Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Ngidam yang meresahkan!


__ADS_3

"Nah, yang Moms dan Daddy dengar saat ini adalah detak jantung debaynya," ucap dokter Martha saat melakukan pemeriksaan.


Anne tersenyum manis setelah mendengar suara detak jantung janinnya. Entah mengapa, rasanya ia terharu setelah mendengar semua itu. Ia tidak menyangka saja jika beberapa bulan ke depan akan menjadi seorang ibu. Sama halnya dengan Anne, om Rudi pun tersenyum manis setelah mendengar semua itu. Beliau bahagia melihat kondisi sang istri baik-baik saja.


Tidak terasa usia kandungan Anne sudah berada di minggu ke tujuh belas, itu berarti kandungan Anne sudah berumur empat bulan lebih satu minggu. Perutnya mulai terlihat membuncit karena janin tumbuh dengan baik. Bahkan, berat badan Anne mulai naik. Pipinya terlihat mengembang karena napsu makannya semakin bertambah. Anne tidak lagi mengalami morning sickness seperti di awal kehamilan.


"Apakah kondisi istri saya dan kandungannya baik-baik saja, dok?" tanya om Rudi seraya menatap dokter Martha.


"Kondisi Moms dan janinnya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Janinnya sudah kuat dan mungkin beberapa waktu ke depan Moms akan merasakan pergerakan di perut." Dokter Martha akhirnya selesai melakukan pemeriksaan.


Setelah turun dari bed pemeriksaan. Anne dan om Rudi pindah ke tempat lain. Mereka berdua duduk di depan meja kerja dokter Martha untuk mendengar penjelasan dari dokter cantik tersebut. Selembar resep obat pun telah diserahkan dokter Martha kepada sepasang suami istri itu.


"Terima kasih, dok," ucap om Rudi sebelum keluar dari ruangan itu.


Langkah demi langkah telah dilalui om Rudi hingga sampai di depan apotek. Beliau menyerahkan resep dari dokter Martha kepada Apoteker tersebut, "saya minta dikirim saja obatnya," ucap om Rudi seraya menyerahkan kartu nama kepada Apoteker tersebut.


Setelah menyelesaikan transaksi, om Rudi segera keluar dari apotek tersebut. Beliau berjalan beriringan dengan Anne menuju pintu keluar klinik dokter Martha, "langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" tanya om Rudi setelah masuk ke dalam mobil.


"Kita jalan-jalan dulu ya, Mas," ucap Anne seraya mengembangkan senyumnya.


"Siap, Sayang!" ujar om Rudi sebelum menyalakan mesin mobilnya.


"Tapi sebelum jalan-jalan kita makan dulu, ya, Mas," ucap Anne seraya mengalihkan pandangan ke samping.

__ADS_1


"Sayang, kamu tidak salah 'kan? Sebelum berangkat kan udah sarapan," Om Rudi meyakinkan ucapan sang istri.


"Enggak dong! Udah laper lagi," jawab Anne dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.


"Oke, kalau begitu nanti kita makan dulu," ucap om Rudi tanpa mengalihkan pandangan. Beliau fokus dengan jalanan padat yang ada di depan.


Sang mentari tengah tersenyum manis untuk menghangatkan setiap insan yang berada di luar perlindungan atap. Waktu pagi hampir habis, akan tetapi langit masih redup karena awan abu-abu hadir di sana. Sepertinya tidak akan lama lagi senyum sang mentari akan pudar, berganti dengan tangisan sendu awan pekat yang mendominasi.


"Di mobil ada payung kan, Mas?" tanya Anne setelah tangis awan pecah membasahi bumi.


"Sepertinya tidak ada, Sayang," jawab om Rudi.


Anne menatap ke arah luar, ia menikmati hujan pertama di Jakarta setelah musim kemarau yang melanda. Rintik hujan semakin lama bertambah lebat, angin pun mulai hadir di sana untuk menambah dinginnya udara di luar sana.


Setelah berada di jalanan bersama hujan yang tak kunjung reda. Pada akhirnya mobil yang dikendarai om Rudi sampai di basement salah satu Mall elit di Jakarta selatan. Sepasang suami istri itu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu samping Mall tersebut.


"Kita makan dulu, Mas! Sepertinya di lantai tiga ada restoran cepat saji," ucap Anne setelah mengamati sekeliling mall tersebut.


Benar saja, seperti praduga Anne sebelumnya, jika di lantai tiga ada restoran cepat saji. Mereka berdua segera masuk ke restoran tersebut dan menikmati makan menjelang siang.


Hari ini om Rudi sengaja tidak datang ke kantor karena harus menemani ibu negara periksa kandungan. Beliau tidak mau sampai membiarkan Anne ke dokter seorang diri, karena khawatir terjadi sesuatu kepada istrinya itu. Sejak Anne hamil dan kembali ke rumah utama, om Rudi semakin over protective kepada Anne. Beliau benar-benar menjadi suami siaga untuk Anne.


"Mas, aku kok tiba-tiba pengen makan kebab langsung di Turki, ya!" ucap Anne setelah mengamati gambar kebab yang ada di dalam resto tersebut.

__ADS_1


"Aduh! Apalagi ini!" ujar om Rudi dalam hati.


Bukan tanpa alasan om Rudi mengucapkan semua itu. Karena beberapa minggu yang lalu, beliau hampir seminggu dua kali ke luar kota hanya untuk menyenangkan sang istri. Anne beberapa kali berdalih sedang 'ngidam' makanan khas yang ada di beberapa kota di Indonesia. Beliau serasa dikerjai oleh daun mudanya itu dengan beralasan jika bayi yang ada dalam kandungan yang meminta. Puncak dari acara ngidam itu saat Anne meminta pergi Korea hanya untuk menikmati ramen seperti yang ia lihat dalam film korea 'The legend of the blue sea'. Saat itu, Anne merengek ingin pergi Korea. Ia harus mengancam om Rudi, jika akan pergi sendiri saja apabila om Rudi tidak mau mengantarnya. Ia pun mengancam suami matangnya itu, jika akan menemui artis terkenal di Korea—Lee min ho.


Ancaman tersebut nyatanya berhasil membuat acara ngidam tersebut terlaksana. Anne dan om Rudi pergi ke korea untuk mencari ramen sesuai dengan permintaan Anne. Sungguh, Anne begitu manja akhir-akhir ini.


"Apakah ini juga disebut ngidam?" tanya om Rudi seraya menatap Anne.


"Hmmm ... sepertinya iya! Memangnya Mas tidak mau ya berangkat ke sana? Nanti anak kita ileran loh!" ujar Anne seraya menatap om Rudi yang sedang mengunyah makanan.


Om Rudi hanya diam mendengar hal itu. Bukannya beliau tidak mau berangkat ke Turki, akan tetapi banyak pekerjaan di kantor yang sudah menanti. Beberapa agenda ada yang tertunda karena om Rudi sering meninggalkan kantor.


"Lihat saja nanti, ya! Karena di kantor masih banyak pekerjaan. Biar Pras yang mengatur jadwalnya dulu," ucap om Rudi dengan diiringi senyum manis. Beliau sangat berharap jika kali ini Anne mengerti posisinya.


Kecewa. Itulah yang dirasakan Anne saat ini setelah mendengar jawaban sang suami. Wajah ceria itu mendadak menjadi sendu karena keinginannya kali ini harus tertunda, padahal Ia ingin sekali pergi ke Turki. Anne mulai berpikir untuk menerka alasan om Rudi yang sesungguhnya. Ia hanya diam sambil menikmati makanan yang ada di meja tersebut tanpa menatap om Rudi. Keheningan begitu terasa di meja tersebut, karena keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Apa jangan-jangan duitnya sudah habis, ya!" ujar Anne dalam hati, "Oh tidak! Ini tidak boleh terjadi!Jangan sampai duitnya habis gara-gara aku!" Anne menggeleng pelan setelah menerka alasan om Rudi yang sebenarnya.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Hallo semua 😎 Selamat hari senin😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2