
Anne segera berlari memasuki villa mewah milik om Rudi sambil membekap mulutnya. Ia meninggalkan om Rudi dan Dara yang masih berada di teras villa karena sudah tidak tahan lagi menahan gejolak di perutnya sejak dalam perjalanan menuju villa ini.
"Hoek ... hoek ... hoek!" Anne membungkukkan tubuhnya di wastafel setelah masuk ke dalam kamar mandi.
Napas Anne terengah setelah beberapa kali mengeluarkan isi perutnya. Setelah dirasa lebih baik, ia menegakkan tubuh. Mengamati wajahnya lewat pantulan cermin di hadapannya. Namun, tidak lama setelah itu ... Anne membelalakkan mata tatkala teringat sesuatu hal yang membuat tangannya reflek menyentuh perut.
"Ya Tuhan! Mungkinkah aku hamil?" gumam Anne dengan kepala yang tertunduk.
Pikiran Anne mulai tidak tenang. Bayang-bayang kemarahan om Rudi dan Dara jika sampai dirinya hamil terlintas dalam ingatan. Anne panik karena takut mengandung benih yang ditanam Bagus kala itu. Lamunan ketakutan itu hilang begitu saja saat pintu kamar mandi diketuk beberapa kali dari luar.
"An! Anne! Apa kamu baik-baik saja?" Terdengar suara teriakan Dara di depan kamar mandi.
Anne segera merapikan rambutnya, ia harus terlihat baik-baik saja saat ini, dengan segera Anne membuka pintu kamar mandi. Ada om Rudi dan Dara yang berdiri di sana dengan eskpresi wajah yang panik.
"Apa perlu aku membawamu ke rumah sakit?" tanya Dara sambil mengamati wajah Anne yang sedikit pucat.
"Tidak!" Anne menggeleng pelan saat mendengar tawaran itu, "Aku baik-baik saja, Dar!" sergah Anne dengan diiringi senyum yang manis. Ia harus terlihat baik-baik saja saat ini.
"Lebih baik kalian istirahat dulu, setelah nanti keadaan Anne lebih baik, kalian bersenang-senanglah di sini," ucap om Rudi dengan pandangan yang tak lepas dari kedua gadisnya.
Dara menuntun Anne menuju kamarnya yang ada di lantai dua villa ini. Om Rudi yang mengajak mereka untuk menghabiskan hari minggu di villa ini, villa miliknya di kawasan puncak Bogor. Tempat ini biasa dipakai om Rudi untuk menenangkan pikiran dan terkadang beberapa kekasihnya pernah beliau bawa ke tempat ini agar tidak dijangkau oleh putrinya. Namun, semua itu terjadi dulu, saat Dara masih SMA.
"An, kamu kenapa sih?" tanya Dara setelah sampai di dalam kamar yang di tempati oleh Anne.
"Mungkin aku masuk angin, Dar, atau asam lambungku sedang naik," ucap Anne tanpa berani menatap Dara, "kamu tahu sendiri 'kan! Akhir-akhir ini aku banyak pikiran!" keluh Anne seraya merebahkan diri di ranjang.
Setelah berbasa-basi sebentar, Dara segera keluar dari kamar tersebut. Ia mengayun langkah menuju kamarnya yang ada di ujung lorong. Kamar utama dengan view indah yang memanjakan mata.
__ADS_1
Sementara itu, di dalam kamarnya ... Anne merasa cemas. Ia benar-benar takut jika sampai hamil hasil hubungannya bersama Bagus. Bukan dirinya yang ia khawatirkan, melainkan keselamatan Bagus pun akan terancam.
"Lebih baik aku pergi ke apotek saja! Aku harus membeli tes kehamilan!" gumam Anne seraya turun dari ranjang.
Namun, langkahnya harus terhenti ketika pintu kamar itu kembali terbuka. Irama jantungnya semakin berdetak tak karuan saat melihat om Rudi masuk ke dalam kamar itu.
"Bagaimana kondisimu, Sayang?" tanya om Rudi dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya.
"Saya ... saya baik-baik saja, Om!" Anne melangkah mundur dengan kepala yang tertunduk.
"Kenapa kamu tidak beristirahat? Memangnya kamu mau kemana?" tanya om Rudi lagi.
"Saya mau pergi ke apotek! Saya mau membeli emm ... obat maagh!" Itulah alasan yang terlontar dari bibir Anne.
Anne duduk kembali di tepi ranjang tersebut setelah om Rudi terus berjalan ke arahnya. Perasaan Anne mendadak tidak enak karena melihat seringai menakutkan dari wajah suaminya itu. Apalagi saat om Rudi mengangkat dagunya dengan kedua jarinya. Sungguh, Anne benar-benar ketakutan.
Anne hanya menggeleng pelan saat mendengar pertanyaan itu. Telapak tangannya mulai basah karena irama jantungnya semakin berdegup kencang.
"Mari Om antar jika kamu mau pergi ke apotek sekarang!" Om Rudi mengulurkan tangannya untuk membantu Anne berdiri.
Tidak ada pilihan lain untuk Anne saat ini. Ia menerima uluran tangan itu demi terlihat baik-baik saja. Ia hanya bisa berdoa kepada Sang Pencipta agar om Rudi tidak tahu apa yang sudah ia lakukan bersama Bagus.
Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan beberapa menit, pada akhirnya om Rudi menghentikan mobilnya di tempat parkir apotek yang lumayan besar di daerah tersebut.
"Om tunggu di sini saja, saya tidak akan lama!" ujar Anne sebelum keluar dari mobil hitam itu.
"Baiklah!" jawab om Rudi tanpa menatap Anne.
__ADS_1
Anne bergegas masuk ke dalam apotek tersebut. Ia membeli tespek yang paling mahal agar mendapat hasil yang akurat. Ia pun membeli obat maagh yang biasa ia konsumsi di saat asam lambungnya naik.
"Tolong disendirikan ya, Bu, bungkusnya!" pinta Anne kepada apoteker yang melayaninya.
Setelah mendapatkan kedua barang itu, Anne segera memasukkan kantong berisi tespek tersebut ke dalam tasnya sedangkan kantong berisi obat maagh ia biarkan di genggaman tangan.
"Mari kita kembali, Om!" ucap Anne setelah masuk ke dalam mobil.
Tidak ada pembicaraan apapun selama mereka dalam perjalanan kembali ke villa. Anne lebih memilih diam dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala. Lagi dan lagi ia membayangkan kemarahan pria yang ada di sampingnya itu saat hasil tes nanti sampai muncul dua garis merah.
"Semoga aku tidak hamil!" gumam Anne dalam hatinya.
Anne segera keluar dari mobil setelah sampai di halaman luas villa tersebut. Tanpa menunggu sang suami keluar dari mobil, Anne mengayun langkahnya memasuki villa tersebut. Tidak lupa ia mengunci kamarnya agar tidak ada siapapun yang masuk saat dirinya melakukan tes kehamilan.
"Gk usah nunggu besok pagi lah! Aku mau cek sekarang saja, semoga hasilnya negatif! Besok pagi aku akan melakukan cek ulang agar hasilnya akurat!" gumam Anne seraya membuka kemasan alat tes tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Anne meraih gelas yang ada di atas nakas. Masa bodo walau itu gelas minum untuknya karena tidak ada wadah lain untuk menampung urinnya.
Perasaan Anne menjadi bercampur aduk saat memasukkan alat tes tersebut ke dalam gelas berisi urinnya. Anne terlihat gusar saat menunggu hasil yang akan keluar beberapa detik lagi. Sungguh, ia berada dalam masalah yang besar jika sampai alat ini menunjukkan dua garis merah.
Bulir bening itu lolos begitu saja dari pelupuk mata saat melihat hasil tes kehamilan itu. Ada perasaan lega di dalam hati saat hasil tes tersebut menunjukkan satu garis saja. Air mata bahagia tentunya yang mewakili perasaan Anne saat ini.
"Ya Tuhan! Semoga besok pagi pun hasilnya negatif!" gumam Anne dalam hatinya.
...🌹Selamat Membaca 🌹...
...Mumpung hari senin nih, kuy yang punya vote boleh dong sedekah ke othor😍🤭...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...