Belenggu Benang Kusut

Belenggu Benang Kusut
Drama bertemu bapak kunti,


__ADS_3

"Dar, aku tidur di kamarmu aja, ya! Aku gak tahan di kamarku, baunya gak enak banget!" keluh Anne setelah masuk ke dalam kamar Dara.


"Kuntilanaknya gak bakal ngikut kamu kesini kan?" tanya Dara hingga membuat Anne berdecak.


Malam ini, Anne memutuskan tidur di kamar Dara. Tentu saja sebelum itu, ia sudah mendapat izin dari bapak kunti alias om Rudi. Sejak tadi sore Anne dan om Rudi berkomunikasi lewat chat saja.


"Kagak lah!" sergah Anne seraya naik ke atas ranjang empuk itu, "Kata Mami Mona kan udah diusir!" ujar Anne.


"Eh, tapi masa iya aku gak boleh masuk ke kamarmu! Itu setan ngapain coba sensi sama aku!" gerutu Dara tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.


"Setannya suka kali sama kamu," celetuk Anne hingga membuat Dara menoleh ke arahnya.


"Jangan ngadi-ngadi!" ujar Dara dengan tatapan mata yang tajam.


Keduanya tidak membahas masalah setan dan kawan-kawannya lagi. Mereka asyik bermain dengan ponsel masing-masing. Dara senyum-senyum sendiri karena sedang chatting bersama kekasihnya, sedangkan Anne sibuk stalking media sosial pria-pria Hollywood yang begitu menggoda dalam pandangannya.


"Hmm ... ternyata Papi gak pulang malam ini!" gumam Dara setelah membaca pesan yang dikirim om Rudi.


"Lah kenapa?" tanya Anne tanpa mengalihkan pandangan dari foto salah satu artis Hollywood bertubuh kekar itu.


"Katanya lagi ngecek proyek ke luar kota," jawab Dara tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya, "Eh, mumpung papi ke luar kota, harusnya aku pakai kesempatan ini buat ketemu Juna kan?" Dara menoleh kesamping.


"Gak usah aneh-aneh! Nanti kena hukuman lagi loh!" ujar Anne seraya menatap Dara.


"Kalau ketemu Juna di Jakarta kan gak masalah!" Dara masih keukeh dengan keinginannya, "aku mau telfon Juna dulu lah!" ucap Dara seraya turun dari ranjang.


Anne tidak menghiraukan hal itu. Ia kembali fokus ke layar ponselnya. Deretan foto-foto **** pria Hollywood berhasil membuat mata indah itu berbinar. Namun, tidak lama setelah itu, ada pesan masuk yang harus dibalas saat ini juga—sebuah pesan masuk dari 'Om genit'.


Besok temui Om di apartment baru.

__ADS_1


"Duh! Nyusahin aja, sih! Aku harus drama lagi kan!" gerutu Anne dengan suara yang lirih setelah membalas pesan itu.


Anne termenung di tempatnya saat ini sambil menatap langit-langit kamar Dara yang terlihat mewah. Kepalanya dipaksa berpikir untuk mencari alasan yang bisa diterima oleh Dara. Hingga Dara kembali ke kamar, Anne tak kunjung menemukan jawaban.


"Dar, besok Juna bersedia ke Jakarta!" ujar Dara seraya bergelayut di lengan Anne. Putri semata wayang om Rudi itu terlihat bahagia sekali.


"Terus kalian mau ketemu di mana?" tanya Anne.


"Aduh! di mana ya?" Dara sendiri belum tahu ingin bersembunyi di mana bersama Juna agar tidak ketahuan orang-orang yang mengawasinya.


Dara terlihat berpikir keras. Bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan untuk menemukan jawaban yang tepat. Suasana kamar tersebut mendadak hening karena keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Dar!" ucap Anne tanpa menatap Dara.


"Hmmm!" Dara masih sibuk mencari alasan yang tepat agar pertemuannya dengan Juna lancar tanpa kendala.


"Aku sebenarnya ada janji besok pagi," ucap Anne dengan suara yang lirih, "kamu masih ingat 'kan, tentang om-om yang membantu biaya bu Ningrum dulu, dia minta bertemu aku besok pagi karena beliau sudah kembali dari Kalimantan." Anne mengubah posisinya menjadi miring, ia sedang mengamati Dara dari samping.


"Mau tidak mau aku harus menemui dia karena hal itu tertulis di surat perjanjian," jawab Anne dengan yakin, "yang membuatku bingung, bagaimana aku bisa bertemu dengan beliau tanpa sepengetahuan papimu?" Akhirnya drama bertemu bapak kunti dimulai.


"Kamu yang sabar ya." Dara memeluk sahabatnya itu sebagai bentuk keperduliannya, "nanti aku pikirkan caranya agar kamu bisa pergi tanpa ada orang yang tahu termasuk papi," ucap Dara setelah mengurai tubuhnya.


Baik Dara ataupun Anne, mereka sama-sama sedang berpikir. Mencari sebuah solusi terbaik agar keduanya bisa keluar dari rumah tanpa ada yang mengawasi. Hingga larut pun mereka masih belum menemukan jawabannya.


"Dar, aku ada ide, tapi ini jika kamu berani melakukannya," ucap Anne seraya menatap Dara dengan intens.


"Katakan!" Dara menyiapkan telinga untuk mendengar ide dari sahabatnya itu.


Anne menjelaskan dengan rinci tentang rencana yang baru saja ia pikirkan. Sebuah rencana menyembunyikan Dara agar tidak bergerak bebas di luar. Semua demi keamanannya menemui om Rudi di apartment baru yang sengaja disiapkan oleh Rudi kala itu.

__ADS_1


"Kalau begitu aku izin papi dulu, An!" ucap Dara seraya meraih ponsel yang ada di atas nakas.


Setelah beberapa menit menunggu balasan pesan dari ayahnya, putri semata wayang om Rudi itu tersenyum lebar. Ia membaca dengan suara yang lantang bagaimana balasan pesan dari ayahnya itu.


"Yes! apartment Papi boleh kita pakai!" ujar Dara setelah meletakkan ponselnya kembali.


"Nah, kalau begini kan enak! Besok tinggal mengatur bagaimana Juna bisa masuk ke sana tanpa sepengetahuan siapapun," jawab Anne seraya mengubah posisinya.


Setelah selesai membahas bagaimana cara bertemu pasangan masing-masing. Kedua gadis cantik itu mulai terlelap—terbang ke alam mimpi yang indah dan menyenangkan.


Lagi dan lagi, kebohongan kembali terjadi. Drama kucing-kucingan ini tak kunjung selesai jika Dara belum tahu yang sebenarnya. Entah sampai kapan, kebohongan-kebohongan ini akan berakhir, yang pasti, Anne tidak berharap kebohongan ini terbongkar dalam waktu dekat karena belum siap.


***


Detik demi detik terus berlalu, langit yang gelap mulai pudar seiring dengan hadirnya siluet kekuningan di ujung timur. Suara alarm di ponsel Dara berhasil mengusik tidur nyenyak kedua gadis tersebut. Mau tidak mau mereka harus segera kembali dari alam mimpi.


"An, kita berangkat jam berapa?" tanya Dara tanpa membuka kelopak matanya. Ia semakin memeluk erat gulingnya.


"Lebih cepat lebih baik," jawab Anne seraya duduk bersandar di headboard ranjang itu, "coba tanya Juna! kira-kira dia berangkat jam berapa," ujar Anne.


"Nih, telfon saja sendiri!" Dara menyodorkan ponselnya kepada Anne.


"Ogah! Kamu aja lah!" tolak Anne seraya mendorong ponsel tersebut ke arah Dara, "aku mau kembali ke kamar!" Anne segera turun dari ranjang.


Segera Anne melenggang dari kamar putri sambungnya itu. Ia mengayun langkah menuju kamarnya untuk mempersiapkan diri bertemu dengan suami matang yang berhasil membuatnya selalu bergetar. Dalam kamar bernuansa putih itu masih ada sisa-sisa wewangian dari mami Mona. Setelah mempersiapkan pakaian ganti di atas ranjang, Anne segera masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus melakukan beberapa hal agar tubuhnya tetap wangi sepanjang hari.


"Yaelah! Aku baru ingat kalau kemarin tamu bulanan udah pulang! Wah! Bakal minta jatah itu bapak kunti!" gerutu Anne setelah menanggalkan semua pakaiannya.


...🌷Selamat membaca🌷...

__ADS_1


...Yang punya vote, boleh dong dikirim kesini, biar Anne makin lancar ketemu bapak kunti😂...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2