Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Ulang tahun menyedihkan,


__ADS_3

Tidak ada hal menyakitkan selain ditinggalkan orang terkasih. Hubungan yang sudah terjalin lama harus hancur berantakan karena sebuah status. Banjir air mata kembali menggenang pelupuk mata yang sudah sembab sejak kepergian gadis berambut cokelat yang tak lain adalah Dara.


Tangis Anne kembali pecah setelah masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat buket bunga yang sangat besar dan indah ada di atas ranjangnya. Tentu ia sudah tahu dari siapa buket bunga tersebut. Anne mengambil kartu ucapan yang terselip di sana dan air mata pun semakin susah untuk ditahan.


Happy birthday, Baby! Aku harap di tahun ini kamu mendapatkan pasangan.


Danira Puspa Baskoro


Menyesal sepertinya terlambat karena sang pengirim bunga sudah pergi jauh dari rumah ini. Anne menghempaskan diri di tepi ranjang dengan tangan kanan yang membawa buket pemberian Dara. Tatapan mata Anne beralih ke arah kantong besar yang ada di atas ranjang, ia pun tahu jika itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan Dara untuknya. Buket bunga yang indah itu pada akhirnya diletakkan di atas nakas karena Anne ingin membuka kado pemberian putri sambungnya itu.


Lagi dan Lagi, air mata kembali menggenang setelah kotak kado tersebut terbuka. Anne mengeluarkan bermacam-macam boneka khas Jepang dari kotak tersebut. Ada maneki neko, daruma, kokhesi dan furin. Semua boneka ini semakin membuat rasa bersalah Anne semakin besar.


"Maafkan aku, Dar! Maaf!" Anne meremat piyamanya untuk meluapkan segala rasa yang membaur menjadi satu.


Anne segera turun dari ranjang. Ia membawa semua barang itu ke meja rias dan beberapa barang pemberian Dara telah tertata rapi di meja rias itu beserta dengan buket bunganya. Setelah selesai, Anne bangkit dari tempat duduknya, ia membawa furin itu keluar menuju balkon kamar.


"Teruslah berbunyi untuk mengusir rasa sepi dalam diri ini!" gumam Anne seraya duduk di lantai balkon.


Anne menyandarkan kepala di pagar pembatas tersebut setelah mengikat furin itu di pagar. Suara dentingan Furin tersebut mulai terdengar bersahutan saat angin mulai menyapa, berhembus mesra untuk menangkan jiwa yang sedang terpuruk itu.


"Mungkin aku ini memang wanita hina seperti yang dikatakan Dara. Apakah wanita hina tidak berhak mendapatkan kebahagiaan? Semua ini bukanlah kesalahanku, aku hanya mengikuti alur kehidupan yang sudah dirancang oleh Sang Pencipta." Anne bergumam dengan jari yang tak henti memainkan setiap bagian furin tersebut.

__ADS_1


"Kamu bukan wanita hina!" Tiba-tiba saja terdengar suara bariton om Rudi di ambang pintu tersebut, "kamu adalah wanita hebat yang dikirim Tuhan untuk saya," ucap om Rudi seraya bersimpuh di lantai agar tubuhnya sejajar dengan sang istri.


Anne menatap wajah sang suami sekilas. Wajah itu berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja. Namun, sorot matanya tidak bisa menyembunyikan perasaan yang sedang menguasai hati. Om Rudi sedang memikirkan keadaan putrinya yang pergi begitu saja.


"Papi mau ke kantor?" tanya Anne.


"Iya, Papi tidak akan lama. Sebaiknya, kamu di rumah saja." Om Rudi membelai rambut sang istri, "Kamu harus sarapan, Sayang! Papi sudah membawakan sarapan untukmu. Mari kita masuk," ajak om Rudi seraya membantu Anne berdiri dari tempatnya saat ini.


Om Rudi sedih melihat kondisi sang istri yang kacau. Apalagi melihat pipinya yang merona karena bekas tamparan Dara. Sungguh, pria matang itu merasa iba atas semua yang terjadi. Jika saja bukan putrinya sendiri yang berani menyentuh Anne, bisa dipastikan jika tangan itu akan patah dan yang paling fatal, orang tersebut akan hilang begitu saja dari kota ini.


"Jangan terlalu sedih! Setelah keadaan terkendali, pasti Dara bisa diajak bicara. Dia masih kecewa, biarkan dia menyendiri dulu," ucap om Rudi sambil mengusap pipi sang istri dengan lembut.


Anne hanya mengangguk pelan mendengar hal itu. Bahkan, selera makannya pun ia tidak tahu hilang kemana. Dalam kondisi terpuruk, Anne tidak akan mungkin mau menyentuh makanan, ia hanya sibuk berpikir dan meratapi nasib yang membuat warna hidupnya berubah-ubah.


"Jaga diri baik-baik di rumah, Papi berangkat ke kantor dulu!" Om Rudi mendaratkan kecupan di kening itu setelah berpamitan.


Anne kembali tergugu setelah kepergian sang suami. Ia menundukkan keningnya hingga sampai pada lutut yang sejajar dengan dada. Rasanya, ia tidak sanggup menghadapi masalah besar ini tanpa persiapan sedikitpun. Kejutan yang diberikan Sang Pencipta nyatanya berhasil membuat hari ulang tahunnya kali ini begitu menyedihkan.


Mungkin, Sang Pencipta terlalu sayang kepada Anne, maka dari itu hubungan sah ini terbongkar begitu saja. Mungkin, dengan cara seperti ini, Sang Pencipta memberikan kemudahan jalan meraih kebahagiaan di masa depan untuk hubungan yang sah ini.


"Aku benci dengan keadaan ini!" teriak Anne seraya menegakkan kepalanya.

__ADS_1


Sementara itu, setelah keluar dari kamar sang istri, om Rudi tidak segera berangkat ke kantornya. Beliau turun ke ruang makan untuk mengumpulkan semua asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya karena ada sesuatu hal yang perlu beliau sampaikan.


"Maaf karena sudah mengganggu waktu kalian. Saya hanya ingin memberikan pengumuman penting!" Tatapan mata om Rudi terlihat dingin.


"Mungkin di antara kalian ada yang mengetahui keributan yang baru saja terjadi di rumah ini. Saya harap kalian tidak membocorkan masalah di rumah ini kepada siapapun. Jika saya tahu di antara kalian ada yang berani melakukan larangan itu, saya pastikan kalian akan menyesal! Ingat! Saya tidak akan main-main!" ujar om Rudi dengan suara yang tegas.


"Pengumuman kedua, saya hanya ingin memberitahu kalian, bahwa saya dan Anne sudah menikah. Anne adalah istri sah saya, dengan begitu saya pikir kalian tahu 'kan harus bersikap bagaimana kepada dia. Jika saya mendengar sendiri ada yang menggunjingkan istri saya, maka saya akan bertindak tegas! Ingat! Anne adalah istri saya!" Om Rudi menegaskan siapa Anne di rumah ini.


"Cukup itu saja pemberitahuan dari saya, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!" ucap om Rudi sebelum berlalu dari ruang makan.


Semua itu beliau lakukan hanya untuk melindungi nama sang istri. Apa yang sudah terjadi pasti akan menjadi bahan pembicaraan pekerja yang ada di sini. Sebenarnya om Rudi pun malas mengurus hal seperti ini, akan tetapi karena menyangkut harga diri sang istri, beliau tetap melakukan semua ini.


Langkah demi langkah telah beliau lalui hingga sampai di teras. Om Rudi segera menapaki anak tangga di teras rumah menuju mobil yang sudah siap berangkat. Hari ini om Rudi pergi ke kantor diantar langsung oleh pak Botak. Raut wajah om Rudi terlihat serius, beliau sedang memikirkan keadaan Dara. Biar bagaimanapun semua masalah yang terjadi hari ini adalah beliau sendiri penyebabnya. Segera pria matang itu merogoh ponsel yang tersimpan di saku dalam jasnya. Entah siapa lagi yang akan beliau hubungi.


"Dara sedang ada masalah! Saya harap kamu bisa menjaganya setelah sampai di Jepang, karena untuk saat ini hanya kamu yang bisa menenangkan dia! Saya percayakan dia kepadamu!" ucap om Rudi setelah panggilan terhubung.


...🌹Selamat membaca🌹...


...Aduh othor ikut pening🤯...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2