
Memori lama yang sempat terkubur, kini mulai menari-nari dalam pikiran Dara. Ia mencoba mengingat setiap peristiwa yang sudah pernah ia lewati. Memori di saat Anne terpuruk karena kehilangan ibu angkatnya terputar jelas dalam ingatan. Dara memijat pangkal hidungnya karena merasakan pusing yang tak tertahankan. Semua yang terjadi hari ini berhasil membuat dunianya yang indah mendadak gelap tanpa cahaya.
"Mulai sekarang, Papi harap kamu mau menerima Anne sebagai istri Papi," ucap om Rudi dengan tegas.
Segera Dara menatap wajah sang ayah yang selama ini ia sayangi itu. Dara benar-benar belum percaya atas apa yang sudah dijelaskan oleh om Rudi. Tentu saja, ia menolak mengakui Anne sebagai istri sah ayahnya.
"Sampai kapanpun semua itu tidak akan pernah terjadi!" ujar Dara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa Papi tidak tahu jika dia juga menjual diri kepada Om-Om lain?" Dara melayangkan pertanyaan itu kepada ayahnya, "Papi mau mempunyai istri seperti dia? Bekas dari pria lain!" ujar Dara hingga membuat Anne menegakkan kepalanya.
"Cukup, Dar! Cukup!" ujar Anne karena tidak tahan lagi mendengar tuduhan Dara kepadanya.
"Aku tidak sehina itu! Asal kamu tahu, om-om yang kamu sebutkan tadi adalah Ayahmu sendiri!" Anne menatap Dara dengan intens. Sungguh, ia pun tidak tahan jika harga dirinya terus-terusan diinjak oleh Dara.
Dara menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa setelah mendengar ucapan Anne. Sungguh, ia tidak sanggup lagi berada di tempat ini. Semua drama yang terjadi di rumah ini benar-benar membuat kepalanya serasa pecah.
"Aku merasa paling bodoh di rumah ini! Apa kehadiranku tidak berarti bagi Papi, hingga Papi tega melakukan semua ini, Pi?" tanya Dara dengan bulir air mata yang mengalir dengan derasnya.
"Apakah kamu akan merestui pernikahan Papi jika sebelumnya Papi izin terlebih dahulu kepadamu?" Om Rudi menatap putrinya dengan lekat.
Dara mengalihkan pandangan ke arah lain setelah mendapatkan pertanyaan itu dari ayahnya. Baik dulu atau sekarang, tidak ada bedanya bagi Dara. Ia tidak mau ayahnya menikah dengan siapapun, apalagi dengan Anne. Mungkin, ini disebut egois tapi pada kenyataannya memang seperti itu, Dara tidak mau siapapun menggantikan mendiang ibunya.
"Dara kecewa sama Papi! Dara benci dengan semua ini!" Dara beranjak dari tempatnya saat ini.
__ADS_1
Pandangannya tertuju pada wanita yang selalu ada dalam hidupnya selama ini. Rasanya ia muak melihat air mata kepalsuan yang terjun bebas dari mata sembab Anne. Entahlah, setelah ini pun Dara tidak tahu, apakah masih bisa menjalin hubungan baik dengan istri sah ayahnya itu.
"Aku pulang ke Indonesia hanya untuk memberimu kejutan! Tapi ternyata aku yang terkejut karena ranjau yang tertanam di rumah ini meledak!" ujar Dara tanpa melepaskan pandangan dari sosok yang tertunduk itu.
"Apakah ini buah dari persahabatan kita selama ini? Sungguh, aku tidak menyangka ternyata hubungan baik yang kita tanam tidak menumbuhkan buah manis tapi hanya duri yang menyakitkan!" Suara Dara mulai bergetar karena segala rasa yang membuncah di dada.
"Setelah ini, jangan menampakkan diri di hadapanku lagi! Aku membencimu, Anne Malila!" ujar Dara sebelum berlalu dari ruang kerja tersebut.
Anne segera beranjak dari tempatnya saat ini setelah pintu tertutup rapat. Ia ingin menyusul Dara dan menyelesaikan semua ini, karena Anne hanya ingin Dara mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Anne mengayun langkahnya setelah melihat Dara keluar dari kamarnya sambil membawa ransel. Bisa dipastikan jika Dara akan kembali ke Jepang saat ini juga. Suara teriakan Anne menggema di rumah megah tersebut. Namun, Dara tak menghiraukan semua itu. Ia tetap berjalan menuju pintu depan agar segera pergi dari tempat yang panas ini.
"Pi, cegah Dara, Pi!" teriak Anne ketika om Rudi menarik tangannya agar tidak keluar dari ruang tamu.
"Awasi Dara kemanapun dia pergi! Jangan sampai dia melakukan apapun yang membahayakan!" ucap om Rudi setelah panggilan tersebut terhubung dengan seseorang yang ada di sebrang sana.
Tangis Dara pun akhirnya pecah setelah berada di dalam taxy online yang ia tumpangi saat ini. Dadanya sesak karena menahan beban berat yang baru saja ia dapatkan. Hatinya terluka karena serpihan boom yang baru saja meledak di rumahnya. Sungguh, Dara rasanya tidak sanggup menjalani semua ini.
"Pak, kita ke makam di jalan xxxx dulu sebelum ke Bandara, untuk masalah pembayaran bisa Bapak total jumlahnya nanti," ucap Dara setelah bisa bernapas teratur.
Setelah membelah jalanan yang padat selama enam puluh menit. Pada akhirnya taxy online tersebut sampai di makam sesuai dengan arahan Dara. Gadis itu pun segera keluar dari sana, berjalan menapaki paving blok di sepanjang jalan menuju area makam.
Tubuh itu ambruk begitu saja setelah sampai di pusara wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini. Tangis Dara kembali pecah saat pandangannya fokus pada batu nisan yang bertuliskan nama ibunya.
__ADS_1
"Mi, apa yang harus Dara lakukan, Mi? Dara tidak mau siapapun menggantikan posisi Mami di rumah!" gumam Dara di sela tangisnya.
"Papi jahat, Mi! Papi tega menipu Dara demi kebahagiaannya sendiri. Papi tidak perduli lagi dengan Dara karena perasaan gila kepada sahabat Dara sendiri, Mi!" ucap Dara seraya menyentuh batu nisan tersebut.
Dara menumpahkan semua beban yang menyesakkan dada. Ia tergugu di sana karena tidak sanggup menahan rasa yang membaur menjadi satu. Penampilannya yang kacau tidak dihiraukan lagi. Ia pergi dari rumah tanpa mandi ataupun makan, istirahatpun belum sempat ia lakukan. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya tubuh gadis itu saat ini.
Setelah puas meluapkan semuanya, Dara segera berlalu dari pusara ibunya. Ia harus segera pergi menuju bandara agar bisa segera kembali Jepang, padahal ia sendiri tidak tahu kapan ada penerbangan ke negeri sakura itu. Setidaknya, hari ini ia tidak bertemu lagi dengan kedua orang yang sudah membuatnya menjadi gadis paling bodoh.
"Kita ke Bandara sekarang, Pak!" ucap Dara setelah masuk ke dalam mobil tersebut.
Penampilannya benar-benar kacau saat ini. Ia tidak membawa pakaian satupun saat pulang ke negeri ini karena di rumah masih banyak pakaian yang tersimpan di almarinya.
"Pak, nanti tolong berhenti di butik D' mode!" ujar Dara setelah sadar jika pakaian yang melekat di tubuhnya terlihat sangat kotor.
Kedua mata sayu itu menatap setiap gedung yang berdiri kokoh di sisi jalan. Tatapan matanya kosong karena pikirannya melayang jauh entah kemana—mencoba mencari di mana ujung dari benang kusut yang sedang membelenggu saat ini.
Sebaik apapun menyimpan kebohongan, nyatanya terbongkar juga dengan cara yang tidak pernah diduga sebelumnya.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Emak-emak reader jadi teamnya Anne atau Dara nih?...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1