Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Hotel Santika,


__ADS_3

"Nona ... nona!"


Anne gelagapan saat merasakan tepukan beberapa kali di lengannya. Ia segera bangun dari bangku panjang yang ada di samping ICU meskipun separuh jiwanya belum kembali sepenuhnya.


"Apakah Nona tidak ingin melihat kondisi ibu Nona? Karena jam tujuh sampai jam delapan pagi pintu ICU dibuka, keluarga pasien boleh menjenguk," ucap seorang suster setelah Anne duduk bersandar di bangku tersebut.


Setelah mendengar hal itu, Anne segera mengikuti langkah suster tersebut menuju ruang ICU, tanpa cuci muka ataupun gosok gigi. Ia masuk ke dalam ruangan bersuhu dingin itu sambil menatap beberapa peralatan medis yang ada di sana.


Anne tertegun setelah sampai di sisi brankar bu Ningrum. Wanita yang membesarkannya selama ini masih belum sadar sejak operasi tadi malam. Bulir air mata itu kembali lolos dari pelupuk mata ketika melihat tubuh yang dipenuhi beberapa peralatan medis itu.


"Bu, ini Anne ... Ibu cepat sadar ya, Bu! Anne takut sendirian di sini," ucap Anne dengan suara yang lirih. Ia meraih tangan dingin itu dan dikecupnya beberapa kali.


Kedua manik hitam itu tidak lepas dari wajah pucat bu Ningrum. Meski bu Ningrum tidak sadarkan diri, Anne tetap mengajak beliau berbicara. Anne terus memberikan semangat agar bu Ningrum bisa melawan rasa sakit dan segera membuka matanya.


"Waktu besuk ICU sudah habis Nona, silahkan keluar karena pintu ICU akan dikunci," ucap seorang suster yang menghampiri Anne di tempat bu Ningrum berada.


"Suster, saya titip ibu saya, ya. Saya mau pulang ambil baju ganti di rumah," ucap Anne sebelum meninggalkan bilik bu Ningrum, "Ini nomor telfon saya, tolong hubungi saya barangkali nanti ada kabar tentang ibu saya," ucap Anne sambil menunjukkan nomor ponsel yang tertulis di layar androidnya.


Anne harus pulang terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah bu Ningrum saja karena menginjakkan kaki di rumah megah om Rudi rasanya sangat berat. Sejak semester tiga Anne tinggal di rumah om Rudi karena tidak mempunyai biaya lagi untuk membayar kost. Alhasil, om Rudi menyuruhnya untuk tinggal di sana dengan dalih agar Dara tidak kesepian.


Dahulu, saat Anne duduk di bangku SMA, ayah angkat Anne yang tidak lain adalah suami bu Ningrum meninggal dunia karena kecelakaan saat menjemput putrinya pulang sekolah. Keduanya meninggal di tempat kejadian. Saat itu baik bu Ningrum ataupun Anne, mereka berdua sama-sama terpukul karena kehilangan pak Hadi.


"Kenapa semua orang yang ada di sekitarku selalu pergi meninggalkan aku," gumam Anne ketika rasa rindu kepada orangtua kandungnya membuncah dalam dada.

__ADS_1


Sebenarnya, orang tua kandung Anne adalah orang kaya. Ayah kandungnya seorang kontraktor sukses di Jakarta dan saat Anne duduk di bangku kelas empat SD, Ayahnya meninggal karena bunuh diri sedangkan ibunya sudah meninggal jauh sebelum itu, lebih tepatnya tiga tahun sebelum ayahnya meninggal. Karena tidak tega melihat Anne hidup sebatang kara, akhirnya Pak Hadi dan bu Ningrum sepakat untuk mengangkat Anne sebagai putri mereka. Dulu, pak Hadi bekerja sebagai sopir pribadi Ayahnya Anne sedangkan bu Ningrum adalah baby sitter yang merawat Anne sejak masih bayi. Sepasang suami istri itu sudah lama bekerja di kediaman orang tua Anne.


"Sekarang aku hanya punya bu Ningrum saja. Papa, Mama pak Hadi dan putrinya telah pergi, kenapa mereka semua tega membiarkan aku sendiri menghadapi kerasnya kehidupan!" gerutu Anne saat berjalan di koridor rumah sakit.


Kedua telapak tangan itu terkepal saat wajah om Rudi terlintas dalam pikirannya. Ia tidak habis pikir kenapa ayahnya dulu memiliki sahabat seperti om Rudi. Pria tak berperikemanusiaan yang pernah ia temui dalam hidupnya.


"Lebih baik aku pesan ojek online saja biar cepat sampai," gumam Anne setelah berada di lobby rumah sakit.


...♦️♦️♦️♦️...


Desiran angin membawa waktu pada sebuah persimpangan. Siluet jingga terlukis dengan indahnya di cakrawala barat tuk mengantar sang penguasa sinar kembali ke peraduan. Langit yang cerah perlahan berubah menjadi gelap. Bintang mulai datang menghiasi langit gelap kota Jakarta. Deretan lampu yang ada di sepanjang jalan menambah keindahan malam ini.


"Hay, Bee ...." sapa Anne setelah duduk di kursi cafe yang berhadapan dengan Bagus, "Maaf aku telat," ucap Anne dengan diiringi senyum yang sangat manis.


"No problem, Hunny." Bagus tersenyum penuh arti sambil meraih tangan Anne untuk digenggamnya, "Kenapa malam ini kamu terlihat sangat cantik," ujar Bagus setelah mengamati wajah yang sedang mengembangkan senyum di hadapannya itu.


"Ya ... ya ... ya, kamu memang selalu cantik di setiap waktu," ucap Bagus sambil menggerakkan kepalanya pelan, "Bagaimana kabar ibu?" tanya Bagus.


Senyum manis itu tidak pudar sedikitpun ketika mendengar Bagus mempertanyakan keadaan bu Ningrum. Anne sudah bertekad menyembunyikan kondisi ibu angkatnya saat ini, "Keadaan Ibu sudah membaik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bee," ucap Anne tanpa berani menatap kedua mata indah yang sedang menatapnya itu.


Bagus merasa lega setelah mendengar bagaimana kondisi bu Ningrum. Sepasang kekasih itu menikmati makan malam bersama di salah satu cafe yang ada di Jakarta selatan. Mereka tersenyum lepas saat membicarakan hal-hal yang menyenangkan.


"Ayo kita pulang! Mari ku antar ke rumah sakit," ujar Bagus setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum jam itu berhenti di angka sepuluh malam.

__ADS_1


"No! Aku sudah izin kepada Ibu jika malam ini tidak ke rumah sakit," ucap Anne seraya meraih tangan Bagus.


"Terus?" Bagus menaikkan satu alisnya.


Anne tersenyum penuh arti dan setelah itu ia beranjak dari tempat duduknya saat ini. Ia berjalan memutari meja cafe dan berhenti di samping Bagus, "Besok adalah hari ulang tahunmu, Bee! Aku sudah menyiapkan kejutan malam ini," ucap Anne dengan suara yang lirih.


"Seharusnya kamu tidak perlu menyiapkan semua itu, Hunny," ucap Bagus dengan pandangan yang tak lepas dari Anne.


"Aku sangat mencintaimu, Bee. Jadi, tidak mungkin aku tidak memberikan kado spesial untukmu," ucap Anne seraya meraih tangan Bagus, "Ayo kita pergi, Bee!" Anne menarik tangan Bagus agar kekasihnya itu segera beranjak dari tempatnya.


Setelah membayar di kasir, Sepasang suami istri itu melenggang dari cafe. Anne mengeratkan tubuhnya di punggung sang kekasih saat motor sport berwarna merah itu mulai melaju di jalanan padat kota Jakarta.


"Bee, arahkan motormu ke Hotel Santika!" ujar Anne saat Bagus menghentikan motornya di perempatan lampu merah.


"Hotel?" Bagus meyakinkan ucapan Anne terlebih dahulu.


"Iya! Udah jangan banyak protes, aku sudah menyiapkan semuanya di sana," ucap Anne.


Motor merah itu melesat saat lampu lalu lintas berubah berwarna hijau. Setelah berada di jalanan kota yang padat, akhirnya, Bagus mengarahkan motornya masuk pintu gerbang hotel yang dimaksud Anne.


"Mari kita masuk, Bee," ucap Anne setelah mereka berdua turun dari motor.


...🌹Selamat membaca🌹...

__ADS_1


...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...


...^^^🌷🌷🌷🌷^^^...


__ADS_2