
Hari terus berganti mengikuti putaran waktu yang tak pernah berhenti. Sudah satu minggu ini Anne menghindar dari om Rudi pasca pengakuan menyakitkan saat di apartment kala itu. Setiap malam Anne memutuskan tidur di kamar Dara agar om Rudi tidak mengganggunya. Nomor ponsel suaminya itu pun telah diblokir Anne.
"Enaknya kita kemana ya, An?" tanya Dara yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
"Masa iya hari minggu begini kita di rumah aja!" gerutu Dara sambil menatap langit-langit kamarnya.
Anne masih menggeliatkan tubuhnya, ia belum bisa berpikir jernih karena rasa kantuk masih melanda kedua matanya, "Lebih baik kamu nemenin aku cari kontrakan atau kos-kosan aja! Bagaimana?" tanya Anne tanpa membuka kelopak matanya.
Dara segera mengalihkan pandangannya ke samping. Ia terkejut setelah mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Dara mengubah posisinya menjadi menghadap Anne.
"An! Lebih baik kamu bangun dulu deh! Baru kita bicara!" ujar Dara seraya menepuk pipi Anne beberapa kali.
"Aku serius, Dar!" ujar Anne setelah kelopak matanya terbuka.
Dara menautkan alisnya ketika mendengar ucapan Anne. Ia penasaran kenapa Anne ingin pergi dari rumah ini, jujur saja Dara tidak suka jika Anne menjauh darinya. Ia terlanjur nyaman menjalani hari-hari bersama Anne untuk mengusir sepi di rumah ini.
"Kenapa kamu harus ngontrak, An? Apa kamu tidak nyaman berada di sini?" selidik Dara dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.
Mendengar hal itu, Anne pun mengubah posisinya saat ini. Ia duduk bersandar di headboard ranjang dengan tangan yang memijat pangkal hidungnya. Ia bingung harus mengatakan alasan apalagi kepada sahabatnya ini.
"Aku hanya ingin mempersiapkan diri, Dar! Aku tidak akan tinggal di rumah ini jika kamu mendapatkan izin dari papimu kuliah di Jepang," ucap Anne dengan pandangan yang tak lepas dari Dara.
"Kenapa harus seperti itu? Ada atau tidak aku di rumah ini, kamu harus tetap tinggal di sini, An! Aku tidak mau kamu tinggal di tempat lain karena demi keamanan dan keselamatan kamu! Aku yakin jika Papi gak keberatan jika kamu tinggal di sini." Dara menatap Anne penuh arti. Sungguh, Dara sangat menyayangi Anne seperti saudaranya sendiri.
Anne menggaruk bagian belakang kepalanya setelah mendengar hal itu. Tentu saja om Rudi tidak akan keberatan jika dirinya tinggal di rumah ini. Semua akan menguntungkan bagi om Rudi saat Dara berada di Jepang. Namun, bagaimana nanti jika para pekerja di rumah ini tahu bagaimana hubungan dirinya bersama om Rudi, bukankah semua itu akan menjadi boomerang untuknya?
Helaian napas berat terdengar di sana. Bahkan, Dara merasa heran melihat kondisi Anne saat ini. Wajahnya terlihat lelah dan seperti menyimpan banyak beban. Dara turut prihatin atas hal itu.
"Sudahlah! Lebih baik kita segera mandi dan sarapan." Dara menepuk bahu Anne, "nanti kita pikirkan lagi kemana kita hari ini," sambung Dara sebelum turun dari ranjang.
Anne pun turun dari ranjang, ia segera keluar dari kamar Dara dan mengayun langkah menuju kamarnya sendiri. Suasana di lantai dua masih sunyi sepi karena penunjuk waktu masih berada di angka enam pagi. Sambil menguap, Anne membuka handle pintu kamarnya, ia harus segera mandi dan bersiap menghabiskan hari minggu bersama Dara.
"Astaga!" teriak Anne ketika mendapati om Rudi berdiri di dalam kamarnya.
"Sampai kapan kamu terus menghindar dari Om?" tanya om Rudi dengan raut wajah yang tidak bersahabat. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.
"Lebih baik Om segera keluar dari kamar saya atau saya akan teriak!" ancam Anne dengan mata yang terbelalak.
Om Rudi tersenyum smirk mendengar ancaman dari istrinya itu. Tanpa banyak bicara, beliau segera meraih ponsel yang ada dalam genggaman Anne saat ini, "Buka kuncinya!" titah om Rudi.
__ADS_1
"Buka!" ujar om Rudi dengan suara yang lebih tegas hingga membuat Anne terkesiap.
Ketakutan membuat Anne segera membuka kunci ponselnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain setelah om Rudi asyik memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh pria itu.
"Sekali lagi kamu berani memblokir nomor Om! Lihat saja apa yang akan Om lakukan! Jangan mencari perkara!" Om Rudi menatap Anne dengan raut wajah serius.
Tubuh Anne meremang setelah mendengar hal itu. Bahkan, sampai om Rudi keluar dari kamarnya. Anne hanya termenung setelah mendengar ancaman itu.
"Dasar Om-om sialan!" umpat Anne setelah tersadar dari lamunannya.
...****************...
Sarapan bersama telah usai. Dara menatap ayahnya—mencari waktu yang tepat untuk berbicara perihal kuliahnya ke Jepang. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk menyampaikan keinginannya itu.
"Papi ... Dara mau bicara sama Papi," ucap Dara dengan pandangan yang tak lepas dari sosok yang membesarkannya selama ini.
"Lebih baik kita pindah ke ruang keluarga." ucap om Rudi seraya beranjak dari tempat duduknya, "Mari Dar, An ... Papi tunggu di ruang keluarga." Om Rudi berlalu begitu saja dari ruang makan.
Dara meraih tangan Anne, jujur saja ia takut jika ayahnya tahu tujuannya melanjutkan S2 di Jepang bukan murni untuk mengejar pendidikan. Oleh karena itu, Dara meminta Anne untuk menemaninya ke ruang keluarga.
"Katakan, Dar! Apa yang kamu inginkan?" tanya om Rudi tanpa basa-basi.
"Jepang?" Om Rudi meyakinkan permintaan putrinya.
Om Rudi terlihat berpikir saat Dara menganggukkan kepalanya. Hal itu membuat Dara menjadi resah. Ia takut jika ayahnya itu tidak menyetujui permintaannya.
"Jika kamu kuliah ke Jepang, lantas bagaimana dengan Anne?" tanya om Rudi, "Apa kamu ingin kuliah di sana juga, An?" Om Rudi mengalihkan pandangannya ke arah Anne.
Anne menggeleng pelan saat pertanyaan itu dilayangkan untuknya. Jujur saja, ia hanya ingin bekerja setelah ini, "tidak, Om! Saya ingin mencari pekerjaan saja," jawab Anne tanpa berpikir panjang.
Om Rudi kembali diam setelah mendengar jawaban dari Anne. Ada perasaan lega yang menjalar dalam hatinya karena sang istri memilih menetap di Jakarta. Beberapa pertanyaan pun akhirnya diajukan oleh om Rudi kepada putrinya, beliau harus memastikan dulu tujuan putrinya kuliah ke Jepang.
"Baiklah, kali ini Papi mengizinkan kamu kuliah di sana tapi kamu harus berjanji kepada Papi satu hal," ucap om Rudi dengan raut wajah serius.
"Apa itu, Pi?" tanya Dara.
"Berjanjilah jika kamu akan kuliah dengan benar dan menjaga dirimu, baik luar ataupun dalam!" ujar om Rudi hingga membuat Anne dan Dara saling pandang.
Kedua gadis cantik itu tersenyum lebar saat mendengar jawaban yang diinginkan oleh Dara. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah cantik Dara saat ini. Ia tidak menyangka jika ayahnya akan memberi izin semudah ini.
__ADS_1
"Terima kasih, Pi! Dara janji akan menjaga diri selama di sana," ucap Dara seraya beranjak dari tempatnya.
Dara memeluk tubuh ayahnya karena kebahagiaan yang ia dapatkan pagi ini. Anne mengalihkan pandangan ke arah karena tidak kuasa melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya. Rasa bersalah kembali hadir saat melihat kedekatan di antara Dara dan om Rudi.
"Pi, jika Dara ke Jepang, apakah Anne boleh tinggal di tempat lain? Papi tahu, pagi ini dia ingin mencari kontrakan karena tidak mau tinggal di sini lagi!" Dara mengadukan keinginan Anne kepada ayahnya.
"Dara!" Anne menatap Dara dengan tatapan tajam.
"Benar begitu, An?" tanya om Rudi.
"Iya , Om! Jika Dara tidak ada di sini maka saya ingin mencari kontrakan saja," ucap Anne dengan kepala yang tertunduk.
"Tuh kan, Pi! Dia keras kepala, padahal tadi Dara sudah menyuruhnya agar tetap tinggal di sini!" sahut Dara.
Helaian napas berat terdengar di sana. Om Rudi tidak suka jika Anne mengambil keputusan itu. Beliau harus kembali memutar otak agar mendapatkan ide cemerlang.
"An, kamu tidak usah pergi dari sini! Kamu harus tetap tinggal di sini!" ujar. om Rudi dengan kaki kanan yang disilangkan di atas kaki kiri.
"Ini juga rumahmu! Kamu berhak tinggal di sini," ucap om Rudi dengan sikap yang tenang.
"Tuh, dengar sendiri 'kan! Jika papi juga tidak mau kamu pindah dari rumah ini!" ucap Dara, "Ah, aku ada ide! Bagaimana jika kamu mengganti panggilan kepada Papi? Jangan manggil Papi dengan sebutan Om, kamu harusnya memanggil papi sama seperti aku, An! Papi! Begitu!" cerocos Dara hingga membuat Anne menepuk keningnya.
"Ide yang sangat bagus, Putriku!" om Rudi mengusap rambut Dara dengan penuh kasih, "dengan begitu Anne tidak ada alasan sungkan lagi 'kan?" Om Rudi menyeringai.
Dara dan om Rudi terus membujuk Anne agar tinggal di rumah ini. Dara pun menyampaikan niat Anne kepada ayahnya jika sahabatnya itu ingin mencari pekerjaan. Setelah diam beberapa menit akhirnya om Rudi menemukan posisi yang tepat untuk Anne nantinya.
"Bagaimana jika setelah ini kamu berkerja di kantor Om?" tanya om Rudi seraya menatap Anne penuh arti, "kamu akan om angkat sebagai sekretaris pribadi," lanjut om Rudi.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...🌷🌷🌷...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo semua😎 Ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian😍 Pasti kalian suka baca karya dari author Ocybasoacy dengan judul Beauty Clouds. Dari judulnya aja nih udah bikin penasaran loh!! Jangan sampai gak baca ya Bestie😎
...🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1