Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Malam Jumat?


__ADS_3


Bingkai foto berukuran dua puluh R terpasang di dinding ruang kerja om Rudi. Foto close up sang istri terpampang dengan jelas di ruangan itu. Om Rudi sendiri yang berinisiatif untuk mengabadikan foto tersebut di ruang kerja sebagai penyemangat saat lembur di malam hari.


Seperti malam ini, kedua sudut bibir pria matang itu tertarik ke dalam setelah menatap potret sang istri. Om Rudi kembali fokus ke layar laptopnya untuk membalas setiap e-mail yang masuk. Seusai menikmati makan malam bersama sang istri, om Rudi langsung masuk ke dalam ruang kerja. Beliau tidak bisa menemani Anne nonton drama Korea di kamar.


Gemericik hujan terlihat jelas dari jendela kaca ruangan itu, karena kedua tirai yang ada di kedua sisi dibiarkan terikat. Suara petir terdengar menggelegar, rupanya hujan pertama ini tak kunjung reda dari pagi hingga malam.


Ctaar ... gleerrr .... gleerrr.


Anne menekan tombol merah pada remote kontrol yang ada dalam genggaman tangannya, saat melihat kilat di langit yang gelap. Suara guntur mulai menggelegar, hingga membuat wanita berbadan dua itu segera turun dari ranjang. Ia berjalan menuju jendela untuk menarik tirai di kedua sisi jendela, agar tertutup rapat.


"Hujannya awet banget hari ini!" Anne bergumam setelah kembali ke atas ranjang.


Anne menatap penunjuk waktu yang ada di kamar, lantas ia termenung di tepi ranjang. Dari ekspresi wajahnya sudah bisa dipastikan jika ia sedang memikirkan sesuatu. Kedua bola mata itu bergerak ke kiri dan kanan, entah ... apa yang sedang ia cari.


"Hmmm, ini kan malam jumat ya," gumam Anne setelah berdiri dari tepi ranjang.


Anne segera menuju walk in closet setelah sebuah ide muncul dalam pikirannya. Ia membuka almari untuk mencari sesuatu yang akan dipakai melancarkan rencananya.


"Dedek sayang, jangan nakal, ya! Dedek pasti kangen 'kan ditengok Papi," ucap Anne setelah memakai lingerie hitam yang membuat tubuhnya semakin terlihat menggoda, "sekarang dedek bobok dulu, ya, nanti jangan mendengarkan suaranya Mami, oke!" Anne terkekeh setelah mengucapkan semua itu. Ia mengusap perutnya beberapa kali sebelum berlalu menuju meja rias.


Lipstik berwarna merah merona telah menghiasi bibir Anne saat ini. Penampilannya malam ini terlihat begitu menggoda dengan make up yang cukup on. Setelah selesai bersiap, Anne meraih peignoir yang ada di hanger dan berlalu begitu saja dari ruangan tersebut. Ia harus menjemput om Rudi di ruang kerja untuk melaksanakan kegiatan malam jumat.


"Dedek Sayang, Mami minta kerja samanya ya. Malam ini Mami kangen banget sama Papi nih," ucap Anne saat berjalan menuju ruangan kerja. Beberapa kali ia mengusap perutnya dengan diiringi senyum manis seperti gulali.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu ruang kerja om Ruri terbuka lebar setelah Anne menarik handle pintunya. Ia segera masuk untuk menghampiri sang suami yang sedang berkutat di depan laptop. Bahkan, om Rudi tidak tahu jika Anne sudah berada di sisinya.


"Sayang! Kenapa belum tidur?" tanya om Rudi setelah mengalihkan pandangan dari layar laptop. Beliau menatap sang istri yang sedang berusaha duduk di atas meja.


"Enggak bisa tidur," ucap Anne dengan sikap yang sangat manja.


Om Rudi hanya tersenyum mendengar hal itu. Rencana lembur sepertinya akan gagal jika ibu negara sudah menjemput beliau di ruang kerja seperti saat ini. Apalagi, setelah melihat penampilan Anne malam ini, bisa dipastikan jika malam ini om Rudi bukan lembur di ruang kerja, melainkan di atas ranjang.


"Mas gak usah lembur di sini, nanti ditemani tante kunti loh, karena sekarang kan malam jumat!" ujar Anne seraya menyilangkan kakinya.


"Ya, dan sekarang kuntinya ada di hadapanku!" ujar om Rudi. Tentu saja kalimat itu hanya terucap dalam hati.


"Di kamar dong!" jawab Anne dengan tegas, "Emm ... tadi aku dibisikin dedek, katanya dedek lagi kangen ditengok Papi," lanjut Anne. Ia terkekeh setelah mengatakan itu.


Gelak tawa om Rudi menggema di dalam ruang kerja tersebut. Beliau menggeleng beberapa kali setelah mendengarkan ucapan sang istri. Bisa-bisanya bayi tak berdosa yang ada dalam kandungan dikambinghitamkan oleh ibunya.


"Coba sini, Papi mau mendengar sendiri kalau dedek yang minta ditengok," ucap om Rudi seraya menggerakkan kursinya ke samping. Kini beliau berada tepat di hadapan sang istri.


Beberapa kali om Rudi mendaratkan kecupan di perut buncit sang istri. Meski belum terlalu besar, perut buncit Anne selalu membuat om Rudi merasa gemas. Ingin sekali beliau menggigit perut tersebut.


"Aku kok gak mendengar apapun sih? Mana yang katanya si dedek minta ditengok?" tanya om Rudi setelah menempelkan telinganya di perut sang istri.


"Papi ... dedek kangen ditengok Papi, nih! Sini Pi, masuk dong, main sama dedek!" ucap Anne dengan suara yang dibuat seperti anak kecil.

__ADS_1


Om Rudi semakin tertawa lepas setelah mendengar suara Anne yang berbeda. Beliau kembali menghempaskan punggungnya di sandaran kursi seraya menatap Anne.


"Sayang, kita belum bisa melakukan aktifitas itu! Mas takut terjadi sesuatu dengan calon anak kita," ucap om Rudi setelah menghentikan tawanya.


"Ih! Kata dokter Martha kan janinnya udah kuat! Gak papa kali, Mas, kita melakukan kegiatan ranjang!" protes Anne. Ekspresi wajahnya berubah menjadi masam setelah mendengar penolakan secara halus dari sang suami.


"Mas hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat kita melakukan hubungan itu! Tahu sendiri 'kan jika sudah bermain, permintaanmu selalu bikin Mas was-was!" ujar om Rudi setelah teringat saat terakhir berhubungan dengan Anne.


Seperti biasa saat sebelum hamil, Anne meminta om Rudi agar melakukan permainan dengan berbagai gaya agar tidak monoton. Anne pun selalu meminta gerakan keras dan cepat, seperti saat terakhir kali mereka berhubungan beberapa waktu yang lalu.


"Ih! Mas kenapa gitu sih? Mas udah gak tertarik lagi ya sama aku? Kita sudah lama loh gak melakukan semua itu! Jangan-jangan Mas punya goa yang lain ya buat pedang sakti bersembunyi?" tuduh Anne dengan mata yang berembun.


"Memangnya aku gak menarik lagi ya di mata Mas? Apa aku gak sexy lagi sehingga Mas jarang menyentuhku?" Anne mulai terisak setelah mengucapkan hal itu.


Suara isak tangis Anne terdengar di sana. Moodnya tiba-tiba saja berubah sedih dan melow karena penolakan om Rudi. Ia takut jika sang suami memiliki wanita lain yang lebih menarik darinya.


Om Rudi menggeleng pelan setelah mendengar semua yang dilontarkan sang istri. Beliau tidak menyangka jika Anne sampai berpikir seperti itu. Tidak sedikitpun om Rudi tertarik wanita lain. Semua ini beliau lakukan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Beliau hanya ingin menjaga agar janin yang ada dalam kandungan sang istri tetap sehat.


"Astaga! Salah apa lagi aku ini?" Om Rudi mengusap wajahnya kasar setelah melihat sang istri menangis.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Lanjut gak nih nengok dedek bayinya?...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2