
"Apa maksudmu mengatakan semua itu, An?" tanya om Rudi setelah pintu ruangan itu tertutup kembali.
Anne mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia berjalan menuju jendela kaca yang ada di sudut ruangan. Ia bisa melihat taman mini yang ada di samping rumah yang terlihat rapi itu. Ia bersandar di sana dan membiarkan om Rudi penasaran dengan jawabannya.
"Jangan membuatku semakin kesal, An!" ujar om Rudi setelah berdiri di dekat Anne. Kali ini tidak ada tutur lembut seperti biasanya.
"Pi, sekarang saya tanya, Apa yang Papi inginkan dari Dara?" tanya Anne seraya menatap manik hitam sang suami dengan lekat.
"Tentu saja sebagai orang tua, saya hanya ingin Dara bahagia dan masa depannya indah!" jawab om Rudi tanpa melepaskan pandangannya dari Anne.
Bibir berwarna peach itu tertarik ke dalam setelah mendengar jawaban itu. Jawaban yang ditunggu Anne untuk langkah selanjutnya, "Nah, jika memang itu yang Papi inginkan, lalu untuk apa Papi menentang hubungan mereka berdua? Bukankah sudah jelas jika pusat kebahagiaan Dara adalah Juna?" sarkas Anne hingga membuat sang suami mengalihkan pandangan ke arah lain.
Hembusan napas berat terdengar di sana. Raut kekecewaan masih terlihat jelas di wajah yang mulai keriput itu. Om Rudi resah menghadapi situasi saat ini. Banyak hal yang harus beliau pertimbangkan saat mengambil keputusan, apalagi ini menyangkut perasaan putrinya.
"An, mana mungkin saya bisa tenang, melihat Dara akan bersama kekasihnya itu. Bagaimana nanti dia menghidupi Dara setelah menikah? Saya hanya takut dia tidak bisa menghidupi gaya hidup Dara setelah menikah dan pada akhirnya Dara akan dibiarkan. Saya tidak terima akan hal itu!" Om Rudi mengeluarkan segala beban yang beliau tanggung selama ini.
Mendengar kalimat panjang yang diucapkan oleh om Rudi, berhasil membuat Anne berdecak. Ia heran saja, kenapa pikiran sang suami hanya sebatas itu. Seharusnya seorang pria matang seperti suaminya itu bisa berpikir lebih luas lagi.
"Papi ini kenapa ribet banget, sih! Ya sudah begini saja, sekarang saya tanya, Selama ini Papi bekerja keras demi siapa?" tanya Anne seraya berkacak pinggang.
"Buat kamu dan Dara, lah!" jawab om Rudi tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
"Nah! Itu!" Anne menggerakkan jari telunjuknya ke arah om Rudi, "jika memang hasil kerja keras ini untuk Dara, kenapa Papi ribet dengan masa depan Dara. Semua bisa diatur lah, Pi! Dara anak tunggal Papi dan perusahaan Papi ada di beberapa kota besar lainnya. Kenapa Papi gak memberikan kepercayaan kepada Dara dan Juna untuk membesarkan perusahaan itu nanti? Lagi pula kekayaan Papi tidak akan habis untuk membiayai Dara meski dia sudah berkeluarga nanti!" ujar Anne dengan pandangan yang tak lepas dari sang suami.
Om Rudi mengacak-acak rambutnya setelah mendengar penjelasan panjang dari sang istri. Pikiran beliau bukan hanya sebatas itu, sulit rasanya memberikan restu kepada Dara dan Juna.
"Pi!" Anne menyentuh lengan om Rudi, "tolong lah, Pi ... biarkan Dara memilih pasangannya. Dia sudah dewasa dan lagi pula Juna pria yang baik. Dia kuliah di sini pun karena kecerdasannya. Pihak kampus yang mengundang Juna agar kuliah dengan jalur beasiswa khusus," ucap Anne dengan suara yang sangat lembut.
Segala bujuk rayu telah diucapkan oleh Anne untuk meluluhkan hati om Rudi, karena ia sendiri tidak sanggup jika melihat Dara hancur karena perpisahannya dengan Juna. Apalagi nanti, saat hubungannya bersama om Rudi terbongkar. Sungguh, Anne tidak bisa membayangkan hal itu lagi. Ia harus berusaha keras untuk menaklukkan hati suaminya saat ini.
***
Sementara itu, di ruang tamu. Dara terlihat resah menunggu Ayah dan sahabatnya yang tak kunjung kembali ke ruang tamu. Dara sangat berharap jika kali ini Anne berhasil meluluhkan hati ayahnya.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu kepadamu, Say," ucap Dara seraya menatap wajah sang kekasih. Bahkan, ia belum sempat menyisir rambutnya yang basah.
Dara menatap wajah sang kekasih dengan tatapan sendu. Ia sangat khawatir om Rudi akan melakukan sesuatu yang bisa membuat Juna dikeluarkan dari kampus agar menjauh darinya. Tentu Dara bisa berpikir seperti itu, karena ia tahu bagaimana ayahnya ketika marah besar. Kali ini, ia hanya menunggu keajaiban datang untuk merasakan sedikit kebahagiaan.
Setelah menunggu beberapa waktu lamanya, pada akhirnya Dara melihat ayahnya keluar diikuti dengan Anne. Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat om Rudi duduk di sofa yang ada di ruang tamu, sementara Anne memilih duduk di sisi Dara. Suasana di ruang tamu kembali tegang saat menunggu keputusan yang diambil om Rudi.
"Apa kalian tinggal berdua di rumah ini?" tanya om Rudi seraya menatap Dara dan Juna bergantian.
"Tidak, Pi!" jawab Dara tanpa berani menatap ayahnya.
__ADS_1
"Saya tinggal di asrama," ucap Juna tanpa mengalihkan pandangan dari wajah om Rudi.
"Sekarang katakan dengan jujur! Sebelum saya datang ke rumah ini, apa yang sudah kalian lakukan? Apa kalian melakukan hubungan yang tidak seharusnya terjadi?" tanya om Rudi dengan tegas.
Dara menegakkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan itu. Mana mungkin ia berani melakukan hal itu. Selama ini hubungan mereka tidak pernah melampaui batas, karena besarnya perasaan Juna kepada Dara. Jadi, Juna benar-benar menjaga keutuhan Dara dan hal ini lah yang membuat Dara nyaman berada di dekat Juna. Ia tidak takut dilecehkan ataupun dipaksa untuk melakukan hubungan itu.
"Saya tadi datang hanya untuk menjemput Dara dan mengajaknya ke museum, Om," ucap Juna tanpa ragu, karena itulah kebenarannya.
"Iya, Pi. Dara tidak pernah tinggal satu rumah dengan Juna. Kami hanya mau jalan-jalan keluar, tidak lebih dari itu." Dara menatap ayahnya dengan lekat, "jika memang Papi ragu dengan kami, Dara bersedia menjalani visum atau tes keperawanan, biar Papi percaya kalau kami tidak pernah melakukan hubungan apapun!" Dara malah menantang ayahnya.
Om Rudi menyilangkan kakinya setelah mendengar penjelasan itu. Amarah yang sempat berkobar telah hilang begitu saja setelah disiram dengan tutur lembut Anne di dalam kamar tadi. Penjelasan Dara pun berhasil membuat beliau bernapas lega karena biar bagaimanapun, beliau tidak mau putrinya hidup dalam pergaulan bebas di jaman modern seperti ini.
"Papi tetap kecewa sama kamu, Dar! Karena kamu sudah sering membohongi Papi! Meskipun kalian bisa menjaga diri masing-masing di sini, tetapi Papi tetap tidak bisa percaya sepenuhnya. Berada jauh dari pantauan orang tua mungkin saja bisa membuat kalian lalai akan batasan. Jadi setelah Papi pikir ...." Om Rudi menghentikan ucapannya, mungkin beliau sedang menimbang keputusannya.
Dara menoleh ke samping, ia menatap Anne penuh dengan penuh tanda tanya, seakan sedang mencari jawaban dari sahabatnya itu. Anne hanya mengedikkan bahunya karena ia sendiri belum tahu keputusan suaminya itu. Tugasnya tadi hanya membujuk agar pria matang itu merestui hubungan Dara dan Juna.
"Setelah liburan semester, kalian harus pulang ke Indonesia!" ujar om Rudi seraya mengalihkan pandangan ke arah Juna, "jika memang kamu serius dan mencintai putri saya, bawa orang tuamu ke rumah kami, karena saya butuh bukti bukan sekadar janji! Lamar Dara saat itu juga!" ujar om Rudi dengan tegas.
...🌹Selamat membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1