
Satu bulan kemudian,
Hari terus berganti, meninggalkan segala kenangan manis dan pahit. Waktu telah membawa semua insan menuju sebuah persimpangan, persimpangan jalan untuk mencapai tujuan masing-masing.
Segala persiapan telah dilakukan oleh Dara, semua barang yang dibutuhkan untuk tinggal di Jepang telah dikirim satu minggu yang lalu bersamaan dengan Pras yang terbang kesana untuk mengurus segala hal persiapan tempat tinggal Dara nanti.
Sama halnya dengan Anne, ia sudah mempersiapkan diri bekerja di perusahaan om Rudi. Dua minggu setelah wisuda, Anne dan Dara pergi ke perusahaan om Rudi untuk melihat bagaimana sistem kerja di sana. Mungkin, setelah mengantar Dara ke Jepang, Anne akan mulai bekerja menjadi sekretaris pribadi sang suami.
Sejak kepergok Dara keluar dari kamar sang istri, Om Rudi lebih berhati-hati lagi. Sepasang suami istri itu jarang sekali tidur bersama akhir-akhir ini, hanya di saat membutuhkan pengasahan senjata kebanggan saja, mereka bersatu dalam satu kamar, itu pun hanya beberapa jam saja. Sepasang suami istri itu serasa main petak umpet agar hubungan sah itu tetap terjaga.
"Ayo, Dar!" ucap Anne seraya bangkit dari tempat duduknya saat ini setelah mendapat intruksi jika pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera berangkat.
Wajah cantik itu semakin berseri karena kebahagiaan yang menyelimuti diri. Dalam bayangan Dara, hanya ada satu kebahagiaan, yaitu setelah ini setiap hari bisa bersama sang kekasih, Juna. Kekasih Dara itu, sudah tiba di Jepang beberapa hari yang lalu karena harus mengurus beberapa proses beasiswa.
Kini, ketiga anggota baskoro itu sudah duduk di kursi masing-masing. Pesawat beberapa menit lagi siap terbang menuju bandara internasional Jepang.
...🛫🛫🛫🛫🛫🛫🛫...
Tokyo, Jepang.
Setelah terbang selam kurang lebih tujuh jam, akhirnya pesawat yang ditumpangi ketiga keluarga baskoro sampai di bandar udara internasional Tokyo atau bandar udara Haneda. Beberapa puluh menit setelah sibuk dengan urusan barang di bandara pada akhirnya, ketiga orang tersebut bertemu dengan tour guide yang menjemput mereka, karena sebelum mengantar Dara ke tempat tinggalnya nanti, om Rudi memutuskan untuk mengajak anak dan istrinya jalan-jalan terlebih dahulu.
"Papi, kita akan menginap di hotel mana?" tanya Dara setelah masuk ke dalam mobil.
"Nanti kamu pasti tahu," jawab om Rudi tanpa menatap putrinya, beliau sibuk membalas pesan yang menumpuk di ponselnya.
Langit telah berubah menjadi gelap saat mobil yang ditumpangi ketiga keluarga baskoro itu sampai di depan hotel. Mereka segera turun dan membawa barang-barang menuju kamar masing-masing setelah om Rudi selesai reservasi. Om Rudi tetap memesan tiga kamar meski Dara sempat keberatan karena ia ingin tidur di kamar yang sama dengan Anne.
"Udahlah, kita ikutin saja! Toh, kamarnya sudah terlanjur dipesan," ucap Anne agar Dara tidak kesal lagi dengan ayahnya.
Setelah memegang kartu akses masing-masing, mereka segera mengayun langkah menuju kamar yang ada di lantai sepuluh. Ketiga kamar mereka ada di lantai yang sama dan bersebelahan.
__ADS_1
"See you, Dara ...." Anne melambaikan tangannya sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Anne segera menghempaskan diri di atas ranjang queen size tersebut. Ia meregangkan otot-otot yang terasa kaku setelah duduk selama lebih dari delapan jam. Anne segera bangkit dari tempatnya setelah mendengar ponselnya berdering.
"Duh! Ada apa sih!" gerutu Anne setelah melihat nama penelpon yang terlihat jelas di ponselnya.
Anne segera menggeser icon hijau itu agar mengetahui ada perihal apa yang membuat om Rudi menghubunginya. Obrolan pun akhirnya berlangsung selama beberapa menit.
"Baiklah, kalau begitu saya mandi dulu," ucap Anne sebelum memutuskan panggilan tersebut.
Om Rudi hanya menyampaikan jika beliau ingin Anne ke kamarnya saat ini. Mungkin beliau rindu karena sudah beberapa hari tidak bermesraan dengan sang istri. Keduanya tidak mau menyianyiakan kesempatan emas ini untuk memadu kasih. Tidak mungkin, kan, jika Dara mengganggu aktivitas mereka kali ini, mungkin saja Dara beristirahat karena lelah.
Tepat pukul sembilan malam waktu Tokyo, Anne sudah selesai bersiap dengan gaun malam yang terlihat menggoda. Aroma parfum baru pemberian om Rudi kemarin malam tercium dari tubuhnya. Gaun malam sexy itu terbalut peignoir berwarna hitam, senada dengan gaun malam yang dipakai Anne saat ini. Setelah pintu kamar tersebut terbuka, Anne melongakkan kepalanya untuk memastikan keadaan di luar aman. Ia tersenyum manis ketika melihat sosok pria yang berdiri di depan salah satu pintu kamar yang terbuka, dengan segera Anne mengunci kamarnya dan berlari masuk ke dalam kamar pria matang tersebut.
"Kamu terlihat sexy malam ini," ucap om Rudi setelah menutup pintu kamar, "ponselmu ada di kamar kan?" Om Rudi memastikan jika Anne tidak membawa ponselnya.
"Tentu, ponselnya pun saya nonaktifkan," jawab Anne seraya tersenyum simpul.
"Setelah kita pulang ke Indonesia, aku ingin setiap malam melihatmu memakai pakaian seperti ini!" ujar om Rudi setelah merebahkan tubuh Anne ke atas ranjang. Beliau membuka peignoir hitam itu agar bisa melihat sang istri tampil menggoda malam ini.
"No! Karena di rumah masih ada banyak ART yang kapan pun bisa melihat saya tidur di kamar Papi!" Anne menggeleng pelan seraya memiringkan tubuh agar bisa memeluk tubuh yang ada di sisinya itu.
"Itu masalah gampang!" om Rudi mulai melancarkan aksinya, menyusuri rahang sang istri dengan gerakan yang sangat lembut.
Mungkin permainan panas pria dewasa ini akan berlangsung penuh warna di kota Tokyo ini. Seperti biasa om Rudi akan membuktikan, betapa hebat dirinya meski usianya tidak muda lagi. Misi untuk membuat sang istri tak berdaya akan dilaksanakan sebentar lagi, seusai permainan kecil ini akan selesai.
"Katakan, Sayang! Apa yang kamu inginkan?" Om Rudi menghentikan kegiatannya, beliau menengadahkan kepala agar bisa melihat wajah sang istri yang terlihat kacau itu.
Apa yang baru saja dilakukan om Rudi berhasil membuat Anne bergetar tak karuan, Anne segera menurunkan satu kakinya dari atas ranjang agar bisa berdiri dengan benar. Ia merebahkan diri di atas ranjang setelah istana miliknya di serang lidah kucing hingga banjir melanda rawa-rawa.
"Saya ingin terbang bersama Papi malam ini!" ujarnya dengan suara yang parau.
__ADS_1
Om Rudi segera berdiri dari tempatnya saat ini. Beliau tersenyum penuh arti tatkala melihat sorot mata penuh harap sang istri. Senjata kebanggaan pun akhirnya berhasil menyerang istana ratu. Permainan telah dimulai detik ini juga.
Beberapa menit kemudian, ponsel om Rudi yang ada di atas bantal berdering beberapa kali. Beliau berdecak saat Anne berhasil menggapai ponsel tersebut dan diserahkan kepada beliau. Nama Dara terlihat jelas di layar ponsel tersebut.
"Dara yang telfon!" ucap Om Rudi tanpa menghentikan gerakannya.
"Angkat, Pi!" ujar Anne seraya mendorong tubuh sang suami agar menghentikan kegiatannya.
Om Rudi semakin berdecak kesal karena permainan ini harus terjeda. Beliau mengatur napas terlebih dahulu sebelum mengangkat telfon dari putri semata wayangnya itu.
"Iya, Dar!" ucap om Rudi setelah panggilan terhubung. Beliau membuat suara seperti orang yang sedang bangun tidur.
"Pi, Apa tadi Anne pamit kepada Papi jika dia keluar kamar?"
"Tidak, memang kenapa?" tanya om Rudi seraya menatap Anne dengan lekat.
"Dara dari tadi nelfon dia beberapa kali tapi ponselnya tidak aktif, kamarnya pun sudah Dara datangi tapi gak dibuka-buka sama dia, Pi! Dara khawatir terjadi sesuatu dengan dia!"
"Mungkin dia sudah tidur, Nak! Memangnya kenapa kamu mencari Anne?" tanya om Rudi seraya melepaskan diri dari Anne.
"Cream malam Dara ada di tas dia, Pi!"
"Ya sudah gak pakai cream malam dulu! Mungkin Anne sudah tidur ...." Om Rudi mencoba memberikan pengertian kepada putrinya.
Anne harus menahan tawanya setelah mendengar pembicaraan om Rudi dengan Dara. Namun, tangannya masih asyik bermain-main dengan senjata itu agar tidak menciut, karena misi belum selesai. Hingga pada akhirnya, panggilan tersebut terputus dan om Rudi segera meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Come on, Honey! Mari kita lanjutkan permainan ini," ujar om Rudi setelah merebahkan diri di sisi Anne. Beliau tersenyum penuh arti ketika Anne mulai naik ke atas tubuhnya.
...🌹Selamat membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1