
"Jangan pulang terlalu malam, oke!" ucap om Rudi sebelum memutuskan sambungan telepon bersama putrinya.
Dara baru saja memberi kabar jika dirinya pulang terlambat. Mungkin gadis itu sedang menghabiskan waktu bersama sang kekasih. Kesempatan ini tentu saja tidak akan disia-siakan oleh om Rudi. Beliau berkacak pinggang di sisi ranjang sambil menatap Anne yang sedang tertidur pulas.
Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam tatkala mengamati wajah cantik yang sedang tidur nyenyak. Sedikit demi sedikit om Rudi berhasil memberikan Anne kenyamanan meski harus bersabar menahan semua gejolak yang ada di dalam diri.
"Aku pasti bisa mendapatkanmu!" gumam om Rudi dengan diiringi senyum tipis.
Mendekati Anne secara perlahan adalah bagian dari usaha om Rudi. Pria yang belum genap berusia lima puluh tahun itu tidak mau memaksa Anne untuk melayaninya. Beliau menginginkan hubungan suami istri secara suka sama suka karena semua itu bisa menambah kepuasan batin.
Om Rudi merasa lega karena setidaknya Anne tidak menolak tidur satu ranjang dengan beliau. Om Rudi pun tahu jika Anne pun merasa nyaman ada dalam dekapan hangatnya.
Penunjuk waktu sudah berada di angka satu. Cuaca panas bisa dilihat dengan jelas di balik jendela kaca kamar yang di tempati om Rudi saat ini. Setelah puas menatap pemandangan yang ada di luar jendela, om Rudi kembali duduk di tepi ranjang untuk membangunkan sang istri karena ini sudah lewat jam makan siang.
"Sayang ... Bangunlah!" ujar om Rudi seraya mengusap pipi Anne dengan gerakan lembut.
Beberapa detik kemudian, Anne membuka kelopak matanya. Ia reflek menyingkirkan tangan itu dari pipinya. Segera ia bangun dan duduk bersandar di headboard ranjang.
Om Rudi tertegun melihat perlakuan Anne kepadanya. Beliau mengangkat telapak tangannya dan kedua mata itu pun menatap tangan yang sudah dihempaskan oleh Anne.
"Maaf, Saya tidak sengaja!" Anne merasa bersalah karen hal itu. Ia menjadi salah tingkah saat om Rudi hanya diam tanpa ekspresi apapun.
Entah bagaimana awalnya, Anne tiba-tiba saja meraih tangan itu. Ia menggenggam tangan yang biasa menyentuhnya dengan penuh perasaan itu sementara manik hitamnya tak lepas dari wajah om Rudi.
"Jangan diulangi lagi!" Sebuah peringatan akhirnya lolos begitu saja dari bibir om Rudi, "Bersiaplah, kita makan siang sekarang!" Om Rudi beranjak dari tepi ranjang. Beliau keluar dari kamar tanpa tersenyum ke arah Anne.
...****************...
__ADS_1
Sang raja sinar mulai bergerak ke barat. Semburat warna jingga mulai terlihat di cakrawala barat. Mobil hitam yang dikendarai om Rudi berhenti di depan pemakaman elit yang biasa ditempati jasad orang-orang berduit.
"Saya ingin pergi sendiri! Om di sini saja!" ucap Anne sebelum keluar dari mobil.
Langkah demi langkah telah Anne lalui hingga sampai di pusara kedua orangtuanya. Banyak rumput yang tumbuh di sana karena tidak ada yang merawat. Anne duduk di antara pusara ayah dan ibunya.
"Mama ... Papa ... Anne datang!" ucap Anne dengan suara yang lirih.
Sebelum melepas rindu dengan doa-doa yang ia bisa, Anne meletakkan bunga tangkai di depan nisan masing-masing. Ia mengusap nisan itu dengan diiringi senyum tipis. Gurat kesedihan terlihat jelas di wajahnya.
"Anne tidak tahu seberapa sanggup menjalani pernikahan ini. Apakah yang Anne lakukan salah, Pa?"
"Haruskah Anne bersikap baik kepada om Rudi atas apa yang sudah dia lakukan kepada Anne? Jujur saja Anne sangat takut menjalani kerasnya hidup tanpa kalian,"
Anne termenung dengan segala keluh kesah yang ia tumpahkan lewat air mata. Melihat dua gundukan itu, berhasil membuat pikiran Anne menjadi terbuka. Cukup Lama Anne berada di sana sampai om Rudi menyusulnya.
"Ayo pulang, An! Sebentar lagi malam akan datang," ucap om Rudi setelah berdiri di belakang Anne.
"Berjanjilah di depan pusara kedua orang tua saya, jika Om sanggup menjaga dan menyayangi saya karena saya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi kecuali Om dan Dara!" ujar Anne dengan pandangan yang tak lepas dari wajah om Rudi.
Om Rudi mengulas senyum yang sangat manis setelah mendengar permintaan Anne. Beliau mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang yang membingkai wajah cantik itu. Tentu saja dengan senang hati beliau akan melakukan semua permintaan Anne.
"Tanpa kamu minta, Om akan menjaga dan menyayangimu, An! Om tidak akan mungkin membiarkanmu hidup menderita," ucap om Rudi dengan diiringi senyum manis, "Om berjanji akan hal itu," lanjut om Rudi sebelum meraih tubuh ramping Anne ke dalam dekapannya.
Mereka berdua segera pulang karena siluet jingga telah hadir di ujung barat. Sang raja sinarpun bersiap kembali ke singgasananya. Om Rudi tak melepaskan genggaman tangannya dari telapak tangan Anne, kedua tangan itu saling bertautan sampai mereka berdua masuk ke dalam mobil.
***
__ADS_1
Setelah makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing. Dara terlihat sangat kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu dengan sang kekasih. Anne segera menutup pintu kamarnya, ia berjalan menuju almari untuk mencari buku usang yang sudah lama ia simpan di sana.
Duduk di meja rias sambil membaca buku diary yang dulu ia tulis saat masih SD membuat Anne senyum-senyum sendiri. Ia membaca satu persatu halaman buku itu hingga sampailah pada halaman yang membuatnya menitikkan air mata.
Anne segera menutup buku diary itu, kembali menyimpan di almari seperti sebelumnya. Lantas ia membuka pintu kamar menuju balkon kamar untuk merasakan desiran angin malam yang bisa mengusir rasa sesak di dada.
"Aku tidak bisa begini terus! Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Anne menyondongkan tubuhnya dengan kedua tangan sebagai penopang di pagar pembatas.
Pikiran itu kembali melayang untuk mencari jalan keluar atas kerumitan yang sedang ia alami. Tidak mungkin bukan jika pernikahannya bersama om Rudi tidak akan terbongkar selamanya. Cepat atau lambat, Dara pasti akan mengetahui semua ini.
Anne hanya bisa melenguh panjang saat membayangkan kemarahan Dara nanti. Ia tahu betul jika Dara tidak suka memiliki ibu sambung karena bagi Dara, semua itu akan membuat kasih sayang ayahnya terbagi dengan orang lain.
"Maafkan aku, Dar!" Anne membalikkan tubuhnya. Kali ini ia lebih memilih bersandar di pagar pembatas itu.
Bayang-bayang senyum manis om Rudi tiba-tiba saja hadir dalam pikiran Anne. Ia mendesis pelan karena akhir-akhir ini pria matang itu menghantui pikirannya sehingga semua angan tentang Bagus hilang begitu saja. Banyaknya perasaan yang memenuhi hati Anne saat ini, membuatnya sedikit lupa dengan sosok yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Mungkin, tidak ada salahnya jika aku mencoba menerima kehadiran om Rudi! Toh, aku tidak punya apapun untuk membayar hutang biaya rumah sakit bu Ningrum jika aku berpisah darinya!" gumam Anne dengan tangan yang mencengkram erat pagar pembatas itu.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Tinggalkan komentar kalian dong😀...
...🌷🌷🌷🌷...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Buat kalian yang suka baca cerita berondong dan sugar mommy, aku ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian😍Buruan cari judul MY WIFE SUGAR MOMMY karya author Harumini❤️ Jangan sampai ketinggalan ceritanya yak😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...