
"Selamat Nyonya, Anda memang hamil. Usia janin Anda sudah berjalan lima minggu," ucap dokter kandungan yang sedang menatap layar monitor USG. Tangannya bergerak lincah di atas perut Anne dengan peralatan USG.
"Apa dokter yakin jika saya hamil?" Sekali lagi Anne memastikan hasil pemeriksaan itu. Ia memberanikan diri untuk menatap gambar yang ada di layar monitor tersebut.
Dokter bernama Eka itu menunjukkan janin yang sedang tumbuh di rahim Anne. Dokter itu pun menjelaskan bagaimana kondisi janin yang sedang tumbuh itu. Tak lupa dokter Eka memberikan nasihat kepada Anne agar menjaga kandungannya.
"Bagaimana saya bisa hamil, dok? Bukankah saya rutin ke dokter untuk menunda kehamilan?" tanya Anne setelah pemeriksaan itu selesai. Kini ia duduk berhadapan di depan meja kerja dokter Eka.
"Apakah akhir-akhir ini Nyonya minum susu atau mengkonsumsi obat penyubur?" tanya dokter Eka seraya menatap Anne.
Anne mengeluarkan kotak susu dan obat dari dalam paperbag yang ia bawa. Ia menunjukkan kepada dokter Eka dan tak lupa menjelaskan semua yang terjadi akhir-akhir ini.
"Ini adalah obat khusus dari klinik permata Bunda. Obat ini sangat ampuh untuk menyuburkan kandungan, Nyonya. Hanya dokter Martha yang mempunyai obat mujarab ini." ucap dokter Eka setelah mengamati kapsul yang ditunjukkan oleh Anne.
Setelah mendengar penjelasan dokter Eka bagaimana bisa dirinya hamil. Pada akhirnya Anne keluar dari ruangan tersebut dengan membawa selembar resep obat.
Anne tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Sedih dan bahagia membaur menjadi satu. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata karena segala rasa yang membuncah di dada.
"Kamu hadir di saat yang tidak tepat, Nak. Setelah ini apa yang harus ibu lakukan?" gumam Anne setelah duduk di ruang tunggu apotek.
Seharusnya berita kehamilan ini disambut dengan suka cita. Anne tidak tahu harus bagaimana, ia tak henti mengusap perutnya yang masih rata itu. Haruskah ia marah atas semua yang dilakukan sang suami tanpa sepengetahuannya? Entahlah, Anne sendiri tidak tahu jawabannya.
Selama ini ia tidak pernah curiga terhadap om Rudi. Ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya itu merencanakan semua ini secara diam-diam. Kini, Anne tahu mengapa om Rudi menyuruhnya banyak makan sayur, mengurangi aktivitas seksual dan membuat tubuhnya berisi. Ya, semua itu terjawab sudah dengan kehadiran buah cinta di dalam rahimnya.
"Ya Tuhan, hamba harus bagaimana setelah ini?" Anne menundukkan kepalanya. Ia dihadapkan dengan situasi membingungkan.
__ADS_1
Tidak mungkin ia membesarkan anak tak berdosa ini seorang diri. Namun, ia pun belum bisa memaafkan semua tindakan sang suami di masa lalu. Semua angan itu telah sirna setelah seorang apoteker memanggil namanya.
"Terima kasih," ucap Anne setelah menerima obat dari apoteker tersebut.
...♦️♦️♦️♦️...
Tepat pukul sepuluh pagi, Anne sampai di perusahaan. Ia mengayun langkah menuju ruangannya setelah keluar dari lift. Pras menyambut kehadirannya dengan berita tidak menyenangkan.
"Kalau begitu kita ke sana sekarang!" ujar Anne tanpa masuk ke dalam ruangannya. Sepertinya memang ada yang sengaja mengacaukan proyek pariwisata di Bandung.
Rasa pusing yang begitu hebat mulai menyerang kepala. Pandangan Anne mendadak buram setelah pintu lift terbuka. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lift untuk sejenak dan setelah itu tubuhnya ambruk begitu saja. Pras dengan sigap menahan tubuh itu agar tidak terlentang di lantai kantor.
"Nyonya!" Pras menepuk pipi Anne beberapa kali. Ia mencoba menyadarkan Anne, tapi usahanya seakan sia-sia.
Beberapa orang karyawan yang ada di sana pun membantu Pras mengangkat tubuh Anne. Mobil kantor sudah siap di depan lobby untuk membawa Anne ke rumah sakit terdekat.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit. Pada akhirnya mobil tersebut sampai di depan lobby IGD. Om Rudi ternyata sudah sampai di sana setelah Pras memberikan kabar tentang kondisi Anne.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Pras?" tanya om Rudi setelah keluar dari IGD. Anne sedang ditangani di sana, otomatis om Rudi harus menunggu di luar.
Pras menceritakan kondisi Anne hari ini. Om Rudi malah tersenyum tipis setelah mendengarkan penjelasan dari Pras. Beliau seakan tahu apa yang sedang terjadi dengan Anne saat ini.
"Satu rencanaku berhasil, Pras! Setelah ini tugasmu untuk melaksanakan rencana kedua," ucap om Rudi seraya menepuk bahu Pras dengan diiringi senyum penuh kemenangan.
Obrolan itu harus terhenti tatkala pintu IGD terbuka, seorang perawat mencari keluarga pasien bernama Anne Malila Soedrajat. Om Rudi pun langsung beranjak dari tempatnya, beliau masuk untuk menemui dokter yang menangani sang istri.
__ADS_1
Dokter jaga IGD menjelaskan diagnosa awal pemeriksaan. Dokter wanita itu mengatakan jika Anne sedang hamil. Namun, kondisi fisiknya kurang baik. Dokter tersebut mengatakan jika saat ini asam lambung Anne sedang naik. Itu karena pengaruh dari setres yang dialami pasien.
"Kami membutuhkan persetujuan dari Bapak, kami akan memberikan obat penenang untuk sementara ini, agar pasien bisa istirahat dan cepat pulih," ucap dokter tersebut setelah menjelaskan kondisi Anne saat ini.
"Apa obat tersebut tidak mempengaruhi janin istri saya, dok?" tanya om Rudi.
"Nanti kita akan mencarikan obat khusus ibu hamil dengan dosis yang paling rendah. Dokter spesialis yang akan memberikan obatnya, Pak," ucap dokter tersebut.
Setelah berpikir beberapa menit, om Rudi pada akhirnya menandatangani surat persetujuan. Anne harus dirawat sementara di rumah sakit ini agar kondisinya segera pulih.
"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya," ucap om Rudi seraya menatap dokter tersebut.
Om Rudi kembali keluar dengan membawa berkas untuk administrasi sang istri. Beliau menyerahkan semuanya kepada Pras. Rasa khawatir tentu saja membuat pikiran beliau bercampur aduk.
Setelah menunggu tiga puluh menit, dua orang suster mendorong brankar Anne menuju ruang rawat inap VVIP. Om Rudi pun mengekor di balik tubuh perawat tersebut hingga sampai di ruangan yang dituju.
"Terima kasih, Sus," ucap om Rudi sebelum kedua perawat tersebut keluar dari ruangan ini.
Helaian napas berat terdengar di sana ketika om Rudi melihat wajah pucat sang istri. Rasa bersalah sekaligus bahagia bercampur aduk menjadi satu. Ingin sekali om Rudi mendekap tubuh lemah itu. Beliau sangat merindukan saat-saat indah bersama sang istri selama ini.
Duduk di bangku penunggu sambil mengusap perut sang istri. Ya, itulah yang sedang dilakukan om Rudi saat ini. Beliau berharap buah hati yang sedang tumbuh itu kuat dan sehat. Mengingat saat ini situasinya sedang tidak baik-baik saja. Di kantor pun sedang ada masalah atau lebih tepatnya proyek di Bandung yang bermasalah.
"Sayang, kamu harus tumbuh sehat di sani! Papi berharap kamu menjadi tim Papi. Bantu Papi meluluhkan hati Mami mu, okey!" ucap om Rudi sebelum mendaratkan kecupan di perut tersebut.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...Wah!! Om Rudi mencari bala bantuan nih😁...
...🌷🌷🌷🌷🌷...