Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Sisi lain om Rudi,


__ADS_3

"Apa yang akan saya dapatkan dari kerja sama ini?" tanya om Rudi seraya menatap owner PT. Ajimupung dengan intens.


Negosiasi kerja sama tidak secepat biasanya. Om Rudi sepertinya sengaja mengulur waktu negosiasi untuk proyek yang cukup besar ini. Beberapa kali beliau menatap Pras dengan sorot mata penuh arti, seakan sedang memberikan kode agar asistennya itu melakukan sesuatu.


Anne hanya fokus menyimak untuk mencatat notulensi rapat siang ini. Ia tidak terlalu mengamati gerak-gerik sang suami. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard laptop yang ada di hadapannya.


Anne mengalihkan pandangan dari layar laptop karena tidak hal yang harus dia catat. Pandangan Anne tertuju pada kedua pria yang ada di sisi owner PT. Ajimumpung, entah mengapa pikiran buruk mendadak hadir dalam pikiran Anne tatkala menangkap gerak-gerik mencurigakan dari kedua pria tersebut.


Pandangan itu beralih ke samping. Anne menatap om Rudi dan Pras bergantian. Mencoba mengamati setiap gerakan mata, tangan dan gestur tubuh. Anne belum mengerti apa yang sebenarnya disaampaikan sang suami kepada Pras.


"Bagaimana kalau saya naikkan keuntungan Pak Rudi menjadi lima puluh dua persen?" Akhirnya, owner perusahaan tersebut nekat menaikkan tawarannya.


"Saya pikirkan hal itu, Asal ...." jawab om Rudi seraya mengubah posisinya menjadi bersandar di kursinya saat ini, "buang semua alat penyadap suara yang terpasang di tempat ini!" ujar om Rudi seraya menatap owner tersebut dengan intens.


Tentu saja, ketiga pria itu langsung gelagapan setelah mendengar ucapan om Rudi. Mereka heran saja bagaimana om Rudi bisa tahu jika ada alat penyadap di sini, padahal mereka benar-benar menyembunyikan dengan rapi.


"Anda salah jika ingin menjebak saya dalam proyek yang berhubungan dengan negara. Saya tidak sebodoh itu, Tuan!" ujar om Rudi dengan tatapan mata yang menakutkan, "Pras!" Om Rudi menatap Pras penuh arti.


Segera asisten setia om Rudi itu beranjak dari tempatnya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu memutari meja bundar yang di tempati para petinggi dua perusahaan. Pras berhenti di sudut ruangan tersebut, di mana ada vas bunga yang bertengger di sana.


"Apa perlu alat ini kita musnahkan, Pak?" tanya Pras setelah sampai di samping om Rudi. Ia memutar alat tersebut seraya tersenyum smirk.

__ADS_1


"Saya bisa menjelaskan semuanya, Pak!" ujar salah satu pria yang ada di sisi owner perusahaan Ajimumpung.


"Apalagi yang harus dijelaskan? Bukan kah sudah jelas jika Anda sengaja ingin menumbalkan perusahaan saya demi kepentingan perusahaan Anda?" Sahut om Rudi dengan sikap yang terlihat dingin.


"Anda menawarkan keuntungan yang besar dan setelah itu pasti Anda akan cuci tangan setelah nanti kebusukan yang Anda lakukan tercium pemerintah? Cih! Menjijikkan!" Om Rudi terlihat geram dengan ketiga pria yang ada di hadapannya itu.


Anne tertegun setelah merasakan suasana menegangkan di ruangan ini. Ia terus mengamati bagaimana om Rudi dan Pras bekerja sama untuk menyerang klien tersebut dengan argumen telak yang tidak bisa dibantah lagi. Jujur saja, Anne kagum melihat cara kerja sang suami. Ia pun mulai memahami bagaimana kecerdikan sang suami.


"Jadi bagaimana? Anda mau keluar dan menutup masalah yang Anda ciptakan ini atau Anda memilih berdiam diri di ruangan ini. Silahkan Anda lihat di luar ruangan ini ada siapa saja yang sudah menunggu Anda! Mereka hanya menunggu kode dari saya!" ujar om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari kliennya.


Sekali lagi, Anne terkesiap tatkala melihat Pras membuka pintu. Banyak pria bertubuh kekar berdiri di sana, tanpa melepas kaca mata hitam yang bertengger di sana pun, Anne tahu jika mereka adalah bodyguard menakutkan sang suami.


Anne terperangah ketika melihat ketiga klien tersebut pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah katapun, setelah Pras menghancurkan penyadap suara itu di lantai. Anne bergidik ngeri melihat wajah dingin sang suami setelah kepergian klien tersebut.


"Baik, Pak! Tidak sampai satu minggu, perusahaan tersebut akan bangkrut!" Dalam situasi seperti ini pun, Pras menjadi sosok yang menakutkan.


Pras segera pergi dari ruangan private ini bersama para pria kekar tersebut, meninggalkan Anne dan om Rudi berdua saja. Anne masih diam karena takut melihat sikap sang suami saat ini.


"Pi ...." ucap Anne dengan suara yang bergetar. Sikap yang ditunjukkan suaminya itu sangatlah berbeda dengan sikap hangat yang biasa ia rasakan di rumah, terutama di atas ranjang.


Mendengar suara lembut sang istri, membuat amarah yang berkobar mendadak hilang. Pria matang itu mengusap wajahnya kasar setelah melihat ekspresi wajah sang istri yang ketakutan.

__ADS_1


"Jangan takut!" Om Rudi menggenggam tangan Anne, "tutup laptopmu, mari kita pulang, tidak usah ke kantor." Om Rudi berusaha tersenyum manis agar sang istri tidak takut lagi.


Sepasang suami istri itu pada akhirnya keluar dari gedung raksasa itu. Mereka masuk ke dalam mobil dan sang sopir segera melajukan mobil tersebut. Om Rudi menyuruh sopir perusahaan agar mengarahkan kemudinya ke arah tempat tinggal beliau.


Selama dalam perjalanan sepasang suami istri itu tidak banyak bicara. Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Anne pun terlihat gusar, sesekali ia menatap wajah sang suami dari samping.


Hampir enam puluh menit mobil perusahaan itu membelah jalanan yang padat. Segera Anne dan om Rudi keluar dari mobil tersebut dan mengayun langkah masuk ke dalam rumah.


"Ada apa?" tanya om Rudi setelah menepuk pundak sang istri. Beliau heran saja melihat Anne tak banyak bersuara.


Anne menghentikan langkahnya sesaat. Namun, tidak lama setelah itu ia melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan kamar. Ia menghempaskan diri di ranjang empuk itu dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala. Menghadapi situasi seperti saat ini, membuat Anne kembali mengenang mendiang ayahnya.


"Sayang, ada apa?" tanya om Rudi setelah duduk di tepi ranjang. Ia membelai rambut sang istri dengan penuh kelembutan.


"Saya takut, Pi, setelah melihat semua kejadian hari ini. Papi sangat menyeramkan saat marah. Saya hanya membayangkan bagaimana jika di masa depan saya melakukan kesalahan fatal?" Anne terlihat gusar hanya karena membayangkan semua itu.


Om Rudi mengembangkan senyumnya setelah mendengar kalimat panjang yang diucapkan oleh sang istri. Om Rudi tak habis pikir bagaimana bisa Anne menyimpulkan semua ini dan membayangkan dirinya ada dalam situasi itu.


"Kenapa kamu harus takut? Memangnya apa yang akan kamu lakukan, Sayang?" Tanya om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari wajah sang istri, "kamu sangat berarti dalam hidup Papi, jadi ... usahakan kamu tidak melampaui batas, Sayang. Jangan biarkan Papi benar-benar marah!" Om Rudi memberikan Anne peringatan sejak saat ini.


...🌹Selamat Membaca 🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2