Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Cara berterima kasih,


__ADS_3

Weekend adalah hari yang ditunggu-tunggu semua insan untuk beristirahat dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Entah itu jalan-jalan di pusat perbelanjaan atau hanya sekadar berkumpul di rumah. Begitu juga dengan yang dilakukan keluarga baskoro saat ini. Om Rudi beserta kedua wanita yang memenuhi hatinya selama ini sedang menikmati waktu bersama. Hal-hal seperti ini jarang sekali terjadi karena om Rudi sibuk bekerja.


"Tumben Papi ngajak kita jalan-jalan?" tanya Dara seraya mengalihkan pandangan ke samping.


"Mumpung awal bulan, Sayang," jawab om Rudi tanpa mengalihkan pandangannya karena fokus mengemudi.


"Untung aja, Papi gak minta pak Botak yang jadi sopirnya! Dih pasti Dara bete banget!" cibir Dara seraya menoleh ke belakang, "Bener kan, An?" Dara sedang mencari pembelaan dari sahabatnya itu.


"Iya, bener," jawab Anne sambil meletakkan ponsel di sisinya.


Om Rudi hanya mengulas senyum tipis mendengar hal itu. Ini bukan pertama kalinya beliau mendengar keluh-kesah putrinya tentang sopir yang selalu bersikap dingin itu.


"Kalian gak boleh seperti itu! Kalian harus tetap menghormati orang yang lebih tua, tidak boleh berkata kasar begitu," tutur om Rudi seraya mengusap rambut Dara beberapa kali.


Sikap itulah yang bisa mengikis kebencian di hati Anne. Sikap dewasa dan penuh perhatian dari om Rudi berhasil membuat Anne menjadi nyaman berada di dekat om Rudi, meski terkadang Anne dibuat jengkel karena harus mengikuti keinginan sang suami. Anne tersenyum tipis melihat kedekatan Dara dan ayahnya, ia membayangkan seandainya saja Dara mengetahui pernikahan ini.


"Andai kamu tahu, jika aku adalah istri ayahmu, apakah kamu tetap bisa bersikap seperti ini, Dar? Mungkinkah, hubungan kita akan baik-baik saja atau justru kamu akan membenciku?" gumam Anne dalam hatinya. Ia menatap ke arah luar untuk melihat gedung-gedung raksasa yang berjajar rapi di sisi kiri jalan.


Mobil hitam itu membelah jalanan kota di tengah gelapnya malam. Lampu-lampu di sepanjang jalan berhasil membuat malam semakin indah. Om Rudi mengarahkan mobilnya ke sebuah showroom mobil yang cukup ternama di Jakarta selatan, bisa dibilang showroom tempat biasa beliau membeli mobil.


"Ngapain, kesini, Pi?" tanya Dara setelah mobil yang dikendarai ayahnya berhenti di tempat parkir.

__ADS_1


"Kita akan membelikan Anne hadiah yang sudah Papi janjikan tempo hari," ucap om Rudi seraya melepas sabuk pengamannya.


Dara tersenyum lebar mendengar hal itu, ia ikut bahagia karena Anne akan memiliki mobil sendiri. Mobil yang dijanjikan untuknya telah siap di Jepang, tinggal menunggu Dara pindah ke sana beberapa bulan ke depan.


"Ajaklah Anne mengelilingi showroom ini, Papi akan menunggu kalian di sana!" ucap om Rudi setelah masuk ke dalam showroom tersebut. Beliau menunjuk sofa tunggu yang ada di sudut ruangan.


Setelah mendengar hal itu, Dara segera menarik pergelangan tangan Anne untuk memilih mobil yang ada di Showroom tersebut. Dara sangat antusias memilihkan mobil untuk sahabatnya itu.


"Dar, jangan terlalu mahal, ih!" bisik Anne saat Dara memilihkan mobil dengan harga fantastis.


Kali ini Anne yang menarik pergelangan tangan Dara untuk menjauh dari mobil dengan harga tujuh miliar itu. Anne tidak seberapa suka dengan mobil mewah, ia lebih suka isi ATM unlimited, rumah mewah, perhiasan atau barang berharga lainnya. (Aih! Ini mah sama aja! kata othornya)


...♦️♦️♦️♦️...


BMW 8 Serius Coupe warna alpine white, telah dibayar om Rudi sebagai hadiah atas prestasi sang istri. Mobil itu dipilih Anne sendiri diantara mobil dengan harga fantastis yang ditawarkan om Rudi dan Dara kepadanya. Anne sengaja memilih mobil itu karena harganya yang paling murah jika dibandingkan yang lain, bukan karena bentuk mobil atau spesifikasinya.


Anne termenung di depan meja rias, ia sedang memikirkan bagaimana caranya berterima kasih kepada sang suami, di liriknya penunjuk waktu yang ada di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Mungkin saat ini, Dara pun sudah terlelap di kamarnya.


Setelah beberapa menit merapikan diri dan ganti baju, Anne segera keluar dari kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu sebelum mengendap-endap masuk ke kamar sang suami. Sebelum itu, Anne memastikan jika Dara sudah tidur lelap dan tidak akan mengganggunya malam ini.


"Yes! Aman!" gumam Anne setelah tahu Dara tidur nyenyak di balik selimut tebal itu.

__ADS_1


Segera keluar dan menutup pintu kamar Dara dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi. Pada akhirnya Anne sampai di depan kamar om Rudi, ia membuka pintu kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kamar tersebut kosong, tapi Anne tetap masuk, ia mencari keberadaan sang suami di walk in closet.


Anne berhenti di depan pintu ruangan itu, ia melihat sang suami sedang mengganti pakaian yang tadi dipakai jalan-jalan dengan piyama lengan panjang. Segera Anne melangkah dengan pelan untuk memberi kejutan kepada pria yang sedang sibuk mengancingkan piyama itu.


"Berani sekali kamu datang ke kamarku, Sayang!" ujar om Rudi setelah merasakan tangan Anne di perutnya. Tangan itu mulai menjalar ke beberapa tempat yang menjadi titik lemah om Rudi.


"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas hadiah yang Papi berikan," ucap Anne yang ada di balik tubuh sang suami.


Mendengar hal itu, om Rudi tersenyum penuh arti. Beliau bisa menebak kemana arah pembicaraan sang istri. Kancing piyama itu kembali dilepaskan oleh Anne dan kedua tangannya yang halus mulai menyusuri bulu halus yang ada di dada bidang itu.


"Kamu semakin pintar menggoda suamimu, ya!" ujar om Rudi seraya membalikkan tubuhnya. Ia mengangkat tubuh Anne dan diturunkan di atas sofa yang ada di depan almari kaca tempat menyimpan pakaian kerja om Rudi.


"Kan, Papi sendiri yang mengajari saya menjadi seperti ini," ucap Anne dengan kepala yang menengadah, tatapan mata itu terlihat genit dan menggoda.


Permainan kecil akhirnya dimulai. Keduanya hanyut dalam suasana menegangkan yang ada di sana. Tanpa disadari, Satu persatu kain yang melekat di tubuh masing-masing telah berjatuhan di lantai berlapis karpet bulu itu. Gejolak asmara semakin berkobar kala Anne melihat cermin yang ada di bagian depan almari itu, ia bisa melihat betapa berkuasanya sang suami atas dirinya saat ini.


"Sekarang, berterima kasih lah dengan benar, Sayang! Come on, Honey!" ujar om Rudi setelah duduk di sofa tanpa sandaran itu.


...🌹Selamat Membaca 🌹...


...Tidak ada part khilaf ya bestie di eps selanjutnya🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2