Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis

Assassin Terhebat Terjebak Di dunia Novel Sebagai Antagonis
168.Pertemuan


__ADS_3

Ares perlahan membuka matanya lalu perlahan bangkit dan melihat sekitarnya, hamparan rerumputan luas menyambut pengelihatannya yang baru terbuka dan seketika dia terkesima melihat pemandangan yang menenangkan ini.


Hamparan rerumputan yang bercampur dengan bunga-bunga dengan berbagai warna dan kupu-kupu yang terbang kesana-kemari membuatnya menjadi lebih tenang.


Baru beberapa saat kemudian dia mulai bertanya-tanya dimana dirinya, Ares berjalan-jalan di hamparan rerumputan itu sambil melihat kekanan dan kekiri seolah-olah sedang mencari sesuatu.


"Dimana sebenarnya ini? kenapa aku bisa ada disini ya? Jangan-jangan ini alam barzah?!."


Ares mulai merasa panik dengan keadaannya saat ini, tidak ada alasan yang jelas kenapa dia bisa disini dan apa tujuannya sekarang. makanya dia berpikiran seperti itu.


Ketika dirinya dilanda kepanikan dan kebingungan cahaya yang bersinar terang menarik perhatiannya, Ares berjalan kesana sambil melindungi matanya dan baru dia bisa melihat dengan jelas asal Cahaya itu.


Itu adalah sebuah Tugu berbentuk pedang emas raksasa yang menancap di tanah, Tugu pedang itu mengeluarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata dengan kekuatan aneh yang mengelilinginya.


"Tugu Pedang? kenapa ini bisa ada disini?."


"Itu karena ini adalah makamku."


Seorang pria tua tiba-tiba berdiri disampingnya, Ares sontak melompat mundur dan mencoba menarik pedangnya namun tidak bisa.


Orang tua itu terkekeh geli melihat tingkah Ares"Hahhaha... kau tidak perlu khawatir anak muda, aku bukan orang jahat dan aku sama sekali tidak memiliki niat jahat terhadapmu."Ujar orang itu dengan senyum diwajahnya.


Ares melihat orang tua itu dengan penuh selidik tapi dia sama sekali tidak mengendurkan penjagaannya.


"Siapa kau? dan dimana ini?."Ares dengan waspada bertanya.


Orang tua itu menghela nafas pelan lalu menyuruh Ares mendekat, Ares mendekat dengan hati-hati dan tiba-tiba orang tua itu menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Lihat wajahku! apa kau tidak mengenal siapa aku?."Ujarnya dengan santai.


Ares mencoba mengingat-ingat siapa orang didepannya dan tiba-tiba dia teringat pada seseorang.


"Leluhur? Leluhur Darius Von Dunkenheit?."Ares menunjuk orang tua itu dengan tangan dan mata bergetar.


Orang tua itu yang rupanya Darius itu mengangguk pelan dan seketika itu ia langsung berlutut.


"Maaf atas ketidak sopanan saya sebelumnya Leluhur!!!."Ares berlutut dengan keringat dingin mengucur deras.


Darius mendengus lalu menepuk-nepuk bahunya"Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi sikap waspadamu dengan orang yang tidak kau kenal."Ujarnya setelah itu berjalan lalu duduk didepan Tugu Pedang Emas raksasa itu.


Darius melihat melirik kearahnya lalu menyuruhnya untuk duduk didekatnya, Ares duduk didekatnya sambil melihat Tugu Pedang Emas raksasa itu dari dekat.


"Nak siapa namamu?."


"Baiklah Ares berapa lama Keluarga Dunkenheit berdiri dan Ayahmu sekarang Kepala keluarga keberapa?."Darius terlihat memasang wajah sedih namun dia menutupi itu dengan senyuman.


Ares menggaruk kepalanya mencoba mengingat informasi tersebut"Kalau tidak salah Keluarga Dunkenheit telah berdiri selama 5.500, sementara Ayah saya kalau tidak salah Adalah Kepala Keluarga Ke-151."Ujar Ares sambil melirik Darius.


Darius tersenyum tipis dan wajahnya terlihat cerah, dia seperti seorang kakek yang rindu kepada keluarganya. Ares sempat terenyuh melihat Darius.


alam peperangan dari yang skala kecil sampai besar. keluarga kita adalah keluarga yang dipenuhi Para Warrior berdarah dingin yang hanya hidup hany untuk berperang dan membunuh monster. Huuffffffff..... tapi aku tidak pernah memikirkan keluarga ini akan bertahan selama hampir 5.500 tahun."Darius tersenyum bangga saat mengingat kenangan-kenangannya dulu.


"Nak kau tahu kau sangat kuat, kau bahkan bisa melebihi diriku pada saat seumur denganmu. Kekuatan, kecepatan, stamina, teknik dan jumlah Aura yang kau miliki melampaui saat aku seumuran denganmu. entah latihan macam apa yang kau lalui sampai memiliki semua itu diumur segitu."Ujarnya sambil mendengus senang.


Ares tersenyum tipis mendengar perkataan itu. tentu saja Ares tidak mendapatkan semua ini secara instan karena semuanya memerlukan proses. Ares menjalani latihan seperti dineraka selama 2 tahun dan selama 2 tahun itu baik fisik atau mentalnya ditempa terus menerus. hingga pada titik dirinya bisa membagi kesadarannya didua bagian otaknya untuk tetap terus berlatih.

__ADS_1


Dihujani ribuan { Magic Arrow } untuk meningkatkan refleks tubuhnya, berenang di sungai membeku sambil membawa beban seberat 500 kilo selama setengah hari, menjatuhkan diri dari ketinggian 3000 kaki sampai terus melukai tubuh dengan parah agar Regenerasi luka meningkat.


Banyak latihan yang membuatnya menjadi seperti sekarang, namun Ares belum puas dengan apa yang dia dapatkan karena dia tahu hanya dengan ini tidak akan cukup melindungi orang-orangnya. maka dari itu ia akan mengejar kekuatan itu apapun caranya bahkan jika itu harus banyak mengorbankan orang-orang tidak bersalah, selama dia mendapatkan kekuatan itu dan bisa melindungi apa yang dia ingin ia tidak akan perduli, bahkan jika jutaan nyawa melayang karenanya.


Darius melirik Ares lalu menepuk-nepuk bahunya"Jangan memasang ekspresi seperti itu, kau terlihat menakutkan tahu?."Ujarnya sambil tertawa pelan lalu bangkit.


Ares ikut bangkit dan memperhatikan apa yang Darius lakukan, Darius memegang tugu pedang itu dan Tugu Pedang ini diselimuti cahaya keemasan lalu mengecil perlahan hingga ukurannya kurang lebih sama dengan Andromeda.


Itu adalah sebuah pedang yang diselimuti cahaya keemasan dengan bilah berwarna perak serta variasi warna emas dengan gagang pedangnya tampak seperti kepala Naga emas yang membuka mulutnya lebar-lebar.


Darius berjalan kearahnya lalu menyodorkan pedang itu padanya dengan wajah tersenyum lega"Kau sudah mengalahkanku dan kau layak menerima pedang ini."Ujarnya sambil menyodorkan pedang itu.


Ares menerimanya pedang itu dengan bingung lalu melihat Darius dengan penuh tanda tanya.


"Pedang ini adalah senjata yang menemaniku semasa aku hidup untuk membunuh Entitas-entitas kuat yang melawanku dulu, sekarang aku tidak memerlukan pedang ini karena aku sudah mati dan sekarang giliranmu untuk mewarisi pedang ini. Pedang ini memiliki Nama Ultimate Slayer of All-Beings."Ujarnya dengan bangga.


Ares melihat pedang itu yang bersinar terang ditangannya dan untuk sesaat dia merasakan sensasi hangat kedua tangannya.


"Pedang itu memang cocok digunakan pada orang sepertimu. seseorang yang tidak memiliki rasa takut pada entitas apapun."Darius mengangguk puas sambil melihat Ares.


Ares mengalihkan pandangannya pada Darius lalu berlutut"Terimakasih Leluhur!!! Saya akan menjaga dan memakai pedang ini sebaik mungkin!!!."Ares berseru kencang, Darius mendengus senang lalu menepuk-nepuk bahunya"Ares jaga pakai pedang itu untuk membantu meraih mimpimu."Ujarnya dengan suara sedih.


"Baik!!!."Seru Ares lantang.


Darius menghela nafas senang lalu mengusap kepalanya, pada saat itu Ares merasakan pandangannya menjadi buram hingga sesaat kemudian ia terjatuh tidak sadarkan diri.


Darius melirik kearah Ultimate Slayer of All-Beings lalu mengangguk"Jaga dia sebagaimana kau menjagaku dulu, Ully."Darius menjentikkan jarinya seketika tubuh Ares perlahan terurai menjadi partikel-partikel Cahaya yang terbang tertiup angin.

__ADS_1


Tubuh Darius juga perlahan terurai menjadi partikel-partikel Cahaya yang sedikit demi sedikit merubah tubuhnya"Tujuan dari setiap pertemuan adalah perpisahan, aku sudah pernah merasakan banyak perpisahan tapi ini adalah yang paling menyakitkan...."Ujarnya sedih dan beberapa saat kemudian tubuhnya terurai menjadi partikel-partikel Cahaya yang terbang tertiup angin menyisakan hamparan rerumputan luas yang dipenuhi bunga.


__ADS_2