
Satu minggu kemudian,
"Segera akhiri semua ini, Pras! Ini tidak bisa dibiarkan!" ujar om Rudi sebelum memutuskan sambungan telfon bersama asistennya.
Kilatan amarah terlihat jelas dari sorot mata om Rudi. Pria matang itu sedang termenung di balkon apartmentnya. Beliau sedang memikirkan cara untuk menggagalkan kecurangan yang terjadi di proyek pariwisata yang ditangani oleh Anne.
Setelah diusir Anne kala itu, om Rudi tinggal di salah satu apartment pribadi yang tidak diketahui oleh siapapun. Di tempat ini lah beliau menahan segala kerinduan kepada sosok wanita yang sedang mengandung benihnya. Kondisi Anne mulai membaik. Ia dirawat di rumah sakit selama empat hari. Namun, ia belum bisa fokus dengan urusan kantor karena dilarang dokter terlalu lelah dan banyak pikiran.
"Arroy! Kamu sudah berani bermain-main denganku! Dua kali kamu mempermainkan perusahaanku! Lihat saja, kamu pasti akan menyesal, apalagi jika kamu sampai berani menyentuh istriku!" Om Rudi meremas pagar pembatas yang ada di balkon.
Hembusan angin malam mulai menerpa. Om Rudi memutuskan pergi dari balkon tersebut, tidak lupa beliau menutup pintu penghubung menuju balkon. Beliau harus menyiapkan beberapa hal sebelum beraksi di hari esok. Semua kekacauan harus diakhiri karena ada pihak lain yang memanfaatkan situasi ini.
"Terus awasi pria bernama Arroy! Kalau dia macam-macam, langsung eksekusi saja!" titah om Rudi setelah panggilan terhubung dengan salah satu orang kepercayaannya.
Om Rudi masuk ke dalam kamar. Beliau harus beristirahat karena malam semakin larut. Sebelum tidur tidak lupa beliau mengirim pesan kepada Anne walaupun tidak pernah dibalas. Om Rudi sekadar mengingatkan agar Anne tetap menjaga mood dan kesehatannya.
"Anne ... Anne! ternyata kamu masih labil," gumam om Rudi setelah meletakkan ponselnya di atas nakas.
Kebekuan di antara Dara dan om Rudi belum mencair. Beliau beberapa kali mencoba menelfon putrinya itu, akan tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya Dara masih marah. Om Rudi hanya bisa bersabar untuk menunggu kode dari menantunya, karena Juna sudah berjanji untuk membantu beliau meluluhkan hati Dara. Sementara waktu, Juna meminta om Rudi agar tidak menemui Dara terlebih dahulu.
"Gak anak, gak istri, mereka sama saja! Bikin pusing!" Om Rudi mengusap wajahnya kasar. Helaian napas berat pun mulai terdengar di sana.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
"Apa Nyonya menginginkan sesuatu lagi?" tanya bi Sari setelah menemani Anne menghabiskan satu kotak ice cream di ruang makan.
__ADS_1
Anne meletakkan sendok ice cream tersebut. Ia terlihat memikirkan sesuatu, "sepertinya tidak ada, Bi, saya sudah kenyang." Anne menatap asisten rumah tangganya itu dengan diiringi senyum manis.
"Silahkan bi Sari kembali ke paviliun. Saya juga mau kembali ke kamar," ucap Anne setelah melihat bi Sari menguap beberapa kali.
Ya, bi Sari harus menahan rasa kantuknya karena beberapa puluh menit yang lalu, Anne datang ke paviliun untuk menjemput beliau langsung. Wanita berbadan dua itu ingin menikmati ice cream sambil ditemani bi Sari. Alhasil, mau tidak mau bi Sari pun mengikuti keinginan Anne.
"Nyonya yakin?" tanya bi Sari.
"Iya, Bi. Silahkan Bi Sari kembali ke paviliun. Maaf sudah merepotkan Bibi," ucap Anne dengan diiringi senyum yang manis.
Tak berselang lama, Anne pun beranjak dari ruang makan. Ia menapaki satu persatu anak tangga agar sampai di kamarnya. Malam ini keinginannya telah terpenuhi, ia tidak merasa mual setelah menghabiskan satu kotak ice cream.
Setelah masuk ke dalam kamar, Anne segera naik ke atas ranjang dan merebahkan diri di tempatnya. Ia meraih ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat pesan masuk malam ini. Ia membaca satu pesan panjang dari orang yang sama setiap malamnya. Anne hanya membaca pesan itu, ia tidak minat untuk membalas pesan tersebut.
"Emang dipikir aku anak kecil apa ya, sampai setiap hari harus diingatkan makan!" gerutu Anne setelah selesai membaca pesan panjang yang dikirim oleh om Rudi.
Padahal, jika memang Anne bersedia, ia bisa meminta langsung agar om Rudi kembali ke rumah ini. Namun, hati dan pikirannya masih dikuasai perasaan benci dan gengsi. Dua rasa inilah yang membuatnya tersiksa sendiri. Meminta om Rudi kembali ke rumah ini, sama halnya dengan menjilat ludah sendiri.
...****************...
Malam telah berlalu begitu saja. Siluet jingga di cakrawala timur berhasil memudarkan langit yang gelap. Semakin lama warna gelap semakin hilang kala sang surya muncul di langit timur. Langit gelap pada akhirnya berganti dengan warna biru sepenuhnya. Munculnya beberapa awan semakin menambah keindahan langit cerah kota Jakarta di pagi hari.
"Saya sedang dalam perjalanan, Bu," ucap Anne setelah mendengar penjelasan Risa lewat sambungan telfon.
"Lebih cepat, Pak!" ucap Anne kepada sopir yang mengantarnya pagi ini.
__ADS_1
Sebenarnya, Anne tidak ada jadwal ke kantor hari ini karena sedang cuti. Namun, kabar yang diberikan Risa, membuatnya harus datang ke kantor untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi.
Semua pemegang saham sedang berkumpul tanpa instruksi ataupun surat rapat. Meraka datang kesana untuk meminta pertanggungjawaban Anne karena mereka merasa Anne gagal menjadi pemimpin perusahaan. Mereka ingin mencabut semua saham, karena mereka menilai banyak masalah terjadi semenjak Anne menjadi pemimpin perusahaan ini.
"Kekacauan apalagi ini!" gerutu Anne setelah membaca setiap pesan yang dikirim oleh Risa.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, Anne akhirnya sampai di kantor. Ia segera mengayun langkah agar segera sampai di lantai paling atas perusahaan ini. Ia harus menemui para pemegang saham yang sudah hadir di sana.
"Kemana semua orang, Bu?" tanya Anne setelah melihat Risa keluar dari ruangan rapat.
"Emmm ... mereka sudah pergi, An!" Risa bingung harus berkata bagaimana.
"Pergi? Kenapa begitu?" Anne tidak habis pikir dengan semua yang terjadi pagi ini.
Risa menyerahkan map berwarna merah kepada Anne karena tidak sanggup untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Risa takut jika semua kekacauan yang terjadi hari ini membuat Anne shock.
"Apa-apaan ini? Mereka sudah gila kali ya!" ujar Anne setelah membaca satu persatu kertas yang tersusun rapi di dalam map tersebut.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Anne pergi dari hadapan Risa dengan membawa map tersebut. Ia berjalan menuju ruangan utama untuk memastikan siapa yang ada di ruangan tersebut. Tanpa mengetuk pintu Anne masuk begitu saja ke dalam ruangan itu. Ia tercengang melihat siapa yang duduk di kursi kerja.
"Untuk apa Anda duduk kembali di kursi itu?" teriak Anne hingga membuat kedua pria yang ada di sana mengalihkan pandangan ke arahnya.
...🌷Selamat membaca🌷...
...Si Om beraksi nih!!😂...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹...