
Kebaya putih tulang melekat di tubuh ramping Anne. Pagi ini ia terlihat sangat cantik memakai kebaya putih tulang dengan make up yang tidak terlalu tebal. Ia memutuskan untuk memakai kerudung saat melaksanakan akad nikah yang sebentar lagi akan di gelar di ruang rawat inap bu Ningrum.
Beberapa orang sudah hadir di sana termasuk pak penghulu dan tokoh agama. Om Rudi menjadikan asisten pribadinya yang bernama Pras, sebagai saksi pernikahan ini.
Anne hanya bisa menundukkan kepalanya saat om Rudi mulai menjabat tangan penghulu yang duduk berhadapan dengan om Rudi. Bulir air mata lolos begitu saat pak penghulu mengucapkan akad nikah dengan suara yang lantang. Bulir air mata itu tak henti menetes saat Anne mendengar suara ayah sahabatnya menggema di ruangan itu,
"Saya terima nikah dan kawinnya Anne Malila Soedrajat binti Wisnu Soedrajat dengan mas kawin tersebut tunai."
Suara saksi yang mengucapkan kata 'sah' semakin membuat air mata itu mengalir deras. Semua rasa membaur menjadi satu. Angan dan cita-cita yang pernah ada musnah begitu saja kala Anne menandatangani surat-surat pernikahan. Mau tidak mau ia harus menerima takdir yang ada karena ini adalah pernikahan yang sah di mata agama dan negara.
Anne meraih tangan om Rudi untuk dijabat dan dikecup seperti yang dilakukan seorang istri pada umumnya. Mata sembab itu terpejam saat om Rudi mendaratkan kecupan mesra di kening Anne. Ada rasa risih menjalar dalam tubuh gadis malang itu saat mendapat perlakuan seperti itu dari om Rudi.
Semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang tahu, bahwa air mata bu Ningrum mengalir deras. Anne pun tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai tidak sadar jika ibu angkatnya merespon apa yang terjadi saat ini.
"Saya pamit kembali ke kantor, Pak. Selamat atas pernikahan Bapak," ucap Pras saat menjabat tangan om Rudi sebelum pergi.
"Terima kasih, Pras! Urus semua pekerjaan saat saya tidak ada di kantor," ucap om Rudi sambil menepuk bahu Pras.
Semua orang keluar dari ruangan tersebut setelah bercengkrama hampir tiga puluh menit. Kini, tinggallah Anne dan om Rudi yang sedang duduk di sofa. Tidak ada pembicaraan atau sekedar basa-basi. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Saya mau ganti baju dulu," ucap Anne saat beranjak dari tempat duduknya. Ia meraih tas yang berisi pakaian ganti serta beberapa peralatan make-up yang tersimpan di pouch kecil.
Om Rudi mengangguk pelan dengan pandangan yang tak lepas dari Anne. Beliau menatap Anne hingga hilang di balik pintu kamar mandi. Jujur saja, om Rudi pun merasakan nervous saat statusnya sah menjadi suami gadis yang seumuran dengan putrinya itu.
"Setelah ini aku harus memikirkan cara agar Dara tidak mengetahui hubungan ini sebelum aku menemukan waktu yang tepat untuk memberitahunya," gumam om Rudi dalam hati.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Anne tergugu, ia duduk di atas closet yang tertutup. Anne sedang meratapi takdir yang terjadi saat ini. Air mata itu seakan tidak ada habisnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan ... Kenapa aku harus menerima semua ini," batin Anne sambil membekap mulutnya agar tangisnya tidak terdengar sampai luar.
Setelah puas meluapkan semua rasa yang ada dalam hatinya. Ia memasukkan kebaya yang sudah terlepas dari tubuhnya ke dalam paperbag. Tidak lupa ia menghapus make-up yang menghias wajahnya hingga terlihat polos. Matanya terlihat sembab karena hujan tangis yang terus terjadi pagi ini.
Anne segera keluar dari kamar mandi bersamaan dengan pintu ruang rawat inap bu Ningrum terbuka. Anne terkejut bukan main saat melihat siapa yang datang. Tubuhnya gemetar karena rasa takut semakin menjalar dalam diri saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu masuk.
"Surprise!"
Sosok itu tak lain adalah Dara. Gadis berambut cokelat itu tersenyum lebar saat melihat Anne termangu di depan pintu kamar mandi. Tanpa disuruh, Dara masuk begitu saja ke dalam ruangan bu Ningrum.
"Loh, Papi juga ada di sini!" Dara mengernyitkan keningnya ketika melihat ayahnya duduk di sofa.
Om Rudi pun tak kalah terkejut saat melihat putrinya ada di rumah sakit ini. Padahal tadi pagi saat sarapan, om Rudi sempat menelpon Dara dan mengatakan jika beliau memberi kebebasan kepada Dara selama beberapa hari ke depan di Bandung.
"Iya, Papi baru sempat menjenguk ibunya Anne," jawab Om Rudi tanpa menatap Dara, beliau sedang mengamati Anne yang masih diam di depan pintu kamar mandi.
"Hay, Dar! Kenapa kamu sudah pulang?" sapa Anne setelah keluar dari kamar mandi. Ia menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan pelukan hangat seperti biasanya.
"Kamu tidak suka jika aku di sini?" tanya Dara setelah mengurai tubuhnya. Wajahnya tertekuk sambil menatap wajah tanpa riasan make up itu.
"Ah, bukan begitu maksudku," sangkal Anne, "aku heran saja kenapa kamu tidak menghabiskan waktu selama mungkin dengan Juna," bisik Anne di telinga Dara.
"Sssst! Jangan sebut nama dia di sini! Ada papi!" Dara membekap mulut Anne karena takut jika papinya mendengar hal itu.
"Kenapa kalian bisik-bisik?" tanya om Rudi hingga membuat keduanya mengalihkan pandangan.
Dara segera menghampiri om Rudi. Ia bergelayut manja di lengan itu agar om Rudi tidak bertanya dengan detail tentang pembahasannya dengan Anne. Sementara Anne lebih memilih duduk di sisi hospital bed tempat bu Ningrum berada.
__ADS_1
Tatapan Anne semakin sendu saat sekilas melihat Dara tersenyum lepas di dekat om Rudi. Ia merasa bersalah karena mungkin Dara tidak akan tersenyum seperti itu saat tahu apa yang sudah ia lakukan di belakangnya.
"Bu ... Apa ibu tidak mau bangun, Bu? di sini ada Dara," ucap Anne dengan suara yang lirih di dekat telinga bu Ningrum.
Mendengar hal itu, Dara segera bangkit dari tempatnya. Kini ia berdiri di sisi Anne. Ia merasa prihatin melihat kondisi bu Ningrum saat ini. Dara mendadak sedih melihat kondisi Anne yang tidak baik-baik saja.
"An, kenapa kamu tidak jujur padaku jika keadaan Ibu seperti ini?" tanya Dara sambil menepuk bahu Anne.
"Aku tidak mau kamu khawatir, Dar! Aku hanya ingin kamu bahagia saat liburan di Bandung," jawab Anne tanpa berani menatap Dara.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu, An! Jika saja kamu berkata jujur pasti aku segera pulang karena liburan bisa aku tunda lain waktu," ucap Dara sambil merengkuh Anne ke dalam pelukannya.
Dara terus mengusap rambut Anne yang ada di perutnya. Ia pun sedih melihat semua yang terjadi saat ini apalagi saat melihat wajah sendu sahabatnya itu. Sungguh, ia merasa bersalah telah membiarkan Anne terombang-ambing sendiri.
"Apa yang membuatmu pulang, Dar?" tanya Anne tanpa mengalihkan pandangan dari bu wajah bu Ningrum.
"Entahlah! Perasaanku tiba-tiba tidak enak! Aku kepikiran kamu, An," jawab Dara dengan tangan yang tak henti membelai beberapa helai rambut Anne.
Mendengar hal itu, Anne mengalihkan pandangannya ke arah om Rudi. Tatapan mata itu bersirobok, mengisyaratkan sebuah keresahan di sana. Anne semakin takut jika Dara mengetahui pernikahannya.
Suara bunyi monitor jantung yang ada di sisi bed bu Ningrum tiba-tiba saja berbunyi nyaring, membuat ketiga orang yang ada di sana terhenyak dari tempat duduknya. Tangis Anne pun akhirnya pecah, ia mengguncang tubuh bu Ningrum sedangkan Dara meraih tombol nurse call agar tim medis segera datang.
Tidak berselang lama, beberapa tim medis datang ke dalam ruangan bu Ningrum. Mereka segera melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi ibu angkatnya Anne itu.
"Ibu!" Teriak Anne dengan suara tangis yang semakin pecah saat dokter menyatakan jika bu Ningrum meninggal dunia.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...