Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Buket bunga meresahkan!


__ADS_3

Waktu yang dinanti Anne dan Dara akhirnya tiba. Wisuda kelulusan yang ditunggu selama beberapa bulan akhirnya terlaksana di salah satu hotel ternama di Jakarta selatan. Serangkaian acara telah dilaksanakan sejak pagi dan menjelang sore akhirnya acara tersebut telah usai, semua bubar dan melenggang dari hotel tersebut.


Sama seperti kedua wanita berparas cantik yang baru saja masuk ke dalam mobil. Keduanya tak lain adalah Anne dan Dara, mereka berdua tampil sangat cantik dan anggun berkat MUA profesional yang didatangkan oleh om Rudi. Kini, mobil yang membawa ketiga keluarga inti baskoro itu melenggang menuju studio foto yang sudah dibooking jauh-jauh hari oleh asisten om Rudi.


"Make-up ku masih bagus gak, Dar?" tanya Anne seraya mengubah posisi menghadap Dara.


"Masih kok! Cuma nanti kalau kita udah sampai, tambahin lipstiknya," ucap Dara setelah mengamati wajah sahabatnya itu.


"Kalian berdua sama-sama masih cantik!" sahut om Rudi yang duduk di kursi depan. Kali ini pak Botak yang menjadi sopirnya.


Setelah membelah jalan selama hampir tiga puluh menit karena macet, mobil hitam itu akhirnya sampai di depan studio foto. Ketiga keluarga baskoro segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam studio.


Kedua gadis yang masih memakai toga itu masih bersiap sebelum berpose di depan kamera. Mereka menambahkan beberapa make-up yang dirasa kurang on, hingga akhirnya tibalah waktu di mana mereka harus berpose.


"Silahkan siapa yang terlebih dahulu difoto," Sang fotografer mengintruksi dan akhirnya Dara yang berdiri di depan background yang sudah disiapkan.


Bebagai gaya telah dilakukan oleh Dara, mulai dari gaya formal hingga gaya alay. Kini, tibalah ia berpose bersama om Rudi sebagai orang tua yang mendampingi. Anne duduk di kursi tunggu untuk menunggu giliran berpose.


Setelah beberapa puluh menit berdiri di depan kamera, akhirnya sesi foto untuk Dara telah selesai. Kini, tibalah waktu Anne berpose di depan kamera.


"Papi! Itu sekalian foto sama Anne, Pi!" ucap Dara sambil menepuk paha sang ayah setelah mendapat kode dari sang fotografer.


Om Rudi semakin bersemangat saat waktu foto bersama sang istri telah tiba. Hanya beberapa kali jepretan saja Anne memakai toganya, setelah itu ia melepas toga tersebut dan foto memakai kebaya modern yang dipakainya saat ini.


Dara duduk tenang di tempatnya saat ini. Ia mengamati kedua orang yang sedang berpose di depan kamera itu. Sesekali Dara mengernyitkan kening ketika melihat ekspresi wajah yang ditampilkan Anne dan ayahnya. Beberapa pose yang dilakukan pun membuat Dara menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


"Mereka ini foto kelulusan atau foto couple, sih! Mesra amat!" gerutu Dara di tempatnya.


Dara beranjak dari tempatnya saat ini ketika Anne melambaikan tangan ke arahnya. Mungkin, ini adalah sesi foto terakhir, jadi ... mereka bertiga berpose dalam satu frame.


Kecurigaan yang sempat memenuhi pikiran Dara, hilang begitu saja saat mereka sibuk berpose. Setelah lebih dari enam puluh menit, akhirnya, pemotretan itu telah selesai.


"Huuh! Akhirnya, selesai juga!" Dara menghembuskan napasnya. Ia merasa lega pada akhirnya sebentar lagi akan terbebas dari pakaian panas itu.


Senja terukir indah di cakrawala barat, menemani perjalanan panjang keluarga baskoro menuju kediamannya. Mobil hitam itu beberapa kali terjebak macet di beberapa titik. Hingga mobil yang dikendarai pak Botak itu sampai di halaman luas rumah bergaya america, saat langit berubah menjadi redup.


"Non, ada kiriman buket bunga untuk Non Dara dan Non Anne," ucap bi Sari setelah melihat putri majikannya sampai di ruang keluarga, "Tapi non Anne, dapat dua kiriman bunga," lanjut bi Sari sebelum pergi dari ruang keluarga untuk mengambil buket yang dimaksud.


"Eciee ... dari siapa, nih! Sampai dua buket sekaligus!" Dara menaik-turunkan alisnya sambil menyenggol pundak Anne beberapa kali.


"Entahlah! Kita lihat saja setelah ini," ucap Anne setelah duduk di sofa yang ada di sana.


"Wow pada dapat buket dari mana, nih?" Om Rudi mengurungkan niatnya naik ke lantai dua, beliau menghampiri Dara dan Anne di ruang keluarga.


Dara senyum-senyum sendiri ketika membaca kartu ucapan yang terselip di sana. Ia bahagia karena tidak menyangka Juna akan mengirim buket bunga mawar putih kepadanya. Tentu saja hal itu semakin membuat kadar kebucinannya bertambah.


Keadaan itu berbanding terbalik dengan Anne saat ini, dua buket bunga dari orang yang membuat jalan hidupnya serasa naik rollercoaster. Satu buket berwarna merah muda ternyata dari sang mantan kekasih, Bagus Narendra. Ada getaran dalam hati tatkala Anne membaca isi ucapan yang ditulis Bagus dalam kertas itu.


Happy graduation, Anne. Semoga setelah ini takdir hidupmu jauh lebih baik.


Bagus Narendra

__ADS_1


Anne segera meletakkan buket bunga tersebut di sofa yang ada di sisinya. Ia segera meraih buket bunga mawar merah yang jauh lebih besar dari pemberian dari Bagus. Ia tersenyum tipis melihat nama pengirim yang ada di kartu ucapan itu. 'Om Genit'. Tentu itu hanya nama samaran yang dipakai oleh om Rudi.


"Cie dapat buket dari mantan!" Dara menggoda Anne setelah melihat buket bunga yang ada di sisi Anne.


Ekspresi wajah Anne berubah seketika tatkala mendapat tatapan tajam dari pria yang sedang duduk di sofa yang tak jauh darinya. Telapak tangannya tiba-tiba menjadi dingin karena takut om Rudi akan memburu Bagus setelah ini.


"Dari siapa, An, yang ada di tanganmu itu?" tanya Dara setelah mendekat ke tempat Anne berada, "dari pacar baru ya!" lanjut Dara tanpa melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.


Dara membekap mulutnya ketika sadar apa yang baru saja diucapkannya. Ia lupa jika di sana ada ayahnya yang sedang mengamati. Dara semakin mendekatkan diri dengan Anne, lantas ia berbisik, "Maaf, An! Aku lupa kalau ada Papi!"


"Ajaklah, pacarmu ke rumah ini, An! Papi ingin tahu, pria mana yang berani mencintai bagian dari keluarga Baskoro ini!" ujar om Rudi dengan tatapan yang terlihat dingin.


"Emmm ... bukan, Pi! Yang ngirim bukan pacar Anne, kan saya tidak punya pacar!" Anne terlihat gugup saat ini, " iya, kan, Dar?" Anne mengalihkan pandangan ke samping, memberikan kode agar Anne membantunya saat ini.


"I ... iya, Pi! Anne jomblo kok!" Dara ikut terpaku di samping Anne. Ia sendiri takut melihat wajah tak bersahabat sang ayah.


Suasana ruang keluarga itu mendadak dingin hingga menimbulkan kebekuan di antara ketiganya. Mungkin karena takut, Dara mengajak Anne pergi ke kamar sambil membawa buket-buket tersebut.


"An, Papi kenapa, sih? Sepertinya gak suka banget lihat kita dapat kiriman bunga," gerutu Dara setelah sampai di lantai dua.


Anne tak segera menjawab. Ia sedang menetralkan jantungnya yang berdegup lebih kencang ketika tadi melihat sorot mata yang ditunjukkan oleh om Rudi.


"Bukan kita, Dar! Tapi Papimu tidak suka melihat aku dapat kiriman bunga dari Bagus!" jawab Anne dalam hatinya.


...🌹Selamat membaca 🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2