
Rindu menggebu yang tertahan selama beberapa bulan, pada akhirnya tersalurkan. Setelah melayangkan rayuan kepada sang istri, om Rudi berhasil mendapatkan apa yang selama ini menjadi angan. Pria matang itu cukup lama menahan gejolak liar dalam tubuhnya. Entah bagaimana beliau bisa menahan selama itu.
Alasan mendasar yang tertanam dalam hati om Rudi adalah karena beliau kasihan kepada Anne. Beliau tidak tega untuk mengajak Anne berhubungan kembali setelah melihat langsung bagaimana istrinya saat berjuang melahirkan kala itu.
"Mas, pelan-pelan, ya! Awas saja kalau sakit seperti sebelumnya!" Anne memberi peringatan kepada om Rudi sebelum melancarkan aksinya.
Saat berlibur ke Eropa, mereka berdua sempat melakukan hubungan itu. Namun, semuanya harus dihentikan saat Anne menjerit kesakitan. Om Rudi pun pada akhirnya gagal menjalankan aksinya. Beliau takut jika goa sang istri sobek dan berdarah.
"Jangan teriak! Ingat! Ada Dara!" ujar om Rudi ketika mulai berjuang menerobos gua yang sudah lama dibiarkan kosong itu.
Cengkraman tangan Anne berhasil membuat sprei putih itu menjadi kusut. Bulir air mata mengalir begitu saja saat rasa sakit begitu menyiksa. Ini lebih dari saat pertama kali berhubungan dulu. Bahkan, peluh keringat mulai bercucuran.
"Yes!" ujar om Rudi setelah berhasil masuk ke dalam goa tersebut dengan sempurna, "bersiaplah, Sayang! Kita akan terbang bersama!" Om Rudi tersenyum penuh arti sambil menatap sang istri.
Dua hasrat melebur menjadi satu. Suara lenguhan manja mulai menggema di dalam kamar tersebut. Senja terukir indah di cakrawala barat. Akan tetapi permainan panas itu masih berlanjut. Om Rudi seperti menemukan sumber air di tengah padang pasir untuk menghilangkan dahaga.
Permainan terus berlanjut hingga langit berubah menjadi gelap karena persimpangan waktu telah tiba. Anne mulai memberikan kode jika tidak sanggup lagi melanjutkan semua ini. Tenaganya terkuras sudah di atas medan tempur yang sudah berantakan ini.
"Istirahatlah, Sayang! Kamu pasti lelah," ucap om Rudi setelah mengecup kening sang istri. Beliau merebahkan diri di sisi Anne dan tak lupa beliau menarik selimutnya untuk menutupi tubuh.
...♦️♦️♦️♦️♦️...
Waktu makan malam telah tiba. Dara dan Juna keluar dari kamar, tidak lupa mereka membawa bayi menggemaskan yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya itu. Kiran ada dalam gendongan Juna. Bayi lucu itu terlihat nyaman saat merasakan dekapan hangat ayahnya.
"Loh Papi belum turun ternyata," ucap Dara setelah sampai di ruang keluarga. Tidak ada siapapun di sana.
"Kita tunggu saja dulu. Mungkin, sebentar lagi Papi turun." Juna duduk di sisi Dara bersama Kiran.
Suara celotehan Kiran mulai terdengar di sana. Kiran sangat aktif jika bersama dengan Juna. Terkadang, Dara cemburu melihat putrinya lebih dekat Juna. Entahlah, bagaimana bisa putri tunggal om Rudi itu bisa berpikir seperti itu.
__ADS_1
"Non, makan malamnya sudah siap," ucap bi Sari setelah menemui Dara di ruang keluarga.
"Oh, iya, Bi. Terima kasih," jawab Dara seraya menatap bi Sari.
Dara mengalihkan pandangan ke arah penunjuk waktu berada. Ia mengernyitkan kening saat melihat jarum pendek yang sudah berada di angka delapan itu.
"Papi kemana sih?" gerutu Dara seraya menengadahkan kepala, "apa aku panggil ke kamarnya saja, ya?" lanjut Dara seraya berdiri dari tempat duduknya
"Jangan!" sergah Juna seraya menarik pergelangan tangan Dara hingga istrinya itu duduk kembali di tempatnya.
Dara mendengus kesal karena hal ini. Selalu saja ia harus menunggu saat makan malam tiba. Dara bisa menebak jika saat ini pasti ayahnya sedang bermain-main dengan Anne.
"Biar aku telfon saja! Aku keburu lapar!" ujar Dara seraya meraih ponsel yang ada di atas meja.
Beberapa panggilan ke nomor Anne tidak terhubung. Hal itu semakin membuat Dara mendengus kesal. Ia mencoba menghubungi ayahnya, akan tetapi belum ada jawaban.
"Pada kemana sih ini!" gerutu Dara saat tidak mendapatkan respon dari orangtuanya.
Sekali lagi, Dara mencoba menghubungi ayahnya. Dering kedua, panggilan tersebut pada akhirnya tersambung. Suara om Rudi terdengar lirih di ponsel Dara.
"Papi masih tidur?" tanya Dara saat panggilan terhubung.
"Papi masih ngantuk! Ada apa, Dar?"
"Dara sudah menunggu makan malam bersama Papi nih!" ujar Dara dengan raut wajah yang masam.
"Ya sudah, kamu duluan saja! Papi masih ngantuk!"
Dara mengerucutkan bibirnya setelah panggilan tersebut terputus. Ia meletakkan ponsel di atas meja sambil menggerutu kesal. Bisa-bisanya orang yang ditunggu, ternyata masih tidur.
__ADS_1
"Ayo kita makan! Papi masih tidur ternyata!" ujar Dara seraya beranjak dari tempat duduknya.
Juna hanya mengulum senyum ketika melihat kekesalan sang istri. Sungguh, Juna tidak habis pikir dengan mertuanya itu. Kesan pertama saat bertemu om Rudi dulu, ternyata hanya sebuah topeng. Kesan seorang pria kejam, jahat dan garang, ternyata dipatahkan oleh kenyataan yang berbanding terbalik. Semua penilaian itu mendadak hilang sejak mertuanya menikah dengan Anne.
"Sini, biar Kiran sama aku saja," ucap Dara setelah sampai di ruang makan. Ia mengambil bayi menggemaskan itu dari gendongan Juna.
Makan malam berdua terasa sunyi sepi. Hanya suara Kiran yang terdengar di sana. Dara terlihat sibuk dengan Kiran yang sedang berusaha meraih apapun yang ada di meja makan.
"Sayang, aduh! Nanti tangannya kotor!" Dara menjauhkan tangan Kiran dari meja.
Juna segera menyelesaikan makan malamnya. Ia harus mengajak Kiran agar istrinya itu bisa makan dengan tenang. Memang seperti ini lah mereka berdua jika di Bandung. Mengurus Kiran berdua tanpa adanya baby sitter. Dara ingin menjadi orang tua mandiri tanpa bantuan pengasuh. Akan tetapi terkadang, wanita cantik itu masih dibantu ART yang berkerja di rumahnya.
"Bunda, sepertinya Kiran sudah cocok nih punya adik," ucap Juna saat mengayun Kiran di dekat Dara.
Setelah mendengar ucapan tersebut, Dara meletakkan sendoknya. Ia menatap Juna dengan mata yang melebar sempurna. Ia mengunyah makanannya dengan gerakan cepat, hingga membuat Juna tergelak.
"Jan ngadi-ngadi! Ngurus anak satu aja kadang bikin aku nangis, malah minta nambah lagi!" protes Dara seraya mengepalkan tangannya ke arah Juna.
"Kan bisa dibantu baby sitter nanti," ucap Juna seraya menaik turunkan alisnya.
"Ih! Gak usah aneh-aneh deh!" Dara berdecak kesal setelah mendengar ucapan suaminya.
Wanita cantik itu kembali meraih sendoknya. Ia melanjutkan makan malamnya meskipun Juna terus membahas anak kedua. Dara acuh dengan pendapat suaminya itu. Sungguh, tidak masuk akal jika Juna meminta dirinya hamil anak kedua.
Juna terus menggoda sang istri hingga mimik wajahnya berubah semakin kesal. Bahkan, Juna tidak hanya membahas anak kedua. Ia malah menginginkan anak kembar laki-laki dan perempuan, karena pria tampan itu memiliki genetik kembar dari keluarga ibunya.
"Jangan aneh-aneh deh! Luka bekas operasi aja belum sembuh! Ingat! Hamil anak kedua setelah dua tahun lagi!" ujar Dara seraya menatap Juna dengan tatapan tajamnya.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...Haduh! Ayah Juna ada-ada aja! Minta anak kembar lagi😂...
...🌷🌷🌷🌷🌷...