
"Rosalinda,"
Jawaban yang dilontarkan Risa berhasil membuat dada Anne bergemuruh. Ia tidak pernah menyangka jika musuh bebuyutannya bersama Dara berani menampakkan diri, setelah sekian lama hilang entah kemana. Wanita yang biasa dipanggil Dara dengan tante Rosa itu adalah seorang janda yang suka genit kepada om Rudi. Tante Rosa adalah teman om Rudi saat SMA.
"Hmmm! Mau ngapain tante genit itu datang kemari!" ujar Anne dengan ekspresi wajah yang tidak bisa diartikan. Bahkan, Risa sendiri menjadi takut melihat perubahan mimik wajah istri bos nya itu.
Tanpa pamit kepada Risa, Anne berlalu begitu saja dari ruangan tersebut. Anne terlihat marah setelah tahu om Rudi membawa masuk wanita bernama Rosa ke dalam ruangan utama.
"Awas saja kalau berani macam-macam dengan wanita itu!" ujar Anne setelah keluar dari ruangan Risa.
Dara dan Anne sangat tidak suka dengan tante Rosa, karena dulu mereka berdua melihat langsung bagaimana tante Rosa saat mengunjungi om Rudi. Janda genit itu adalah teman dekat om Rudi di masa lalu, entah mereka dekat karena ikatan persahabatan atau dekat karena ada hubungan khusus. Yang pasti wanita bernama Rosalinda itu sudah mendapatkan tinta merah dari Dara.
Anne menghela napasnya yang berat sebelum membuka pintu ruangan utama perusahaan ini. Ia menyiapkan hati sebelum bertemu dengan tante Rosa. Sungguh, tangannya terasa gatal saat membayangkan apa yang sedang dilakukan kedua orang yang ada di dalam sana.
Ceklek.
Kedua mata itu langsung menangkap dua orang yang sedang berbicara. Om Rudi duduk bersandar di kursinya. Tatapannya tak beralih dari wanita duduk di sebrang meja kerjanya.
"Hay, Sayang!" sapa om Rudi setelah melihat kehadiran Anne di belakang kursi yang ditempati tante Rosa.
Tante Rosa membalikkan kursi tersebut untuk melihat siapa yang datang. Kedua sudut bibirnya tertarik ke dalam setelah melihat kehadiran Anne di sana. Beliau segera berdiri dari tempatnya dan memeluk tubuh Anne untuk sesaat.
"Hay, Sayang. Bagaimana kabarmu?" tanya tante Rosa setelah mengurai tubuhnya. Ia mengusap pipi Anne beberapa kali.
"Seperti yang Tante lihat saat ini," jawab Anne dengan nada datar. Terlihat sekali jika Anne tidak suka melihat kehadiran wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
"Putri angkatmu semakin cantik saja, Rud! Kenapa kamu tidak mengundangku saat dia menikah," ucap tante Rosa seraya menatap om Rudi.
Om Rudi tertegun setelah mendengar pertanyaan itu. Bisa dipastikan jika setelah tante Rosa pergi dari ruangan ini, maka akan terjadi peperangan sengit. Om Rudi belum sempat memberitahu wanita paruh baya itu jika beliau adalah suaminya Anne.
"Mas, ini tadi aku bawakan cap cay untuk Mas," ucap Anne setelah meletakkan paper bag yang ada dalam genggaman tangannya di atas meja.
"Kita bisa makan bertiga kalau tante Rosa Mau!" ucap Anne seraya tersenyum manis di hadapan tante Rosa.
Apa yang baru saja diucapkan oleh Anne berhasil membuat tante Rosa tertegun. Apalagi saat mendengar Anne memanggil rekannya itu dengan sebutan 'Mas'. Sungguh, tante Rosa semakin bingung saat melihat Anne menarik kursi dan memposisikan diri di samping om Rudi.
"Duduklah, Ros!" titah om Rudi tatkala melihat tante Rosa hanya diam di tempatnya.
"Kamu pasti terkejut 'kan?" tanya om Rudi setelah tante Rosa duduk di tempat semula.
Tante Rosa segera sadar setelah mendengar pertanyaan itu. Beliau kembali menguasai diri dan bersikap anggun seperti sebelumnya. Kedua sudut bibirnya tertarik ke dalam seraya menatap Anne dan om Rudi bergantian. Wanita paruh baya itu seakan ingin mendengar penjelasan dari om Rudi.
"Jangan bercanda deh, Rud!" Tante Rosa belum percaya dengan berita yang disampaikan oleh om Rudi.
"Memang kenyataannya seperti itu, Ros! Maaf aku tidak mengundangmu saat aku menikah. Lagipula saat itu kamu pun sudah pindah ke Australia," ucap om Rudi seraya menatap tante Rosa.
Anne bisa melihat sorot kekecewaan yang terpancar dari kedua bola mata tante Rosa. Kehadiran tante Rosa di ruangan ini benar-benar membuat Anne kesal dan badmood. Sikap yang ditunjukkan tante Rosa berhasil membuat Anne mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ngapain sih ini orang pakai datang lagi ke Indonesia! Udah bener di Australia jadi penggembala kanguru, eh malah balik ke sini lagi!" gerutu Anne di dalam hatinya.
Tante Rosa berusaha mengembalikan kenyamanan di dalam ruangan tersebut dengan membahas perihal yang lain. Sesekali beliau tersenyum ke arah Anne saat berbicara. Sepertinya, beliau sedang mencoba bersikap biasa d hadapan om Rudi.
__ADS_1
"Aku tadi sebenarnya datang menemuimu hanya untuk mengajakmu makan malam, Rud! Itu pun jika kamu mau," ucap tante Rosa dengan suara yang lirih, "aku tidak tahu jika kamu sudah menikah," ucap tante Rosa dengan diiringi senyum tipis.
"Kapan itu?" tanya om Rudi seraya menatap tante Rosa.
"Aku pengennya malam ini, akan tetapi jika kamu sibuk kita bisa menundanya di lain waktu," ucap tante Rosa.
"Awas saja kalau berani menerima tawaran itu!" ujar Anne di dalam hati. Ia tidak bisa menyembunyikan lagi ekspresi wajah tidak suka dari tante Rosa.
Om Rudi hanya menganggukkan kepalanya. Tentu saja, beliau tidak mau menerima tawaran itu meskipun Anne ikut menemani beliau. Menerima tawaran makan malam dari tante Rosa sama saja dengan mengibarkan bendera perang. Oh, sungguh ... beliau saat ini berada dalam situasi yang sulit.
"Ajak istrimu, Rud! Kalau bisa ajak Dara juga," lanjut tante Rosa ketika melihat om Rudi masih diam di tempatnya.
"Dara sekarang tinggal di Bandung, Ros. Dia juga sedang hamil besar, mungkin bulan depan dia akan melahirkan." Om Rudi menatap tante Rosa. Beliau mencoba tersenyum tipis agar tidak terlihat kaku.
"Wow! Kamu akan menjadi kakek ternyata, Rud!" Tante Rosa terkejut setelah mendengar ucapan om Rudi.
Anne semakin geram melihat kedua orang yang sedang berbincang itu. Beberapa kali ia menemukan sikap manja tante Rosa kepada om Rudi. Rasanya Anne ingin sekali mendepak wanita yang tak kunjung beranjak dari tempat duduknya. Malah tante Rosa sibuk membahas kenangannya di masa lalu.
Rasa tidak nyaman telah dirasakan om Rudi. Beliau tahu jika saat ini Anne sedang mengeluarkan taringnya. Harapan om Rudi saat ini adalah agar tante Rosa segera pergi, bukan semakin membahas masalah pribadi. Om Rudi terlihat tidak fokus karena pikirannya sedang bercabang, untuk menemukan sebuah cara, bagaimana menaklukkan macan yang siap menerkamnya jika tante Rosa pulang.
"Maaf, Rud, aku harus pamit sekarang. Aku tidak bisa terlalu lama di sini," pamit tante Rosa seraya berdiri dari tempatnya, "aku harus ke salon setelah ini," lanjut tante Rosa dengan diiringi senyum manis.
...🌹Selamat membaca 🌹...
...Hmmmm ... apakah yang akan terjadi setelah ini?ðŸ¤nanti siang yesss😎...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹...