Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Kejutan untuk Dara,


__ADS_3

Dua minggu kemudian,


Tepat pukul sepuluh pagi zona waktu Jepang, om Rudi dan Anne sampai di bandar udara Haneda, Jepang. Saat ini sepasang suami istri itu sedang berdiri di depan terminal penjemputan untuk mencari kolega yang sudah berjanji akan menjemput mereka.


"Ayo, Sayang, itu orangnya!" om Rudi meraih tangan Anne untuk digenggamnya setelah melihat pria asli Jepang yang sedang melambaikan tangan ke arah om Rudi.


Setelah berbasa-basi beberapa menit, pada akhirnya ketiga orang tersebut segera mengayun langkah menuju mobil dan segera melenggang ke hotel. Akan ada pembahasan masalah bisnis di hotel yang akan ditempati oleh sepasang suami istri itu. Om Rudi dan Anne memutuskan untuk langsung mengikuti rapat tanpa harus beristirahat terlebih dahulu.


"Pi, saya boleh gak memberitahu Dara kalau kita ada di Jepang?" tanya Anne setelah turun dari mobil hitam itu karena sudah sampai di hotel.


"Jangan dong, Sayang! Biarkan ini menjadi kejutan untuk Dara. Besok kita akan menemui dia," ucap om Rudi seraya tersenyum tipis.


Anne setuju akan hal itu, ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Dara seperti yang diucapkan oleh om Rudi. Mereka mengayun langkah menuju tempat private bersama kolega yang saat ini berjalan di sisi kanan om Rudi.


Ruangan private itu ternyata tidak kosong. Ada beberapa orang yang hadir di sana. Mungkin, mereka yang ada di sana adalah orang-orang yang bekerja sama dengan proyek yang akan berjalan ini.


"Aiih! Kenapa wanitanya cantik-cantik dan seksoy begitu sih!" gerutu Anne dalam hati setelah duduk di barisan para wanita yang sedang mengembangkan senyum ke arahnya.


"Duh! Nanti kalau ada yang ngajak ngomong pakai bahasa Jepang gimana, ya? Aku kan gak begitu mahir bahasa Jepang," batin Anne saat pertemuan telah dimulai.


Anne mulai menyimak pembahasan proyek tersebut, yang ternyata dibahas dengan bahasa inggris. Ia mencatat setiap poin yang penting yang ada dalam pembahasan tersebut. Anne pun pada akhirnya tahu bagaimana jika orang-orang berbeda negara sudah berkumpul menjadi satu untuk membahas bisnis. Mereka terlihat serius dalam menjelaskan setiap perincian proyek besar ini.


Cukup lama pertemuan tersebut berlangsung. Setelah mencapai kesepakatan bersama, pada akhirnya rapat tersebut telah selesai. Kini, tibalah saat perjamuan untuk menyambut om Rudi dan Anne.


Beberapa hidangan khas Jepang tersaji di sana. Anne mengamati setiap makanan yang ada di piring. Ia bingung harus memilih yang mana karena ia tidak selera dengan makanan yang ada di sana.

__ADS_1


"Duh! Bener kata Dara, nih! Harusnya aku bawa bekal aja!" gerutu Anne dalam hatinya.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Gemerlap lampu menghiasi keindahan malam di pusat kota Tokyo, itu bisa dilihat dari kamar yang ditempati om Rudi dan Anne saat ini. Setelah tadi sempat jalan-jalan sebentar di salah satu pusat perbelanjaan, akhirnya sepasang suami istri tersebut kembali ke kamar tepat pukul sebelas malam waktu Jepang.


"Kamu mau menghabiskan waktumu dengan berdiri di situ saja kah, Sayang?" tanya om Rudi yang sedang terbaring di ranjang.


"Hmmm ... saya suka melihat keindahan kota ini, Pi," jawab Anne tanpa membalikkan tubuh menghadap om Rudi. Ia masih berdiri di dekat jendela kaca itu sambil mengamati keramaian kota.


Om Rudi segera turun dari ranjang, mengayun langkah menuju tempat sang istri berdiri saat ini. Kedua tangannya melingkar begitu saja di pinggang ramping itu. Dagu om Rudi pun mendarat di bahu Anne, aroma vanila musk dari tubuh Anne berhasil mengusik indera penciuman om Rudi.


"Di sini ada tower yang sangat indah, Sayang! Apa kamu tidak mau melihat keindahannya?" tanya om Rudi dengan suara yang lirih.


Anne tersenyum tipis mendengar hal itu. Tentu saja ia sudah paham dengan tower yang dimaksud oleh sang suami. Tower kebanggaan dengan sinyal kuat yang terpancar dari sana.


Malam panjang kembali dilalui sepasang suami istri tersebut. Lenguhan-lenguhan manja kembali menggema di dalam kamar—kamar yang berbeda dengan biasanya. Sekali lagi kota Tokyo menjadi saksi bisu meleburnya dua hasrat besar menjadi satu. Permainan kali ini tanpa rasa was-was seperti sebelumnya.


...****************...


Aku di rumah sendirian, Baby! Gak ngampus!


Anne menyimpan ponselnya ke dalam tas setelah membaca pesan dari Dara. Saat ini sepasang suami istri itu sedang dalam perjalanan menuju Bunkyo, daerah tempat tinggal Dara. Cuaca di kota Tokyo sedang cerah karena saat ini sedang musim panas.


"Di mana Dara sekarang?" tanya om Rudi setelah melihat Anne kembali fokus menatap bangunan di sepanjang jalan.

__ADS_1


"Katanya di rumah, Pi," jawab Anne tanpa menoleh ke samping. Ia sibuk mengamati setiap arsitektur bangunan yang terlihat megah.


Mobil yang ditumpangi Anne dan om Rudi saat ini pada akhirnya sampai di komplek tempat tinggal Dara selama berada di sini—hunian minimalis di salah satu komplek elit di Bunkyo.


"Awas jangan sampai keceplosan!" Anne memperingatkan suaminya sebelum membuka gerbang yang menjulang tinggi itu.


"Iya ... iya ... iya! Saya belum pikun!" jawab om Rudi sambil membenarkan kancing kemejanya.


Berjalan beriringan menuju pintu rumah yang tertutup rapat. Namun, setelah sampai di depan pintu tersebut, Anne shock ketika melihat ada sepatu pria di rak yang tak jauh dari pintu. Dugaannya terarah pada sosok pria yang menjadi kekasih Dara selama ini.


"Ya Tuhan! Apakah Juna ada di sini? Lalu bagaimana jika Papi tahu ada Juna di tempat tinggal putrinya?" batin Anne.


Anne semakin resah, kala om Rudi menekan bel yang ada di sisi pintu. Tidak mungkin saat ini ia memberi tahu Dara jika ayahnya ada di depan rumah. Irama Jantung Anne semakin berdegup tak karuan saat melihat gagang pintu tersebut di tarik dari dalam. Keringat dingin mulai membasahi punggung Anne saat ini.


"Siapa kamu?" tanya om Rudi begitu muncul sosok pria tampan yang membukakan pintu rumah tersebut.


Rasanya, Anne ingin pingsan saat ini juga. Ia tidak bisa melindungi Dara, apalagi yang berdiri di depan pintu itu adalah Juna. Anne gemetar setelah kedua pria berbeda usia itu saling menatap satu sama lain. Suara teriakan Dara dari dalam rumah membuat Anne semakin gemetar dan lemas. Ia mencari dinding untuk bersandar agar tubuhnya tidak terhuyung.


"Ada tamu siapa, Say?" Terdengar suara Dara dari dalam rumah.


Om Rudi semakin menajamkan tatapan matanya saat melihat Dara berdiri di belakang Juna dengan rambut basah yang dililit handuk kecil. Sama halnya dengan Dara, gadis itu pun terkejut bukan main saat tahu jika tamu yang datang adalah ayahnya sendiri.


"Pa ... Papi!" ujar Dara dengan mata yang melebar sempurna.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2