Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Bayi besar,


__ADS_3

Dua bulan kemudian,


Suara tangisan bayi menggema di dalam rumah megah bergaya america. Tangisan Kiran berhasil membuat Anne panik, karena ia sendiri tidak tahu penyebab putrinya Dara menangis seperti itu. Padahal, sejak awal berada di atas pangkuannya, bayi menggemaskan itu cukup tenang dengan suara ocehannya.


"Dar! Dara!" teriak Anne seraya berdiri dari sofa. Ia sendiri bingung harus bagaimana.


"Iya! Sebentar lagi susunya siap!" Dara berteriak dari dapur.


Anne berusaha menenangkan bayi yang menggeliatkan tubuh dalam gendongannya itu. Namun, tangis Kiran semakin kencang hingga membuat Anne semakin bingung dibuatnya. Ini adalah pertama kalinya bagi Anne, menimang Kiran setelah tidak bertemu sejak Kiran lahir.


Beberapa hari yang lalu Anne baru pulang dari Eropa. Om Rudi benar-benar memenuhi permintaan Anne kala itu. Setelah memastikan Anne kondisi Anne pulih dan sehat, om Rudi mengosongkan jadwal di kantor terlebih dahulu. Pras yang menyiapkan segala urusan paspor, visa dan beberapa berkas penting bosnya itu.


"Duh, Sayang," gumam Anne seraya menatap Kiran yang masih menangis.


"Coba sini, An! Biar aku yang menenangkan," ucap Dara setelah berada di ruang keluarga. Tangannya membawa botol berisi susu untuk Kiran.


Kiran tetap menangis walaupun sudah berada dalam dekapan hangat Dara. Berbagai cara sudah Dara lakukan, akan tetapi putrinya itu masih menangis. Pada akhirnya, Dara memutuskan untuk merebahkan putrinya di atas sofa. Ia membuka celana putrinya untuk memeriksa sesuatu.


"Oh, ternyata Kiran lagi pup ya," gumam Dara setelah menemukan sesuatu di dalam pampers putrinya.


"Kiran mau ganti celana dulu, ya, Oma," pamit Dara sebelum berlalu pergi dari ruang keluarga.


Anne berdecak kesal setelah mendengar ucapan Dara. Jujur saja, ia belum bisa menerima jika dipanggil dengan sebutan 'Oma'. Dara sendiri semakin gencar menggoda istri ayahnya itu.


"Apa gak ada gitu panggilan yang lebih keren! Masa iya Kiran harus manggil aku Oma! Yang benar saja!" gerutu Anne seraya duduk di sofa.


Ponsel Anne yang ada di atas meja berdering. Sang pemilik pun segera meraih ponsel itu dan segera menggeser ikon hijau yang ada di sana. Rupanya om Rudi yang menghubungi.


"Jadi, besok pagi kita harus menemui dokter Martha, Mas?" Tanya Anne setelah diam untuk mendengarkan suara di sebrang sana.


"...."

__ADS_1


"Baiklah. Kalau begitu besok berangkat lebih awal saja," ucap Anne sebelum memutuskan sambungan telfon bersama suaminya.


Ya, Om Rudi dan Anne sudah merencanakan untuk memiliki anak kedua. Mereka akan melakukan program hamil dengan bantuan dokter Martha. Anne sudah siap untuk hamil anak kedua. Ia sudah membuang semua pikiran buruk yang bisa membuatnya setres. Menghabiskan waktu di Eropa, nyatanya berhasil mengembalikan mood wanita cantik itu.


"Aku nitip Kiran sebentar ya, Aku mau mandi!" ujar Dara setelah kembali ke ruang keluarga.


Tentu saja, dengan senang hati Anne menerima bayi menggemaskan itu. Apalagi, saat ini Kiran sedang ceria, tidak ada tangis yang menggema seperti beberapa menit yang lalu.


"Kiran, Sayang. Bunda mau mandi dulu, ya! Gak boleh nangis kalau lagi sama Oma," pamit Dara sebelum berlalu pergi.


Lagi dan lagi, Anne mendengus kesal setelah mendengar ucapan Dara. Namun, semua rasa jengkel itu hilang sudah setelah mendengar celotehan bayi yang baru berusia tiga bulan itu.


"Aduh, anak tantik minta apa ini? Uluh-uluh ... mau ngomong apa sih ini? gemes banget!" ujar Anne tanpa mengalihkan pandangan dari Kiran.


"Kiran mau beli baju? Atau mau beli coklat?" tanya Anne lagi saat Kiran merespon ucapannya dengan celotehan tidak jelas khas bayi.


Sore ini, dihabiskan Anne dengan menimang Kiran. Ia berada di ruang keluarga sampai om Rudi dan Juna pulang dari kantor, "jangan mendekat! Cuci tangan dan kaki terlebih dahulu! Jangan sentuh Kiran!" Anne menjauhkan Kiran saat om Rudi akan mendekat.


"Ya ampun, Sayang! Pengen cium sebentar doang loh!" protes om Rudi sambil berkacak pinggang.


Om Rudi menghela napas setelah melihat respon sang istri. Pada akhirnya, beliau lebih memilih untuk pergi ke kamar saja daripada harus berdebat dengan Anne. Langkah demi langkah telah dilalui om Rudi hingga sampai di lantai dua. Beliau segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.


Ceklek,


"Sayang!" Dara terkejut setelah mendengar suara pintu yang dibuka. Ia baru saja keluar dari walk in closet.


"Bunda! Buruan ambil Kiran gih!" titah Juna setelah duduk di sofa.


"Lah kenapa? Dia nangis kah?" tanya Dara setelah duduk di samping Juna.


"Papi udah pulang kerja! Anne pasti harus menyiapkan keperluan Papi," ucap Juna sambil menatap sang istri penuh arti.

__ADS_1


"Udah buruan!" ujar Juna sekali lagi saat Dara belum beranjak dari tempatnya.


"Ya ampun, Sayang! Ribet banget sih! Lagian Papi gak mungkin manja-manja sama Anne jam segini!" sergah Dara seraya berdiri dari tempatnya.


"Udah gak banyak protes! Ambil Kiran!" Juna menatap istri dengan intens. Sebuah kode jika perintahnya tidak bisa diprotes lagi.


Dara segera keluar dari kamarnya setelah melihat respon suaminya. Ia tidak mau berdebat karena masalah ini. Suaminya itu selalu ribet kalau urusan dengan om Rudi. Juna selalu bilang sungkan dan tidak enak hati dengan ayahnya, padahal ayahnya sendiri tidak pernah mempersalahkan hal itu.


"Tumben Kiran diem aja, An?" tanya Dara setelah menemui Anne di ruang keluarga.


"Sssst!" Anne mendesis pelan, "Kiran sedang tidur!" Anne memberikan peringatan kepada Dara.


"Ya sudah, biar aku bawa ke kamar. Tuh! Bayi gedemu udah pulang," ucap Dara seraya mengambil putrinya dari gendongan Anne.


"Hey! Dia ayahmu!" sarkas Anne dengan mata yang terbelalak sempurna.


Dara tergelak setelah mendengar sarkas dari Anne. Ia berlalu begitu saja dengan membawa putrinya menuju kamarnya. Begitu pun dengan Anne, wanita cantik itu ikut menapaki anak tangga menuju kamarnya.


"Loh! Di mana Kiran?" tanya om Rudi setelah melihat Anne masuk ke dalam kamar seorang diri.


"Diambil Dara, Mas! Kiran sedang tidur," ucap Anne seraya duduk di tepi ranjang.


Om Rudi tersenyum manis setelah mendengar ucapan sang istri. Jujur saja, sejak ada Kiran di rumah ini, perhatian Anne tertuju pada cucunya yang menggemaskan itu.


"Berarti sekarang waktuku bermanja-manja ya, sama Oma nya Kiran." Om Rudi menaik-turunkan alisnya seraya menatap Anne penuh arti.


Anne berdecak kesal mendengar ucapan suaminya itu. Bisa-bisanya suaminya itu memanggilnya dengan sebutan 'Oma', "Hmm ... bener kata Dara nih! Ternyata aku punya bayi gede!" ujar Anne seraya merebahkan diri di atas ranjangnya.


"Ayolah, Sayang! Udah lama banget loh ini puasanya!" Rayu om Rudi saat naik ke atas ranjang.


...🌷Selamat membaca🌷...

__ADS_1


...Ditulis gak nih, buka puasanya om Rudi😂...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2