
"Mas, dingin, Mas!"
Anne menggigil di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Suara rintihan Anne berhasil membuat om Rudi membuka kelopak matanya. Beliau segera duduk dan meraba nakas untuk menghidupkan lampu.
"Duh, kenapa lagi?" Om Rudi bergumam setelah melihat sang istri meringkuk di balik selimut.
Tangan om Rudi terulur untuk menyentuh kening sang istri. Punggung tangan tersebut merasakan panas yang lumayan tinggi. Om Rudi bergegas turun untuk mengambil wadah dan kain untuk mengompres kening sang istri. Sudah tiga hari sejak pulang dari Bandung, Anne demam tinggi di saat malam tiba, padahal dokter sudah memberinya obat.
"Mas! Dingin, Mas!" racau Anne tanpa membuka kelopak matanya.
"Sayang, bangunlah!" Om Rudi menepuk pipi Anne beberapa kali.
"Mas, punggungku panas dan gatal nih!" keluh Anne saat kelopak matanya terbuka. Ia mengarahkan tangan ke belakang untuk menggaruk punggungnya.
"Apa mungkin kamu alergi?" tanya om Rudi.
"Gak tahu, Mas! Gatal banget ini!" Anne semakin menggaruk punggungnya.
"Jangan digaruk terus! Nanti lecet, Sayang. Coba hadap sana!" Om Rudi memberikan kode kepada sang istri agar mengubah posisinya.
Om Rudi mulai menyingkap atasan piyama sang istri. Beliau melihat ada ruam merah di punggung sang isti, akan tetapi beliau tidak tahu apa yang menyebabkan kulit sang istri seperti ini.
"Seperti ada airnya ini," gumam om Rudi setelah mengamati punggung mulus itu, "jangan digaruk, Sayang! Takutnya, kalau cairan ini akan melebar dan menimbulkan ruam baru," ucap om Rudi.
"Aduh! Gak tahan, Mas! Gatal dan panas!" gerutu Anne seraya menoleh ke samping.
"Besok kita ke dokter kulit saja!" ucap om Rudi seraya menekan ruam sang istri dengan tissu.
__ADS_1
Malam ini sepertinya om Rudi harus begadang, karena Anne terus merintih kesakitan. Ia merasakan ngilu di sekujur tubuh. Suhu tubuhnya pun tergolong demam tinggi. Keadaan seperti ini, membuat Anne tidak sabar menunggu pagi tiba.
"Mas, gatalnya semakin ke atas ini, aduh!" keluh Anne sekali lagi.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Lalu lintas kendaraan di jalanan kota masih lenggang. Bahkan, sang mentari belum menampakkan diri. Siluet jingga terlukis di cakrawala timur pertanda persimpangan waktu telah datang. Warna gelap mulai pudar karena takut akan kuasa sang mentari.
"Mas! Kenapa jadi begini?" Anne tergugu saat mengamati tubuhnya. Hampir di sekujur tubuhnya dipenuhi ruam merah dan bintik-bintik. Rasanya pun gatal dan panas.
"Sabar, Sayang! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit," ucap om Rudi, "lebih cepat, Pak!" titah om Rudi saat menatap wajah sopirnya dari spion dalam.
Mobil tersebut semakin melesat di atas jalan kota yang lenggang. Beberapa puluh menit kemudian, mobil hitam tersebut sampai di depan lobby IGD. Om Rudi bergegas keluar dari mobil dan berjalan mengelilingi mobil tersebut. Beliau membukakan pintu untuk sang istri.
Seorang satpam segera menghampiri om Rudi dengan membawa kursi roda. Tanpa banyak bicara, om Rudi segera mendorong kursi roda tersebut masuk ke dalam IGD. Jujur saja beliau khawatir terjadi sesuatu yang dengan sang istri. Beliau khawatir dengan kandungan Anne yang belum genap delapan bulan itu.
"Silahkan duduk di ruang tunggu, Pak!" ucap seorang perawat seraya menunjukkan ruangan bersekat kaca yang ada di koridor IGD.
"Jadi, bagaimana, dok, kondisi istri saya?" tanya om Rudi setelah duduk berhadapan dengan dokter pria yang memeriksa Anne.
"Jadi begini, Pak. Diagnosa pertama kami, istri Bapak terkena cacar air yang disebabkan virus Varicella zoster. Jika Bapak setuju, saya menyarankan agar Nyonya Anne dirawat saja. Nanti akan ditangani dan dipantau langsung oleh dokter spesialis, mengingat istri Anda pun sedang hamil besar." Dokter tersebut menyampaikan diagnosa awal secara rinci.
"Cacar air? Kenapa bisa begitu, dok?" tanya Om Rudi. Beliau tidak percaya saja jika penyakit yang kerap dialami anak-anak, ternyata bisa menyerang orang dewasa.
"Mungkin, kondisi tubuh istri Bapak sedang tidak baik-baik saja. Kekebalan tubuhnya menurun. Banyak kasus cacar air yang menyerang orang dewasa dan kebanyakan dari meraka adalah wanita hamil," ucap dokter tersebut.
"Tolong, lakukan yang terbaik untuk istri saya." Om Rudi hanya bisa pasrah, agar sang istri lekas sembuh.
__ADS_1
Setelah om Rudi menandatangani surat persetujuan rawat inap, tim medis segera menangani Anne. Mulai dari tes laboratorium hingga serangkaian tes yang lain. Penyebaran cacar air begitu cepat di tubuh mulus itu. Hampir di sekujur tubuh Anne dipenuhi bintik merah, tak terkecuali wajahnya. Bahkan, bintik merah itu muncul di kulit kepala Anne.
Dua orang suster mendorong brankar Anne keluar dari IGD setelah kamar yang dipesan om Rudi selesai disiapkan. Anne terus mengeluh panas dan gatal. Wanita hamil itu pun harus menahan sekuat tenaga agar tidak menggaruk kulitnya.
"Terima kasih, Sus," ucap om Rudi setelah kedua suster tersebut menyelesaikan tugasnya. Kini, kedua suster tersebut pamit keluar dari ruangan VVIP ini.
Om Rudi sedih melihat kondisi sang istri saat ini. Jujur saja, beliau tidak tega melihat Anne terus mendesis karena menahan rasa tidak nyaman di tubuhnya. Beliau duduk di kursi yang ada di sisi bed pasien yang ditempati Anne.
"Mas, jangan mendekat, Mas! Kata dokter, ini penyakit menular!" ujar Anne setelah om Rudi menyentuh tangannya.
"Mas tidak perduli! Mau tertular ataupun tidak, Mas akan tetap di sini dan menyentuh kulitmu!" ujar om Rudi seraya menatap sang istri, "kenapa kamu bisa seperti ini?" tanya om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari sang istri.
"Aku tidak tahu, Mas!" ujar Anne tanpa menatap om Rudi, ia mengamati kondisi kulitnya saat ini, "aku gak cantik dan gak menarik lagi, ya, Mas?" tanya Anne dengan bibir yang mengerucut.
"Apapun keadaanmu, kamu tetap cantik!" Om Rudi menggenggam tangan Anne dengan erat, "coba kamu ingat, kapan terakhir kamu bertemu orang banyak!" ujar om Rudi seraya menatap sang istri.
Bola mata itu bergerak ke kiri dan kanan. Anne terlihat serius untuk mengingat beberapa hari belakangan ini. Ia mulai mengingat peristiwa saat menunggu Dara melahirkan sampai dirinya pulang beberapa hari yang lalu.
"Perasaan aku tidak bersentuhan dengan orang lain, Mas," gumam Anne setelah tidak menemukan apapun dalam memori di otaknya.
"Coba ingat lagi! Mungkin kamu bertemu penderita cacar air di rumah sakit saat di Bandung atau saat kita berada di rumah sakit dekat jalan tol?" Om rudi mulai membantu sang istri agar teringat memori beberapa hari yang lalu.
Anne menaikkan satu alisnya setelah mendengar ucapan om Rudi. Ia mencoba mengingat sekali lagi, saat berada di rumah sakit. Tangannya mulai membekap mulut ketika teringat saat menolong seorang wanita muda di rumah sakit kala itu.
"Ya, aku ingat, Mas! Waktu aku ke toilet di rumah sakit dekat tol, aku menolong wanita di toilet. Seingatku, keadaannya juga seperti ini!" ujar Anne seraya menunjukkan tangannya yang dipenuhi bintik merah.
...🌹Selamat membaca 🌹...
__ADS_1
...Ada yang mau nengok Anne gak nih?...
...🌷🌷🌷🌷🌷...