
Gelora cinta yang membara terus berkobar tanpa bisa dipadamkan. Permainan yang kedua kalinya masih berlanjut di sofa ruang keluarga. Kali ini Anne sendiri yang menjadi pengendali permainan. Ia bergerak leluasa di atas pangkuan sang suami dan suara lenguhan manjanya saling bersahutan dengan suara televisi yang menyala. Sepasang suami istri beda usia itu benar-benar menikmati kebebasan meneguk madu tanpa takut terganggu siapapun lagi.
"Turunlah! Mari kita akhiri permainan ini!" titah om Rudi ketika tubuhnya merasakan getaran yang begitu hebat.
Napas Anne terengah setelah menghentikan gerakan. Ia segera turun dan memposisikan diri membelakangi sang suami. Kedua tangan itu mencengkram erat sandaran sofa tatkala merasakan senjata sakti itu mengoyak sorga miliknya. Sekali lagi, om Rudi menunjukkan kuasanya hingga membuat sang istri menjadi tak berdaya.
"Terima kasih, Sayang!" bisik om Rudi di balik tubuh mulus sang istri, beliau mengecup tengkuk mulus itu setelah selesai parkir di luar dengan tepat dan aman.
Om Rudi meraih tissu yang ada di atas meja, beliau membersihkan bibit unggul yang tumpah di panggul Anne dengan tissu tersebut. Pria matang penuh perhatian itu selalu membuat Anne merasa nyaman dan merasa dicintai.
"Mau lagi?" tanya om Rudi setelah Anne merebahkan diri di sofa tersebut.
Anne hanya menggeleng pelan, ia sudah tidak sanggup untuk melakukan permainan panas dengan sang suami untuk yang ketiga kalinya tanpa jeda yang lama. Cukup dua kali saja ia sudah merasa lelah karena wanita yang belum genap berusia dua empat tahun itu berkali-kali berhasil mencapai puncak nirwana.
"Apa kamu masih meragukan suami berumurmu ini?" tanya Om Rudi seraya duduk di dekat kaki sang istri.
Anne tersenyum mendengar hal itu, ia hanya mengacungkan dua jempolnya kepada sang suami, sebuah isyarat jika ia mengakui kehebatan pria matang itu.
"Saya ngantuk! Pengen tidur di kamar, tapi malas jalan!" ujar Anne dengan suara yang lirih.
"Terus?" Om Rudi menatap wajah sang istri.
"Gendong!" Suara manja Anne membuat om Rudi semakin gemas dibuatnya.
__ADS_1
Anne tersenyum lebar ketika melihat sang suami beranjak dari tempatnya saat ini, "Saya lapar juga ini, tapi ngantuk! Jadi bingung," gumam Anne hingga membuat om Rudi berkacak pinggang di sisi tubuhnya.
"Jadi bagaimana? mau makan atau mau tidur?" tanya om Rudi.
"Tidur di kamar saja lah!" jawab Anne dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke dalam.
Anne terkejut ketika om Rudi benar-benar mengangkat tubuhnya. Ia sampai berteriak karena takut jatuh. Anne semakin mengeratkan kedua tangan yang mengalung di leher itu agar tidak jatuh di lantai.
"Aww!" teriak Anne ketika tubuhnya dihempaskan begitu saja di atas ranjang.
"Pelan-pelan dong! Encok ya!" protes Anne seraya membenarkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Tubuhmu berat, Sayang! Segeralah diet!" ujar om Rudi setelah naik ke atas ranjang. Beliau merebahkan diri di sisi Anne dan setelah itu segera meraih tubuh mulus sang istri ke dalam dekapannya, "tidurlah!" om Rudi membelai rambut sang istri dengan gerakan lembut.
Beberapa menit telah berlalu, Anne begitu cepat tidur dalam belaian sang suami. Mungkin karena nyaman atau memang karena kelelahan hingga ia tertidur pulas sambil mengeratkan tubuhnya dengan sang suami.
Siluet jingga telah hadir tuk menemani sang raja sinar kembali ke singgasananya. Sinarnya menerobos masuk ke dalam kamar dengan jendela yang dibiarkan terbuka tanpa korden.
Om Rudi baru saja masuk ke dalam kamar setelah keluar membeli makanan untuk sang istri karena masakan yang tadi dibuat Anne, sudah tidak bisa dikonsumsi. Segera om Rudi menutup korden kamar itu agar sang istri tidak terkena pantulan sinar jingga yang terpancar.
"Sayang, bangunlah!" ucap om Rudi setelah duduk di tepi ranjang, beliau membelai pipi sang istri beberapa kali.
"Aku sudah membeli makanan dari resto china, segeralah bangun!" ucap om Rudi setelah sang istri membuka kelopak matanya.
__ADS_1
"Ini sudah sore ya, Om?" tanya Anne seraya menggeliatkan tubuh.
"Hmm ... Akan Om siapkan makanannya! Om tunggu di ruang makan," ucap om Rudi sebelum berdiri dari tepi ranjang.
Anne hanya mengangguk pelan, jujur saja ia masih ngantuk dan malas melakukan apapun saat ini. Namun, suara cacing yang sedang demonstrasi dalam perutnya, membuat Anne segera menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Ia turun dari ranjang itu dan berjalan keluar menuju ruang makan.
"Hei! Pakai baju dulu!" ujar om Rudi setelah melihat Anne duduk di ruang makan tanpa busana.
"Males, Om!" jawab Anne seraya mengambil piring yang sudah disiapkan oleh om Rudi.
Apa yang dilakukan Anne saat ini, membuat senjata kebanggaan om Rudi bereaksi. Melihat pemandangan indah yang memanjakan mata berhasil membuyarkan konsentrasi om Rudi. Makanan yang ada di atas meja makan sama sekali tidak membuatnya berselera. Pria matang itu justru ingin menikmati dua squizi yang terlihat menantang itu.
"Anne! Kamu sengaja ya menggoda Om!" ujar om Rudi setelah selesai menghabiskan semua makanan yang ada di piring.
"Saya tidak pernah berniat menggoda Om! Mungkin ya ... Om saja yang gampang tergoda!" jawab Anne asal.
"Baiklah! Tunggu saja setelah ini." Om Rudi menyeringai ketika melihat ekspresi Anne yang menantang.
Benar saja, setelah Anne selesai menikmati makan siang yang telat itu, Om Rudi kembali membawanya ke dalam kamar. Hari ini benar-benar dihabiskan om Rudi dengan kegiatan panas yang membuat Anne tak berdaya.
"Bersiaplah! Ini adalah hukuman untukmu, Sayang!" ujar om Rudi sebelum naik ke atas ranjang.
...🌹Selamat membaca🌹...
__ADS_1
...Udah cukup ya kegiatan panasnya🤣maaf hari ini othor khilap, besok gak lagi deh🤭mohon maaf di sini cuaca lagi syahdu, jadi, othornya traveling mulu😎...
...🌷🌷🌷🌷🌷...