
Hari terus berlalu mengikuti putaran waktu yang tidak pernah berhenti. Setelah menjalani hari di Jakarta dan di Bandung selama beberapa hari, pada akhirnya hari ini Juna dan Dara harus kembali ke Jepang. Mereka harus kembali meski berat meninggalkan semua yang ada di sini.
"Kami pamit kembali, Mi, Pi," pamit Dara setelah memeluk tubuh kedua orangtuanya.
"Hati-hati selama di sana," ucap Anne seraya mengusap pipi Dara dengan gerakan lembut. Matanya berembun karena tidak rela Dara harus kembali.
Rasa sepi di rumah megah itu hilang sudah saat Dara berada di rumah. Anne suka akan hal itu, ia bisa tertawa lepas dengan Dara saat membahas hal-hal yang menggelitik. Dua hari setelah pernikahan siri itu dilakukan, Dara diajak Juna pulang ke Bandung. Mereka menghabiskan waktu selama tiga hari sebelum kembali ke Jepang.
"Jaga dirimu dan Dara selama di Jepang. Jangan sungkan meminta bantuan jika ada kesulitan," ucap om Rudi setelah Juna pamit kepada beliau.
Suara instruksi maskapai penerbangan ke Jepang akan segera berangkat dari petugas bandara terdengar merdu. Hal itu membuat keempat orang yang sedang berhadapan itu harus berpisah. Dara melambaikan tangannya sebelum masuk ke terminal keberangkatan.
Senyum manis yang menghangatkan dari Anne telah mengantar sepasang pengantin baru berangkat ke Jepang. Ada rasa hampa yang datang menyapa, karena setelah ini rumah megah yang ditempati Anne pasti terasa sepi.
"Ayo kita pulang!" ajak Om Rudi setelah putrinya benar-benar hilang dari pandangan.
"Kita harus ke kantor, ada rapat dadakan bersama para pemegang saham," ucap om Rudi saat berjalan menuju tempat parkir mobilnya.
"Kok bisa mendadak gitu? Padahal gak ada dalam schedule minggu ini loh!" protes Anne seraya menatap sang suami sekilas.
"Ada masalah dengan salah satu pemegang saham," ucap om Rudi setelah masuk ke dalam mobil, "jalan, Pak!" titah om Rudi kepada pak Botak setelah masuk ke dalam mobil.
Mobil hitam itu akhirnya melenggang dari bandara. Sopir om Rudi mengarahkan kemudinya masuk ke jalan tol menuju daerah perusahaan om Rudi berdiri. Tidak ada pembicaraan apapun di dalam mobil tersebut karena om Rudi sibuk dengan MacBooknya. Sementara, Anne sibuk berbalas pesan dengan Risa.
"Pi, saya harus bagaimana? Masa iya saya turun di depan perusahaan dengan Papi?" tanya Anne setelah mobil yang dikendarai pak Botak bersiap menyebrang ke arah perusahaan.
"Iya, Papi gak mau ya nurunin kamu dipinggir jalan! Macam wanita apa saja!" ujar om Rudi setelah menatap sang istri sekilas.
Anne mengamati situasi kantor setelah mobil tersebut berhenti di depan lobby. Sialnya, situasi di depan cukup ramai. Banyak karyawan yang keluar masuk gedung tersebut karena saat ini adalah jam istirahat.
"Ayo turun!" ujar om Rudi sebelum keluar dari pintu mobil. Beliau memutari mobil tersebut dan membukakan pintu untuk Anne.
__ADS_1
Apa yang dilakukan om Rudi berhasil membuat beberapa pasang mata merasa heran. Pemilik perusahaan ini membukakan pintu mobil untuk sekretarisnya. Tentu saja, ini adalah momen yang tidak pernah ditemui semua karyawan di sini.
"Pi, banyak yang melihat kita loh!" bisik Anne saat berjalan menuju lift.
"Biarkan saja! Saya tidak perduli dengan mereka! Ada hal yang lebih penting setelah ini," ujar om Rudi setelah masuk ke dalam lift.
Melihat sang suami yang sedang serius, membuat Anne ingin melakukan sesuatu. Ide cemerlang tiba-tiba saja muncul di kepalanya, "Pi! Papi!" Anne mengubah posisinya menyamping.
"Hmmm ...." hanya itu yang lolos dari bibir om Rudi.
"Hadap sini sebentar, Pi!" ujar Anne sambil menarik tangan Om Rudi.
Cup.
Kecupan mesra mendarat di bibir pria matang itu. Anne menggigit bibir itu agar terbuka karena ia ingin tahu bagaimana rasanya melakukan hal ini di dalam lift. Melihat sikap agresif sang istri, om Rudi mendorong tubuh itu sampai ke dinding lift. Om Rudi mengukung Anne di sana dengan bibir saling bertautan. Mereka tidak sadar jika sudah sampai di lantai yang di tuju. Pintu otomatis terbuka lebar.
"Astaga!"
"Aduh, bagaimana ini, Pi!" Anne terlihat resah setelah keluar dari lift.
"Selamat berpikir, Sayang! Salah sendiri, siapa yang mulai duluan." Om Rudi menyeringai setelah menatap sang istri sekilas.
Perasaan resah dan Ragu menyelimuti Anne saat ini. Ia bingung harus mengatakan apa kepada Risa tentang semua ini. Haruskah pernikahannya terbongkar di lingkup kantor saat ini.
"Udah ah! Bodo amat!" Akhirnya, Anne menyerah. Ia memantapkan hati masuk ke dalam ruangannya, di mana ada Risa yang sedang menundukkan kepala.
Anne mengendap-endap saat memasuki ruangan itu. Ia sampai menahan napas agar Risa tidak menegakkan kepala. Namun, apa yang diharapkan Anne saat ini nyatanya tidak sama dengan kenyataannya.
"Anne!" ujar Risa setelah menegakkan kepalanya. Ia menatap Anne dengan sorot mata yang berbeda.
"Aku butuh penjelasan, An! Aduh! Mataku ternodai!" ujar Risa sambil menutup kedua matanya.
__ADS_1
Bukannya menjelaskan, Anne malah terkekeh. Ia merasa geli saja saat melihat ekspresi wajah seniornya itu. Perasaan Resah dan gelisah mendadak hilang begitu saja karena melihat sikap yang ditunjukkan Risa saat ini.
"An, apakah mungkin seorang ayah dan anak melakukan seperti yang aku lihat di lift tadi?" tanya Rasa terkejutnya hilang.
Anne menghentikan tawanya saat melihat tatapan serius yang terpancar dari sorot mata Risa. Ia membawa kursinya sampai berada di sisi Risa. Senyum tanpa dosa terlukis di bibir itu.
"Bu Risa janji dulu sama saya, kalau mau menjaga rahasia ini," ucap Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah manis Risa.
Risa mengatakan seperti yang diucapkan oleh Anne. Ia menghela napasnya melihat wanita yang ada di hadapannya. Ia sampai gemas dibuatnya.
"Saya dan pak Rudi sebenarnya sudah menikah sejak lama, Bu. Di sini hanya pak Pras yang tahu," ucap Anne seraya menatap wajah Risa dengan intens.
Risa membekap mulutnya setelah mendengar penjelasan singkat dari Anne. Ia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya atas apa yang disampaikan oleh Anne.
"An, jangan main-main!" Risa memberi peringatan kepada Anne agar bersikap serius.
Anne menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Ia menjelaskan bagaimana hubungannya selama ini. Sekali lagi Risa shock setelah mendengar penjelasan dari Anne. Ia tidak menyangka jika selama ini bekerja bersama istri bosnya sendiri.
"Jadi, aku harus memanggilmu apa?" Risa bergumam tanpa melepaskan pandangan dari wajah Anne.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Anne kena batunya tuh😝...
➖➖➖➖➖➖♥️♥️♥️♥️➖➖➖➖➖
Sambil nunggu othor update, kuy baca karya keren dari author Samy Noer dengan judul Senja di Ujung Jalan. Capcus yuk Say!!!
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1