Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Makan malam Romantis,


__ADS_3

Keheningan terasa dalam suasana romantis restoran mewah itu. Om Rudi tertegun setelah mendengar luapan emosi sang istri. Sungguh, beliau tidak menyangka jika peringatannya saat itu berhasil membuat sang istri terluka. Rasa bersalah mulai menyapa kala air mata mulai membasahi pipi mulus sang istri.


"Sayang," Om Rudi bergumam setelah melihat Anne yang sedang menyeka air matanya.


"Sungguh, Papi tidak tahu jika suara Papi saat itu membuatmu terluka," ucap om Rudi sebelum beranjak dari tempatnya saat ini.


Segera beliau merengkuh tubuh sang istri. Tangan itu tak henti membelai rambut yang berada di depan perutnya. Om Rudi benar-benar menyesal atas semua yang terjadi. Pria matang itu menutup kelopak matanya saat membayangkan betapa malunya sang istri di hadapan pak Botak. Ya, om Rudi tahu jika semua itu telah membuat harga diri sang istri runtuh.


"Papi minta maaf, Sayang. Sungguh, Papi menyesal karena sudah melakukan semua itu," ucap om Rudi setelah duduk kembali di kursinya. Kali ini beliau duduk lebih dekat sang istri.


Mata yang berurai air mata itu tak melepaskan pandangan dari wajah yang melukiskan gurat penyesalan. Semua rasa sedang bercampur aduk di dalam hati kala sorot mata mata penuh harap itu mengusik hati.


"Sekali lagi, Papi minta maaf, Sayang," ucap om Rudi tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang istri.


"Apa yang harus Papi lakukan agar kamu bersedia memaafkan Papi?" tanya om Rudi ketika Anne tak kunjung mengucapkan sepatah kata pun.


Anne mengalihkan pandangan ke arah lain untuk memikirkan sesuatu yang bisa mengobati luka di hatinya. Ia tidak tahu harus bagaimana saat ini, ia menjadi tidak tega setelah mendengar permintaan maaf yang tulus dari sang suami. Bukankah memang seperti itu adanya—seorang istri akan luluh saat suaminya bersedia minta maaf dan mengakui kesalahannya. Menurunkan ego agar rumah tangga kembali tenang dan rukun adalah salah satu hal yang diperlukan saat ini.


"Mainkan piano itu, berikan saya satu lagu cinta dari Papi," ucap Anne setelah pandangannya menangkap piano di atas panggung kecil yang ada di deretan depan.


"Piano?" Om Rudi meyakinkan permintaan sang istri.


"Ya. Papi pasti bisa kan bermain Piano? Mama dan Papa saya dulu suka dengan Piano. Saya rasa Papi pun seperti itu, karena Papi kan sahabat orang tua saya," ucap Anne dengan pandangan yang tak lepas dari manik hitam sang suami.


Om Rudi tertegun mendengar permintaan sang istri. Ya, memang benar ... beliau dulu pernah belajar bermain piano karena Sekar, yang tak lain adalah ibunya Anne sangat menyukai piano.


"Tapi Papi sudah lama tidak pernah menyentuh piano," sangkal om Rudi.

__ADS_1


"Coba dulu!" Anne tetap keukeh dengan permintaannya.


Demi membuat sang istri kembali tersenyum, pada akhirnya om Rudi beranjak dari tempat duduknya saat ini. Beliau naik ke atas panggung dan mendaratkan tubuh di kursi yang biasa di tempati pianis. Beliau memejamkan mata, mencoba untuk mengingat setiap not yang dulu pernah beliau pelajari. Lagu favorit yang selalu beliau mainkan dulu saat mengejar cinta ibunya Anne di saat muda—When a man loves a women.


Suara dentingan piano mulai terdengar di sana. Om Rudi begitu menikmati alunan nada yang beliau mainkan. Banyak kenangan yang tiba-tiba saja muncul dalam ingatan. Senyum manis wanita cantik yang menjadi idamannya dulu tengah menari-nari mengikuti alunan nada lagu romantis yang ngehits pada jamannya dulu. Om Rudi membuka kelopak matanya setelah selesai mempersembahkan lagu untuk wanita yang memenuhi hatinya itu.


"I love you so much," ucap om Rudi setelah melihat kehadiran Anne di sisi piano. Istrinya itu sedang membungkukkan tubuh dengan tangan yang diletakkan di atas piano untuk menopang dagunya.


"Love you more, Papi," jawab Anne dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Om Rudi berdiri dari tempat duduknya saat ini. Beliau memberikan kode agar sang pianis segera hadir dan mempersembahkan musik terbaik untuk menemani makan malam romantis ini. Om Rudi meraih tangan sang istri untuk digandeng saat menuruni panggung.


"Jadi, kamu mau memaafkan Papi, Sayang?" tanya om Rudi setelah kembali ke tempatnya. Beliau menatap sang istri penuh harap.


"Ya, saya memaafkan Papi. Jangan diulangi lagi!" ucap Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan yang sedang tersenyum itu.


Makan malam romantis dengan diiringi alunan nada yang dimainkan Pianis itu pada akhirnya dimulai. Anne terus tersenyum kala melihat sikap yang ditunjukkan om Rudi. Beberapa kali om Rudi menyuapkan daging steak yang sudah dipotong.


Makan malam terus berjalan, beberapa porsi steak dan olahan daging yang lain telah habis. Masih banyak makanan yang tersaji di atas meja bundar itu. Om Rudi pun begitu menikmati masakan lezat yang menjadi menu spesial di restoran ini.


"Papi! Jangan berlebihan makan daging merahnya! Ingat asam urat, Pi!" Anne mencekal tangan om Rudi yang bersiap mengambil olahan daging merah untuk yang kesekian kalinya.


"Tenang! Papi sudah minum obat sebelum berangkat ke sini," kilah om Rudi.


"No! Meskipun sudah minum obat, Papi gak boleh makan berlebihan!" Anne tetap keukeh pada keputusannya.


"Saya marah lagi loh kalau Papi gak mau nurut! Saya gak mau ya, kalau Papi asam urat atau encok lagi! Kalau saya pengen gimana? Nunggu Papi sampai kejompoannya ilang dulu? Keburu buntu, Pi!" cerocos Anne hingga membuat om Rudi terkekeh setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan sang istri.

__ADS_1


Pada akhirnya om Rudi pun menurut dengan larangan sang istri. Beliau tidak mau semua yang dikhawatirkan sang istri benar-benar terjadi. Sungguh, beliau tidak rela melihat daun mudanya itu sampai kekurangan nafkah batin yang bisa membuat jalannya buntu.


"Mari kita dansa," ucap om Rudi seraya mengulurkan tangannya setelah beranjak dari tempatnya saat ini.


"Papi yakin? Saya gak begitu mahir dansa," Anne meyakinkan permintaan sang suami sebelum beranjak dari tempatnya.


Anne menerima uluran tangan sang suami setelah melihat sorot penuh kasih yang terpancar dari mata sang suami. Alunan instrumental piano lagu perfect—Ed Sheeran, semakin terdengar mendayu untuk menemani sepasang suami istri yang sedang memadu kasih itu.


Kedua tangan Anne diletakkan di pundak om Rudi, sementara kedua tangan om Rudi ada di pinggul Anne. Mereka berdua bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan lagu romantis itu. Kedua kening itu saling bersentuhan. Tatapan mata saling mengunci satu sama lain hingga pada akhirnya om Rudi meraih tangan sang istri agar segera memutar tubuh. Kini, posisi mereka telah berubah. Tubuh Anne membelakangi om Rudi, sementara kedua tangan pria matang itu mengalung di perut sang istri.


"Malam ini kamu terlihat sangat cantik, Sayang! Papi suka dengan gaun malammu saat ini," ucap om Rudi setelah mendaratkan kecupan mesra di pundak yang terbuka itu, "Setelah ini kamu mau pergi kemana?" tanya om Rudi.


Anne tersenyum mendengar pujian dari suaminya itu. Apa yang diberikan om Rudi malam ini, benar-benar membuatnya menjadi wanita yang paling beruntung. Makan malam romantis kali ini tidak mungkin bisa ia lupakan.


"Bagaimana kalau setelah ini kita menginap di hotel bintang lima," ucap Anne yang berhasil membuat om Rudi tersenyum penuh arti.


Pada akhirnya setelah dua hari dua malam berpuasa, sebentar lagi om Rudi akan segera menikmati daging empuk yang bisa membuat tubuhnya remuk redam.


Sungguh ... om Rudi sudah tidak sabar untuk segera pergi dari restoran ini.


...🌷Selamat membaca🌷...


...Aduh ... othor kok kepingin jadi Anne aja ya🤭...


➖➖➖➖➖➖❤️❤️❤️❤️➖➖➖➖➖➖


Selamat hari minggu sayang😎 Othor ada rekomendasi karya keren dari author Angela dengan judul Terjerat Gairah Sang Pelakor. Nah kan!! Judulnya aja udah bikin penasaran kan?? Cus baca yuk🤭

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2