerita yang diceritakan oleh kakek, kakek buyut dan nenek buyut mereka berdua, membuat mereka berdua bangga dan sangat terharu atas pengorbanan ibu mereka saat melahirkan mereka.
Disisi lain mereka juga sangat merindukan sosok seorang ibu dan memimpikan hal tersebut, mereka ingin ada orang yang menyayangi mereka dan memberikan kasih sayang seorang ibu pada mereka.
Disetiap malam mereka selalu berkhayal tentang sosok ibu mereka yang masih hidup, mereka berkhayal jika sosok ibu mereka merupakan wanita cantik yang amat menyayangi mereka berdua, disetiap malam berkhayal dan disetiap malam itu pula mereka menangis merindukan sosok ibu dan seorang ibu bagi mereka.
Hingga mereka tertidur lelap dan tidak menyadari jika kesedihan mereka dilihat oleh orang-orang terdekat mereka.
Yang mereka inginkan hanyalah sosok seorang ibu yang memberikan kasih sayang seorang ibu pada mereka.
Hingga mereka melihat siluet sosok seorang wanita yang mereka impikan selama ini, itu ada siluet sosok ibu yang mereka impikan.
"Mama?."
**************************************
Mary sebelumnya ditugaskan untuk menjaga kedua anak Tuannya, tapi dia malah terhipnotis oleh keimutan dan kelucuan dari kedua anak Tuannya. dia tidak bisa tidak tersenyum bahagia saat melihat ekspresi mereka saat tidur.
Dan lagi dia tidak bisa melupakan tingkah imut, lucu dan menggemaskan mereka pada saat ia pertama kali melihat mereka berdua.
"Hufff....apakah anakku dan Tuan nanti akan seperti mereka? Aaahhhhh aku harap begitu."Ujarnya sedih dan menghela nafas panjang.
Dia lalu memperhatikan kedua anak menggemaskan yang tertidur pulas didepannya, mereka berdua saling berpegangan seperti sedang menjaga satu sama lain.
"Sial, kenapa mereka sangat imut? anak-anak yang kulahirkan saja tidak seimut mereka, apa ini karena faktor gen yang buruk dari ayah? Hhhmm kemungkinannya sangat besar melihat kepribadian ayah mereka yang sangat ditiru oleh anak-anaknya. Aaahhh... aku menjadi menyesal melahirkan anak-anak gagal seperti mereka."Dia menghela nafas sedih dan memikirkan kepribadian yang anak-anaknya miliki.
Kepribadian yang anak-anaknya miliki sangat buruk dan bisa dikatakan jauh lebih buruk ketimbang iblis, masing-masing dari mereka sangat bernafsu pada wanita cantik bahkan salah satu anaknya sangat bernafsu untuk meniduri dirinya yang merupakan ibu mereka. mengingat hal-hal tersebut membuat Mary entah menyesal melahirkan mereka.
"Andai saja waktu itu aku lebih cepat bertemu dengan Tuan, pasti mereka tidak akan lahir saat ini."
Disaat dirinya jatuh kedalam kenangan-kenangan kelamnya, kedua anak didepannya lebih erat memegang satu sama lain, mereka berkeringat dan tampak begitu gelisah.
Melihat hal itu membuatnya panik dan tidak tahu harus berbuat apa, ketika dia dilanda kepanikan. di bisa melihat mata kedua anak didepannya perlahan terbuka dan tampak mereka masih setengah sadar.
'Apa ini?! apa yang harus kulakukan?! sial, aku kemanakan semua pengalamanku saat menjadi seorang ibu?!.'Mary menjerit keras didalam hatinya.
Tapi pada saat itu mata Max dan Aisyah tearah padanya, dan saat ia melihat mata sayu mereka. dia bisa merasakan kesepian dan kerinduan yang amat mendalam.
__ADS_1
"Mama?."
"Eh?."