
"Terus sekarang kita ngapain dulu, Say?" Dara terlihat bingung setelah Juna meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.
Teori dan video yang sudah pernah ia pelajari nyatanya sangat berbeda dengan realita. Dara bingung harus bagaimana mana saat ini. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia terlihat semakin resah karena Juna hanya diam saja tanpa melepaskan pandangan darinya.
"Ih, Sayang!" Dara berdecak kesal setelah beradu pandang dengan sang suami.
"Kamu ini kenapa?" tanya Juna dengan sikap yang biasa, "Gak usah panik, tenang dulu!" ujar Juna sebelum Dara menjawab pertanyaan darinya.
Mungkin karena kesal terus-terusan digoda sang suami. Pada akhirnya, Dara merebahkan tubuhnya di ranjang tersebut. Ia tidur dengan posisi membelakangi Juna, sungguh ... saat ini Dara salah tingkah karena ulah Juna.
"Ya sudah, kita tidur saja," ucap Juna tanpa melepaskan pandangannya dari sosok wanita yang selalu memberinya banyak warna itu.
Rencana malam pertama sepertinya harus ditunda terlebih dahulu karena situasi yang tidak tepat. Juna harus memikirkan cara agar Dara merasa nyaman saat melakukan hal itu. Ia menghela napasnya tatkala teringat cerita dari Anne yang disampaikan oleh Dara.
"Dasar ibu sambung gak ada akhlaq! Bisa-bisanya dia menakuti istriku!" Juna mengumpat dalam hatinya.
Dara tidak bisa tidur hingga larut malam, rasa takut yang melanda hatinya berhasil membuat rasa kantuk hilang begitu saja. Suara dengkuran halus mulai terdengar di balik tubuhnya. Dara membalikkan tubuh untuk memastikan jika sang suami benar-benar tidur.
"Aku harus menghubungi Mici!" gumam Dara seraya meraih ponsel yang ada di atas nakas. Ia turun dari ranjang dan segera keluar dari kamar.
Dara mondar-mandir di depan kamarnya sambil berbicara dengan Anne lewat sambungan telepon. Sebenarnya, ia ingin melakukan panggilan video akan tetapi ditolak oleh Anne. Ibu sambungnya itu mengatakan jika saat ini masih di kantor, menunggu papinya yang sedang lembur.
"Udah deh! To the points aja! Katakan aku harus bagaimana, Mici?" tanya Dara dengan suara yang lirih. Ia sedikit kesal karena sejak tadi, hanya terdengar gelak tawa Anne saja.
"Baju yang kemarin beli di Mall, kamu bawa 'kan Dar?" tanya Anne setelah berhenti tertawa.
"Iya, masih ada di koper!" jawab Dara dengan ketus.
__ADS_1
"Eits sabar! Jangan emosi, Sayang!" ujar Anne dengan entengnya.
"Udah buruan! Keburu Juna bangun!" Dara berdecak kesal karena Anne terus mengulur waktu.
Dara mendengarkan dengan seksama apa saja yang harus ia lakukan. Ibarat kata, saat ini Dara sedang mempelajari tutorial malam pertama dari guru privat. Ia mengangguk-angguk kepalanya setelah mendengar setiap langkah yang disarankan oleh ibu sambungnya itu.
"Aku tutup dulu ya, Mi ... doakan putrimu ini berhasil!" ujar Dara sebelum mengakhiri panggilan bersama Anne.
Dara mengatur napasnya sebelum masuk ke dalam kamar. Ia harus melakukan semua tutorial yang disampaikan oleh Anne. Segera ia membuka koper yang ada di dekat almari untuk mencari pakaian yang sudah ia persiapkan bersama Anne kala itu.
"Duh! Malu gak sih, pakai pakaian seperti ini!" gumam Dara setelah kain tipis itu ada dalam genggaman tangannya.
Dara menatap ke arah ranjang sekilas. Ia mengamati wajah yang sedang tertidur pulas itu. Ia bertekad untuk memberikan yang terbaik kepada pria yang menemaninya selama ini.
"Aku pasti bisa!" ujar Dara seraya berdiri dari tempatnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa tas perlengkapan make-upnya.
"Cih! Bedebah emang si Mici!" umpat Dara setelah selesai memoles bibirnya dengan lipstik bewarna nude.
"Mau ritual di atas ranjang aja pakai drama kuntilanak! Sialnya Aku percaya lagi! Sampai harus memanggil paranormal! Aiih, aku tertipu paranormal palsu! Masa iya si Mami mengatakan ada kuntilanak di kamar Anne, padahal aroma wangi yang aku cium adalah aroma ayahku sendiri!" Dara menggerutu di dalam kamar mandi sambil menata rambutnya.
Kini, ia mengerti dan mulai paham. Kenapa sering mencium aroma wingi di kamar Anne. Ia pun saat ini sama halnya dengan Anne kala itu, membuat tubuhnya harum untuk menyenangkan pasangan.
"Aku harus siap!" ujar Dara sebelum keluar dari kamar mandi.
Dara segera keluar dari kamar mandi, ditatapnya dengan lekat sosok pria yang sedang berkelana di alam mimpi itu. Kini, ia merasa bimbang. Haruskah ia membangunkan Juna untuk melakukan kegiatan yang seharusnya dilakukan.
"Sayang," ucap Dara setelah naik ke atas ranjang. Ia duduk di tempatnya seraya menepuk pipi Juna beberapa kali.
__ADS_1
Juna membuka kelopak matanya saat mendengar suara Dara yang sedang memanggilnya beberapa kali. Matanya terbuka lebar hingga rasa kantuk dan lelah mendadak hilang dari tubuhnya—saat melihat pemandangan indah di dekatnya.
"Sayang ...." gumam Juna setelah duduk bersandar di headboard ranjang.
Melihat senyum penuh arti dari sang istri, membuat Juna segera turun dari ranjang. Ia buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, entahlah, apa yang akan dilakukannya setelah ini.
Beberapa menit kemudian, Juna keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar. Aroma parfum tercium dari tubuhnya. Setelah ini, mungkin sepasang pengantin baru itu akan melakukan suatu hal yang tertunda selama beberapa hari ini.
Berawal dari tatapan mata yang saling mengunci. Kini, bibir itu mulai bertautan. Tarian lidah mengawali malam panjang yang akan mereka lalui bersama. Kedua tangan Juna tidak mau diam saja, mereka seakan sudah tahu apa saja tugasnya saat ini. Lenguhan manja pun akhirnya mulai terdengar di sana. Tubuh Dara bergetar karena merasakan desiran aneh yang ada dalam tubuhnya.
Derai air mata mengiringi langkah awal yang dilakukan oleh Juna. Meski Dengan gerakan lembut dan pelan, rasa sakit tak bisa dielakkan. Langkah pertama pada akhirnya gagal, akan tetapi semua itu tidak menyurutkan usaha yang dilakukan oleh Juna. Ia mencoba dan terus mencoba untuk menembus selaput yang menutupi jalannya.
Juna mengatur napasnya setelah berhasil menembus jalan berselaput itu. Ia membiarkan sang istri merasakan sesuatu yang ada di dalam jalan menuju puncak nirwana. Pada akhirnya Juna mulai melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Meski kesulitan di awal, akan tetapi Juna tidak menyerah. Ia terus berusaha hingga mampu membuat Dara melenguh panjang untuk yang pertama kalinya.
Setelah beberapa puluh menit, pada akhirnya permainan itu selesai. Juna mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri setelah menumpahkan kemurnian yang ia miliki.
"Terima kasih, Sayang. Aishitemasu ...," ucap Juna sebelum melepaskan diri dari sang istri.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Maap yee, cuma ini aj🤭othor lagi di Rumah sakit jadi kagak bisa menghayal yang ehot ehot😂...
➖➖➖➖➖➖♥️♥️♥️♥️➖➖➖➖➖➖
Seperti biasa ... othor ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😍Kuy baca karya dari author Age Nairie dengan judul Kamuflase Cinta sang CEO. Ingat!! Bacaaa!
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...