
Satu minggu telah berlalu begitu saja. Keadaan belum sepenuhnya membaik karena Anne masih terpuruk dengan masalah ini. Selama satu minggu ini pun dia tidak masuk ke kantor, Ia menghabiskan hari dengan mengurung diri di kamar untuk menenangkan pikiran. Selama satu minggu ini ia tidak bisa menghubungi Dara karena nomornya diblokir oleh putri sambungnya itu.
Pipi Anne terlihat tirus karena ia kehilangan beberapa kilo berat badannya karena satu minggu ini ia kehilangan selera makan. Ia setres karena berada di dalam situasi yang menyesakkan dada.
"Sayang, tidurlah! Ini sudah larut malam," ucap om Rudi ketika mendapati Anne yang sedang termenung di sisinya.
"Saya tidak bisa tidur, Pi," keluh Anne seraya menatap wajah sang suami sekilas, "Papi tidur saja, pasti Papi lelah 'kan?" ucap Anne.
Om Rudi meraih tubuh Anne, beliau mendekap tubuh itu untuk memberikan rasa nyaman dan kehangatan. Om Rudi beberapa kali mengecup kening tanpa polesan bedak.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa kamu ingin membeli sesuatu?" tanya om Rudi dengan tangan yang tak henti membelai rambut hitam yang ada di lengannya.
"Saya ingin pergi ke Jepang menemui Dara!" Anne menengadahkan kepala agar bisa menatap wajah sang suami. Ia berharap kali ini suaminya itu memberikan izin, "saya mau pergi ke sana sendiri," lanjut Anne.
Hening, tiba-tiba saja suasana di kamar itu menjadi sunyi sepi. Om Rudi terlihat mempertimbangkan permintaan sang istri. Tentu beliau khawatir jika membiarkan Anne terbang sendiri ke Jepang, apalagi di sana bukan untuk bersenang-senang tapi menyelesaikan masalahnya dengan Dara.
"Saya mohon, Pi! Kali ini biarkan saya pergi sendiri." Anne menatap om Rudi penuh harap.
"Akan berbahaya jika kamu pergi ke sana sendiri," ucap om Rudi dengan suara yang lirih.
Anne berusaha meyakinkan om Rudi jika dirinya akan baik-baik saja di sana. Ia bersikukuh ingin pergi menemui Dara secepatnya karena ia tidak mau masalah ini terus berlanjut. Kekacauan yang terjadi harus segera diselesaikan agar hubungan ini kembali baik-baik saja.
"Baiklah, jika memang itu yang bisa membuat hatimu tenang, pergilah! Bicaralah dengan Dara, tetapi kamu harus berjanji satu hal kepada Papi, jagalah dirimu selama di sana." Pada akhirnya om Rudi yang mengalah demi kebahagiaan sang istri.
"Terima kasih, Pi," ucap Anne dengan diiringi senyum tipis.
Setelah beberapa puluh menit menemani Anne ngobrol beberapa hal. Pada akhirnya, om Rudi bisa bernapas lega karena Anne mulai terlelap. Pria matang itu pun sedih melihat kondisi sang istri yang lebih kurus dari biasanya.
Om Rudi sendiri tidak yakin, jika Anne bisa menaklukkan Dara dalam waktu dekat ini. Oleh sebab itu beliau pun belum mempunyai rencana untuk menemui putrinya di sana. Om Rudi hanya ingin memberikan waktu untuk Dara menenangkan diri.
__ADS_1
"Maaf sudah membuatmu berada dalam situasi ini," gumam om Rudi setelah mengecup puncak rambut Anne beberapa kali.
...****************...
Mentari pagi telah datang untuk memberikan kehangatan kepada semua insan setelah berselimut dengan angin malam yang dingin. Pagi ini adalah pagi yang berbeda bagi om Rudi selama satu minggu ini karena beliau bisa melihat Anne tersenyum kembali, tepat setelah beliau membuka mata.
"Selamat pagi, Pi," sapa Anne saat mata sipit itu mulai terbuka.
"Selamat pagi, Sayang." Om Rudi tersenyum tipis seraya mengulurkan tangan untuk membelai pipi sang istri.
Om Rudi mengubah posisi setelah mendengar ponselnya berdering. Beliau meraih ponsel tersebut dan segera menggeser icon hijau agar panggilan segera terhubung.
"Oh, jadi begitu! Baiklah, tidak masalah. Terima kasih," ucap om Rudi sebelum memutuskan panggilan tersebut.
Om Rudi meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Beliau segera mengubah posisi menghadap ke arah sang istri untuk memberikan kabar terbaru yang disampaikan oleh Pras.
"Besok ya?" Anne terlihat kecewa mendengar berita yang disampaikan oleh suaminya itu, "Ya sudah tidak masalah," ucap Anne pasrah.
Om Rudi segera turun dari ranjang karena harus bersiap pergi ke kantor. Beliau segera keluar dari kamar ini dan beralih menuju kamarnya sendiri. Sejak kejadian kala itu, Anne memutuskan tidur di kamarnya dan otomatis om Rudi pun mengikutinya tidur di kamar ini.
***
Untuk pertama kalinya Anne keluar dari kamar setelah satu minggu mengurung diri di dalam kamar. Selama itu pun makanan untuk Anne diantar langsung oleh bu Una ke dalam kamarnya.
Setelah melewati satu persatu anak tangga, pada akhirnya Anne sampai di dapur untuk mengambil yogurt yang biasa ada di dalam kulkas. Saat melewati meja makan, ia melihat beberapa menu yang biasa ia sukai. Namun, sepertinya selera makannya belum kembali.
"Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" Tiba-tiba saja terdengar suara bi Sari di belakang tubuh Anne.
Tentu saja, apa yang diucapkan oleh bi Sari berhasil mengusik indera pendengarannya. Ia keberatan jika ART itu memanggilnya dengan sebutan 'nyonya'. Anne heran saja mengapa bi Sari memanggilkan dengan sebutan itu.
__ADS_1
"Kenapa Bi Sari memanggil saya 'nyonya'?" tanya Anne seraya menatap bi Sari.
"Apa ada yang salah, Nya?" Bi Sari terlihat bingung ketika Anne bertanya hal itu.
"Panggil saja seperti biasanya, Bi." Anne kembali membuka kulkas untuk mengambil salad buah.
"Maaf, saya tidak berani, Nya, karena tuan Rudi yang memberi perintah itu," ucap bi Sari setelah melihat keadaan di dapur aman. Ruang makan pun masih aman karena om Rudi tidak ada di sana.
Jujur saja, Anne sendiri belum siap disebut sebagai 'nyonya' di rumah ini, karena Dara belum mengakuinya sebagai istri sah ayahnya. Sebutan 'nyonya' belum pantas untuknya karena situasi yang terjadi saat ini. Setelah berbicara beberapa hal dengan bi Sari, pada akhirnya Anne berlalu dari sana saat mendengar suara om Rudi di ruang makan.
"Kamu tidak sarapan, Sayang?" tanya om Rudi tatkala melihat Anne hanya menikmati salad buah setelah mengambilkan beliau sarapan.
"Tidak, Pi. Saya hanya ingin makan ini saja," jawab Anne setelah menghabiskan satu sendok salad yang ada di dalam mulutnya.
Om Rudi tidak mau memaksa kehendak sang istri. Beliau cukup lega karena Anne masih mau menikmati salad buah. Setidaknya, perutnya masih terisi asupan makanan.
"Sayang, nanti Papi pulang agak malam karena nanti Papi harus ke luar kota," ucap om Rudi setelah meletakkan sendoknya.
"Jangan terlalu lelah, Pi," tutur Anne seraya menatap sang suami.
Anne mengantar keberangkatan sang suami sampai di depan teras. Kedua sudut bibir itu tertarik ke dalam tatkala melihat sang suami melambaikan tangan dari dalam mobil. Anne menatap mobil hitam itu hingga hilang dari pandangan.
"Aku harus mempersiapkan diri. Jangan sampai besok ada barang penting yang ketinggalan," gumam Anne sebelum masuk kembali ke dalam rumah.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Setelah ini kita masuk sesi debat yuk!😀...
...🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1