
Suasana menegangkan terasa di dalam ruang utama perusahaan Royale group. Peltikan api telah berkobar membakar hati yang dipenuhi berbagai rasa yang berkecamuk. Ruangan itu mendadak sunyi sepi setelah om Rudi melayangkan pertanyaan panjang kepada Anne.
"Jawab pertanyaanku!" Om Rudi mendesak Anne agar mengatakan bagaimana perasaannya.
"Tidak! Aku tidak pernah mencintai Anda! Semua yang saya lakukan selama ini karena terpaksa!" Anne menjawab pertanyaan itu tanpa menatap om Rudi. Ia lebih memilih untuk menatap kaca besar yang tak jauh darinya.
Tentu sikap yang ditunjukkan Anne saat ini membuat bibir om Rudi tersenyum tipis, walau hanya sekejap saja. Pria matang itu sudah tahu bagaimana jawaban yang sesungguhnya.
"Setelah ini saya akan mengurus surat perceraian kita!" ujar Anne seraya menatap wajah yang terbingkai rahang kokoh itu.
"Tidak! Sampai kapun pun saya tidak akan menceraikan kamu! Apapun yang terjadi kamu adalah milikku! Milikku!" Om Rudi menegaskan kata-kata terakhirnya.
Anne tersenyum smirk mendengar jawaban itu. Ia menatap jengah pria matang yang ada di hadapannya itu. Ia sendiri belum yakin dengan keputusan ini, karena mengurus surat cerai tidak ada dalam rencana yang sudah ia susun.
"Saya akan menceraikan Anda! Dulu Anda memaksa saya menikah dengan Anda karena uang dan sekarang pun saya akan melakukan hal yang sama! Saya akan menceraikan Anda dengan kekuatan uang! Saya akan membayar mahal pengacara untuk mengurus semua ini!" Anne mengarahkan jari telunjuknya ke arah om Rudi dengan tatapan mata yang nyalang.
Om Rudi tersenyum simpul mendengar ancaman sang istri. Lantas beliau menghela napasnya yang berat karena masalah ini. Pikiran mendadak buntu dan ide pun hilang begitu saja. Sepertinya pergi dari tempat ini jauh lebih baik untuk menyusun strategi melawan Anne.
"Coba saja! Silahkan saja kalau bisa!" Om Rudi menantang Anne sebelum pergi dari ruangan ini.
Anne geram mendengar tantangan dari om Rudi. Ia menghempaskan diri di kursi hitam tersebut setelah pintu tertutup rapat. Gemuruh di dalam dada berhasil membuat mata indah itu mulai berembun. Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, yang pasti wanita yang sedang menunjukkan taringnya itu membiarkan air matanya luruh.
__ADS_1
"Satu hal yang pasti! Aku hanya ingin mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan!" Anne bergumam dengan kepala yang tertunduk. Kedua tangannya tertekuk di atas meja, sementara telapak tangannya menyibak rambut yang menutupi wajahnya.
Hari beranjak siang, waktu pun begitu cepat berlalu. Beberapa berkas telah selesai dipelajari oleh Anne. Ia melakukan semua pekerjaan seperti yang diajarkan oleh om Rudi dulu. Jam makan siang pun akhirnya datang. Segera Anne beranjak dari tempatnya, tak lupa ia meraih tasnya.
"Bu Risa, saya mau keluar. Hari ini tidak ada jadwal rapat 'kan setelah makan siang?" pamit Anne kepada Risa sebelum pergi.
Setelah pamit kepada Risa, pemilik baru perusahaan ini segera mengayun langkah menuju lift. Entah kemana wanita cantik itu akan pergi, yang pasti, mobil putihnya melenggang dari halaman luas perusahaan ini.
Wajah cantik itu nampak sendu karena segala rasa yang berkecamuk di dalam dada. Mobil putih yang dikendarai pun terus melaju hingga sampai di tempat pemakaman. Sebelum turun dari mobil tak lupa ia melepas blazer kerjanya.
Langkah demi langkah telah Anne lalui hingga sampai di ujung tempat tersebut. Ia meletakkan buket bunga yang ada di genggaman tangannya di depan kedua pusara tersebut. Lantas ia duduk di antara dua gundukan tanah yang ditumbuhi rumput yang terawat itu.
"Anne datang, Ma, Pa," ucap Anne seraya menatap kedua pusara tersebut.
"Papa ... Anne sudah mendapatkan apa yang seharusnya milik kita, Pa. Tapi Anne tidak bisa melakukan satu hal yang sangat berlawan dengan hati Anne." Tatapan mata Anne terlihat sendu saat menatap batu nisan sang ayah.
"Anne minta maaf akan hal itu," ucapnya lagi, "mama dan papa tidak usah mengkhawatirkan Anne lagi, karena sekarang Anne bisa menjaga diri dan menjadi pemimpin perusahaan. Semoga papa dan mama tenang di sana." Anne mengusap air mata yang membasahi pipi mulusnya.
Cukup lama Anne berada di sana. Untung saja kedua makan kedua orang tuanya ada di bawah dahan pohon yang rindang. Ia melepas rindu bersama orang tuanya meski tidak bisa bertemu mereka. Hingga pada akhirnya, ia memutuskan beranjak dari tempatnya karena harus kembali ke kantor.
"Anne pulang dulu, ya, Pa ... Ma," ucapnya sebelum berlalu dari tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.
__ADS_1
...♦️♦️♦️♦️...
Bulan telah hadir bersama angin malam. Bentuk bulan yang sempurna menambah keindahan langit gelap tanpa hamparan bintang. Hembusan angin malam menerpa wanita yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia sedang menenangkan diri untuk membuang rasa tidak nyaman yang merasuk di dalam hati.
Kelopak mata itu terbuka lebar setelah mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ia segera pergi dari balkon tersebut dan tidak lupa menutup pintu penghubung. Langkah demi langkah telah ia lalui hingga sampai di depan pintu, ia segera membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang datang.
"Ada apa, Bi?" tanya Anne setelah melihat kehadiran asisten rumah tangga yang ada bekerja di sini.
"Saya hanya mengantarkan susu untuk, Nyonya," ucap bi Sari seraya menyerahkan segelas susu vanila.
"Terima kasih, Bi," ucap Anne sebelum bi Sari berlalu dari hadapannya.
Anne duduk di tepi ranjang. Ia menatap gelas berisi susu rasa vanila itu. Ada rasa ragu menyapa hati dan pikiran Anne saat ini, akan tetapi semua itu tidak mempengaruhinya. Ia tetap menghabiskan susu itu seperti malam-malam sebelumnya.
Sebelum merebahkan diri, ia menatap ke sekeliling kamar mewah itu. Ada rasa sepi yang menyapa hati. Malam-malam indah bersama sang suami terlintas dalam ingatan. Namun, Anne segera menepis perasaan itu. Ia segera merebahkan diri agar semua pikiran liar itu hilang dari ingatan. Anne harus bisa melupakan semua kehangatan, sikap manis dan kasih yang ia rasakan selama ini meskipun tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Cukup lama Anne berusaha terlelap dan terbang menembus mimpi. Namun, matanya tidak bisa diajak kompromi. Sekuat apapun Anne berusaha, ia tetap terjaga. Rasa sepi semakin merayap di dalam hati kala waktu terus berjalan hingga larut malam.
"Aku harus melupakan dia! Aku harus terbiasa tidur sendiri! Ya, aku harus bisa! Harus!" Anne memijat pangkal hidungnya sambil mengucapkan semua itu beberapa kali.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...Ada yang bisa menebak, apa yang terjadi di masa lalu? Mau langsung ke intinya, atau ditunda dulu nih? kuy komen😎...
...🌷🌷🌷🌷🌷...