
Satu bulan kemudian,
"Pras, apakah kamu sudah membuatkan janji dengan dokter Martha?" tanya om Rudi setelah teringat jika siang ini harus bertemu seseorang.
"Sudah, Pak. Bapak bertemu dengan dokter Martha nanti siang di kliniknya, saya akan mengantar Bapak ke sana," ucap Pras seraya menatap om Rudi.
Hari ini Anne sedang pergi ke Bandung bersama Risa untuk sidak ke proyek pariwisata yang sedang berjalan. Om Rudi sengaja membiarkan sang istri pergi ke sana sendiri karena beliau ingin melihat seberapa besar tanggung jawab Anne dalam bekerja. Ada beberapa orang yang sudah ditugaskan Pras untuk memantau keselamatan sang nyonya. Tentu itu pun atas perintah dari om Rudi.
Setelah Pras berlalu dari ruangannya, om Rudi mengalihkan pandangan ke bingkai kecil yang ada di atas meja kerja. Beliau tersenyum manis melihat potret keluarga kecil beliau saat Anne dan Dara wisuda.
"Sebentar lagi aku akan menjadi kakek," gumam om Rudi seraya mengusap foto tersebut.
Kemarin malam Dara memberi kabar jika sedang hamil muda. Sebelum menggelar pernikahan resmi atau lebih tepatnya setelah ia kembali ke Indonesia. Dara dan Juna kembali ke dokter kandungan untuk program hamil setelah dua tahun menunda kehamilan. Tanpa diduga, ternyata Tuhan mengizinkannya hamil dalam waktu yang sangat dekat.
Helaian napas berat terdengar di dalam ruang kerja itu. Om Rudi menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya. Beliau memejamkan mata untuk melepas semua beban yang ada dalam pikiran. Ada satu pekerjaan yang menyita pikirannya akhir-akhir ini.
"Ah sudahlah! Aku tidak mau terlalu memikirkan semua itu!" Om Rudi mengusap wajahnya kasar setelah melepas penat untuk beberapa detik saja.
Om Rudi kembali fokus meninjau hasil laporan yang diberikan oleh Risa. Beliau harus menyusun strategi dalam proyek baru yang baru saja masuk. Wajahnya terlihat sangat serius di saat seperti ini.
Waktu menjelang makan siang telah datang. Pras masuk untuk memberitahu om Rudi jika saat ini harus berangkat menemui dokter Martha di kliniknya. Pria matang itu segera meraih ponsel yang ada di meja dan berjalan keluar dari ruangan ini.
"Pastikan Anne tidak mengetahui jika saya konsultasi dengan dokter Martha," ucap om Rudi setelah sampai di dalam lift.
__ADS_1
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Langit telah berubah menjadi gelap setelah sang surya kembali ke peraduan. Gemerlap bintang mulai hadir untuk menggantikan sang demi malam yang sedang bersembunyi di balik awan.
Aroma vanila musk memenuhi ruangan walk in closet milik om Rudi. Anne baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuh di sana. Ia baru pulang dari Bandung tiga puluh menit yang lalu.
Anne membuka almari untuk mencari pakaian yang cocok dipakai malam ini. Ia pun pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada dress tanpa lengan berwarna navy. Segera ia melepaskan tali bathrobe yang ada di perutnya.
Tubuh molek nan mulus terpampang jelas di sana. Anne menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Ada kepuasan tersendiri setelah melihat bagian tubuh yang biasa ia banggakan di hadapan om Rudi.
"Ih Papi!" Anne terkesiap ketika om Rudi berada di balik tubuhnya. Ia merasakan geli karena om Rudi mengecup bahunya beberapa kali.
"So sexy, Sayang," gumam om Rudi setelah mengalihkan pandangan ke arah cermin yang ada di hadapannya.
"Tentu!" jawab om Rudi, "tapi kali ini kamu harus banyak makan, Sayang," gumam om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari pantulan cermin di hadapannya.
"Why?" Anne mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan sang suami.
"Semenjak kerja, kamu menjadi lebih kurus. Papi suka melihat kamu lebih berisi, karena lebih terlihat menggemaskan. Naikkan sedikit lagi berat badanmu, Sayang," ucap om Rudi dengan tangan yang tak henti menyusuri setiap jengkal tubuh sang istri.
Anne melenguh panjang ketika tangan itu menyentuh ujung squizi. Matanya terpejam karena merasakan permainan kecil sang suami. Namun, tidak lama setelah itu, semua rasa itu hilang begitu saja tatkala om Rudi menghentikan kegiatannya.
"Kita makan malam dulu, Sayang. Kalau kita melakukan ini dulu, pasti lupa makan malam," bisik om Rudi sebelum mengecup tengkuk sang istri, "bersiaplah, Papi tunggu di ruang makan," ucap om Rudi sebelum meninggalkan Anne di ruangan tersebut.
__ADS_1
Anne berdecak kesal setelah om Rudi keluar dari ruangan ini. Rasa yang menggebu perlahan hilang karena ulah sang suami. Segera Anne memakai dress berwarna navy itu tanpa memakai dua pengaman di bagian sensitifnya.
Setelah selesai bersiap, Anne bergegas menyusul sang suami ke ruang makan. Wajahnya terlihat natural tanpa polesan make-up. Hanya lipstik saja yang mewarnai bibirnya agar tidak terlihat pucat.
"Kamu sangat nakal!" ujar om Rudi setelah Anne duduk di kursinya. Pria matang itu melihat dengan jelas ujung squizi yang sangat menantang di balik dress tipis yang dikenakan sang istri saat ini.
"Biasa aja," ucap Anne tanpa menatap sang suami. Ia sibuk memilih menu makan malam yang tersaji di atas meja makan, "kenapa bi Sari menyiapkan susu untuk saya, ya?" Anne bergumam setelah melihat segelas susu putih ada di sisi piringnya.
"Papi yang menyuruh bi Sari menyiapkan susu ini," jawab om Rudi seraya menatap sang istri, "susu itu bagus untuk menaikkan berat badanmu, Sayang. Susu itu tidak membuatmu terlalu gemuk, jadi sesuai dengan kebutuhan yang kamu inginkan, maka dari itu disarankan untuk minum di malam hari, setelah makan malam ataupun sebelum tidur. Papi mendapatkan susu ini khusus dari ahli gizi." Om Rudi menatap sang istri dengan lekat.
Anne tak mempermasalahkan masalah itu lagi, ia percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang suami. Toh, tidak mungkin suaminya itu sampai memberinya racun. Makan malam pun pada akhirnya berlangsung tanpa iringan suara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang mengiringi makan malam sepasang suami istri itu.
"Susunya saya bawa ke kamar saja ya, Pi. Sekarang masih kenyang. Nanti sebelum tidur saya minum," ucap Anne setelah menyelesaikan makan malamnya.
"Oke, tidak masalah. Kamu ke kamar dulu, Papi mau ke ruang kerja sebentar. Ada sedikit pekerjaan yang harus Papi selesaikan," ujar om Rudi setelah berdiri dari tempatnya.
Anne mengangguk pelan sebelum meninggalkan ruang makan. Tak lupa ia membawa segelas susu tersebut ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, ia meletakkan gelas di genggamannya di atas nakas. Lantas ia meraih ponsel yang ada di dekat bantal. Anne membuka pesan masuk di aplikasi hijau itu dan ternyata ada pesan dari Dara. Senyum manis mengembang begitu saja dari bibirnya setelah membaca pesan panjang dari Dara. Putri sambungnya itu mengeluh tentang morning sickness yang dialami.
"Aku ikut bahagia, Dar, karena kamu sudah menemukan kebahagiaan yang lengkap. Kamu memiliki segalanya saat ini. Semoga kehadiran buah hatimu nanti membuatmu semakin bahagia," gumam Anne setelah membalas pesan dari Dara.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Selamat hari minggu semua❤️ Ada yang bisa nebak setelah ini ada apa?🤣...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...