Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Memalukan!


__ADS_3

"Huh! Akhirnya sampai juga!" ujar Dara setelah keluar dari mobil. Ia menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan seraya mengamati rumah megah yang ada di hadapannya.


Setelah Juna keluar dari mobil dengan membawa koper, pada akhirnya sepasang suami istri itu menapaki satu persatu anak tangga menuju teras. Juna terlihat sangat perhatian kepada Dara. Ia tak melepaskan tangannya dari genggaman tangan sang istri.


"Atur napasnya dulu," ucap Juna setelah sampai di teras. Sesekali ia mengusap perut buncit sang istri.


Usia kandungan dara sudah memasuki minggu ke tiga puluh lima. Kurang beberapa minggu lagi ia akan melahirkan anak pertamanya, "ayo kita masuk!" ucap Dara setelah napasnya teratur. Kondisi tubuh yang semakin melebar serta perut yang semakin membesar, membuat napas Dara memburu.


"Eit! Jangan langsung masuk! Tekan bel dulu!" Juna menahan sang istri, "kamu sudah menikah dan memiliki rumah sendiri. Jadi, tetaplah memiliki sopan santun meskipun di rumah orang tua! Jangan asal masuk saja!" ujar Juna seraya tersenyum manis.


"Duh! Iya, iya, Bawel!" jawab Dara seraya menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan.


Setelah menekan bel di sisi pintu sebanyak tiga kali, pada akhirnya bi Una membukakan pintu. Kehadiran Dara dan Juna disambut hangat oleh asisten rumah tangga tersebut.


"Mari, Non. Silahkan masuk!" ucap bi Una setelah membuka lebar pintu berwarna putih itu.


"Anne kemana, Bi?" tanya Dara setelah sampai di ruang keluarga.


"Tadi Nyonya pergi ke kantor. Sepertinya mengantarkan makan siang untuk pak Rudi," ucap bi Una, "apakah ada yang Nona butuhkan?" tanya bi Una.


"Emm ... sepertinya tidak, Bi. Saya mau istirahat dulu," jawab Dara sebelum bi Una pamit kembali ke dapur.


Mungkin karena lelah, Dara memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu. Satu persatu anak tangga telah dilaluinya dengan hati-hati hingga sampai di lantai dua. Ia berhenti sejenak untuk mengatur napas yang tersengal.


Dara bersandar di pagar pembatas yang ada di sana. Tidak lama setelah itu, Dara harus membalikkan tubuhnya saat mendengar suara pintu yang terbuka. Lantas, ia mendengar suara Anne dan ayahnya menggema di dalam ruangan itu. Dara memicingkan mata saat mengamati dua orang yang masih berada di lantai satu dengan segala perdebatan yang terdengar.


"Gak usah minta maaf! Terus aja ngebela itu janda!"


"Sayang! Ayolah!"


"Gak usah panggil-panggil Sayang! Saya lagi marah ini!"

__ADS_1


"Aku ini gak ngapa-ngapain loh! Ayolah, Sayang, sudahi perdebatan ini!"


"Bodo amat! Intinya Mas sudah membela tante genit itu daripada aku!"


"Tidak! Aku tidak membela Rosa!"


Dara terus mengamati pertengkaran yang sedang terjadi di tangga rumah itu. Ia tersenyum tipis melihat ayahnya kuwalahan menghadapi sikap Anne saat ini. Segera ia mengubah posisinya ketika om Rudi dan Anne sampai di lantai dua.


"Ehem! Berdebat terus, nih!" ucap Dara dengan suara yang lirih.


"Loh, sejak kapan kamu datang, Dar?" tanya om Rudi setelah melihat kehadiran anak dan menantunya di sana. Jujur saja, beliau sedikit terkejut melihat mereka berdua.


Perlahan rasa malu mulai merayap dalam diri pria matang tersebut. Wibawanya mendadak hilang ketika sadar jika baru saja bertengkar di rumah ini. Bisa dipastikan jika menantunya itu pasti melihat drama tersebut.


"Ada apa sih, An?" tanya Dara setelah melihat wajah murung ibu sambungnya itu.


"Aku lagi kesal sama ayahmu!" ujar Anne tanpa menatap om Rudi.


Juna hanya bisa diam melihat ketiga orang yang ada di hadapannya. Sebenarnya, ingin sekali ia tertawa lepas melihat ekspresi wajah mertuanya itu. Namun, Juna tidak berani melakukan hal itu. Sekarang pria tampan itu hanya bisa menyaksikan drama yang sedang terjadi saat ini.


"Kamu tahu, si pengembala kanguru tadi datang ke kantor! Dia mau ngajak papimu makan malam lagi!" jawab Anne seraya menatap om Rudi sinis.


"Pengembala kanguru?" Dara menaikkan satu alisnya ketika mendengar jawaban Anne, "siapa dia?" Dara tidak tahu siapa yang dimaksud oleh ibu sambungnya.


"Tante Rosa!" jawab Anne dengan ketus, "kamu masih ingat 'kan dengan janda genit itu?" tanya Anne seraya menatap Dara.


Helaian napas berat terdengar di sana. Om Rudi tidak tahu lagi harus bagaimana. Memberikan peringatan keras pun hanya akan menambah masalah. Bukannya selesai, malah akan muncul masalah yang baru.


"Coba ulangi! Mau ngapain itu janda menemui Papi?" Ekspresi wajah Dara pun ikut berubah setelah mendengar nama keramat yang sudah tertulis dengan tinta merah itu.


Pada akhirnya Anne menceritakan apa yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dara memicingkan mata ke arah ayahnya setelah mendengar cerita dari Anne.

__ADS_1


"Papi!" ujar Dara tanpa melepaskan pandangan dari ayahnya.


"Papi gak ngapa-ngapain, Dar! Dia datang sendiri tanpa undangan dari Papi!" ujar om Rudi seraya berkacak pinggang.


"Ah sudahlah! Memang janda gatel itu harus dibasmi! Kalau sampai dia datang lagi, aku tidak akan tinggal diam! Awas saja kalau Mas berani membela dia!" ujar Anne sebelum berlalu dari hadapan semua orang.


Setelah kepergian Anne, kini, giliran Dara yang sedang mengintimidasi ayahnya. Ia sangat tidak suka jika om Rudi dekat dengan tante Rosa. Apalagi saat ini sudah ada Anne yang menjadi istri ayahnya. Biar bagaimanapun, Dara tetap menyayangi Anne meski masih berselimut dengan rasa kecewa yang belum pudar.


"Pi, ingat, ya! Jangan sampai Papi menyakiti Anne karena seorang wanita. Apalagi, wanita itu adalah tante Rosa!" Dara memberi peringatan kepada ayahnya sebelum berlalu dari sana.


Om Rudi mengusap wajahnya kasar setelah melihat sikap kedua wanita yang beliau sayangi itu. Sungguh, harga diri pebisnis sukses itu hilang sudah di hadapan Juna.


"Papi yang sabar," ucap Juna dengan suara yang lirih, "wanita hamil memang seperti itu! Gampang emosi, Pi," lanjut Juna setelah mengikis jarak dengan mertuanya.


"Apakah Dara bersikap seperti itu jika di rumah?" tanya om Rudi seraya menyandarkan pinggulnya di pagar pembatas.


"Lebih parah dari Mami mertua." Juna tersenyum kecut setelah mengingat perubahan sikap sang istri saat hamil, "bahkan, Dara cemburu kepada semua wanita yang menatap saya!" Juna melenguh setelah teringat kejadian memalukan yang pernah dia alami karena Dara.


"Lalu apa yang kamu lakukan untuk meluluhkan dia?" Sebenarnya om Rudi gengsi menanyakan hal ini kepada menantunya.Namun, bagaimana lagi, beliau sendiri tidak tahu harus bagaimana.


Juna menatap om Rudi sekilas dengan diiringi senyum tipis, "rayuan, pijatan, jalan-jalan, coklat dan bunga adalah alternatif untuk meluluhkan mereka. Papi bisa mencoba salah satunya," ucap Juna seraya meraih gagang koper yang ada di sisinya.


"Saya permisi dulu, Pi," pamit Juna sebelum berlalu dari sisi mertuanya.


Om Rudi tertegun setelah mendengar jawaban menantunya. Wajah pria matang itu menjadi merona setelah mendengar saran dari Juna. Om Rudi berdecak kesal karena situasi saat ini.


"Memalukan! Bisa-bisanya aku meminta saran dari menantuku sendiri!" Om Rudi mengumpati dirinya sendiri, "Ya Tuhan, hancur sudah harga diriku!" keluh om Rudi seraya berkacak pinggang.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Aduh aduh! Om-Om lagi malu nih 😂...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2