
Suara isak tangis Anne semakin menggema di ruang kerja karena om Rudi hanya diam saja. Situasi ini benar-benar membuat om Rudi frustasi. Sikap yang ditunjukkan Anne akhir-akhir ini begitu menguras kesabarannya. Beliau sampai tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sikap labil Anne.
"Sayang, kamu ini sebenarnya kenapa? Apa yang kamu tangisi, hmmm?" tanya om Rudi seraya menatap Anne dengan intens.
"Mas udah gak sayang lagi sama aku! Mas udah gak tertarik lagi sama aku! Huaaaa!" Tangis Anne semakin terdengar kencang.
"Aku sudah gak cantik lagi ya? Atau karena aku gendut hingga Mas sering mengabaikan aku? Gak pernah minta jatah lagi seperti dulu?" cecar Anne di sela tangisnya.
Helaian napas berat terdengar di sana. Sekali lagi, Om Rudi mengusap wajahnya kasar mendengar tuduhan sang istri. Harus berapa kali beliau menjelaskan alasan yang sebenarnya. Jangankan untuk memiliki wanita lain, melirik sedikit saja beliau tidak memiliki keberanian.
"Sayang," ucap om Rudi dengan suara yang lirih, "sumpah demi apapun, Mas tidak pernah menatap atau mencintai wanita lain. Hanya kamu saja yang Mas inginkan!"
"Maksud dan tujuan Mas tidak mau sering-sering melakukan hubungan di atas ranjang, bukan karena Mas tidak tertarik lagi, melainkan karena Mas ingin menjaga kesehatan calon anak kita, Sayang!" ucap om Rudi dengan nada bicara yang lembut.
Anne mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Ada sedikit rasa lega di dalam dada setelah mendengar penjelasan itu. Namun, ia masih ragu dengan jawaban tersebut. Masih ada ketakutan yang merayap dalam hati.
"Jadi, Mas masih tertarik denganku?" tanya Anne sekali lagi.
"Tentu, kamu seperti magnet yang membuat Mas selalu tertarik ke arahmu. Kamu adalah segalanya, Sayang!" ucap om Rudi seraya tersenyum manis.
Mendengar jawaban yang lolos dari bibir om Rudi, membuat tangis Anne reda. Ia mengusap sisa air mata yang menggenang di pelupuk mata. Kedua sudut bibirnya pun tertarik ke dalam karena jawaban om Rudi berhasil mengembalikan moodnya yang sempat berantakan.
"Kalau begitu Mas harus dites dulu!" ucap Anne hingga membuat om Rudi mengernyitkan keningnya.
"Ya Tuhan, apalagi ini?" Om Rudi bergumam dalam hati setelah mendengar ucapan sang istri.
"Tatap saya, Mas! Awas kalau sampai berani berpaling!" ujar Anne tanpa melepaskan pandangan dari wajah om Rudi.
__ADS_1
Tanpa diduga, Anne menarik tali peignoir yang menutupi tubuhnya. Ia melepas peignoir tersebut dengan gerakan pelan, serta wajahnya terlihat begitu sensual. Tatapan matanya berubah menjadi seperti wanita penggoda yang sedang mencari mangsa.
Peignoir telah terlepas di atas meja. Kini, tubuh mulus itu hanya terbalut lingerie sexy. Om Rudi bisa melihat dengan jelas lekuk tubuh di hadapannya. Puncak bukit yang menantang di balik kain penutup tanpa busa itu, ternyata berhasil membuat aliran darah beliau mengalir deras.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya om Rudi setelah melihat Anne menurunkan tali lingerie itu dari bahunya.
"Aku hanya ingin tahu, apakah Mas masih tertarik melihat aku seperti ini! Ini adalah tes untuk memastikan seberapa cepat senjata itu terbangun!" ucap Anne tanpa mengalihkan tatapannya dari manik hitam sang suami.
Om Rudi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kerja. Beliau meletakkan kedua telapak tangannya di belakang kepala. Bola matanya tak bergerak kemanapun karena terpaku dengan objek yang ada di hadapannya.
Lingerie hitam itu perlahan turun dari tubuhnya. Kain tipis itu berkumpul menjadi satu di pinggul Anne—membiarkan bagian atas tubuh mulus itu terbuka. Hanya kain tanpa busa yang menutupi puncak bukit yang menantang itu.
"Masa bodo dengan guncangan! Kamu benar-benar membuatku terbakar, An!" Om Rudi terhenyak dari tempat duduknya saat ini.
Om Rudi segera melepas kaos oblong berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Beliau pun membuka kancing celana karena tidak tahan dengan sesuatu yang menyesakkan di dalam sana. Pria matang itu tidak tahan lagi untuk tidak menyentuh daun muda yang terlihat sangat menggoda itu.
Om Rudi mendekatkan diri kepada sang istri. Kedua tangan beliau berada di kedua rahang Anne, serta tatapan matanya tak beralih kemana pun. Awalnya, om Rudi memberikan kecupan mesra dan lembut kepada sang istri. Namun, tidak lama setelah itu, kecupan mesra telah berubah menjadi tarian lidah. Gelora yang ada dalam diri telah mengiringi permainan awal ini.
Kedua tangan om Rudi meraih tali yang ada di leher dan punggung sang istri hingga terlepas. Kedua bukit yang menantang itu akhirnya terekspos dengan jelas, hingga membuat tangan om Rudi terarah kesana.
Lenguhan manja mulai terdengar di ruangan tersebut, tatkala tangan pria matang itu menemukan puncak bukit yang sudah mengeras. Gerakan lembut mulai dilancarkan om Rudi hingga membuat sang empu semakin melenguh hebat.
"Mas Rudi!" ujar Anne di sela lenguhannya.
Om Rudi semakin membungkukkan tubuhnya untuk menjelajah tubuh sang istri dengan lidahnya. Beliau berhenti sejenak untuk mengecup perut buncit itu sebelum bergerak ke arah bawah.
"Kamu bisa mengangkat kakimu, Sayang?" tanya om Rudi seraya menatap Anne sekilas.
__ADS_1
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Anne memundurkan tubuhnya. Ia sedikit mengangkat tubuhnya saat om Rudi berusaha melepas lingerie hitam yang terkumpul di pinggulnya. Segitiga berenda pun pada akhirnya ikut lolos bersama kain hitam tersebut.
"Mas!" Anne terpekik nikmat setelah merasakan sapuan lidah om Rudi di lahan kacang almond miliknya. Gerakan lembut beberapa kali di sana berhasil membuat lahan miliknya menjadi banjir.
Om Rudi tidak mau menghentikan aktifitasnya, meskipun Anne beberapa kali memohon agar om Rudi menghentikan kegiatan itu. Ia sudah tidak sabar ingin merasakan senjata kebanggaan sang suami agar bersarang dalam goa licin miliknya.
"Stop, Mas! Stop!" ujar Anne seraya mendorong tubuh om Rudi agar menjauhkan kepalanya dari area nikmat itu.
"Kita pindah ke kamar saja!" ujar om Rudi.
"Tapi kita sudah terlanjur seperti ini, Mas!" protes Anne karena om Rudi mengajak pindah ke kamar tanpa memakai baju terlebih dahulu, "kita bisa terekam CCTV, Mas!" Anne terlihat panik saat om Rudi semakin dekat dengan pintu ruang kerja.
"Nanti akan Mas hapus! Lagi pula di lantai dua lampunya pasti sudah gelap!" ujar om Rudi setelah pintu ruang kerja terbuka.
Anne hanya bisa menggeleng pelan setelah merasakan bagaimana berjalan tanpa sehelai benang di luar kamar seperti saat ini. Ia takut ada asisten rumah tangga yang melihat semua ini. Namun, semua rasa tidak nyaman itu hilang begitu saja setelah berhasil masuk ke dalam kamar.
"Kamu harus bertanggung jawab, Sayang! Malam ini aku akan membuatmu minta ampun!" ujar om Rudi setelah Anne mengatur posisi di atas ranjang.
Suara-suara manja terdengar di sana setelah senjata kebanggaan om Rudi berhasil mengoyak goa licin tersebut. Permainan panas kembali dilakukan di dalam kamar yang dibiarkan menyala terang. Om Rudi benar-benar menunjukkan kejantanannya kepada sang istri. Beliau hanya ingin memberikan sesuatu yang sudah lama tertunda, karena selama ini om Rudi hanya bermain sebentar dengan penuh kelembutan.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu yang meminta, Sayang! Ini 'kan yang kamu inginkan di malam jumat ini?" ucap om Rudi dengan napas yang tersengal.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Aduh maap yee siang-siang nebar racun🤭 btw othor tuh sebenarnya pengen up yang banyak, berhubung akhir-akhir ini othor sering sakit gigi, jadi ketunda nulisnya😢tahu sendiri kan gmn rasanya sakit gigi🤦😭...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1