Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Besok kita akan menikah!


__ADS_3

Tiga hari kemudian,


"Bu, Ibu ... Anne rindu sama Ibu," ucap Anne sambil menatap bu Ningrum yang masih menutup kelopak matanya.


Sejak kemarin malam, Bu Ningrum dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP yang sudah dipesan langsung oleh om Rudi. Setelah melewati negosiasi cukup alot dengan pihak rumah dakit, pada akhirnya bu Ningrum dipindah di ruang inap. Alat-alat medis khusus untuk bu Ningrum pun sengaja disiapkan om Rudi agar Anne bisa leluasa berdekatan dengan ibu angkatnya itu. Tentu saja, hal itu semakin membuat biaya rumah sakit membengkak karena om Rudi sendiri yang meminta segala perawatan seperti di ruang ICU.


Kondisi bu Ningrum sendiri mengalami kemajuan, jari-jarinya terkadang bisa bergerak saat Anne mengajak beliau berbicara. Namun, sampai saat ini beliau belum pernah sadar sepenuhnya.


"Anne sebentar lagi akan menikah, Bu! Anne ingin sekali Ibu sadar dan menyaksikan pernikahan Anne," ucap Anne dengan suara yang lirih.


Bulir air mata kembali menggenang saat Anne mengatakan hal itu. Suaranya bergetar karena menahan kepedihan yang teramat dalam. Anne merasa kesepian, rasanya ia tidak sanggup melawan badai dalam hidupnya. Menghubungi Dara saat ini bukanlah hal yang tepat, sahabatnya itu pasti akan datang jika Anne memintanya segera pulang dari Bandung. Selama beberapa hari ini Anne terpaksa berbohong kepada Dara tentang bagaimana kondisi bu Ningrum.


"Bu, Anne butuh ibu karena Anne tidak mungkin membagi semua ini dengan Dara. Bahkan, Anne tidak akan sanggup jika bertemu dengan dia, Bu ... karena Anne akan menikah dengan om Rudi," ucap Anne. Bulir air mata lolos begitu saja saat Anne mengeluarkan beban itu dari hatinya.


Anne membenamkan wajahnya di bed tempat bu Ningrum terbaring. Tangannya tak henti mengusap punggung tangan yang terasa dingin itu. Anne tergugu di samping bu Ningrum karena tidak bisa lagi menyembunyikan semua beban yang ada di atas pundaknya.


Beberapa menit kemudian, tubuh yang sedang duduk membungkuk itu mulai berhenti bergetar. Mungkin saja Anne sedang tertidur setelah puas menumpahkan semua air matanya. Ia tidak tahu bahwa saat ini mata bu Ningrum yang tertutup itu mengucurkan bulir bening. Mungkin, bu Ningrum mendengar segala hal yang disampaikan oleh Anne. Namun, kondisi fisik yang lemah membuat beliau tidak bisa membuka kelopak matanya.


***


"Anne! Cepat bangun!"


Anne terkesiap saat mendengar suara bu Ningrum berteriak memanggil namanya. Ia segera menegakkan tubuhnya dan menggeleng pelan saat melihat bu Ningrum duduk di atas hospital bed. Anne tidak percaya jika bu Ningrum tiba-tiba saja sadar dan terlihat baik-baik saja.

__ADS_1


"Bu! Apakah Anne tidak bermimpi? Sejak kapan Ibu sadar, Bu?" Anne memberondong bu Ningrum dengan beberapa pertanyaan.


Kedua sudut itu tertarik ke dalam saat melihat bu Ningrum sudah sadar dan dalam keadaan baik-baik saja. Anne beranjak dari tempat duduknya, ia berdiri sambil menangkup wajah tirus bu Ningrum.


"Anne sangat merindukan Ibu!" ujar Anne dengan mata yang berembun.


Senyum Anne hilang begitu saja ketika melihat wajah murung bu Ningrum. Kilat amarah terlihat jelas dari sorot mata sayunya. Anne menjadi takut akan hal itu karena tidak biasanya bu Ningrum bersikap seperti itu.


"Ada apa, Bu?" tanya Anne setelah melepaskan kedua tangannya dari pipi bu Ningrum.


"Kenapa kamu mau menikah dengan Rudi? Apa yang ada dalam pikiranmu, Anne!" teriak bu Ningrum dengan sorot mata yang menakutkan.


"Apa kamu sudah gila, An? Ibu menitipkan kamu kepada Rudi bukan untuk menjadi istrinya! Ibu hanya ingin kamu mendapatkan pendidikan yang layak seperti putrinya Rudi karena kamu berhak mendapatkan semua itu seperti yang dijanjikan Rudi saat Ayah kandungmu meninggal! Apa kamu lupa jika Rudi bukanlah orang baik? Di mana akal sehatmu, Anne?" Bu Ningrum mengeluarkan semua kemarahan yang ada dalam dirinya.


"Anne terpaksa, Bu! Anne melakukan semua ini demi Ibu!" ujar Anne seraya menjauhkan tubuhnya dari tempat bu Ningrum berada.


Anne tergugu saat bu Ningrum mengingkat semua kejadian di masa lalu. Rasa rindu, sedih dan marah membaur menjadi satu saat nama mendiang orang tuanya disebutakan oleh bu Ningrum.


"Cukup, Bu! Cukup! Anne tidak sanggup mendengar semua itu lagi!" teriak Anne sambil menutup kedua telinganya.


"Anne ... Anne ... An ... Anne!"


Anne kembali mendengar suara om Rudi di dalam ruangan itu. Namun, ia tidak bisa menemukan di mana sosok yang dibenci bu Ningrum saat ini. Anne semakin bingung melihat keadaan disekitar apalagi saat bu Ningrum melepaskan semua peralatan medis yang ada di tubuhnya.

__ADS_1


"Jaga dirimu baik-baik, Anne! Ibu tidak sanggup menemani kamu lagi! Ibu mau pergi dari sini!" ujar bu Ningrum.


Anne terkesiap setelah merasakan tepukan di bahunya. Ia menegakkan tubuhnya dan saat itu juga ia mengamati keadaan yang ada di sekitarnya. Ternyata bu Ningrum masih terbaring lemah seperti sebelumnya.


"Ya Tuhan, ternyata hanya mimpi!" Anne mengusap wajahnya kasar setelah sadar jika semua yang terjadi hanya sebuah mimpi.


"An, ada apa?" tanya seseorang yang ada di belakangnya.


Seketika Anne membalikkan tubuhnya saat mendengar suara yang sangat familiar di indera pendengarannya. Ia berdiri dari tempatnya saat melihat kehadiran calon suaminya itu.


"Ada apa Om datang ke sini?" tanya Anne seraya menatap lekat pria matang tersebut.


"Om hanya ingin memberitahu kamu jika besok pagi kita akan melangsungkan akad nikah! Semua surat dan dokumen pernikahan sudah selesai!" ucap om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.


Kabar yang disampaikan oleh om Rudi benar-benar membuat Anne terkejut. Bahkan, rasanya ia tidak sanggup menolak semua itu. Tatapannya tak beralih dari wajah tampan om Rudi meski sudah terlihat tidak muda lagi.


"Terserah! Jika memang besok saya harus menikah dengan Om, maka saya ingin pernikahan ini dilaksanakan di rumah sakit! Lebih tepatnya di ruangan ini!" ucap Anne setelah beberapa menit terdiam.


Om Rudi langsung menyanggupi keinginan Anne tanpa berpikir panjang. Beliau menyerahkan paperbag yang ada dalam genggamannya kepada Anne. Om Rudi menjelaskan jika isi paperbag itu adalah pakaian yang harus dipakai Anne besok pagi.


"Pastikan Dara tidak pulang ke Jakarta saat kita menikah!" ujar Anne tanpa menatap om Rudi.


🌹Hay semua ... terima kasih sudah membaca karyaku semoga suka ya❤️😍 Yuk, tulis komentar kalian biar othor makin semangat nulisnya😍🌹

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2