Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Dirawat di Rumah sakit,


__ADS_3

"Papi di mana, Bi?" tanya Anne setelah sampai di rumah megah itu. Ia bertemu bi Una yang sedang membersihkan ruang tamu.


"Ada di kamar, Non!" jawab bi Una.


Anne mengayun langkah menuju lantai dua. Satu persatu anak tangga telah dilalui hingga sampai di lantai dua rumah tersebut. Ia segera membuka pintu kamar om Rudi tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Papi!" teriak Anne setelah masuk ke dalam kamar. Pandangannya tertuju pada sosok yang terbaring di atas ranjang, "Apa yang sakit, Pi?" Anne terlihat panik ketika melihat sang suami terlihat lemas.


"Tubuh Papi terasa kaku, An! Apalagi di bagian kaki! Itu rasanya sakit semua. Papi gak bisa jalan," keluh om Rudi dengan suara yang lirih.


Sebenarnya, sejak tadi malam om Rudi merasakan ngilu di persendian tubuhnya. Namun, beliau tak menghiraukan hal itu, beliau tetap menyelesaikan pengecekan laporan hingga pukul dua dini hari. Alhasil, pagi ini, tiba-tiba saja sekujur tubuhnya terasa kaku.


"Kita ke rumah sakit saja, Pi!" ujar Anne sebelum berlalu menuju walk in closet untuk mencari pakaian ganti untuk om Rudi.


Beberapa saat kemudian, Anne telah kembali dengan membawa pakaian santai untuk sang suami. Dia membantu menggantikan pakaian om Rudi saat ini.


"Ini kaku juga gak, Pi?" tanya Anne seraya menyenggol senjata kebanggaan suaminya yang sedang tertidur pulas dalam sarangnya.


"Anne! Bisa-bisanya kamu menggoda Papi di saat seperti ini!" ujar om Rudi seraya menatap sang istri.


"Papi sebelumnya pernah mengalami hal seperti ini gak?" tanya Anne seraya membantu om Rudi duduk bersandar di ranjang. Pria matang itu pun sudah siap berangkat ke rumah sakit.


"Belum, ini baru pertama kalinya," jawab om Rudi.


"Ya sudah, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," ucap Anne seraya beranjak dari tepi ranjang.

__ADS_1


Anne keluar dari kamar tersebut untuk memanggil sopir dan beberapa pria yang bekerja di rumah ini agar membantu om Rudi berjalan. Ia sendiri tidak kuat jika memapah sang suami seorang diri menuruni satu persatu anak tangga.


...****************...


Setelah menempuh perjalanan panjang selama beberapa puluh menit, pada akhirnya mobil yang dikendarai pak Botak sampai di salah satu rumah sakit elit di Jakarta selatan. Om Rudi tengah ditangani di salah satu bilik IGD, sedangkan Anne menunggu di luar bilik tersebut.


"Apakah Nona keluarga pak Rudi?" tanya seorang suster yang baru saja keluar dari bilik pemeriksaan.


"Iya, Sus. Bagaimana kondisinya?" tanya Anne dengan ekspresi yang terlihat panik.


"Pak Rudi harus menjalani serangkaian pemeriksaan untuk memastikan penyakitnya. Jadi, dokter menyarankan agar beliau dirawat saja di sini." Suster tersebut menyampaikan pesan dari dokter yang masih melakukan pemeriksaan awal.


"Tolong berikan yang terbaik ya, Sus! Untuk masalah administrasi nanti akan diurus asisten pak Rudi," jawab Anne sebelum suster tersebut berlalu dari hadapannya.


Benar saja, tidak lama setelah itu ... dua orang suster membuka bilik pemeriksaan. Keduanya mendorong brankar yang di tempati om Rudi saat ini menuju gedung radiologi untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Anne pun ikut mengantar om Rudi sampai masuk ke dalam gedung tersebut. Ia berharap kondisi suaminya itu baik-baik saja.


"Hasil pemeriksaannya nanti akan disampaikan dokter saat visit nanti sore ya, Pak," ucap salah satu suster yang yang berdiri di dekat bed om Rudi, "kami permisi dulu, bila butuh bantuan perawat, silahkan tekan tombol nurse call, Nona," pamit suster tersebut sebelum berlalu pergi dari ruangan tersebut.


Setelah kepergian dua perawat itu, Anne menarik kursi tunggu ke sisi bed sang suami. Ia duduk di sana sambil menggenggam tangan itu. Anne tersenyum getir melihat kondisi sang suami saat ini.


"Sudah gak usah sedih, Papi pasti baik-baik saja!" Om Rudi mengusap rambut Anne beberapa kali.


"Saya takut, Pi!" ucap Anne dengan suara yang lirih, "Papi harus berjuang sembuh, ya, Pi!" Sorot mata indah itu menyimpan harapan yang besar akan kesembuhan pria yang sedang terbaring itu.


Suara dering ponsel Anne berhasil membuyarkan suasana yang tercipta dalam ruangan itu. Panggilan video masuk dari Dara, dengan segera Anne menggeser icon hijau itu.

__ADS_1


"Hai, Dar!" sapa Anne setelah wajah Dara memenuhi layar ponselnya, "nih, ngobrol sama Papi." Anne menggeser tubuhnya agar om Rudi terlihat di layar ponselnya.


"Papi ... Papi sakit apa? Apa perlu Dara pulang sekarang juga?" Tanya Dara dengan ekspresi wajah yang terlihat sendu.


"No, No, No! Kamu harus tetap belajar di sana! Papi baik-baik saja, Sayang!" jawab om Rudi dengan tegas, "lagi pula di sini sudah ada Anne yang merawat Papi!" ucap om Rudi seraya menatap wajah putrinya yang memenuhi layar ponsel Anne.


"Papi! setelah ini, Papi harus menyuruh Anne tinggal di rumah kita lagi. Dara khawatir kalau Papi tinggal sendirian di sana. Coba kalau hari ini Papi gak ada yang bawa ke rumah sakit, Dara tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya," cerocos Dara tanpa jeda


Anne hanya diam sambil menatap layar ponsel itu. Ia sedang menunggu jawaban apa yang akan diucapkan oleh suaminya itu. Jujur saja, Anne sendiri ingin tinggal bersama dengan om Rudi, entah itu di rumah atau pun di apartment.


"Kalau itu, kamu bilang sendiri saja sama orangnya! Bukankah kamu tau sendiri kalau dia sangat keras kepala!" jawab om Rudi seraya menatap Anne sekilas.


Anne berdecak mendengar hal itu. Ia mengerucutkan bibir hingga membuat Dara tergelak di sana. Obrolan pun terus berlanjut selama tiga puluh menit. Panggilan harus terputus saat Dara mengatakan jika ingin ke kamar mandi.


Setelah video call bersama Dara berakhir, Anne menyuapi sang suami dengan roti yang dibawakan oleh Pras saat datang ke rumah sakit ini untuk mengurus administrasi. Anne sangat telaten saat merawat om Rudi yang sedang terbaring di tempatnya.


Detik demi detik terus berlalu hingga tibalah di persimpangan waktu. Langit mulai redup saat bola raksasa berwarna jingga di ujung barat perlahan menghilang. Seperti yang sudah dikatakan suster tadi pagi, bahwa hasil tes akan dibacakan dokter saat visit di sore hari.


"Jadi, saya sebenarnya sakit apa, Dok?" tanya om Rudi setelah dokter pria yang seumuran dengan beliau selesai melakukan pemeriksaan.


Dokter tersebut hanya mengembangkan senyum tipis saat membaca hasil pemeriksaan yang dibawa oleh suster. Satu persatu hasil dari radiologi dan laboratorium telah dibaca dengan teliti.


"Tidak ada penyakit yang serius, Pak! Dari hasil tes yang sudah saya baca, penyebab tubuh Bapak kaku disertai ngilu di persendian ternyata disebabkan oleh asam urat yang berlebihan," ucap dokter tersebut yang berhasil membuat Anne mengulum senyum.


...🌹Selamat membaca 🌹...

__ADS_1


...aduh ... aduh ... ternyata si om kena asam aurat nih😀eh salah! Asam urat maksudnya🤭...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2