
Rasa nyaman telah dirasakan oleh Anne karena tangan om Rudi tak henti mengusap rambutnya dengan penuh kasih. Anne bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari belaian tangan itu. Sesekali ia tersenyum manis saat om Rudi menceritakan hal-hal lucu tentang masa kecil Dara.
"Apa om tidak kembali ke kantor?" tanya Anne seraya menatap wajah yang ditumbuhi jenggot itu.
"Ada atau tidak kehadiran Om di sana, perusahaan tetap berjalan seperti biasanya," jawab om Rudi dengan diiringi senyum yang manis.
Anne hanya berdecak ketika mendengar jawaban itu. Ia memejamkan mata saat tangan om Rudi mulai menggelitik leher mulusnya. Sebisa mungkin Anne menepis rasa tidak nyaman dan rasa risih yang menjalar ditubuhnya. Ia harus bisa karena tidak mungkin jika menghindari om Rudi terus-menerus.
"An, seharusnya kamu merubah panggilan saat memangil nama Om! Misalnya, Panggil Om dengan sebutan Mas," ucap Rudi hingga membuat Anne membuka kelopak mata.
"Dasar om-om banyak maunya!" Sayangnya, Anne hanya berani mengatakan ini dalam hatinya.
Anne segera bangkit dari pangkuan suaminya, ia duduk bersandar dengan bibir yang mengerucut. Ia sedang mempertimbangkan permintaan dari suaminya itu.
"Harus banget, ya?" tanya Anne.
"Coba saja! Biar kita bisa lebih dekat," jawab om Rudi.
"Kenapa Om harus menyulitkan saya? Bagaimana jika ada Dara saya salah memanggil Om! Bisa berabe 'kan!" sergah Anne dengan pandangan yang tak lepas dari wajah yang sedang mengulas senyum itu.
"Baiklah, jika memang kamu tidak bisa, tidak masalah!" Om Rudi meraih tubuh Anne ke dalam dekapannya.
Rambut itu kembali mendapatkan belaian dari tangan om Rudi. Beberapa kali puncak rambut itu mendapatkan kecupan hangat penuh kasih. Anne benar-benar merasa nyaman jika diperlakukan seperti ini oleh om Rudi.
"Boleh saya tanya sesuatu?" Anne menengadahkan kepala agar bisa menatap wajah sang suami.
"Katakan saja apa yang menganggu pikiranmu!" jawab om Rudi dengan sikap tenang.
"Kenapa Om ingin menikah dengan saya? Bukankah di luar sana banyak wanita yang lebih baik dari saya?" Anne memberanikan diri beradu pandangan dengan manik hitam sang suami.
__ADS_1
Om Rudi masih bersikap tenang saat mendengar pertanyaan itu. Beliau mengalihkan pandangan ke arah lain untuk menyusun jawaban yang tepat. Tangannya tak henti membelai rambut sang istri dengan lembut.
"Karena Om jatuh cinta padamu sejak pertama kali kamu datang ke rumah bersama Ningrum," jawab om Rudi dengan iringan senyum yang manis.
"Lantas, apa yang membuat om jatuh cinta kepada saya?" Anne semakin penasaran dengan alasan om Rudi.
Diam, itulah yang sedang terjadi saat ini. Om Rudi mendadak bungkam setelah mendengar pertanyaan dari Anne. Beliau terlihat gusar karena bingung harus menjawab bagaimana.
"Saya harap Om berkata jujur!" ujar Anne tanpa menatap om Rudi, ia sibuk memainkan salah satu kancing kemeja yang dipakai om Rudi hari ini.
"Karena saat melihatmu, aku selalu melihat Sekar hidup kembali. Wajah, caramu berbicara, sifat dan beberapa hal yang dimiliki Sekar ada padamu, An!" ucap Om Rudi hingga membuat Anne mengurai tubuhnya.
Tentu saja Anne terkejut mendengar jawaban yang diucapkan oleh suaminya itu. Ia menggeleng pelan karena tidak percaya jika om Rudi tega melakukan semua itu.
"Jadi, Om memaksa saya menikah dengan Om hanya karena saya mirip dengan Mama?" Sekali lagi Anne ingin memastikan pengakuan om Rudi.
"Om tidak bisa mengendalikan semua perasaan ini, An. Om tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Cukup dulu saja Om melepaskan mama mu ke tangan ayahmu dan sekarang Om tidak akan membiarkan kamu pergi!" Sebuah pengakuan luar biasa yang membuat Anne sangat kecewa.
"Jadi, Om membuat posisi saya menjadi sulit hanya karena kisah cinta di masa lalu yang belum tuntas? Kenapa Om tega melakukan semua ini?"
"Om benar-benar tega! Apa Om pernah berpikir bagaimana rasanya ada di posisi saya? Hidup saya dipenuhi rasa bersalah kepada Dara! Apa om pernah membayangkan susahnya berada di posisi Saya yang menjadi ibu tiri sekaligus sahabat putri Om sendiri?" hardik Anne sebelum turun dari ranjang.
Anne tidak tahan berada di dekat om Rudi karena ia sedang dikuasai oleh amarah yang berkobar dalam diri setelah mendengar pengakuan menyakitkan itu.
"Saya sangat kecewa dengan Om!" ujar Anne sebelum keluar dari kamar tersebut.
Anne memutuskan pergi dari apartment mewah ini dengan membawa kepedihan dalam hati. Semua ini begitu menyakitkan untuknya padahal baru saja ia berpikir untuk belajar menjadi istri yang baik untuk om Rudi.
"Dasar tua bangka gila!" umpat Anne setelah masuk ke dalam lift.
__ADS_1
...****************...
Malam ini angin berhembus cukup kencang hingga membuat rambut coklat itu menari-nari dalam kegelapan. Kamar yang biasa terang benderang, kini terlihat gelap tanpa sinar lampu. Anne sedang menyandarkan tubuhnya di pintu yang terhubung ke balkon kamar. Tatapannya menerawang jauh memikirkan segala hal yang terjadi tadi siang.
Bulir air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata saat Anne kembali teringat sosok ibu kandungnya. Pengakuan om Rudi masih terngiang di indera pendengarannya. Pada akhirnya, Anne kembali mengingat cerita yang pernah disampaikan bu Ningrum dulu, sebelum Anne dikirim ke rumah ini.
"Jadi, semuanya memang benar jika om Rudi dulu adalah kekasihnya Mama! Tapi kenapa Mama menikahnya dengan Papa?" Anne kembali menerka masa lalu orang tuanya.
Dering ponsel yang ada di sisi Anne, berhasil membuyarkan semua angan tentang kisah cinta orang tuanya. Ia melihat nama 'Om Genit' di layar ponsel itu. Entah sudah berapa kali suaminya itu mencoba menghubunginya. Beberapa pesan pun sejak tadi hanya dibaca Anne, ia tidak sedikitpun memiliki niat untuk membalas pesan tersebut.
Tak berselang lama, Anne mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. Ia bisa melihat jika handle pintu ditarik. Mungkin, om Rudi mencoba masuk ke dalam kamar ini untuk meluruskan masalah yang terjadi. Namun, Anne terlanjur mengunci kamarnya.
"Pintu ini Pun harus aku tutup!" Anne segera berdiri dari tempatnya. Ia segera mengunci kamar itu agar om Rudi tidak memaksa masuk lewat balkon.
Anne menghempaskan diri di atas ranjang. Ia mencari posisi yang nyaman untum beristirahat karena kepalanya mulai berdenyut. Anne membuka ponselnya untuk melihat foto dan video yang ada dalam galeri ponsel. Ia sedang mengamati wajah cantik yang tersimpan dalam galeri tersebut.
"Apa yang harus Anne lakukan, Ma, untuk membalas semua rasa sakit ini? Bahkan, Anne tidak tahu ada kisah apa di antara Mama, Papa dan Om Rudi di masa lalu!" gumam Anne dengan manik hitam yang tak lepas dari layar ponsel tersebut.
...πΉSelamat membaca πΉ...
...π·π·π·π·π·...
ββββββββββββββββ
Yuhu!!! Aku datang lagi membawa rekomendasi keren untuk kalian bacaπ Kalian wajib intip nih karya dari author MeKha Chan dengan judul My Boss My BrondongπDuh judulnya aja bikin penasaran kan?? Maka dari itu, buruan intip-intip deh!π€
...π·π·π·π·...
__ADS_1