Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Pagi yang panas!


__ADS_3

Siluet kuning terlukis di cakrawala timur hingga membuat warna gelap pudar begitu saja. Perlahan sang mentari hadir untuk memberikan kehangatan di pagi yang berselimut kabut putih.


Detik demi detik telah berlalu, penunjuk waktu sudah berada di angka tujuh pagi. Anne membuka kelopak mata setelah kembali dari alam mimpi. Senyum manis bermekar indah setelah melihat wajah tenang sang suami yang sedang tidur di sisinya. Pagi ini Anne merasa nyaman berada dalam dekapan hangat sang suami. Rasanya semua rasa mual dan tidak nyaman di pagi hari hilang begitu saja karena dekapan hangat ini.


"Kenapa bisa nyaman seperti ini, sih!" Anne bergumam lirih tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang suami.


Tangan Anne terulur untuk membelai rahang kokoh itu. Ia begitu menikmati suasana pagi ini dengan bermain-main di rahang kokoh yang membingkai wajah tampan tersebut.


"Kenapa Papi tiba-tiba terlihat tampan begini ya? Kemana aja aku selama ini!" Anne bergumam dalam hati. Pandangannya tak lepas dari wajah tampan yang enggan membuka mata.


Alarm di dalam tubuh membuat Anne harus mengakhiri semua ini. Mau tidak mau ia harus turun dari ranjang untuk menuntaskan semuanya di kamar mandi. Sungguh, alarm ini sangat mengganggu keindahan pagi yang ada di hadapannya.


Setelah berada di dalam kamar mandi selama beberapa puluh menit, pada akhirnya Anne keluar dari kamar mandi. Ia terlihat segar setelah membersihkan diri sekaligus. Bathrobe pun putih menutupi tubuh mulusnya.


"Loh kenapa bangun, Pi? Ini masih pagi loh!" ujar Anne ketika melihat om Rudi duduk bersandar di headboard ranjang.


"Papi harus ke kantor, Sayang," ucap om Rudi seraya menatap Anne, "tidak lama kok, hanya sebentar saja," lanjut om Rudi setelah melihat ekspresi wajah Anne yang masam.


"Padahal saya masih kangen," gumam Anne dengan ekspresi wajah yang masam. Ia pun duduk di tepi ranjang membelakangi om Rudi.


Senyum tipis mengembang dari bibir om Rudi. Pria matang itu turun dari ranjang tanpa menanggapi ucapan sang istri. Beliau masuk ke kamar mandi begitu saja tanpa menoleh ke tempat sang istri berada saat ini.


"Ih! Nyebelin banget sih!" gerutu Anne setelah pintu kamar mandi tertutup rapat.

__ADS_1


Tidak sampai lima belas menit, om Rudi keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. Beliau kembali tersenyum ketika melihat Anne belum beranjak dari tempatnya. Om Rudi mendaratkan tubuhnya di sisi Anne dan tak lama setelah itu, beliau meraih tangan kanan Anne untuk digenggamnya.


"Sayang, Papi gak lama kok!" ucap om Rudi dengan diiringi senyum yang manis.


"Saya masih kangen, Pi! Gak mau jauh dari Papi," ucap Anne dengan suara yang manja. Ia menyandarkan kepalanya di lengan sang suami.


Melihat perilaku sang istri membuat wajah om Rudi berseri. Beliau bisa merasakan jika yang dilakukan Anne saat ini tulus dari hati, bukan sekedar drama seperti di masa lalu. Bunga-bunga cinta bermekar indah di hati pria matang itu.


"Hanya sebentar, Sayang. Nanti setelah selesai meeting Papi langsung pulang kok!" ujar om Rudi seraya membelai rambut sang istri dengan gerakan lembut.


"Gak mau, Pi! Rapatnya ditunda aja, ya!" bujuk Anne seraya menatap om Rudi sambil tersenyum manis.


Om Rudi tidak tahan melihat sikap manja sang istri. Beliau sampai gemas dibuatnya. Rasanya, ingin sekali beliau menerkam kucing manis yang sedang bergelayut manja di lengan.


"Katakan, apa yang membuatmu harus menahan Papi ke kantor?" tanya om Rudi seraya menatap Anne sekilas.


Tentu, apa yang dilakukan Anne saat ini berhasil membuat darah om Rudi mengalir deras, hingga pria matang itu merasakan desiran-desiran menggelitik yang sudah lama terpendam. Bulu-bulu di tubuhnya meremang karena sesuatu di pusat tubuh sudah berdiri tegak.


"Sayang, jangan menggoda Papi!" Om Rudi memberi peringatan saat tangan Anne mulai menjelajah tubuhnya.


"Memangnya kenapa, Pi?" tanya Anne sambil menatap om Rudi penuh arti.


Om Rudi beranjak dari tempat duduknya, beliau berjalan menuju nakas untuk mengambil ponselnya. Untuk sesaat pria matang itu sibuk bermain ponsel, entah siapa yang sedang beliau hubungi,

__ADS_1


"Tolong tunda meetingnya dua jam lagi, saya masih ada keperluan," ucap om Rudi sebelum mengakhiri sambungan telfonnya.


Setelah meletakkan ponselnya di atas nakas, om Rudi kembali ke tempat Anne berada saat ini. Beliau berdiri di hadapan Anne seraya berkacak pinggang, "ini kan yang kamu inginkan?" tanya om Rudi penuh arti.


Melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya, membuat Anne tersenyum simpul. Ini lah yang diharapkannya sejak kemarin malam— melihat tombak yang sudah lama tersimpan rapi di tempatnya.


"Nah, gitu dong peka!" gumam Anne seraya menarik handuk putih yang ada di pinggang om Rudi.


Dua hasrat sama-sama menggebu setelah beberapa bulan lamanya terpendam dalam diri. Anne begitu mahir bermain-main dengan lollipop cokelat di mulutnya. Rasanya, wanita berbadan dua itu ingin menggigit ujung lollipop yang begitu kenyal di lidahnya.


Om Rudi sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Berpisah lama dengan sang istri membuat beliau begitu tersiksa. Kini, penantian panjang telah usai, waktunya menikmati apa yang sudah lama dinanti. Segera om Rudi merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang. Beliau menarik bathrobe putih itu hingga terlepas. Tubuh molek yang menjadi angan beberapa waktu belakangan ini, pada akhirnya terpampang jelas di depan mata.


Lenguhan manja terdengar syahdu di dalam ruangan tersebut tatkala om Rudi menjelajah tubuh sang istri dengan lidahnya. Tak lupa beliau mengunjungi dua bukit yang menantang itu, dan memberikan jejak indah di sana. Lantas, beliau segera turun dan berhenti di pusat gua licin yang terlihat basah.


"Papi! Jangan siksa aku, Pi!" racau Anne ketika om Rudi menemukan kacang almond yang tumbuh di dalam gua. Lenguhan manja kembali terdengar di kamar tersebut.


Permainan terus berlanjut hingga Anne mencapai puncak nirwana untuk pertama kalinya. Lidah pria matang itu berhasil membuat pertahanan sang istri runtuh. Anne mengatur nafasnya setelah merasakan terbang ke awan untuk menggapai bintang. Ia mengangkat tubuh saat om Rudi meletakkan bantal di bawah pinggulnya. Sebentar lagi permainan akan dimulai. Rasanya, Anne sudah tidak sabar lagi menanti saat-saat terbang bersama sang suami.


Sebelum mulai melakukan aktifitas panas, om Rudi mengecup perut sang istri beberapa kali. Beliau mengusap lembut perut bawah yang terlihat membuncit itu,


"Sayang, kamu harus kuat ya di dalam sana! Maafkan Papi dan Mami jika kamu merasakan guncangan akibat ulah Papi setelah ini," gumam om Rudi setelah puas mengecup perut sang istri.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...Lanjut gak nih?? gimana??🤭...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2