
Menghabiskan waktu libur kuliah di atas ranjang dengan ditemani drama korea sepertinya hanya menjadi angan belaka. Ya, pada akhirnya Anne harus duduk di kursi mobil yang ada di sisi om Rudi. Tubuhnya terasa kaku karena bingung harus bersikap bagaimana di saat satu mobil dengan suami matangnya itu.
"Bersikaplah biasa, Sayang! Kamu tidak perlu canggung seperti itu!" ucap om Rudi seraya menatap Anne sekilas. Setelah itu beliau kembali fokus dengan kemudinya.
Anne hanya diam, ia menatap om Rudi sekilas. Itupun lewat ekor matanya. Anne tidak tahu harus bersikap bagaimana. Jika saja statusnya masih sebagai sahabatnya Dara, pasti ia akan bersikap hangat dengan bertanya banyak hal. Namun, kali ini keadaannya sangat berbeda.
Pagi ini Anne sedikit kesal dengan sahabatnya itu karena Dara terus memaksanya agar ikut bersama om Rudi. Berkali-kali Anne menolak ide konyol itu tapi tidak digubris oleh Dara.
Mobil hitam itu melesat jauh, membelah jalanan padat selama beberapa puluh menit hingga sampai di tempat tujuan. Anne segera keluar dari mobil tanpa menunggu dibuka kan pintu oleh om Rudi.
"Saya tunggu di luar saja," ucap Dara saat om Rudi meraih pergelangan tangannya.
"No! Kamu harus ikut ke dalam. Aku tidak mau jika sampai ada pria muda yang menggodamu," ucap om Rudi seraya memakai kaca mata hitamnya.
"Dasar posesif!" Entah keberanian dari mana hingga Anne berani mengatakan hal itu.
Bukannya marah, om Rudi malah tersenyum lebar setelah mendengar ucapan Anne. Beliau tak melepaskan genggaman tangannya saat memasuki area lapangan. Bahkan, ketika sampai di tempat yang sudah dipesan oleh rekan bisnisnya.
"Wow! Pak Rudi bawa siapa ini?" tanya rekan bisnisnya saat melihat genggaman tangan om Rudi di tangan Anne, "sangat cantik dan masih muda!" bisik rekan bisnis om Rudi setelah mengamati Anne.
Om Rudi hanya tersenyum untuk menanggapi pertanyaan dan pujian dari rekannya. Sebelum mulai bermain, om Rudi mengantarkan Anne di ruang tunggu bersekat kaca yang biasa dipakai berkumpul setelah main golf.
Bosan. Mungkin itulah yang dirasakan Anne saat ini. Rasanya ingin sekali ia kabur dari tempat dingin ini karena tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali main ponsel dan melihat sang suami bermain golf. Anne tidak mengalihkan pandangannya dari sosok yang sedang fokus bermain golf itu, ia mengamati sosok itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak bisa dipungkiri jika pria yang berumur hampir setengah abad itu tetap terlihat maskulin dengan tubuh bugar tanpa perut yang membuncit. Jika dibandingkan dengan pria yang seumuran dengannya, om Rudi memang terlihat keren dan tampan.
"Kalau pakai kaca mata hitam gitu, kenapa pesonanya semakin nambah ya!" gumam Anne dengan pandangan yang tak lepas dari objek yang lumayan jauh darinya.
Anne menggeleng pelan setelah sadar dari lamunannya. Ia mengusap wajahnya kasar ketika teringat kata-kata yang baru saja ia ucapkan, "Semoga malaikat tidak mencatat ucapanku tadi!" gumam Anne setelah mengalihkan pandangan ke arah lain.
Rasa bosan semakin mendera, karena hal itu ... Anne memutuskan keluar dari ruangan tersebut. Tanpa pamit kepada sang suami yang sedang sibuk dengan rekannya, Anne meninggalkan ruangan kaca itu. Ia mengayun langkah untuk mencari tempat yang nyaman dan enak dipandang.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, mari kita pulang!" Anne menghentikan langkahnya ketika mendengar suara om Rudi di belakangnya.
Anne membalikkan tubuh, ia tidak percaya jika ternyata om Rudi sudah berdiri di belakangnya padahal tadi pria yang sudah sah menjadi suaminya itu masih asyik bermain.
"Om lanjutin aja! Saya mau jalan-jalan di sekitar sini!" ucap Anne sebelum mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Tidak! Kita harus segera pergi! Om akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Om rudi seraya meraih pergelangan tangan Anne.
"Dasar Om-Om pemaksa!" umpat Anne tapi tak mendapat respon dari om Rudi. Bahkan, Anne bisa mendengar tawa renyah pria yang berjalan selangkah di depannya.
*****
Irama jantung Anne berdetak tak karuan saat om Rudi menghentikan mobilnya di basemen salah satu apartment elit di Jakarta selatan. Beliau segera mengajak Anne keluar dari mobil dan mulai masuk ke apartment tersebut. Pikiran Anne mulai tak karuan. Bayang-bayang menakutkan tengah membelenggu hati dan pikirannya.
"Kenapa Om mengajak saya kesini?" tanya Anne setelah masuk ke dalam lift.
Pintu lift itu terbuka sempurna. Anne mengikuti langkah om Rudi memasuki ruang tamu megah dan rapi. Anne berdecak kagum saat melihat interior apartment ini, tanpa ia sadari ... kedua sudut bibirnya tertarik ke dalam.
"Kamu bisa membuatkan Om cappuccino late, An?" tanya om Rudi setelah kembali dari dapur.
"Bisa!" jawab Anne seraya berlalu begitu saja dari ruang tamu.
Setelah Anne berlalu ke dapur, om Rudi duduk bersandar di sofa putih yang menghadap kaca besar dengan pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi.
"Terima kasih," ucap om Rudi setelah Anne menyuguhkan cappucino late itu di meja, "kemarilah! Duduklah di sisiku!" ujar om Rudi seraya menepuk tempat yang ada di sisinya.
Anne hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Ia pun menatap gedung-gedung raksasa di sepanjang mata memandang. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana saat ini karena om Rudi sendiri masih menikmati minuman buatannya.
Mata indah itu mulai mencari tahu, apa kiranya yang sedang dilakukan sosok yang ada di sampingnya itu. Ada rasa penasaran yang menggelitik Anne agar menoleh ke samping. Namun, belum sempat ia melakukan itu, om Rudi menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam.
__ADS_1
"Ini untukmu, pakailah sesuka hatimu asal bukan untuk bersenang-senang atau membiayai pria lain!" ucap om Rudi seraya mengubah posisinya agar bisa menatap Anne.
"Kenapa saya harus menerima kartu ini? Bukankah Om bisa mentransfer atau memberikan saya uang tunai? saya takut ketahuan Dara!" elak Anne seraya mendorong pelan tangan yang masih menggenggam kartu itu.
"Ini adalah cara paling aman! Sudahlah! Terima saja!" Om Rudi meletakkan kartu tersebut di atas meja.
Anne terkesiap karena tiba-tiba saja om Rudi merebahkan kepala di atas pahanya. Anne menarik napas dalam karena hal itu, ia belum siap jika om Rudi terus-terusan berdekatan dengannya.
"Belailah rambutku, An!" ucap om Rudi dengan mata yang terpejam.
Dengan berat hati, Anne mengikuti perintah itu. Tangannya mulai bergerak lincah di kepala yang ada di atas pangkuannya. Om Rudi menutup kelopak matanya untuk merasakan belaian lembut dari sang istri.
Cukup lama Anne melakukan tugasnya hingga om Rudi merasakan kenyamanan yang sudah lama beliau dambakan. Pria yang sudah lama menduda itu sangat menikmati belaian hangat tangan sang istri.
"Jangan berhenti, Sayang! Aku suka belaian tanganmu!" ujar om Rudi tanpa membuka kelopak matanya.
...🌷Selamat membaca🌷...
...🌹🌹🌹🌹🌹...
âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–
Hallo semua👋 Seperti biasa tanpa sambutan panjang kali lebar, othor gemol ingin memberi rekomendasi karya super keren untuk kalian.
Nah, biar gak penasaran, lebih baik kalian kepoin karyanya aja yukðŸ¤judulnya tuh Legenda Sang Dewi alam Luxia karya author Lidiawati06.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1