
Suara derap langkah sepatu hak tinggi menggema di lobby perusahan 'Royale group'. Beberapa pasang matang yang ada di sana terus mengawasi wanita yang sudah lama tidak terlihat di kantor ini, tiba-tiba saja hadir kembali. Wanita itu tak lain adalah Anne. Setelah beberapa hari tidak masuk ke kantor, kehadirannya mendapat sorotan dari beberapa orang saat berpapasan atau melihatnya sampai berhenti di pintu lift.
"Mereka kenapa sih?" gerutu Anne setelah masuk ke dalam lift yang sepi karena kebetulan tidak ada yang masuk lift bersamanya.
Setelah menemani sang suami di rumah selama dua hari, pada akhirnya baik Anne ataupun om Rudi masuk ke kantor hari ini. Pria matang itu sudah sembuh dari kejompoannya, kembali berdiri tegak walau masih ada sisa nyeri di beberapa titik.
Keputusan menyembunyikan hubungan pernikahan di lingkungan kantor sudah disepakati oleh sepasang suami istri itu tadi malam. Om Rudi tidak keberatan dengan permintaan sang istri selama dia tetap tahu batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Hanya Pras saja yang mengetahui hubungan resmi bosnya itu.
"Pagi, Bu Risa ...." sapa Anne setelah masuk ke dalam ruangan.
"Loh!" Hanya itu yang diucapkan Risa setelah melihat kehadiran Anne di dalam ruangan itu, "selamat pagi, An!" jawab Risa tanpa mengalihkan pandangan dari wanita cantik yang terlihat fresh pagi ini.
Risa tak melepaskan pandangan sampai Anne duduk di kursinya. Ia heran saja melihat kehadiran wanita yang seumuran dengan adiknya itu, "Saya kira kamu resign, An!" ucap Risa.
"Tidak, Bu. Saya sakit dan dirawat di Jepang selama beberapa hari," ucap Anne seraya dengan diiringi senyum yang manis.
Mereka berdua akhirnya ngobrol sebentar, sebelum jam kerja dimulai. Anne menceritakan tentang kondisinya beberapa hari yang lalu kepada Risa, tentu dengan segala alasan yang sangat rapi hingga Risa tidak mencium aroma kebohongan di sana.
"Jaga kesehatan, An! Jangan sampai sakit lagi, nanti saya gak ada temennya kerja," tutur Risa dengan diiringi senyum yang manis. Wanita berkulit putih itu kembali fokus ke layar laptopnya saat melihat Pras masuk ke ruangan om Rudi.
Benar saja, tidak lama setelah itu, pemilik perusahaan ini akhirnya tiba. Beliau menatap Anne sekilas sebelum masuk ke dalam ruangannya. Keduanya kembali bersikap profesional saat berada di kantor.
"An, bawa kursimu kemari! Biar ku tunjukkan cara mengatur jadwal untuk diserahkan kepada Pak Pras," ucap Risa setelah membaca rencana tertulis untuk hari ini.
__ADS_1
Anne mendengarkan dengan seksama bagaimana Risa mengatur jadwal om Rudi. Ia tidak menyangka jika wanita yang ada di sisinya itu begitu pandai dan cekatan dalam mengatur semua kegiatan sang suami.
"Bagiamana kalau ada jadwal rapat bentrok dengan jadwal bertemu dengan klien, Bu?" tanya Anne setelah membaca jadwal yang baru saja diserahkan Risa.
"Kalau ada seperti itu, kamu harus bisa menghandle klien. Hubungi perwakilan perusahan dari klien yang bekerja sama dengan kita dan lakukan negosiasi waktu," ucap Risa seraya menatap Anne.
Kedua wanita itu berdiskusi mengenai jadwal om Rudi untuk minggu ini. Anne cukup pusing memikirkan jadwal padat sang suami bila di akhir bulan. Ada banyak rapat intern yang harus dihadiri om Rudi langsung mengenai kemajuan perusahaan.
Suara dering telepon yang ada di meja Risa terdengar nyaring. Membuyarkan diskusi kedua wanita cantik yang sedang membahas agenda demi agenda yang tidak ada habisnya.
"An, bawa berkas karyawan non kontrak ke ruangan pak Rudi," ucap Risa setelah meletakkan gagang telfon itu di tempatnya.
"Yang mana, Bu?" tanya Anne setelah berdiri dari tempatnya. Ia mencari berkas yang dimaksud Risa di rak yang ada di sisi kiri meja seniornya itu.
Setelah menemukan berkas yang dimaksud, Anne bergegas keluar dari ruangannya, ia mengayun langkah menuju ruangan sang suami. Senyum manis terlihat indah menghiasi wajah cantik itu.
"Permisi, Pak," ucap Anne tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Ia berdiri di depan meja kerja sang suami.
"Duduk!" titah om Rudi seraya menatap Anne.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Anne setelah duduk di kursi.
"Bantu saya mengeluarkan sesuatu yang ada di ujung tombak," ucap om Rudi dengan diiringi senyum smirk setelahnya.
__ADS_1
"Anda jangan macam-macam, Pak! Tolong diingat baik-baik! Encok yang Anda rasakan baru saja sembuh!" ujar Anne dengan sikap formal sebagai seorang sekretaris.
Om Rudi berdecak kesal setiap Anne mengingatkan hal itu. Rasanya beliau sudah tidak sabar lagi untuk membuat sang istri tak berkutik lagi. Setelah ini om Rudi bertekad untuk menemui pakar seksologi untuk konsultasi.
"Saya memanggilmu ke ruangan ini bukan untuk membahas masalah penyakit!" ujar om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik sang istri.
"Jadi, kita mau membahas apa ya, Pak?" Anne menegakkan posisi duduknya saat ini.
"Sebelum jam makan siang ikut saya meeting di luar bersama klien dari Bandung. Sekarang kembalilah dan persiapkan proposal yang dikirim PT. Ajimumpung Bandung! Minta bantuan Risa jika kamu kesulitan memahami proposal itu," titah om Rudi sebelum membuka berkas yang diletakkan Anne di atas meja.
****
Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Anne sudah siap dengan berkas yang sudah ia persiapkan bersama Risa. Segala keperluan yang dibutuhkan nanti sudah masuk ke dalam tas hitam yang ditenteng Anne saat ini. Ia berdiri di sisi sang suami setelah berada di dalam lift, sementara Pras berada di belakang. Beberapa detik kemudian, mereka bertiga keluar dari kantor. Pras segera membukakan pintu untuk bosnya. Anne pun masuk lewat pintu yang sama setelah om Rudi memberikan kode agar sang istri duduk di belakang bersamanya. Mobil yang dikemudikan sopir perusahaan itu akhirnya melenggang dari area perusahaan dan membelah jalanan kota yang cukup padat. Setelah berada di jalan selama enam puluh menit, pada akhirnya mereka mobil tersebut sampai di depan lobby salah satu hotel di Jakarta.
Kedatangan om Rudi dan kedua asistennya disambut hangat oleh pemilik perusahaan yang akan berkerja sama dengan om Rudi. Mereka segera menuju ruangan private yang sudah dipesan oleh klien.
Rapat dilaksanakan seusai makan siang bersama karena saat ini sudah memasuki waktu makan siang. Menu makan siang kali ini adalah berbagai olahan seafood yang terlihat sangat nikmat dan menggiurkan. Ini adalah kegalauan yang hakiki bagi om Rudi. Larangan makan seafood dari dokter membuat beliau bingung harus mengambil menu apa. Apalagi, setelah menatap Anne sekilas ... istrinya itu terlihat sedang mengawasi gerak geriknya walau hanya dari ekor matanya.
"Astaga! Baru kali ini aku merasa takut! Sial! Aku takut dengan istriku sendiri!" umpat om Rudi dalam hati setelah mengambil olahan cumi-cumi yang terlihat sangat menggoda itu.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Kita bersenang-senang dulu yes di kantor🤭Konflik kedua akan muncul setelah Dara menikah. Ini sekedar bocoran dari othor😎...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...