Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Bertemu Pras,


__ADS_3

"Papi ...." Anne melenguh panjang tatkala merasakan sensasi lain saat daun telinganya digigit om Rudi.


Anne tidak bisa berkutik karena posisi tubuhnya saat ini sedang tengkurap di atas ranjang. Om Rudi baru saja masuk ke dalam kamar, posisi tubuh sang istri yang terlihat begitu menggoda, membuat pria matang itu segera naik ke atas ranjang dan menindih tubuh itu. Dress yang dipakai Anne tersingkap ke atas hingga membuat pinggulnya yang menggoda terlihat dengan jelas. Hal ini lah yang membuat om Rudi tiba-tiba menyerangnya.


"Letakkan dulu ponselmu!" ujar om Rudi setelah puas bermain-main di punggung sang istri.


Om Rudi segera berpindah tempat. Beliau merebahkan diri di sisi Anne seraya menatap sang istri yang sedang melepas kancing dress berwarna navy itu, hingga sebagian dadanya terekspos dengan jelas.


Om Rudi merasa tertantang melihat pemandangan itu. Beliau segera menarik sang istri agar masuk ke dalam dekapan hangatnya. Permainan kecil pada akhirnya dimulai setelah om Rudi sempat melirik gelas kosong yang ada di atas nakas.


Dua hasrat yang menggebu membaur menjadi satu. Erangan manja mulai menggema di kamar itu, pertanda sang ratu telah mencapai puncak pertama. Sang raja mengembangkan senyum penuh kemenangan setelah mendengar semua itu. Kali ini, sang raja mulai menguasai hutan gundul yang menjadi daerah kekuasaannya. Permainan itu terus berlanjut hingga sang raja merasakan getaran aneh yang menjalar di dalam tubuh. Seketika om Rudi menghentikan kegiatannya sebelum menuntaskan segala yang ada di ujung tombak. Beliau meraih bantal dan diletakkan di bawah pinggul sang istri.


"Kata pakar seksologi, meletakkan bantal di bawah pinggul, semakin menambah rasa nikmat. Mari kita coba, Sayang." Om Rudi menjelaskan itu setelah melihat ekspresi wajah sang istri.


Ekspresi wajah penasaran itu telah berubah menjadi ekspresi yang tidak bisa digambarkan. Anne kembali melenguh ketika merasakan sensasi lain dari posisi ini. Ia membiarkan dirinya terbang ke awan saat permainan sampai pada puncaknya. Ia membiarkan sang suami berdiam diri di sana sambil mengatur napasnya.


"Pakai bantal lebih enak 'kan?" tanya om Rudi setelah melepaskan diri dari sang istri.


...♦️♦️♦️♦️♦️♦️...


Sang fajar telah hadir di cakrawala timur. Siluet berwarna jingga semakin membuat indahnya pemandangan langit pagi ini. Anne menyibak tirai yang menutupi kaca besar di kamarnya. Senyum manis mengembang begitu saja setelah Anne membaca pesan yang dikirim oleh Pras beberapa menit yang lalu. Ia menatap sekilas ke arah ranjang, di mana sang suami masih terlelap di bawah selimut tebal.

__ADS_1


"Akhirnya, kurang sebentar lagi persiapan ini selesai," gumam Anne tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan taman yang ada di halaman rumah.


Raut wajah bahagia terlukis jelas di wajah cantik itu setelah mendapat kabar baik dari Pras—jika semua tugasnya hampir selesai. Anne benar-benar puas dengan kinerja asisten pribadi suaminya itu. Tidak sia-sia Anne membayar Pras dengan sejumlah uang dengan nilai yang cukup fantastis, tabungannya hampir habis untuk semua ini.


"Sebaiknya aku berendam dulu. Rileksasi sebelum memberikan suprise tidak masalah 'kan?" gumam Anne seraya berjalan menuju kamar mandi, tidak lupa ia meletakkan ponselnya di meja yang ada di depan sofa.


Anne menuangkan sabun ke dalam bathup, ia mengaduk air tersebut sampai berubah menjadi busa. Segera ia melepas peignoir beserta chemis yang membalut tubuh mulusnya.


Kelopak mata itu tertutup rapat setelah merasakan kehangatan air yang merasuk ke dalam tubuh. Aromaterapi yang menyala di dekat bathup semakin membuat tubuh itu menjadi rileks. Semua kegiatan itu berakhir setelah air mulai dingin.


Tiga puluh menit kemudian, Anne sudah siap dengan pakaian kerjanya. Ia keluar dari walk in closet bertepatan dengan om Rudi yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Papi, saya berangkat dulu ya. Ada yang harus saya persiapkan di kantor," pamit Anne seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas, "nanti saya siapkan sarapan di kantor, kita sarapan bersama di sana," ucap Anne seraya menatap om Rudi.


Mobil putih yang dikendarai Anne perlahan meninggalkan halaman luas itu. Pagi ini ia harus mampir ke suatu tempat untuk bertemu dengan Pras. Anne mengarahkan setir mobilnya ke arah yang berlawan dari kantor. Mobil putih itu melaju kencang ke arah lapangan golf.


Anne membuka kaca mobil setelah melihat mobil Pras berada di depan mobilnya. Ia tersenyum manis ketika melihat Pras turun dari mobil sambil membawa map berwarna kuning. Sesuatu yang Anne inginkan untuk segera mewujudkan kejutan untuk sang suami.


"Ini berkas seperti yang Nyonya inginkan," ucap Pras seraya membungkukkan tubuh agar bisa menatap Anne, "Perusahaan Louhan sudah berada di bawah tekanan kita, dengan begitu Nyonya bisa memberikan semua ini kepada pak Rudi bulan depan," ucap Pras sebelum menegakkan tubuhnya.


"Terima kasih," ucap Anne sebelum Pras berlalu dari mobilnya.

__ADS_1


Senyum smirk terbit dari bibir berwarna maroon itu saat mobil yang dikendarai Pras berlalu. Anne membaca setiap lembar yang ada di dalam map tersebut. Ia sudah tidak sabar lagi menunggu saat yang sudah ditentukan oleh Pras. Sungguh, ia tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya om Rudi setelah melihat semua yang sudah ia lakukan.


"Bersiaplah, Papi Sayang," gumam Anne seraya memakai kaca mata hitamnya.


Anne mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi saat melewati jalanan yang lenggang. Ia harus sampai di kantor sebelum Risa dan sang suami datang, karena ia harus menyembunyikan berkas rahasia ini. Tak lupa Anne mampir ke salah satu restoran yang menyediakan menu sarapan.


"Aku harus cepat sampai!" ujar Anne setelah mendapatkan menu sarapan pagi ini.


Setelah menempuh waktu selama tiga puluh menit, pada akhirnya Anne sampai di kantor. Suasana di dalam gedung raksasa itu masih sepi dari karyawan kantor. Anne buru-buru menuju ruangannya sambil membawa map pemberian Pras dan kantong berisi sarapan untuk sang suami.


Lantai teratas gedung ini masih sepi. Ia hanya melihat Pras yang baru saja keluar dari pantri sambil membawa segelas kopi. Mereka tak bertegur sapa jika di kantor agar tidak ada yang curiga jika keduanya sedang menjalin kerja sama.


"Aku harus mengamankan berkas ini," ucap Anne setelah sampai di balik meja kerjanya. Ia duduk di kursi sambil mengamati setiap laci yang dirasa aman.


Laci paling bawah sepertinya jarang sekali terbuka. Anne segera menarik laci tersebut dan menguncinya. Tak lupa ia menyembunyikan kunci laci itu agar tidak ada yang membukanya.


"Yes! Aman!" Anne bernapas lega setelah melihat keadaan yang di sekitar.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Hallo sayangku😍Jangan lupa siapkan vote atau hadiah untuk othor ya besok pagi 🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2