
Dikastil Terrarium, disebuah ruangan tempat para Mage keluarga Dunkenheit belajar ilmu-ilmu tentang sihir beserta para Mage yang lain. Para pengajar disana merupakan Anggota dari Divisi Evil Eye's yang merupakan salah satu Divisi dari Tujuh Divisi Utama dikeluarga Dunkenheit.
Disini Rata-rata para pengajarnya memiliki kemampuan dalam sihir Element, Attacker, Supporters, Enchanter dan beberapa kemampuan lainnya. mereka juga dibekali banyak pengalaman karena mereka pada dasarnya tinggal ditempat yang keras, jadi pengalaman sangat dibutuhkan disini.
Disebuah ruangan dikastil Terrarium, terdapat belasan orang yang duduk secara berpasangan. ruangan ini merupakan kelas dimana para Mage belajar tentang sihir, bisa dibilang ini sebuah sekolah khusus dimana hanya orang dari tujuh Divisi utama saja yang bisa ada diruangan.
Terkecuali Lissa dan Irine karena mereka sudah diberi Izin khusus dari kepala keluarga saat ini, mereka berdua belajar ilmu-ilmu dasar tentang magic dan cara menggunakan mantra magic. Irine sudah menyelesaikan Quest Newbie yang mana dengan ini dia sudah bisa menggunakan System seperti orang pada umumnya.
Mereka berdua memperhatikan penjelasan seorang yang bisa disebut guru, orang yang mengajar mereka merupakan Wakil ketua dari Divisi Black Dragon yang dikenal dengan nama Josh Hutcherson. dia merupakan Mage Star Circle Ke-8.
Lissa sedang fokus menulis tulisan yang ada dipapan tulis, sementara Irine melakukan hal yang sama. Irine mengangkat tangannya"Pak boleh saya bertanya."Ujarnya dengan semangat, yang membuat orang-orang yang ada disana tersenyum.
Josh yang sedang menulis berbalik"Ya silahkan."Ujarnya mempersilahkan Irine bertanya, Irine tersenyum lalu membaca buku dibawah"Baik! menurut yang bapak jelaskan tadi, Sihir Buff memiliki durasi waktu tertentu tergantung dengan jenis magic Buff yang dipakai, yang menjadi pertanyaan saya apakah durasi Buff bisa dipengaruhi oleh faktor lain?."Tanyanya dengan wajah penuh tanda tanya.
Josh hanya terdiam lalu tersenyum, sejak dia mengajar dari pagi tadi hampir tidak ada orang yang berani bertanya, mereka hanya menulis dan mendengarkan apa yang dia jelaskan.
"Pertanyaan yang bagus Irine! memang benar terdapat beberapa faktor yang membuat durasi Buff berkurang atau bertambah. contohnya jika Sihir Buff digabungkan dengan Metamagic seperti Delay magic yang dapat membuat waktu aktivitasi mantra melambat diwaktu yang ditentukan, atau Time Addition yang dapat membuat durasi Suatu magic menjadi lebih lama. tapi sebenernya faktor yang pali g penting adalah Magic Resistensi."Jelasnya sambil tersenyum.
"Magic Resistensi?."Gumam semua orang yang ada dikelas.
Josh mengangguk"Benar, Magic Resistensi menjadi faktor utama dari terpengaruhnya Buff terhadap seseorang. Contoh jika kalian menggunakan Buff { Lion Heart } yang memiliki durasi 5 menit kepada orang yang memiliki magic resistensi cukup tinggi, maka durasi Buff akan berkurang tergantung magic resistensi yang dimiliki setiap orang yang diberikan Buff, semakin tinggi magic resistensi seseorang maka akan semakin berkurang pula durasinya, namun tidak dengan sebaliknya."
"Intinya Magic resistensi menjadi sebuah pedang bermata dua, karena jika seseorang memiliki magic resistensi cukup tinggi maka ia akan dengan mudah menahan serangan sihir seorang Mage dan sangat berguna terhadap Ksatria yang bisa menghadapi beberapa Mage sekaligus. namun, akan menjadi masalah jika seseorang memiliki kebiasaan menyerang dalam bentuk Party. karena jika orang itu memiliki Magic resistensi cukup tinggi maka durasi Buff akan berkurang, dan akan menyebabkan banyak masalah."Jelasnya sambil menuliskan gambarannya dipapan tulis.
Josh melihat para murid-murid yang ada didepannya mengangguk-angguk pelan sambil mengusap-usap dagu, sementara itu Lissa dan Irine mencatat apa yang dia jelaskan tadi. Josh mengangguk puas lalu kembali melanjutkan pelajaran.
Irine yang sedang menulis tiba-tiba merasa ngantuk yang luar biasa"uhhhh...kenapa ini? kenapa aku merasa ngantuk?..."Irine terjatuh dari kursinya.
"Irine!! Irine!!! kau kenapa Irine?!."Lissa panik sambil memegangi tubuh Irine, para murid yang ada dikelas langsung bergegas membawa Irine keruang perawatan.
__ADS_1
Irine disisi lain berada disebuah tempat yang tidak dia ketahui, seluruh tempat ini putih tanpa setitik pun warna didalamnya.
"Dimana ini? bukannya aku seharusnya ada dikelas tadi, tapi kenapa aku ada disini sekarang?!."Ujarnya keheranan, Irine melihat sekitarnya dan berjalan namun tidak menemukan apapun.
Irine terus berjalan hingga ruangan itu berubah, tampilan ruangan itu berubah-ubah setiap dia berkedip hingga ruangan itu berhenti berubah. dan menunjukkan sebuah ruangan mewah.
Irine dibuat kebingungan lagi dengan apa yang terjadi, dia merasa pernah melihat ruangan ini namun dia sendiri lupa dimana. setelah beberapa lama memperhatikan dia akhirnya mengingat ruangan apa ini.
"Ini kan ruangan milik Master, Kenapa aku ada berada dikamar Master padahal tadi aku berada diruangan yang berbeda Huh—?!."Irine berseru kaget karena mendengar suara pintu dibanting.
dia menoleh kebelakang dan menemukan beberapa orang masuk kesini dengan membawa Ares yang dipapah Oleh Damon, Irine dengan panik menghampiri mereka dan menanyakan apa yang terjadi pada Ares.
Namun pada saat dia menghampiri seseorang yang ada disana, tangan tembus dan dia jatuh terjerembab dibawah dia juga tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Apa itu?."Irine bangkit dan mencoba sekali lagi, namun Seberapa keraspun dia mencoba. tangannya selalu tembus seakan-akan orang-orang yang ada didepannya sekarang adalah sebuah hologram.
Irine hanya bengong melihat Ares yang terbaring lemas ditempat tidur dengan luka parah ditubuhnya, Armor yang dia pakai hampir sepenuhnya hancur dan menunjukkan luka cakaran raksasa disana dengan tangan kirinya terlihat membeku menjadi es, darah mengucur deras dan Ares terlihat sangat pucat.
Tangan kiri Ares yang membeku terlihat semakin parah dan merembet kemana-mana, hingga dalam waktu beberapa menit setengah tubuhnya membeku menjadi kristal es, Irine pucat pasi melihat Ares dalam keadaan seperti itu. bukan hanya dirinya tapi semua yang ada diruangan itu pucat pasi dan sangat panik dengan Ares.
Catherine berusaha mati-matian untuk menyembuhkan Ares dengan segala mantra yang dia miliki, sementara Damon ditemani Ulbert meminumkan banyak sekali Potion dengan berbagai warna kepada Ares, tidak ada yang tidak panik melihat Ares yang kondisinya semakin parah.
Pembekuan yang terjadi disetengah tubuhnya dengan cepat merembet keseluruh tubuh, dalam waktu 10 menit pembekuan ditubuhnya sama sekali tidak bisa dihentikan, seluruh tubuh Ares benar-benar membeku hingga terlihat tubuhnya yang menjadi seperti kristal es.
Irine hanya bisa terdiam membeku melihat kondisi Ares, Catherine berusaha mati-matian untuk menyembuhkan Ares namun pada akhirnya dia menyerah setelah dihentikan oleh Gerald, Gerald memegangi tangan Catherine dengan air mata yang mengalir deras, dia menggelengkan kepalanya dengan lemah dan Catherine jatuh terduduk dengan air mata mengalir dipipinya.
Damon dan Ulbert yang ada disana melakukan segala cara untuk bisa menyembuhkan Ares, namun mereka terhenti saat Ares tersenyum lemas dan menggelengkan kepalanya pelan. Damon jatuh terduduk sementara Ulbert terdiam sambil memegangi wajahnya.
Gerald mendekat lalu mengusap rambut Ares pelan, dia terlihat mengatakan sesuatu namun Irine sama sekali tidak bisa mendengarnya. Air mata mengalir deras dipipinya dan dia terlihat berseru kencang pada Ares. Ares hanya tersenyum lalu menoleh kearahnya.
__ADS_1
Irine tertegun ketika Ares mengatakan sesuatu kepadanya, namun dia sama sekali tidak bisa mendengar suaranya, Irine hanya terdiam membisu dengan Air mata mengalir.
Para pelayan juga ikut menangis dengan Aisyah dan Maximilian yang ada didalam gendongan mereka.
Ares tersenyum tipis lalu memejamkan matanya, Es langsung merembet keatas lalu dalam waktu beberapa detik langsung mengubah Ares menjadi Es sepenuhnya.
Rasa kesedihan bisa terlihat diruangan itu, Gerald menangis keras sementara yang lain juga menangis.
Saat itu Irine hanya terdiam Kebingungan disana, sambil bertanya-tanya didalam hati apakah yang dia lihat nyata atau tidak, kebingungan dan kesedihan langsung menabraknya saat dia melihat Ares yang menjadi Es didepan matanya.
"Master!!!!!....."Irine berlari kearah Ares, namun pada saat itu dia terbangun ditempat yang berbeda.
Dengan wajah pucat dipenuhi keringat dia melihat sekeliling, terdapat tirai putih yang menutupinya dan dia yang berada ditempat tidur yang basah dengan keringat.
didalam kebingungan, ketakutan dan kekhwatirannya Lissa tiba-tiba datang dengan wajah yang juga berkeringat.
"Irine!! apa kau sudah baikkan!? apa kau masih merasa pusing?! katakan sekarang agar Dokter bisa menyembuhkanmu sekarang!!."Lissa dengan panik memegangi kedua bahunya dan menatapnya panik.
"Tenanglah Lissa, pasti dia kebingungan sekarang."Seorang pria datang dari balik tirai, dia adalah Josh yang merupakan guru dikelas tadi.
Irine melihat mereka dengan kebingungan laku berkata"Eem... apa yang sebenarnya terjadi? apa aku aku melewatkan sesuatu atau sesuatu terjadi padaku?."Ujarnya dengan kebingungan.
Josh dan Lissa saling memandang dengan kerutan dikening mereka.
"Eem...Irine apa kau tidak mengingat jika kau jatuh pingsan saat dikelas tadi?."
"Pingsan? apa aku tadi pingsan?!."
Mereka berdua mengangguk"Benar irine, kau pingsan saat dikelas tadi dan dilarikan keruang perawatan kastil Terrarium."Ujar Lissa pelan-pelan, dia takut irine tidak memahami perkataannya karena baru bangun dari pingsan.
__ADS_1
Irine memiringkan kepalanya dan memasang wajah bertanya-tanya.
"Huh? apa aku benar-benar pingsan tadi?!."