Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Debat pasangan lovebird.


__ADS_3

"Sepuluh menit lagi kita akan berangkat!" ujar om Rudi saat berdiri di ambang pintu walk in closet. Beliau menatap sang istri yang sedang memoles wajahnya di depan meja rias.


Anne mendengus kesal mendengar hal itu. Make-up nya belum selesai, tinggal memakai lipstik merah merona saja sebagai pelengkap malam ini. Anne memakai gaun yang sangat sexy. Ia tidak mau kalah saing dengan istri kolega sang suami. Apalagi kabarnya, di sana akan hadir wanita bernama Rosa yang sempat dekat dengan om Rudi.


"Cih! Pakai ngancam segala! Awas aja kalau sampai berani macam-macam! Aku potong jadi dua itu senjata!" gerutu Anne setelah menyelesaikan make-upnya.


Malam ini Anne benar-benar terlihat sexy. Gaun malam yang dikenakan memperlihatkan punggungnya yang mulus. Apalagi gaun berwarna hitam itu memiliki belahan hingga setengah paha. Sebelum berangkat ia meraih blazer untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Tak lupa ia membawa tas jinjing berwarna hitam. Istri tuan Rudianto Baskoro ini sungguh terlihat glamor dan elegan.


"Cantik." Om Rudi memuji sang istri setelah berdiri di hadapannya.


"Dari dulu lah!" jawab Anne dengan nada ketus.


Sepasang suami istri yang sedang berselimut rasa dingin itu pada akhirnya berangkat menuju restoran. Tidak ada pembicaraan apapun yang terdengar di dalam mobil. Anne sibuk membayangkan apa yang harus ia lakukan nanti saat bertemu tante Rosa. Mencoba menerka apakah om Rudi akan mengakuinya sebagai seorang istri atau malah mengakui sebagai putrinya. Hati Anne semakin meradang membayangkan hal itu.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit, pada akhirnya Anne sampai di tempat tujuan. Ia segera keluar dari mobil tatkala om Rudi sendiri yang membukakan pintu untuknya. Segera ia melingkarkan tangannya di lengan sang suami sebelum memasuki salah satu restoran mewah di Jakarta selatan.


Meski enggan melakukan semua ini, nyata Anne tetap tersenyum untuk menutupi jika dirinya sedang tidak akur dengan sang suami. Anne mengernyitkan keningnya setelah masuk ke dalam restoran tersebut karena suasananya sunyi sepi. Tidak satu pun orang yang mengunjungi restoran tersebut.


"Ini gak salah tempat?" Anne menghentikan langkahnya.


"Tidak, Sayang," ucap om Rudi sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju salah satu meja yang sudah disiapkan.


Satu kursi untuk sang istri telah ditarik om Rudi. Anne segera duduk seraya mengamati keadaan di sekitarnya. Ia mulai mencium aroma kebohongan di sini, karena tidak mungkin jika makan malam bersama kolega suasananya akan seperti ini.


"Papi nipu saya, ya!" sarkas Anne seraya menatap om Rudi dengan lekat.


"Papi hanya ingin makan malam romantis dengan kamu, Sayang," ucap om Rudi dengan diiringi senyum yang manis.

__ADS_1


Anne berdiri dari tempatnya saat ini, ia bersiap pergi meninggalkan sang suami, karena kekesalannya semakin bertambah. Namun, langkahnya harus terhenti saat om Rudi bertepuk tangan dua kali. Anne melihat beberapa waiters keluar dari dalam sambil membawa beberapa hidangan.


Berbagai olahan daging merah tersaji di sana, termasuk steak favorit Anne selama ini. Anne semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran sang suami. Ia menggeleng pelan karena melihat begitu banyak makanan yang tersaji di meja berbentuk bulat itu.


"Sayang, duduklah! Mari kita bicara." Om Rudi menatap Anne dengan lekat, lantas beliau kembali membuat sang istri duduk di tempatnya.


"Bukankah kamu ingin makam steak, Sayang?" tanya om Rudi, "Papi sudah menyiapkan semua steak ini untuk kamu." Om Rudi meraih tangan Anne untuk digenggamnya. Kecupan mesra mendarat di punggung tangan itu.


"Jadi, jangan marah lagi, oke? Mari kita nikmati suasana romantis di restoran ini," ucap om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang istri.


Apa yang sudah dikatakan om Rudi semakin membuat Anne geram. Ia baru tahu jika suaminya itu tidak tahu penyebab dari sikap dinginnya. Sungguh, rasanya Anne ingin sekali menggigit telinga suaminya hingga putus.


"Apa ada yang salah, Sayang?" tanya om Rudi setelah melihat perubahan ekspresi wajah sang istri.


"Jadi, Papi tidak tahu kesalahan Papi di mana?" tanya Anne sambil menahan emosi di dalam hati.


"Keterlaluan!" sungut Anne.


"Astaga! Kok bisa ya ada manusia gak peka seperti Papi ini!" Sungguh, Anne sangat geram saat ini.


"Saya itu tidak butuh makan malam romantis seperti ini! Saya itu hanya butuh papi minta maaf atas kesalahan Papi!" ujar Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang suami, ia tidak tahan lagi memendam kekesalan di hatinya.


"Iya, maka dari itu Papi melakukan semua ini, Sayang! Papi ingin menebus kesalahan Papi dengan mengajak kamu makan malam romantis di restoran ini. Coba lihat, banyak 'kan menu steaknya," ucap om Rudi dengan percaya diri. Beliau mengucapkan itu sambil menunjukkan beberapa menu spesial yang tersaji di meja itu.


"Iiih!" Anne mendaratkan pukulan di lengan om Rudi, "Saya marah itu bukan gara-gara steak!" teriak Anne dengan tangan yang tak henti memukul lengan itu.


"Terus salah Papi di mana, Sayang?" tanya om Rudi seraya menangkis pukulan sang istri.

__ADS_1


Mungkin karena terlalu kesal, Anne sampai menitikkan air mata. Ingin rasanya Anne menangis dan meraung di tempat ini karena sikapnya selama ini tidak membuahkan hasil. Ia kesal seorang diri, sementara sang suami malah mengartikan kekesalannya karena steak.


"Papi!! Peka dikit kenapa sih!" Anne sudah tidak tahan lagi untuk berdiam diri. Sepertinya ia harus mengeluarkan semua kekesalannya saat ini.


"Sayang, bagaimana Papi tahu apa yang sudah membuatmu marah sedangkan kamu beberapa hari ini terus bersikap dingin kepada Papi," kilah om Rudi. Pria matang itu semakin bingung karena sikap sang istri.


Anne mengatur napasnya sebelum mengungkap kekesalan yang ada di hati. Ia mencoba mengendalikan diri menghadapi suami matang yang tidak peka sama sekali.


"Papi ingin tahu kesalahan Papi di mana?" tanya Anne sekali lagi.


"Iya, coba katakan di mana kesalahan Papi," jawab om Rudi dengan santainya.


Anne mulai mengingatkan semua kejadian yang membuat hatinya terluka. Tak lupa ia menceritakan tentang sikap om Rudi saat dalam perjalanan pulang. Ia menjelaskan bagaimana perasaannya saat mendengar suara bentakan suaminya itu. Ia pun menjelaskan bagaimana hatinya terluka saat suaminya itu membentak di hadapan orang lain.


"Saya gak masalah kalau Papi marah kepada saya tapi jangan di hadapan orang lain lah! Pakai bentak-bentak saya di depan pak Botak lagi! Papi pikir saya gak punya harga diri hmmm!" ujar Anne dengan sorot mata yang tak lepas dari wajah sang suami, "saya itu gak butuh makan malam romantis seperti ini, Pi. Saya itu hanya butuh Papi minta maaf dan berjanji gak mengulangi kesalahan itu lagi! Itu udah cukup, Pi! Minta maaf, Pi! Minta maaf!" Napas Anne terengah-engah setelah mengeluarkan isi hatinya.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Wah si Om keterlaluan😂udah pikun kali ya😎...


➖➖➖➖➖➖♥️♥️♥️♥️➖➖➖➖➖➖


Hallo Sayangku, selamat bermalam minggu😍


Ada rekomendasi karya keren nih, kuy buruan baca karya dari author Dina Dinul dengan judul Suamiku Bukan Jodohku. Pokoknya wajib baca yeee😎


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2