
Beberapa menu sarapan tersaji di atas meja makan. Suara dentingan sendok dan garpu mengiringi sarapan bersama keluarga om Rudi. Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun, tapi ekspresi wajah Dara mengundang rasa penasaran bagi om Rudi. Beliau heran saja kenapa putrinya menahan tawa sampai wajahnya menjadi merona, sedangkan Anne menampilkan ekspresi yang berbanding terbalik dengan putrinya itu.
"Kalian ini kenapa? Yang satu cemberut, satunya lagi senyum-senyum sendiri?" Akhirnya, om Rudi bertanya agar rasa penasarannya segera terjawab.
"An, boleh kan ya aku memberitahu Papi tentang ...." Dara menghentikan ucapannya kala Anne menginterupsi.
"Dara! Jangan cari masalah!" ancam Anne dengan tatapan membunuh.
Om Rudi semakin penasaran dibuatnya. Apalagi, ini menyangkut tentang istrinya. Beliau harus tahu dan wajib tahu apapun yang terjadi kepada wanitanya itu. Sekelebat ide cemerlang terlintas begitu saja agar putrinya mau memberitahu rahasia yang disembunyikan oleh istri dan putrinya.
"Papi ada penawaran!" ucap om Rudi seraya menatap Dara penuh arti, "Papi akan membuka blokiran kartu debitmu, jika kamu mau mengatakan yang sebenarnya." Om Rudi menyandarkan tubuhnya di kursi yang beliau tempati.
Dara terperangah mendengar penawaran itu. Sungguh, ini adalah penawaran yang sangat langka dari ayahnya. Dara segera mengalihkan pandangannya ke samping, ia menaik-turunkan alisnya seraya tersenyum manis.
"An, boleh ya? Demi kartu debitku, An! Please!" Dara menampilkan wajah termanisnya agar Anne menyetujui permintaannya.
"Astaga!" gumam Anne sebelum menutup wajah dengan kedua tangannya.
Dara mengulum senyum mendengar hal itu. Ia segera mengalihkan pandangan ke arah papinya untuk memberitahukan rahasia memalukan sahabatnya itu.
"Papi tahu, tadi pagi Dara memergoki Anne ...." Dara menjeda ucapannya, ia tertawa terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya. Baginya apa yang ia lihat tadi pagi adalah hal lucu yang ia dapatkan dari Anne.
"Dara! Papi sudah tidak sabar!" sergah om Rudi.
"Tadi pagi Dara lihat bekas ompol Anne di kasurnya, Pi!" ucap Dara dengan suara yang lantang.
Seketika hal itu membuat om Rudi tergelak. Bahkan, sampai meneteskan air mata karena mendengar hal itu. Beliau belum sadar saja jika yang dimaksud putrinya adalah bekas perbuatannya tadi malam.
"Papi bisa bayangin dong ya! Gadis secantik Anne masih ngompol saat tidur!" Dara masih membully sahabatnya itu.
Sementara om Rudi segera menghentikan tawanya tatkala melihat Anne menggerakkan sebagian jarinya di leher—sebuah kode ancaman dari sang istri.
__ADS_1
"Sudah ... sudah. Jangan dibully terus, Dar! Tuh lihat, wajahnya semakin merona!" Om Rudi memberikan isyarat agar Dara mengalihkan pandangan ke samping.
Pagi ini, suasana di ruang makan terlihat lebih berwarna karena Dara terus menggoda Anne. Setelah melihat waktu yang ada di pergelangan tangannya, Om Rudi segera beranjak dari tempatnya. Beliau harus berangkat ke kantor.
"Kalau mau pergi ke kampus, harus diantar sopir! Kamu tidak boleh membawa mobil sendiri! Jika kamu menolak diantar Pak Karim, silahkan jalan kaki ke kampus!" ujar om Rudi sebelum berlalu dari ruang makan.
"Ih! Papi!" teriak Dara.
Dara sangat kesal jika pak Karim yang menjadi sopirnya, karena pria berusia lebih tua dari ayahnya itu sangat dingin dan tidak mau diajak bekerja sama. Pak Karim terlalu patuh dengan perintah om Rudi. Alhasil, Kedua gadis itu tidak bisa pergi kemanapun selain ke kampus.
"Tuh kan! Meskipun kamu membuatku malu! Hukuman tetap berjalan!" gerutu Anne setelah mendengar keputusan om Rudi.
Mau tidak mau, mereka memilih diantar pak Karim ke kampus daripada harus jalan kaki berpuluh-puluh kilometer. Anne mendengus kesal karena keputusan sang suami. Lihat saja, nanti malam jika ada waktu, pasti Anne akan mencaci maki pria matang yang sudah berangkat ke kantornya.
"Udah ah! Kita terima nasib aja, satu mobil dengan pak Botak!" Dara meraih ranselnya sebelum meninggalkan ruang makan tersebut.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
"Tumben?" tanya om Rudi setelah melihat kehadiran Anne di ruangan penuh buku tersebut.
"Gak boleh ya?" Anne bertanya balik setelah duduk di kursi yang ada di sebrang meja kerja om Rudi.
"Om masih ada pekerjaan, sepertinya malam ini tidak bisa tidur di kamarmu," ucap om Rudi tanpa mengalihkan pandangannya dari map merah yang terbuka di mejanya.
Om Rudi sedang memeriksa laporan keuangan perusahaan di akhir bulan. Seperti saat ini, mungkin, beliau akan lembur agar semua laporan tersebut segera selesai. Tidak ada hari santai bagi om Rudi jika sudah masuk akhir bulan, tumpukan berkas pasti memenuhi meja kerjanya, baik itu di rumah ataupun di kantor.
"Lagi pula siapa juga yang minta ditemenin tidur!" cibir Anne hingga berhasil mengalihkan pandangan sang suami.
"Saya datang kesini justru ingin memberikan hukuman kepada, Om!" ujar Anne seraya bersedekap.
"Hukuman?" om Rudi menaikkan satu alisnya, beliau belum tahu kemana arah pembicaraan sang istri.
__ADS_1
Anne menghela napasnya sebelum berdiri dari kursinya saat ini. Ia berjalan menuju tempat sang suami berada, menyandarkan panggulnya di tepi meja tepat di samping om Rudi.
"Ya! Hukuman!" Anne memperjelas ucapannya, "Om wajib dihukum karena sudah menertawakan saya!" Anne menatap om Rudi dengan intens.
"Lagian siapa suruh kamu ngompol ketahuan Dara!" kilah om Rudi, "mending Om ompolin sini, jauh lebih enak dan bikin kamu terbang ke awan 'kan!" jawab om Rudi asal.
Anne mendesis mendengar jawaban itu. Tentu ia kesal saat ini karena sang suami tidak menyadari kesalahannya. Anne memberanikan diri mengangkat pinggulnya dan duduk di atas meja kerja om Rudi.
"Saya itu enggak ngompol! Itu bercak hasil perbuatan om kemarin malam! Gak sadar atau bagaimana sih kalau udah bikin banjir bandang!" Anne berdecak kesal karena hal itu.
Om Rudi menutup berkas yang ada dalam map merah tersebut. Beliau menyadarkan tubuh di kursi kebesarannya itu seraya menatap Anne dengan bibir yang mengulas senyum tipis.
"Oh, jadi itu sisa banjir bandang, ya!" gumam om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.
"Tapi, sepertinya Om tidak pantas menerima hukuman, seharusnya kamu yang harus berterima kasih kepada Om karena telah menyelamatkan kamu tadi malam!" Om Rudi bersedekap.
"Berterima kasih? No!!" Anne menggelengkan kepalanya, "Memang apa yang sudah om lakukan sehingga saya harus berterima kasih?" Anne mengernyitkan keningnya.
"Coba kamu bayangkan, jika Om tidak memakaikan baju tidurmu lagi, pasti Dara akan melihat tubuh polosmu tadi pagi!" ucap om Rudi yang berhasil membuat Anne terpaku, "maka dari itu, setelah selesai menjalankan misi, bersihkan dulu tubuhmu, baru tidur lagi!" Satu sudut bibir om Rudi tertarik ke dalam setelah melihat ekspresi wajah sang istri.
Mendengar hal itu, Anne segera turun dari meja kerja sang suami. Tentu saja, apa yang diucapkan oleh om Rudi memang benar. Bahkan, untuk membayangkan hal itu saja Anne tidak sanggup.
"Ya itu kan emang tugas Om!" kilah Anne seraya berjalan menjauh dari tempat sang suami, "Setelah unboxing, ya wajib merapikan kembali dong! Masa iya saya dibiarkan begitu saja!" Anne berkacak pinggang setelah menjauh dari meja kerja.
Anne meninggalkan ruang kerja itu karena kalah telak dengan suaminya. Niat hati ingin memaki malah ia sendiri yang kena getahnya, tapi Anne tetap tidak mau kalah, biar bagaimanapun ia harus memberikan hukuman kepada sang suami, meskipun itu hukuman ringan.
"Om dilarang tidur di kamar saya selama satu minggu! Tidak ada kegiatan malam seperti biasanya!" ujar Anne sebelum membuka pintu ruang kerja itu.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1