
Libur panjang telah usai. Setelah hampir satu minggu berada di Jepang, pada akhirnya om Rudi dan Anne harus kembali ke Indonesia. Banyak berkas di kantor yang membutuhkan persetujuan om Rudi karena Pras tidak memiliki wewenang untuk memutuskan semua itu.
Siluet jingga terlukis indah di cakrawala barat saat bola raksasa berwarna orange hampir tenggelam. Mobil hitam yang membawa sepasang suami istri itu pada akhirnya sampai di halaman rumah.
"Papi, tungguin ih!" ujar Anne setelah melihat sang suami sudah berada di teras rumah tanpa menunggunya.
"Buruan, Sayang! Papi kebelet!" ujar Om Rudi setelah membalikkan tubuhnya.
Anne mengejar om Rudi yang sudah masuk ke dalam rumah. Pria matang itu berlari menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Mungkin ada sesuatu di dalam tubuhnya yang sudah tidak sabar ingin dikeluarkan.
Satu persatu anak tangga telah dilalui Anne hingga sampai di lantai dua. Ia segera masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya yang lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
"Kamu atau Papi yang mandi terlebih dahulu?" tanya om Rudi setelah sampai di dalam kamar.
"Papi aja dulu," ucap Anne tanpa membuka kelopak matanya.
Rasa lelah melanda tubuh itu, hingga membuatnya begitu cepat terlelap. Istirahat memang dibutuhkan untuk melepas rasa lelah walau hanya sebentar saja. Entah, sampai kapan Anne akan berkelana dalam alam mimpinya.
****
Semilir angin malam menemani sepasang suami istri yang sedang bersantai di sofa panjang yang ada di teras belakang. Mereka berdua baru saja selesai menikmati makan malam. Kini, Anne mendapat tugas dari sang suami untuk memijat bahu yang tertutup kaos polo berwarna putih itu.
"Lebih keras, Sayang!" ujar om Rudi tanpa membuka kelopak matanya.
"Ini udah keras, Pi!" Anne semakin menekan tangannya di bahu tersebut.
"Nah ... itu yang sakit! Coba tekan lebih dalam lagi!" titah om Rudi setelah merasakan jari sang istri menyentuh bagian yang sakit.
Padatnya pekerjaan membuat om Rudi sering merasa lelah. Mungkin, semua itu juga pengaruh dari umur yang tidak bisa dibohongi meski jiwa om Rudi menolak tua.
__ADS_1
"Pi, bagaimana dengan rencana pernikahan Dara?" tanya Anne setelah beberapa menit terdiam. Ia baru ingat jika Dara menyerahkan urusan pernikahan kepadanya.
"Kalau untuk masalah itu, kita harus berunding dulu sama orangtuanya Juna. Menurutmu lebih baik pernikahan itu berlangsung di mana?" Om Rudi memberikan kode agar Anne berhenti memijat beliau.
Anne memundurkan tubuhnya sampai di sudut sofa. Ia membiarkan kakinya berselenjor di atas paha sang suami. Anne masih diam sambil memikirkan jalan terbaik untuk putri sambungnya.
"Begini saja, Pi ... bagaimana kalau acara akad nikahnya di Jakarta sedangkan resepsinya kita selenggarakan di Bandung? Adil 'kan?" Anne menatap sang suami dengan lekat.
"Boleh saja. Jika memang orang tuanya Juna setuju, Papi pun setuju," ucap om Rudi tanpa berpikir panjang. Tangannya sibuk memijat betis sang istri.
Obrolan pun berlanjut mengenai bagaimana konsep pernikahan yang akan diselenggarakan nanti. Beberapa rekomendasi konsep pernikahan telah diajukan Anne kepada suaminya itu.
"Kalau memang keluarga Juna sudah setuju dengan rencana kita, Papi menyerahkan semua urusan ini kepada kamu saja. Cari WO yang sesuai dengan keinginan Dara, urusan biaya biar Papi yang mengurus." ucap om Rudi untuk mengakhiri obrolan seputar rencana pernikahan.
Anne sangat antusias saat membahas pesta pernikahan Dara. Ia hanya ingin Dara bahagia saat menjadi ratu dalam sehari. Pesta yang megah tengah dirancang Anne sebagai bentuk rasa pedulinya kepada putri sambungnya itu.
"Lalu apalagi, Sayang?" tanya om Rudi seraya menatap Anne dengan sorot mata penasaran.
Anne menghela napasnya setelah mendengar respon sang suami. Ia heran saja, kenapa suaminya itu tidak berpikir panjang tentang masa depan putrinya sendiri.
"Seharusnya kita juga memikirkan perihal setelah pernikahan mereka, Pi." Ucapan Anne berhasil membuat om Rudi mengernyitkan keningnya, karena beliau belum tahu kemana arah pembicaraan sang istri.
Anne berdecak kesal melihat respon sang suami. Hembusan napas berat mulai terdengar di sisi om Rudi. Anne mengubah posisinya menjadi duduk bersanding dengan om Rudi agar lebih dekat lagi.
"Jadi begini loh, Pi ...."
Anne menjelaskan kepada om Rudi perihal yang memenuhi pikirannya. Anne ingin om Rudi memberikan anak perusahaan yang ada di Bandung kepada Dara dan Juna, agar sepasang suami istri itu bisa berkembang dan tidak sampai bekerja di tempat lain.
"Kita harus memberikan mereka kesempatan untuk memimpin perusahaan, Pi, walau itu anak cabang dari Royale. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk membantu perekonomian Dara dan Juna setelah menikah. Papi tidak mungkin memberi Dara uang terus menerus seperti biasanya, karena saya khawatir Juna akan tersinggung," ucap Anne seraya menatap sang suami penuh arti.
__ADS_1
"Nanti Papi pikirkan lagi untuk masalah ini," jawab om Rudi setelah mendengarkan semua rencana Anne, "Papi mau melihat dulu seberapa besar tanggung jawab Juna kepada Dara. Gak masalah kalau memang dia mau mengurus anak cabang, akan tetapi jika untuk menyerahkan semua atas nama mereka berdua, Papi belum bisa." Om Rudi masih ragu dengan keputusan sang istri.
"Apa menurutmu kita perlu memberikan hadiah rumah untuk mereka?" tanya om Rudi seraya mengubah posisi duduknya.
"Tentu saja, Pi. Mereka harus punya rumah sendiri, Pi. Biarkan mereka menjalani rumah tangga dengan mandiri. Kita hanya bisa membantu jika memang mereka berada dalam kesulitan, Pi." Anne tersenyum manis setelah mengatakan hal itu.
"Saya seperti ini, bukan karena saya ingin menjauhkan Dara dari Papi loh! Saya hanya ingin yang terbaik untuk Dara, Pi." Anne hanya ingin mengantisipasi pikiran buruk om Rudi kepadanya.
Seulas senyum manis terbit dari bibir pria matang itu. Beliau meraih tubuh sang istri ke dalam dekapannya, kecupan mesra mendarat di kepala itu sebagai bentu penyaluran rasa yang ada dalam hati.
"Sedikitpun, Papi tidak memiliki pikiran seperti itu, Sayang. Papi sangat berterima kasih kepadamu karena sudah perduli dengan Dara. Papi bahagia karena kamu sudah membantu Papi memikirkan semua ini." Tatapan om Rudi lurus ke depan, sementara tangannya kanannya sibuk membelai rambut sang istri.
Tidak ada yang lebih membahagiakan selain memiliki seorang pasangan yang bisa diajak bertukar pikiran. Saling mengerti satu sama lain adalah pondasi dalam rumah tangga. Perbedaan umur bukanlah halangan untuk mencapai sebuah kebahagiaan dalam berlayar di samudera pernikahan.
"Sayang, kenapa kamu hanya memikirkan masa depan pernikahan Dara?" tanya om Rudi setelah terdiam beberapa menit.
Anne menatap heran ke arah sang suami karena belum mengerti kemana arah pembicaraan ini, "maksudnya bagaimana sih, Pi?" tanya Anne tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami.
"Kamu begitu pandai merencanakan masa depan Dara. Namun, satu hal yang sudah kamu lupakan, Sayang ... kapan kamu siap hamil dan menata masa depan anak-anak kita nanti?" tanya om Rudi dengan diiringi senyum yang sangat manis.
Anne beranjak dari tempatnya saat ini. Ia berdiri di hadapan sang suami seraya mengulurkan tangannya. Ia menatap om Rudi penuh arti sambil berucap,
"lebih baik sekarang kita bikin adonannya dulu saja, Pi. Nanti kita pikirkan lagi kapan waktu yang tepat agar adonan itu jadi bayi menggemaskan seperti yang Papi inginkan."
...🌹Selamat membaca 🌹...
...Maaf ya mak emak😀updatenya jadi gak teratur🙏lagi mabok daging😣...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1