Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Berebut Gelar cantik!


__ADS_3

Dua hari kemudian,


Waktu masih menunjukkan pukul lima pagi zona waktu Jepang. Masih terlalu pagi untuk mulai beraktifitas. Namun, tidak bagi kedua wanita yang sedang sibuk bersiap bersama MUA dan hair do yang sengaja dipanggil untuk membuat Dara tampil sempurna hari ini.


Wisuda pascasarjana akan digelar nanti saat pukul sepuluh di gedung pertemuan yang ada di kampus. Dara dan Juna hari ini akan mengikuti wisuda tersebut dan setelah itu beberapa minggu lagi mereka akan kembali ke Indonesia.


"Mici, Hakama ku di mana?" tanya Dara setelah seorang hair do selesai menata rambutnya. Hakama adalah pakaian tradisional Jepang seperti kimono, biasa dipakai upacara wisuda bagi mahasiswi.


"Di ruang baca," ucap Anne tanpa membuka kelopak matanya, karena saat ini bagian kelopak matanya yang sedang di poles MUA dengan eye shadow.


Hakama yang dipakai Dara sengaja dipesan dari designer Indonesia, karena Dara mau memakai kain batik untuk pakaiannya. Semua keperluan Dara sudah disiapkan oleh Anne, ia tahu bagaimana selera putri sambungnya itu.


Persiapan kedua wanita itu berjalan selama kurang lebih dua jam. Mereka terlihat cantik dengan style masing-masing. Kali ini Anne dan om Rudi pun memakai batik untuk menghadiri wisuda Dara dan Juna.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Juna setelah MUA dan hair do tersebut menyelesaikan tugasnya dan pergi dari rumah ini.


"Aku cantik 'kan Say?" tanya Dara seraya memutar tubuhnya di hadapan Juna.


"Cantik, dong! Cantik banget," puji Juna tanpa melepaskan pandangan dari sang istri.


Melihat hal itu, membuat Anne merasa iri dengan pasangan muda yang ada di dekatnya itu. Ia tidak mau kalah dengan Dara. Segera ia berdiri di hadapan om Rudi dengan menampilkan senyum manis yang membuat dunia om Rudi rasanya runtuh.


"Papi, bagaimana penampilan saya hari ini? Cantik atau kurang cantik?" tanya Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang suami.


Om Rudi tersenyum tipis mendengar pertanyaan yang sering dilontarkan oleh sang istri. Beliau menepuk bahu sang istri dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan itu,


"kamu selalu terlihat cantik di mata Papi," ucap om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang istri.


Dara bergidik ngeri melihat kemesraan ayahnya. Ia segera berjalan ke tempat Anne dan om Rudi saat ini untuk mengganggu keromantisan yang membuatnya merasa iri.

__ADS_1


"Papi! Dara gak dipuji nih!" protes Dara setelah berdiri di samping Anne, "kata Papi dulu, gak ada wanita cantik selain Dara 'kan!" ujar Dara seraya bersedekap.


Om Rudi menepuk keningnya setelah mendengar protes dari Dara. Beliau bisa memastikan setelah ini akan ada kejadian apa. Kedua wanita ini pasti tidak mau mengalah satu sama lain.


"Kamu juga cantik, Sayang. Putrinya Papi memang cantik dan selalu cantik!" Om Rudi mengalihkan pandangannya ke arah Dara.


Anne mengerucutkan bibirnya setelah mendengar hal itu, "Ih Papi! saya yang cantik, Pi!" Protes Anne seraya bersedekap seperti Dara.


"Eh, ya enggak lah! Enak aja! Yang cantik itu pasti aku!" Dara mengalihkan pandangannya ke samping, ia tidak terima dengan statement ibu sambungnya itu.


"Gak! pokoknya aku yang paling cantik!" Anne tidak mau kalah dalam hal ini.


"Aku, ih!" Sama halnya dengan Dara, wanita yang sebentar lagi melaksanakan wisuda itu pun tetap pada pendiriannya.


"Hey! Sudah! Sudah! Stop!" Om Rudi menginterupsi kedua wanita yang sedang bersitegang di hadapannya karena sebuah pengakuan.


"Gak usah ribut! Kalian sama-sama cantik!" ujar om Rudi seraya menatap keduanya.


Om Rudi menggelengkan kepalanya ketika kedua wanita itu masih mendebatkan perihal yang tidak penting. Beliau berjalan ke tempat Juna berada karena menantunya itu terlihat akan keluar dari rumah.


"Mau kemana kamu?" tanya Om Rudi hingga membuat Juna harus menghentikan langkahnya.


"Saya mau menyiapkan mobil dulu, Pi," jawab Juna dengan sikap yang terlihat tenang.


Om Rudi tersenyum smirk ketika mendengar jawaban dari menantunya. Tentu beliau tahu jika Juna ingin kabur dari kedua wanita yang masih berdebat itu. Om Rudi menyodorkan telapak tangannya kepada Juna, sebuah kode agar Juna menyerahkan kunci mobil.


"Biar Papi saja yang menyiapkan mobilnya! Kamu di sini saja untuk menjadi wasit!" ucap om Rudi seraya tersenyum penuh kemenangan setelah menerima kunci mobil dari Juna.


Juna mengusap wajahnya kasar setelah om Rudi berlalu dari ruang tamu. Kini ia harus mencari cara agar kedua wanita labil itu berhenti berdebat dan segera berangkat menuju kampus.

__ADS_1


"Sayang! Kita bisa terlambat jika perdebatan tidak penting ini terus berlanjut!" ujar Juna setelah berdiri di sisi Dara.


"Duh! Sayang! Jangan menganggu kami!" jawab Dara seraya menatap Juna dengan bibir yang mengerucut.


Anne membelalakkan mata tatkala melihat kejadian tak terduga di hadapannya. Ia menjauhkan diri dari Dara setelah melihat Juna mendaratkan bibirnya di bibir Dara. Ia berlalu begitu saja dari ruang tamu karena geli melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya.


"Ih apaan coba!" gerutu Anne setelah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa, Sayang?" Om Rudi mengalihkan pandangannya ke samping setelah sang istri duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


Anne menggeleng pelan seraya menatap sang suami. Ia lebih memilih menyandarkan kepalnya di kursi daripada menceritakan apa yang sudah ia lihat. Beberapa menit kemudian, Dara dan Juna masuk ke dalam mobil. Kali ini, om Rudi sendiri yang menjadi sopirnya karena sudah terlanjur duduk di depan bersama sang istri. Juna sempat menawarkan diri untuk menggantikan sang mertua, tetapi ditolak oleh om Rudi.


Setelah menempuh perjalanan kurang dari tiga puluh menit, pada akhirnya mobil yang dikendarai om Rudi sampai di kampus tempat putrinya menimba ilmu. Segera Dara dan Anne keluar dari mobil, mereka berdua sibuk merapikan pakaian masing-masing.


"Ayo, Mici!" Dara menggandeng tangan ibu sambungnya itu tanpa menatap kedua pria yang baru saja keluar dari mobil.


Kedua wanita labil itu pada akhirnya kembali akur setelah sempat berdebat. Mereka terlihat bahagia saat berjalan menyusuri halaman luas kampus tersebut. Beberapa kali mereka berhenti saat menemukan spot yang cocok untuk mengabadikan momen ini.


"Lihatlah! Betapa membingungkan nya kedua wanita itu! Beberapa waktu yang lalu mereka berdebat, sekarang mereka akur lagi, huuh!" Om Rudi menghela napasnya setelah menatap Juna sekilas.


Juna hanya tersenyum mendengar keluhan sang mertua. Ia mempersilahkan sang mertua agar berjalan di depannya. Mereka harus memasuki gedung yang sudah disiapkan untuk wisuda sebelum terlambat.


Setelah melewati serangkaian proses penyambutan dan upacara, pada akhirnya acara inti telah tiba. Satu persatu peserta wisuda maju ke depan saat namanya dipanggil. Anne menitikkan air mata karena bahagia saat mendengar nama Dara dipanggil. Ia tersenyum simpul melihat raut wajah Dara yang terlihat bahagia. Pada akhirnya setelah menempuh pendidikan selama dua tahun di Jepang, Dara dan Juna mendapatkan gelar S2.


Setelah semua peserta selesai diwisuda, kini tibalah acara pidato perpisahan dari beberapa mahasiswa. Juna naik ke atas panggung setelah namanya dipanggil dalam kategori mahasiswa dengan nilai terbaik.


"Saya bangga kepadamu, Nak! Semoga kamu bisa membahagiakan Dara dengan caramu sendiri!" batin om Rudi ketika menatap Juna yang sedang berpidato di atas panggung.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Karena othor sedang baik hati🤭 maka konflik othor undur dulu setelah Dara dan Juna menyelenggarakan resepsi🤣 Yuk, kita seru-seruan dan ambil napas dulu sebelum emosi, okey😝...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2