Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Sikap dingin Dara,


__ADS_3

Langit di kota Bunkyo gelap gulita karena sang dewi malam beserta jajarannya enggan menampakkan diri. Sejak pukul enam sore waktu setempat, keluarga Baskoro telah sampai di rumah yang akan ditempati Dara beberapa tahun ke depan.


Gadis cantik berambut panjang itu, tetap bersikap dingin kepada kedua orang yang sedang makan malam di sebelahnya. Ruang makan terasa dingin tanpa adanya senyum hangat dari Dara.


"Dara sudah selesai makan malam! Dara mau ke kamar dulu, Pi!" ujar Dara seraya berdiri dari tempat duduknya saat ini. Ia pergi tanpa pamit kepada Anne.


Setelah kepergian Dara dari ruang makan, Anne meletakkan sendoknya padahal masih ada makanan yang tersisa di piringnya. Selera makannya mendadak hilang karena terus memikirkan sikap yang ditunjukkan Dara hari ini.


"Pi, saya mau menyusul Dara ke kamarnya," pamit Anne seraya menatap om Rudi.


Anne tidak tahan dengan keadaan ini, ia harus bertanya langsung kepada Dara agar tidak terjadi salah paham lagi. Setelah mengetuk pintu kamar beberapa kali, Anne segera membuka pintu yang tidak terkunci itu.


"Biar aku bantu!" ujar Anne ketika melihat Dara sibuk memindahkan pakaian yang ada dalam koper ke dalam almari.


Dara hanya diam membisu. Bahkan, ia tidak mau menatap Anne yang sedang sibuk membantunya saat ini. Dadanya terasa sesak karena menahan sesuatu hal yang mengusik pikirannya.


"Katakan padaku! Apa yang membuat sikapmu berubah seperti ini?" tanya Anne setelah selesai membantu Dara. Ia duduk di sisi Dara yang sedang menundukkan kepala.


"Apakah aku punya salah kepadamu, Dar?" tanya Anne sekali lagi. Kali ini ia harus mendapatkan jawabannya, meski harus mendesak sahabatnya itu.


Dara mengalihkan pandangan ke samping. Ia menatap wajah cantik sahabat yang selama ini sudah seperti saudaranya itu. Ia menyelami manik hitam itu untuk membuang semua keraguan kepada sosok yang sedang menatapnya saat ini.


"Apakah ada hubungan lebih dari seorang ayah kepada anak di antara kamu dengan Papi, An?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Dara.

__ADS_1


Terkejut. Ya, itulah keadaan Anne saat ini. Jujur saja ia benar-benar tidak menyangkan jika Dara melontarkan pertanyaan itu. Bahkan, ia sendiri belum mempunyai jawabannya, mengingat pertimbangan yang sempat disampaikan om Rudi saat berada di dalam lift tadi.


"Apa maksudmu, Dar?" Anne tetap berpura-pura tidak mengerti, padahal ia sudah tahu dengan jelas kemana arah pembicaraan Dara saat ini.


"Apakah ada hubungan khusus di antara kamu dengan papi?" ucap Dara sekali lagi, "karena aku melihat kalian beberapa kali bersikap berlebihan, emmm ... maksudnya, aku melihat kamu dan Papi berpose mesra layaknya orang berpasangan, seperti tadi waktu di kuil," ucap Dara hingga membuat jantung Anne serasa berhenti berdetak.


Tidak. Ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Dara tentang semua ini. Biar bagaimanapun Anne harus mengikuti keputusan sang suami. Jika malam ini Dara sampai tahu fakta yang sesungguhnya, bisa dipastikan gadis itu akan marah besar dan mengacaukan pendidikan yang belum dimulai. Anne menggeleng pelan saat membayangkan hal itu.


"Jadi seperti itu, Dar, yang ada dalam pikiranmu? Bukankah kamu sendiri yang menyuruhku bersikap biasa kepada ayahmu?" Anne menatap Dara dengan mata yang berembun.


"Baiklah, jika memang karena ini, kamu menjadi berubah dan bersikap dingin kepadaku ... setelah pulang dari sini, aku akan mencari kontrakan agar tidak ada lagi salah paham di antara kita," ucap Anne dengan kepala yang tertunduk.


Anne tidak sanggup menatap mata gadis polos yang ada di hadapannya itu. Ingin rasanya Anne berteriak dan mengakui semuanya di hadapan Dara saat ini, tetapi semua itu tidaklah mudah.


Seharusnya Anne tidur satu kamar dengan Dara malam ini, tetapi karena kondisi menyesakkan yang terasa, membuat Anne memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di ruang keluarga.


Anne menghempaskan diri di sofa tersebut, ia menata bantal di ujung sofa dan setelah itu ia merebahkan diri di sana. Air mata yang sudah menggenang sejak ada di kamar Dara, akhirnya lolos begitu saja. Anne terisak sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal empuk itu.


"Sebenarnya aku pun tidak mau seperti ini! Jika ada pilihan lain, tentunya aku pun tidak mau menikah dengan ayahmu, Dar! Tetapi semuanya sudah terlanjur dan aku tidak bisa melepaskan diri dari ayahmu karena surat perjanjian yang sudah aku tanda tangani!"


Anne hanya bisa meluapkan semua itu dalam hati. Hanya air mata yang mampu membuat segala beban di hati perlahan mulai menghilang. Detik demi detik telah dilalui Anne dengan menangis tanpa suara. Perlahan tangis itu pun reda seiring dengan kelopak mata yang tertutup rapat. Anne akhirnya tidur setelah meratapi nasibnya.


Waktu telah berlalu begitu saja, malam pun semakin larut. Namun, Dara belum bisa menutup kelopak mata karena pikiran dan hatinya tengah berperang saat ini. Ia berusaha keras mengikis keraguan yang memenuhi hatinya hari ini. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Dara membuka kamarnya. Ia hanya ingin mencari keberadaan sahabatnya itu.

__ADS_1


Dara tertegun ketika melihat Anne meringkuk di sofa tanpa selimut. Ada rasa prihatin di sudut lain hatinya ketika melihat tubuh yang bergelung dengan suhu dingin di sana. Dara duduk di tepi sofa tersebut, tangannya terulur menepuk paha Anne beberapa kali.


"An, Anne ...." ucap Dara dengan suara yang lirih, "An, bangun dan pindahlah ke kamar!" ujar Dara ketika Anne mulai membalikkan tubuh.


Anne mengerjap pelan ketika mendengar suara Dara di sana. Ia segera duduk saat melihat Dara mengembangkan senyumnya walau hanya senyum tipis.


"Pindahlah ke kamarku karena di sini terlalu dingin!" ucap Dara sekali lagi.


"Maaf, aku telah berburuk sangka kepadamu, An! Mungkin sikapku terlalu berlebihan ketika melihat kedekatanmu dengan Papi," Dara meraih kedua tangan Anne untuk digenggamnya.


Anne hanya bisa menundukkan pandangannya. Ia tidak sanggup untuk menatap kedua manik hitam yang ada di hadapannya saat ini. Apalagi setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Dara. Sungguh, hatinya semakin perih bak tersayat belati.


"Setelah pulang ke Indonesia, tetaplah tinggal di rumah Papi. Aku percayakan Papi kepadamu, An! Rawatlah jika nanti Papi sakit karena aku tidak bisa melakukan hal itu selama disini. Jangan biarkan Papi kencan dengan wanita manapun!" ucap Dara dengan suara yang lirih. Ia tak melepaskan pandangannya dari Anne.


Anne menegakkan kepalanya, tatapan matanya bersirobok dengan Dara saat ini. Ia bisa melihat ada harapan yang sangat besar dari sorot mata itu. Mungkinkah setelah ini semua akan baik-baik saja, setelah om Rudi mengakui pernikahan ini di hadapan Dara?


"Maafkan aku, Dar! Aku terpaksa melakukan semua ini," gumam Anne dalam hatinya.


...🌹Selamat membaca 🌹...


...Kurang beberapa bab lagi boomnya meledak ya bestie🤭btw any busway ... untuk hari ini dan besok othor hanya bisa up satu bab karena ada acara di Real life😊 Mulai senin depan othor bakal up 3bab setiap harinya selama satu minggu🤩 tunggu hari senin ya bestie😍...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2